Rabu, 03 Maret 2010

SIX
“As kok kamu jarang lagi ngomong ma Danan? Da masalah ya?” “ga ada apa-apa kok. Lagian buat apa aku bicara ma dia kami ga ada urusan kan?” dengan nada yang cukup tinggi.“maaf kalo kamu ga mau ngomongin masalah itu,aku cuma ingin tanya aja.” Kata Maya tenang“oh aku juga minta maaf ma kamu, ya aku sekarang lagi kesal.” “ya udah, ga apa-apa”.
Ya ampun ni buku pake jatuh lagi,kata Asti sembari memunguti buku-buku yang jatuh dari tangannya. Dia disuruh membawa buku-buku tersebut ke ruang guru, namun karena mendengar gosip Danan dan Tari yang kian mesra membuat semua konsentrasinya hilang. Tiba-tiba ada seseorang di depannya berdiri, “kamu perlu bantuan?” “ga usah, makasih” “ya ampun Asti dari dulu kamu ga pernah berubah ya.” Seketika Asti menengok, “Fery?ini beneran kamu? Kok bisa.” “iya As, ni aku Fery, aku dah pindah ke sini.” “kamu dapat kelas apa?” “kls B, maklum anak bodoh.” “kalo kls B sih lumayan Fer. Ngomong-ngomong udah lama juga ya kita ga ketemu.” “kamu kangen ya As?” “ye gr banget sih, ga tuh.” “sorry jangan sewot dulu As, aku cuma bercanda kok.” “e udah dulu ya Fer, aku mesti bawa ini dulu ke kantor guru.” “kalo gitu kita searah dong, aku juga mau ke kantor guru, anterin ya.” “ya”. Mereka berdua berjalan beriringan.
Di kelas Asti, semua anak perempuan membicarakan Fery, begitu juga Maya. “As, tau ga ada anak baru” “so….what?” “guanteng banget lho As” “pasti namanya Fery” “lho kamu kok tau As?” “tadi aku ketemu ma dia, dia tu temen sekolahku dulu.” “ya ampun kok kamu baru ngasi tau aku klo punya kenalan bening kayak gitu sih?” “abis kamu ga pernah nanya sih.” “kalo gitu kenalin aku dong ma dia.” “gimana ya?” “please As, aku ngefans banget ma dia, sekalian comblangin aku ya.” “ya deh apa sih yang ga buat temenku yang cantik ini.”
Semenjak saat itu mereka dekat dengan Fery, Fery selalu mengikuti Maya dan Asti. Ternyata perasaanya dulu terhadap Asti tak berubah. Dan ia bertekad akan mengungkapkannya. Pada akhirnya Danan juga cemburu. Ia selalu meledek Asti dan Fery bila mereka bertemu. Asti pun merasa sangat kesal, padahal semua orang tahu yang berpacaran bukan dia dan Fery, tapi Maya dan Fery.
Sinar lain datang lagi
Meski redupnya mengusik
Jiwa yang kini gundah
Menanti ketidakpastian
SEVEN
Sebentar lagi acara jalan-jalan untuk sekolah Asti diadakan, semua sangat antusias. Dan hari itu pun tiba, “aku mo duduk depan aja ah, mumpung sepi.” Dan Asti melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang dekat dengan sopir bus. Itu juga karena dia sering mabuk darat. Jadi kalo mau muntah kan gampang minta tas kresek. Sementara Danan bingung mau duduk di mana, dia sudah kehabisan tempat, jadi ia coba mencari tempat di depan. Dan ia melihat Asti sedang duduk sendiri di sana. “As boleh kan aku duduk di sini soalnya di belakang sudah penuh.” “terserah”.
Mereka sama sekali tidak bicara, sampai Danan tiba-tiba gelisah. Awalnya Asti tidak perduli, tapi dia kasihan juga melihatnya. “kamu kenapa sih” “aku kayaknya mau muntah deh As.” “apa muntah?” Asti pun panik. “kalo gitu mending kamu duduk di tempat aku, biar lebih deket ma jendela. Aku akan minta kresek sama pak sopir.” Lalu Asti pun meminta kresek. Setelah selesai, ia memberikannya kepada Danan. “niih, kreseknya.” “makasih As.”
“aku minta maaf ya As, gara-gara aku kamu jadi repot.” “ga usah dipikirin, kalo kamu muntah di sini kan aku juga yang repot. Aku ternyata baru tau kalo kamu itu mabuk darat. Lucu juga.” “iya sih, mana aku bangun kesiangan lagi. Aku jadi lupa minum obat anti mabuk.” “oh ni aku bawa, minum aja, aku tadi dah minum kok.” “beneran nih?” “ya kalo ga mau juga ga pa-pa.” “eh mau kok.”
Sepanjang perjalanan mereka tertidur, tanpa sengaja mereka saling bersandar. Danan yang lebih dulu terbangun. Tapi ia tidak tega membangunkan Asti. Sesungguhnya ia sangat senang, kesempatan ini sangat jarang. Tapi Asti bangun. “oh.. maaf aku ketiduran.” “ya ga pa-pa itung-itung balas budi.” “ngomong-ngomong kita dah sampai belum ya?” “bentar lagi kayaknya.” Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di objek wisata yang dituju. Saat Asti hendak menuruni tangga bis, tiba-tiba kepalanya pusing. Hampir saja ia terjatuh, untung Danan memegang tangannya dan memapahnya sampai turun.
“As, kamu sebaiknya jangan dulu jalan. Mukamu pucat sekali.” “e…tapi.” Kata Asti sambil memegangi kepalanya. Lalu Maya dan Fery datang. “Dan kenapa si Asti”,tanya Maya. “ga tau nih May, tadi tiba-tiba aja dia limbung.” “kalo gitu ngapain kamu biarin dia di sini? Mending kamu pergi saja, biar kami sahabat-sahabatnya yang menjaganya”, kata Fery. Ternyata Fery cemburu melihat Danan di samping Asti. “mending kalian aja yang pergi, kalian kan pacaran, manfaatin dong saat-saat kayak gini.” “huh untung pacarmu ga ada di sini Danan.” Kata Fery marah. Maya langsung curiga dengan sikap Fery.
“Fer, kamu kenapa sih aneh gitu, udah deh jangan bertengkar.” Lalu Asti bicara “bener Fer, aku juga ga mau ngrusak rencana kalian. Udah pergi aja” “bener kan Fer, ayo kita pergi”,ucap Maya sambil menarik tangan Fery. “brengsek, awas ya lain kali aku akan beri kamu pelajaran Danan.”ungkap Fery dalam hatinya. “Danan kamu sebaiknya pergi juga, aku bisa sendiri kok.” “ga mungkin aku ninggalin kamu, lebih baik kita nyari warung terdekat sambil nunggu mereka kembali, paling satu jam lagi mereka datang As.” “aduh aku jadi ga enak sama kamu.” “jangan kayak gitu As, aku cuma ga mau kamu kenapa-kenapa.” “ya makasih”.
Setelah perjalanan usai, mereka bersiap-siap untuk pulang. Asti mengira ia bisa menjaga keseimbangannya, tapi tiba-tiba ia limbung, untung Danan segera memapahnya. “As, kamu kok ga bilang kalo mau pergi”, Asti hanya diam. “kalo gitu aku bantu kamu ke luar ya.” “ya”. Fery kembali cemburu, tapi ia rasa ia tak akan melakukan apa-apa menjaga agar Maya tidak cemburu lagi.

0 komentar:

Posting Komentar