Mungkin aq pernah berharap punya seseorang pcr yg baik, pintar, taat beragama, berbakti pada orang tua, ga ngerokok, dan lain-lain. hmm sempat berpikir semua itu hanyalah impian belaka, tanpa ada obsesi untuk mencarinya. aq sudah lama menyerah dengan kata cinta, menjauh dari laki-laki yg ada di dekatmu, sampai ku temukan dirimu. aq awalnya memintamu untuk menjadi temanku karena aq ingin mendiskusikan soal-soal ujian nanti. aq tidak menyangka, kw awalnya adalah orang yg susah untuk diajak bicara. tp aq begitu terpesona saat kw bilang kw suka sembahyang. semakin lama, aq semakin menyadari kw bgitu seperti yg aq impikan. aq sangat mengagumimu, aq sudah lama menunggu orang sepertimu. tp entah kenapa qta selalu bertengkar. aq menjadi sangat sensitif, aq merasa aq takut kehilanganmu. aq berusaha memberikan yg terbaik untukmu, perhatian, kasih sayang dan motivasi. tp apa??? saat pertama kali aq membutuhkanmu kw tidak mengacuhkanku, betapa egoisnya dirimu? tp aq langsung mengerti saat itu karna kw jg lagi ada masalah. kw meninggalkanku, dan kw kembali bahkan dengan tidak meminta maaf karena kw telah lupa menjawab pertanyaanku. hikss perih kali perasaanku saat itu, aq kemudian keluar rumah, naik motor, entah kemana pikiranku kosong. aq menangis di kamar, berharap masalahmu cepat selesai.
sampai saat kw kehilangan kakekmu, tahukah kw aq menangis jg. ingin aku memberikan kw bahuku. ingin ku usap air matamu, menyentuh rambutmu. tp aq tidak bisa. aq menemanimu sampai malam, padahal aq tdnya sudah hampir tidur. malam itu aku bertekad akan menemanimu bahkan sampai pagi. aq membuka fbku, dan melihat ada soal ujian yg tidak ku mengerti, trs aku menanyakannya padamu. sinyal pada waktu itu juga kurang bagus, aku juga lama sekali nunggu smsmu. kw tiba-tiba marah, bilang aku hanya menambah bebanmu saja. tahukah kw aq langsung hancur saat itu. begitu sayangnya dan perhatiannya aq denganmu sampai begadang tp kw tega berkata seperti itu padaku. tahukah kw hati ini sangat rapuh, kw sudah mengorek luka lama yg sudah lama ku sembuhkan. semua pengorbananku sia-sia di matamu. padahal aku sudah berkorban dan mengalah setiap saat. sampai pd hari ini aq terpuruk, bahkan aq tidak berani membuat kw memikirkan masalahku. aq mencintaimu, dan aq tidak mengharapkan balasanmu untuk selalu ada saat q butuh. tp kenapa kw bilang aq marah padamu. tidak sadarkah kw kmarin aq mengemis minta kw jgn pergi? tidak pernah terbersit bhwa diri ini kw cabik-cabik seperti itu, aq hanya seorang wanita biasa. bisakah kw bersabar menghadapiku? kenapa sudah ku berikan hatiku kw minta jantungku? iya aq tw kw jg sudah bersumpah demiku, tp aq mohon jangan kw perlakukan aq seperti ini. saat aq marah telponlah aq dan katakan kw sayang padaku. cukup, cukup itu saja semuanya akan reda. tp kw malah ikut marah padaku, bahkan di saat aq sangat membutuhkanmu. seakan-akan perhatian dan rasa tidak mw merepotkanku ini hanya omong kosong, padahal aq sangat bersungguh-sungguh padamu. kenapa tidak kw bunuh saja aq langsung? kw jadikan aq layanganmu yg setiap saat bisa kw tarik dan ulur
Kamis, 21 Juli 2011
Senin, 06 September 2010
KESABARAN TAK SELALU BERUJUNG BAHAGIA
Tak pernah terselip dalam benak ku
Kalau kau tlah tinggalkan ku
Tanpa memikirkan perasaan ku
Langkah Deny semakin berat ia rasakan, cintanya tidak ada lagi, meski sampai titik batas hidupnya dia tidak pernah bisa memilikinya. Dia menjenguk Ratna di rumah sakit tepat beberapa saat setelah Ratna menutup matanya. Semua terasa seperti mimpi buruk baginya, Ratna yang kelihatan sangat sehat dan ceria kini terkulai kaku di perbaringannya. Tangannya yang dingin, mukanya yang pucat…tak pernah ada dalam benak Deny sebelumnya.
Tak ada seorang pun selain dia di kamar salah satu rumah sakit itu, hanya dentuman jam yang berdetak detik demi detik menemaninya melewati malam-malam saat ia menunggu Ratna sadar dari komanya. Tapi semua yang ada di sana begitu dingin, begitu sepi, dan begitu gelap sama seperti apa yang dirasakannya sekarang. Ia tidak pernah tidur, meskipun sesekali ia tertidur, namun dengan cepat ia bangun kembali. Berharap keajaiban akan datang, meski dokter telah mengatakan bahwa harapan hidup Ratna hanya 10persen. Ia tak pernah menyerah berdoa dan berharap, kadang-kadang ia menangis mengingat semua kenangan yang dilaluinya bersama Ratna. Namun tak satupun menenangkan hatinya.
Persahabatan sangat penting bagi Ratna dan Putri, sejak kelas satu SMA mereka selalu bersama-sama. Bahkan saat mereka berpisah kelas, tidak pernah sekalipun mereka putus hubungan. Suka duka dilalui bersama, dan mereka sama-sama belum pernah pacaran…. Sampai suatu ketika Putri datang ke rumah Ratna, “ha Rat, aku pingin curhat ma kamu”, “curhat apa sih? Belakangan ini kamu happy kali, pasti ada hubungannya ma yang bakal kamu curhatin ke aku ya?” “iya Rat, belakangan ini aku sangat senang ada di kelas itu, ga pernah kebayang aku bisa dapet temen-temen yang asik-asik semua di sana, termasuk…..” “termasuk apa Put?” “termasuk seseorang yang kini ada di hatiku” “em…kalo boleh tau siapa tu Put?” “e…dia itu Deny…Rat” “oh si Deny, trus….trus….” “ya dia ngesms aku, terus aku ngerasa nyambung kali ma dia, kita selalu smsan. Sampai akhirnya dia nanya apa aku suka ma dia” “trus, kamu bilang apa?” “ya aku bilang kalau aku suka ma dia” “trus dia gimana responnya?” “dia agak ragu sebenarnya dengan perasaan dia padaku, ya tapi dia ingin nyoba jalanin ma aku ” “jadi dia nembak kamu dong….n kamu ma dia udah pacaran?” “iya Rat, aku seneng sekali. Dia pacar aku sekarang” “iya selamat aja Put, aku turut senang dengan kabar baik ini. Tapi inget kita sebagai cewek juga mesti punya harga diri. Jangan biarin dia ngira kalo kita tu memuja-muja cowok” “iya, iya aku ngerti Rat. Tapi kamu juga ga seharusnya nutup diri kayak gini. Hadapi kenyataan, bahwa kamu juga perlu seseorang yang kamu sukai” “aku rasa sekarang belum waktunya Put”.
Sesungguhnya Ratna agak khawatir dengan hubungan Putri dan Deny, karena dia sering mendengar bahwa Deny bukan tipe orang setia. Ia hanya tidak ingin Putri menderita gara-gara Deny. Namun Ratna tidak pernah mengutarakannya. Ia hanya diam, tak ingin membuat Putri yang sedang bahagia malah terpuruk dalam kesedihannya. Benih kebencian mulai timbul di hati Ratna saat ia tahu, kadang-kadang Putri tak diacuhkan oleh Deny. Ia akan menyuruh Putri untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi Putri benar-benar tidak mau putus dengan Deny. Sampai akhirnya, Putri melihat Deny bermesraan dengan seorang teman sekelas mereka. Hati Putri sangat hancur, ia meminta penjelasan pada Deny. Namun Deny hanya mengatakan, lebih baik kita putus. Putri tidak tau harus berkata apa-apa, untung ada Ratna yang tepat berada di blakangnya karena Putri bahkan tidak sanggup berdiri dengan tegak ketika mendengar kata-kata Deny. Ia mengajak Putri untuk pergi saat itu juga. Mereka duduk di dalam kelas Ratna, “Putri, udah jangan nangis lagi, laki-laki kayak gitu ga perlu ditangisin” “kamu ga ngerti perasaan aku Rat” “justru karena aku sangat ngerti perasaan kamu, aku ingin kamu berhenti memikirkan dia. Masih ada yang lebih baik dari dia di dunia ini. Bukankah sudah aku katakan bahwa dia itu orangnya seperti itu. Tapi kamu masih tetap saja seperti orang buta di depannya, ga pernah mau dengerin aku” . “aku saat itu belum mendapatkan bukti, bagaimana aku bisa mempercayaimu Rat. Sudahlah….hari ini aku ga mau membahas ini, aku mau pulang saja” “iya iya, apa perlu aku antar?” “ga usah Rat, aku mau sendiri”.
Tidak hanya hati Putri yang hancur, tetapi juga hati Ratna. Ia tidak tega melihat sahabatnya menderita. Apalagi ia sangat mengagumi cinta yang tulus, dan Deny sudah membuktikan bahwa ada di dalam dunia ini kepura-puraan. Ratna memikirkan cara bagaimana ia bisa membalas sakit hati Putri. Ia berencana untuk mendekati Deny. Hal itu tanpa sepengetahuan Putri tentunya. Ia berkali-kali memisscall Deny, namun saat Deny mengangkatnya, ia selalu menutup telponnya. Akhirnya Deny mengirim sms ke dia karena sudah tidak tahan diteror seperti itu saat tengah malam. Kamu kalau berani, ayo kita bertemu sekarang, kita selesaikan masalah di antara kita sekarang juga. Aku tunggu kamu di depan pintu sekolah. Ratna sudah lama menunggu saat-saat ini, ia sudah menyiapkan apa saja yang akan dikatakannya, ia juga sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Deny dan untuk pertama kalinya berhadapan dengan Deny.
Ia sengaja berdandan dan membuat penampilannya menarik di hadapan Deny. Ia sudah melihat Deny menunggu di sana. Awalnya Ia ragu untuk melanjutkan niatnya. Namun ia teringat wajah Putri, lalu ia pun dengan langkah yang penuh percaya diri mendekat menuju Deny. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang ketika ia sudah berada di dekat Deny, Deny juga sangat kaget saat melihat Ratna berjalan menuju arah tempatnya berdiri, terlebih Ratna terlihat sangat cantik. Deny membuka pembicaraan, “maaf, apa kamu yang ingin bertemu denganku?” “iya tentu saja” “tapi…..kita kan satu sekolah, kamu bisa bertemu aku kapan saja tanpa harus menelponku setiap malam” “e….maafkan aku, tapi aku sangat…..haus. bisakah kita mencari tempat minum?” “oh iya cuaca sangat panas hari ini”. Mereka berjalan menuju kantin yang berada di dekat sekolah, saat itu suasana masih sangat rame. Dan Ratna tau itulah saat yang tepat untuk dia melancarkan aksinya. Mereka meneguk minuman mereka, “sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” “e….aku”, kemudian Ratna tiba-tiba menangis. Deny sangat kaget, orang-orang melihat mereka, lalu Deny mendekati Ratna. “aduh kamu kok nangis? Liat orang-orang pada ngeliatin kita, dikira aku yang bikin kamu nangis lagi” Ratna malah semakin menjadi-jadi, “kamu jahat kamu ga mau bertanggung jawab, padahal aku udah kasi semua yang aku punya. Dasar laki-laki brengsek….” Kemudia Ratna berdiri, Deny yang tidak tahu apa-apa hanya bisa kaget dan ikut berdiri juga. Tiba-tiba Ratna mengambil minumannya, lalu langsung menyiramkannya ke muka Deny, “ini untuk semua janji palsumu kepada temanku, dan yang satu ini untuk pembalasan atas perselingkuhanmu”, kemudian Ratna menampar Deny. Lalu dia pergi, “oh ya, tolong dibayar minumannya ya”. Dia meninggalkan Deny di tengah kebingungannya.
Deny benar-benar marah, belum pernah ada yang berani melakukan itu padanya. “dasar cewek brengsek, awas ja ntar klo ketemu di sekolah. Aku ga akan tinggal diam, selain buat aku malu dia juga benar-benar membuat bekas di pipiku yang hingga saat ini masih sedikit perih. Benar-benar ga bisa dipercaya aku ditampar pertama kali oleh wanita. Padahal badannya terlihat kecil, dan lemah, tapi kenapa dia bisa menampar sekuat ini? Huh awas…..nanti”. belakangan ini Deny sangat gelisah, di samping malu, ia juga sangat penasaran dengan Ratna. Ia memikirkan sebuah cara, “aha….bagaimana kalau aku lanjutkan saja permainan ini. Aku akan berpura-pura menjadi pacarnya, biar dia tahu rasa”. Akhirnya Deny menemukan Ratna di perpustakaan sekolah, saat ia sibuk mencari-cari sebuah buku. Deny menutup matanya dari belakang, awalnya Ratna mengira itu Putri, “aduh, Put, kamu tu pake main-main gini segala….”, lalu ia memegang tangan itu, dan berbalik ke belakang sambil tetap memegang tangan itu, betapa kagetnya dia… “kamu………” spontan saja ia melepaskan tangan itu. “buat apa kamu di sini?” “lho….sayang….katanya kamu mau aku tanggung jawab, jadi sekarang aku mau tanggung jawab”. Lalu Deny mengelus perut Ratna, “bukan begitu sayang?”. Semua orang melihat ke arah mereka. Ratna sangat panik, ia menarik Deny keluar dari perpustakaan. “dasar, kamu ini kenapa tadi bicara seperti itu. Buat aku malu aja” “kamu kira aku ga malu pas kemarin kamu perlakukan aku seperti itu?” Ratna terdiam, lalu dia berbalik arah meninggalkan Deny. “eit…mau kemana kamu? Urusan kita belumm selesai” “aku ga perduli, terserah apa yang mau kamu lakukan”. Ratna berlari………..sementara Deny masih berdiri di situ, “kita liat saja nanti…..”
Ratna merasa sangat bingung, ia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya. Putri tiba-tiba datang, “Rat, kamu sudah mencari masalah ya sama Deny?” “siapa yang nyari masalah” “udah, jangan bohongin aku Rat. Aku sudah dengar semuanya” “hmmm….aku cuma tidak rela bila dia bersenang-senang di atas penderitaanmu Put. Pokoknya aku sudah membalas semuanya” “tapi lihatlah sekarang, dia akan terus mengganggumu” “aku tidak perduli Put, biarkanlah anjing menggonggong kafilah berlalu” “ya aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu”. Bel masuk pun berbunyi……
Hari demi hari bukannya semakin membuat hidup Ratna tenang, namun ia terus-menerus diteror Deny. Sampai-sampai ia hampir tak tahan dan ingin pindah sekolah saja. “Rat, kamu jangan main-main deh. Udah nanggung juga masak mau pindah sekolah. Belum lagi penyesuaian di sekolah baru” “tapi aku ga kuat terus-terusan kayak gini Put” “lebih baik kamu ngomong baik-baik dengan Deny” “apa? Ngomong baik-baik? Enak saja, ga akan tu Put”. Tiba-tiba di belakang mereka muncul Deny, “kenapa ga mungkin?”. Ratna dan Putri sangat terkejut. “mari kita selesaikan ini sekarang juga Ratna. Putri aku mohon biarkan masalah ini aku bicarakan berdua dengan Ratna”. Putri menoleh Ratna, Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi ia tetap pergi…. “mau apalagi kamu?”, kata Ratna ketus. “aku Cuma ingin menyelesaikan ini semua kok Rat.” “menyelesaikan seperti apa? Bukankah kamu yang memperpanjang masalah ini?” “ya itu karena kamu selalu menghindar dariku” “aku males ketemu kamu” “apakah aku sehina itu Rat? Oke aku akui aku salah, tapi aku sudah meminta maaf. Aku menerima Putri juga karena aku awalnya tidak ingin menyakiti hatinya yang sudah terlanjur cinta padaku. Tapi semakin lama, aku tidak nyaman dengan hubungan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk berselingkuh di depan Putri, agar dia memutuskan aku. Dan menganggap aku sangat buruk, agar dia bisa mencari yang lebih baik. Tapu kamu sepertinya menganggap aku benar-benar jahat.” “bisakah semua itu ku percaya?” “ok, aku menyerah. Terserah kamu mau percaya /tidak kepadaku. Yang jelas bukan karena aku ingin membalas kamu aku meneror kamu selama ini. Tapi karena……..karena aku mulai menyukaimu. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah pertama kali kamu menamparku”. Ratna tercengang, ia tidak pernah menyangka semua akan menjadi seperti ini. “jangan bohong Deny” “bagaimana aku bisa bohong? Setiap hari aku ingin dekat denganmu. Tapi aku selalu menahan rasa ini, ga tahu sampai kapan akan bertahan” “kamu jangan ngacok, aku juga tidak menyukaimu. Apa kamu tau kalo aku benci sama kamu, jauh sebelum aku mengenal kamu” “baiklah jika itu pendapatmu, tapi aku ga akan pernah menyerah buat dapetin kamu” “sudahlah kamu hanya membuang-buang waktu berbicara seperti ini” lalu Ratna pergi meninggalkan Deny, “huh lagi-lagi aku ditinggalin ma dia”, kata Deny.
Rasa cintaku pada mu
Dengan rasa sabar
Dengan pengertian hati
Aku menunggu mu
Dengan harapan
Hati mu akan terbuka untukku
Meski sekian tahun telah berlalu, Ratna masih belum percaya pada Deny. Ratna benar-benar tidak mengerti pada Deny, bukannya semakin menjauh, tapi Deny malah selalu setia berada di dekatnya. Seperti saat-saat terberat dalam hidup Ratna, di mana kedua orang tua Ratna meninggal dalam kecelakaan tragis. Deny lah yang ada menemaninya. “sudahlah Rat, ikhlaskanlah mereka di sana” “kamu ga ngerti Den, kamu kira gampang kehilangan 2 orang yang kita sayangi sekaligus?” “tapi itulah takdir Rat. Meskipun kamu seperti ini terus-menerus apakah mereka dapat hidup kembali?” “tapi paling tidak biarkan aku sendiri sekarang Den, please” “tidak, aku akan terus di sampingmu. Apalagi saat jiwamu rapuh seperti ini”, ia memeluk Ratna. Ratna tidak kuat menahan, dia menangis dalam dekapan Deny. “menangislah sekencang-kencangnya. Biar semua beban dalam otakmu hilang” “terimakasih Den….”
Sebenarnya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh dalam hati Ratna. Tapi ia masih mengikat kuat pendapatnya bahwa Deny bukan laki-laki yang baik untuknya. “hey Rat” “hai juga, ngapain kamu ke sini?” “huh…masih ja jutek gitu. Tapi itu malah bikin kamu semakin cantik aja” “dasar gombal” “ih siapa yang gombal juga. Yang jelas aku masih menyukai kamu tau” “terserah lah, tapi aku belum suka tuh ma kamu” “sekarang sih belum tapi kita lihat saja nanti”.
Ratna melihat jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul 10 malam, entah kenapa perasaannya tidak tenang hari itu. Ia menelpon Deny, tapi tidak diangkat. Ternyata Deny masuk rumah sakit, Ratna segera menuju rumah sakit tersebut. Dokter mengatakan bahwa Deny mengalami luka parah di area matanya, bahkan dokter mengatakan apabila Deny tidak mendapatkan donor mata, maka ia tidak akan pernah bisa melihat. Entah kenapa hati Ratna sangat hancur. Ia tidak pernah menyangka orang yang sudah disayanginya itu kini tidak bisa melihat. Ia tidak tega meninggalkan Deny di rumah sakit sendirian. Setiap hari dialah yang menjaga Deny. Orang tua Deny ada jauh di Sumatra sana, dan sudah lama mereka tidak pernah berhubungan lagi apalagi setelah kedua orang tua Deny bercerai.
Belakangan ini Deny masih koma, dan Ratna dengan setia selalu mengajaknya bicara. Akhirnya suatu hari Deny menggerakkan tangannya, ia membuka mata perlahan. Tapi ia hanya mengatakan, “gelap….kenapa gelap seperti ini?” “sudah sudah tenang Den, aku di sampingmu. Untuk sementara waktu kamu memang belum bisa melihat, tapi setelah nanti dioperasi kamu akan bisa lagi melihat seperti dulu” “Ratna, aku sangat takut” “tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”. Ratna sangat senang Deny sudah sadar kembali. Namun ia merasakan hal yang aneh tentang dirinya belakangan ini. Kepalanya selalu terasa pusing, ia pun memeriksakan ke dokter. Ternyata ia menderita gagal ginjal. Hidupnya tidak akan lama lagi. Dengan langkah gontai ia menuju kamar Deny.
“hai Rat, apa itu kamu? Kamu sudah datang?” “iya Den, ini aku” “Ratna, aku sudah tidak sabar ingin melihat kamu, ingin memeluk kamu, kapankah operasi itu akan dilaksanakan?” “sebentar lagi Den, kamu bersabar saja”. “apa kamu tau Rat, kamulah orang pertama yang ingin aku lihat saat nanti aku pertama kali membuka mataku” “benarkah?” “iya tentu saja, aku akan melamarmu. Dan kita akan hidup bahagia selamanya”.
Namun……
Sejuta-juta sayang
Harapku itu tlah hilang
Kesabaran ku tlah sia-sia
Mimpi-mimpiku tlah musnah
Hatiku hancur tak berbekas
Ratna langsung menangis mendengar semua yang diucapkan Deny. Ia berlari menuju pintu keluar, menangis sejadi-jadinya. Ia teringat kata-kata dokter itu. Ia pun memutuskan akan mendonorkan matanya sendiri untuk Deny, lagipula apalah artinya dia hidup namun harus setiap hari keluar masuk rumah sakit, di samping itu ia sudah tidak mau merepotkan Deny. Meskipun hatinya sangat terluka, namun ia sudah bertekad.
Persetujuan operasi mata pun dapat dilakukan, Deny sudah tidak sabar untuk menunggu, segera setalah ia bisa melihat lagi, ia mencari-cari Ratna. Namun sosok Ratna tidak kelihatan dalam ruangan itu, ia bertanya kepada dokter. “dok, sebenarnya di mana Ratna?” “maaf, dia……dia sudah tidak ada”. “apa? Jangan bercanda dok, di mana dia?” “dia sudah mendonorkan matanya sendiri untukmu, karena ia tahu ia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya lagi”. “tapi kenapa dok?” “dia menderita gagal ginjal, akan sangat sulit menemukan donor ginjal dibandingkan donor mata. Begitu katanya, dan kami sudah memperingatkannya, tapi ia sudah bertekad bulat. Ia menderita gagal ginjal yang sudah sangat parah, kamu bisa menemuinya di kamar sebelah barat lorong rumah sakit sekarang”. Lalu dokter pun pergi, Deny bagaikan mimpi menghadapi kenyataan ini. Ia tersenyum, namun tiba-tiba menangis…. “tidak mungkin, ini semua pasti mimpi, tidak mereka pasti berbohong. Ini pasti kejutan bagiku karena aku sudah bisa melihat”.
Ia bergegas menuju ruangan yang dimaksud itu, ternyata…..itu adalah kamar mayat. Dengan hati-hati ia melangkah. Mendapati mayat seseorang yang dikenalnya, seketika itu ia berlari dan memeluk mayat tersebut. “tidak…Ratna..kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku Rat? Seandainya aku tahu ini akan terjadi aku tidak ingin bisa melihat lagi. Kamu pembohong, kamu bilang tidak akan meninggalkan aku. Tapi kenyataannya seperti ini, kamu jahat Ratna….sangat jahat…..”. perawat segera menarik Deny yang masih terus-terusam menggoncang dan menangis. Ia pun dibawa ke kamarnya kembali. Sesampainya di sana, perawat memberikan ia sepucuk surat. Ia pun membacanya….
Buat: Deny tersayang……..
Maaf selama ini aku selalu menyembunyikan perasaanku ini. Aku hanya tidak sanggup menarik kata-kataku bahwa aku membencimu.Namun jauh dalam lubuk hatiku…Aku sangat mencintaimu….Namun aku tahu kita tidak mungkin bersatu.Hidupku sudah tidak lama lagi.Aku tidak mau lagi menyusahkanmu. Aku ingin memberikanmu hadiah.Hadiah karena selama ini kaulah yang selalu menemaniku. Kaulah pelita hatiku Deny, aku tidak akan melupakanmu meski sampai titik darah penghabisanku. Lihatlah dunia dengan mataku ini, aku harap kau bisa mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.
I LOVE YOU…..
Deny menangis, ingin rasanya merobek-robek kertas itu. Ia tidak kuat, ia telah menunggu selama ini. Tidak pernah berpaling ke hati lain. Menyerahkan semua yang ia miliki, namun orang itu kini telah mengorbankan semuanya demi dia.
Walau ku coba tuk tahan air mata ini
Namun setetes demi setetes
Air mata ini terjatuh juga
Ku coba menahan diri
Menerima kenyataan yang tlah terjadi
Biarlah…..
Kini kau pergi
Dan biarkan aku sendiri
Dan aku menyadari
Kalau selama ini
KESABARAN TAK SELALU BERUJUNG BAHAGIA
Kalau kau tlah tinggalkan ku
Tanpa memikirkan perasaan ku
Langkah Deny semakin berat ia rasakan, cintanya tidak ada lagi, meski sampai titik batas hidupnya dia tidak pernah bisa memilikinya. Dia menjenguk Ratna di rumah sakit tepat beberapa saat setelah Ratna menutup matanya. Semua terasa seperti mimpi buruk baginya, Ratna yang kelihatan sangat sehat dan ceria kini terkulai kaku di perbaringannya. Tangannya yang dingin, mukanya yang pucat…tak pernah ada dalam benak Deny sebelumnya.
Tak ada seorang pun selain dia di kamar salah satu rumah sakit itu, hanya dentuman jam yang berdetak detik demi detik menemaninya melewati malam-malam saat ia menunggu Ratna sadar dari komanya. Tapi semua yang ada di sana begitu dingin, begitu sepi, dan begitu gelap sama seperti apa yang dirasakannya sekarang. Ia tidak pernah tidur, meskipun sesekali ia tertidur, namun dengan cepat ia bangun kembali. Berharap keajaiban akan datang, meski dokter telah mengatakan bahwa harapan hidup Ratna hanya 10persen. Ia tak pernah menyerah berdoa dan berharap, kadang-kadang ia menangis mengingat semua kenangan yang dilaluinya bersama Ratna. Namun tak satupun menenangkan hatinya.
Persahabatan sangat penting bagi Ratna dan Putri, sejak kelas satu SMA mereka selalu bersama-sama. Bahkan saat mereka berpisah kelas, tidak pernah sekalipun mereka putus hubungan. Suka duka dilalui bersama, dan mereka sama-sama belum pernah pacaran…. Sampai suatu ketika Putri datang ke rumah Ratna, “ha Rat, aku pingin curhat ma kamu”, “curhat apa sih? Belakangan ini kamu happy kali, pasti ada hubungannya ma yang bakal kamu curhatin ke aku ya?” “iya Rat, belakangan ini aku sangat senang ada di kelas itu, ga pernah kebayang aku bisa dapet temen-temen yang asik-asik semua di sana, termasuk…..” “termasuk apa Put?” “termasuk seseorang yang kini ada di hatiku” “em…kalo boleh tau siapa tu Put?” “e…dia itu Deny…Rat” “oh si Deny, trus….trus….” “ya dia ngesms aku, terus aku ngerasa nyambung kali ma dia, kita selalu smsan. Sampai akhirnya dia nanya apa aku suka ma dia” “trus, kamu bilang apa?” “ya aku bilang kalau aku suka ma dia” “trus dia gimana responnya?” “dia agak ragu sebenarnya dengan perasaan dia padaku, ya tapi dia ingin nyoba jalanin ma aku ” “jadi dia nembak kamu dong….n kamu ma dia udah pacaran?” “iya Rat, aku seneng sekali. Dia pacar aku sekarang” “iya selamat aja Put, aku turut senang dengan kabar baik ini. Tapi inget kita sebagai cewek juga mesti punya harga diri. Jangan biarin dia ngira kalo kita tu memuja-muja cowok” “iya, iya aku ngerti Rat. Tapi kamu juga ga seharusnya nutup diri kayak gini. Hadapi kenyataan, bahwa kamu juga perlu seseorang yang kamu sukai” “aku rasa sekarang belum waktunya Put”.
Sesungguhnya Ratna agak khawatir dengan hubungan Putri dan Deny, karena dia sering mendengar bahwa Deny bukan tipe orang setia. Ia hanya tidak ingin Putri menderita gara-gara Deny. Namun Ratna tidak pernah mengutarakannya. Ia hanya diam, tak ingin membuat Putri yang sedang bahagia malah terpuruk dalam kesedihannya. Benih kebencian mulai timbul di hati Ratna saat ia tahu, kadang-kadang Putri tak diacuhkan oleh Deny. Ia akan menyuruh Putri untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi Putri benar-benar tidak mau putus dengan Deny. Sampai akhirnya, Putri melihat Deny bermesraan dengan seorang teman sekelas mereka. Hati Putri sangat hancur, ia meminta penjelasan pada Deny. Namun Deny hanya mengatakan, lebih baik kita putus. Putri tidak tau harus berkata apa-apa, untung ada Ratna yang tepat berada di blakangnya karena Putri bahkan tidak sanggup berdiri dengan tegak ketika mendengar kata-kata Deny. Ia mengajak Putri untuk pergi saat itu juga. Mereka duduk di dalam kelas Ratna, “Putri, udah jangan nangis lagi, laki-laki kayak gitu ga perlu ditangisin” “kamu ga ngerti perasaan aku Rat” “justru karena aku sangat ngerti perasaan kamu, aku ingin kamu berhenti memikirkan dia. Masih ada yang lebih baik dari dia di dunia ini. Bukankah sudah aku katakan bahwa dia itu orangnya seperti itu. Tapi kamu masih tetap saja seperti orang buta di depannya, ga pernah mau dengerin aku” . “aku saat itu belum mendapatkan bukti, bagaimana aku bisa mempercayaimu Rat. Sudahlah….hari ini aku ga mau membahas ini, aku mau pulang saja” “iya iya, apa perlu aku antar?” “ga usah Rat, aku mau sendiri”.
Tidak hanya hati Putri yang hancur, tetapi juga hati Ratna. Ia tidak tega melihat sahabatnya menderita. Apalagi ia sangat mengagumi cinta yang tulus, dan Deny sudah membuktikan bahwa ada di dalam dunia ini kepura-puraan. Ratna memikirkan cara bagaimana ia bisa membalas sakit hati Putri. Ia berencana untuk mendekati Deny. Hal itu tanpa sepengetahuan Putri tentunya. Ia berkali-kali memisscall Deny, namun saat Deny mengangkatnya, ia selalu menutup telponnya. Akhirnya Deny mengirim sms ke dia karena sudah tidak tahan diteror seperti itu saat tengah malam. Kamu kalau berani, ayo kita bertemu sekarang, kita selesaikan masalah di antara kita sekarang juga. Aku tunggu kamu di depan pintu sekolah. Ratna sudah lama menunggu saat-saat ini, ia sudah menyiapkan apa saja yang akan dikatakannya, ia juga sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Deny dan untuk pertama kalinya berhadapan dengan Deny.
Ia sengaja berdandan dan membuat penampilannya menarik di hadapan Deny. Ia sudah melihat Deny menunggu di sana. Awalnya Ia ragu untuk melanjutkan niatnya. Namun ia teringat wajah Putri, lalu ia pun dengan langkah yang penuh percaya diri mendekat menuju Deny. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang ketika ia sudah berada di dekat Deny, Deny juga sangat kaget saat melihat Ratna berjalan menuju arah tempatnya berdiri, terlebih Ratna terlihat sangat cantik. Deny membuka pembicaraan, “maaf, apa kamu yang ingin bertemu denganku?” “iya tentu saja” “tapi…..kita kan satu sekolah, kamu bisa bertemu aku kapan saja tanpa harus menelponku setiap malam” “e….maafkan aku, tapi aku sangat…..haus. bisakah kita mencari tempat minum?” “oh iya cuaca sangat panas hari ini”. Mereka berjalan menuju kantin yang berada di dekat sekolah, saat itu suasana masih sangat rame. Dan Ratna tau itulah saat yang tepat untuk dia melancarkan aksinya. Mereka meneguk minuman mereka, “sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” “e….aku”, kemudian Ratna tiba-tiba menangis. Deny sangat kaget, orang-orang melihat mereka, lalu Deny mendekati Ratna. “aduh kamu kok nangis? Liat orang-orang pada ngeliatin kita, dikira aku yang bikin kamu nangis lagi” Ratna malah semakin menjadi-jadi, “kamu jahat kamu ga mau bertanggung jawab, padahal aku udah kasi semua yang aku punya. Dasar laki-laki brengsek….” Kemudia Ratna berdiri, Deny yang tidak tahu apa-apa hanya bisa kaget dan ikut berdiri juga. Tiba-tiba Ratna mengambil minumannya, lalu langsung menyiramkannya ke muka Deny, “ini untuk semua janji palsumu kepada temanku, dan yang satu ini untuk pembalasan atas perselingkuhanmu”, kemudian Ratna menampar Deny. Lalu dia pergi, “oh ya, tolong dibayar minumannya ya”. Dia meninggalkan Deny di tengah kebingungannya.
Deny benar-benar marah, belum pernah ada yang berani melakukan itu padanya. “dasar cewek brengsek, awas ja ntar klo ketemu di sekolah. Aku ga akan tinggal diam, selain buat aku malu dia juga benar-benar membuat bekas di pipiku yang hingga saat ini masih sedikit perih. Benar-benar ga bisa dipercaya aku ditampar pertama kali oleh wanita. Padahal badannya terlihat kecil, dan lemah, tapi kenapa dia bisa menampar sekuat ini? Huh awas…..nanti”. belakangan ini Deny sangat gelisah, di samping malu, ia juga sangat penasaran dengan Ratna. Ia memikirkan sebuah cara, “aha….bagaimana kalau aku lanjutkan saja permainan ini. Aku akan berpura-pura menjadi pacarnya, biar dia tahu rasa”. Akhirnya Deny menemukan Ratna di perpustakaan sekolah, saat ia sibuk mencari-cari sebuah buku. Deny menutup matanya dari belakang, awalnya Ratna mengira itu Putri, “aduh, Put, kamu tu pake main-main gini segala….”, lalu ia memegang tangan itu, dan berbalik ke belakang sambil tetap memegang tangan itu, betapa kagetnya dia… “kamu………” spontan saja ia melepaskan tangan itu. “buat apa kamu di sini?” “lho….sayang….katanya kamu mau aku tanggung jawab, jadi sekarang aku mau tanggung jawab”. Lalu Deny mengelus perut Ratna, “bukan begitu sayang?”. Semua orang melihat ke arah mereka. Ratna sangat panik, ia menarik Deny keluar dari perpustakaan. “dasar, kamu ini kenapa tadi bicara seperti itu. Buat aku malu aja” “kamu kira aku ga malu pas kemarin kamu perlakukan aku seperti itu?” Ratna terdiam, lalu dia berbalik arah meninggalkan Deny. “eit…mau kemana kamu? Urusan kita belumm selesai” “aku ga perduli, terserah apa yang mau kamu lakukan”. Ratna berlari………..sementara Deny masih berdiri di situ, “kita liat saja nanti…..”
Ratna merasa sangat bingung, ia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya. Putri tiba-tiba datang, “Rat, kamu sudah mencari masalah ya sama Deny?” “siapa yang nyari masalah” “udah, jangan bohongin aku Rat. Aku sudah dengar semuanya” “hmmm….aku cuma tidak rela bila dia bersenang-senang di atas penderitaanmu Put. Pokoknya aku sudah membalas semuanya” “tapi lihatlah sekarang, dia akan terus mengganggumu” “aku tidak perduli Put, biarkanlah anjing menggonggong kafilah berlalu” “ya aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu”. Bel masuk pun berbunyi……
Hari demi hari bukannya semakin membuat hidup Ratna tenang, namun ia terus-menerus diteror Deny. Sampai-sampai ia hampir tak tahan dan ingin pindah sekolah saja. “Rat, kamu jangan main-main deh. Udah nanggung juga masak mau pindah sekolah. Belum lagi penyesuaian di sekolah baru” “tapi aku ga kuat terus-terusan kayak gini Put” “lebih baik kamu ngomong baik-baik dengan Deny” “apa? Ngomong baik-baik? Enak saja, ga akan tu Put”. Tiba-tiba di belakang mereka muncul Deny, “kenapa ga mungkin?”. Ratna dan Putri sangat terkejut. “mari kita selesaikan ini sekarang juga Ratna. Putri aku mohon biarkan masalah ini aku bicarakan berdua dengan Ratna”. Putri menoleh Ratna, Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi ia tetap pergi…. “mau apalagi kamu?”, kata Ratna ketus. “aku Cuma ingin menyelesaikan ini semua kok Rat.” “menyelesaikan seperti apa? Bukankah kamu yang memperpanjang masalah ini?” “ya itu karena kamu selalu menghindar dariku” “aku males ketemu kamu” “apakah aku sehina itu Rat? Oke aku akui aku salah, tapi aku sudah meminta maaf. Aku menerima Putri juga karena aku awalnya tidak ingin menyakiti hatinya yang sudah terlanjur cinta padaku. Tapi semakin lama, aku tidak nyaman dengan hubungan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk berselingkuh di depan Putri, agar dia memutuskan aku. Dan menganggap aku sangat buruk, agar dia bisa mencari yang lebih baik. Tapu kamu sepertinya menganggap aku benar-benar jahat.” “bisakah semua itu ku percaya?” “ok, aku menyerah. Terserah kamu mau percaya /tidak kepadaku. Yang jelas bukan karena aku ingin membalas kamu aku meneror kamu selama ini. Tapi karena……..karena aku mulai menyukaimu. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah pertama kali kamu menamparku”. Ratna tercengang, ia tidak pernah menyangka semua akan menjadi seperti ini. “jangan bohong Deny” “bagaimana aku bisa bohong? Setiap hari aku ingin dekat denganmu. Tapi aku selalu menahan rasa ini, ga tahu sampai kapan akan bertahan” “kamu jangan ngacok, aku juga tidak menyukaimu. Apa kamu tau kalo aku benci sama kamu, jauh sebelum aku mengenal kamu” “baiklah jika itu pendapatmu, tapi aku ga akan pernah menyerah buat dapetin kamu” “sudahlah kamu hanya membuang-buang waktu berbicara seperti ini” lalu Ratna pergi meninggalkan Deny, “huh lagi-lagi aku ditinggalin ma dia”, kata Deny.
Rasa cintaku pada mu
Dengan rasa sabar
Dengan pengertian hati
Aku menunggu mu
Dengan harapan
Hati mu akan terbuka untukku
Meski sekian tahun telah berlalu, Ratna masih belum percaya pada Deny. Ratna benar-benar tidak mengerti pada Deny, bukannya semakin menjauh, tapi Deny malah selalu setia berada di dekatnya. Seperti saat-saat terberat dalam hidup Ratna, di mana kedua orang tua Ratna meninggal dalam kecelakaan tragis. Deny lah yang ada menemaninya. “sudahlah Rat, ikhlaskanlah mereka di sana” “kamu ga ngerti Den, kamu kira gampang kehilangan 2 orang yang kita sayangi sekaligus?” “tapi itulah takdir Rat. Meskipun kamu seperti ini terus-menerus apakah mereka dapat hidup kembali?” “tapi paling tidak biarkan aku sendiri sekarang Den, please” “tidak, aku akan terus di sampingmu. Apalagi saat jiwamu rapuh seperti ini”, ia memeluk Ratna. Ratna tidak kuat menahan, dia menangis dalam dekapan Deny. “menangislah sekencang-kencangnya. Biar semua beban dalam otakmu hilang” “terimakasih Den….”
Sebenarnya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh dalam hati Ratna. Tapi ia masih mengikat kuat pendapatnya bahwa Deny bukan laki-laki yang baik untuknya. “hey Rat” “hai juga, ngapain kamu ke sini?” “huh…masih ja jutek gitu. Tapi itu malah bikin kamu semakin cantik aja” “dasar gombal” “ih siapa yang gombal juga. Yang jelas aku masih menyukai kamu tau” “terserah lah, tapi aku belum suka tuh ma kamu” “sekarang sih belum tapi kita lihat saja nanti”.
Ratna melihat jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul 10 malam, entah kenapa perasaannya tidak tenang hari itu. Ia menelpon Deny, tapi tidak diangkat. Ternyata Deny masuk rumah sakit, Ratna segera menuju rumah sakit tersebut. Dokter mengatakan bahwa Deny mengalami luka parah di area matanya, bahkan dokter mengatakan apabila Deny tidak mendapatkan donor mata, maka ia tidak akan pernah bisa melihat. Entah kenapa hati Ratna sangat hancur. Ia tidak pernah menyangka orang yang sudah disayanginya itu kini tidak bisa melihat. Ia tidak tega meninggalkan Deny di rumah sakit sendirian. Setiap hari dialah yang menjaga Deny. Orang tua Deny ada jauh di Sumatra sana, dan sudah lama mereka tidak pernah berhubungan lagi apalagi setelah kedua orang tua Deny bercerai.
Belakangan ini Deny masih koma, dan Ratna dengan setia selalu mengajaknya bicara. Akhirnya suatu hari Deny menggerakkan tangannya, ia membuka mata perlahan. Tapi ia hanya mengatakan, “gelap….kenapa gelap seperti ini?” “sudah sudah tenang Den, aku di sampingmu. Untuk sementara waktu kamu memang belum bisa melihat, tapi setelah nanti dioperasi kamu akan bisa lagi melihat seperti dulu” “Ratna, aku sangat takut” “tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”. Ratna sangat senang Deny sudah sadar kembali. Namun ia merasakan hal yang aneh tentang dirinya belakangan ini. Kepalanya selalu terasa pusing, ia pun memeriksakan ke dokter. Ternyata ia menderita gagal ginjal. Hidupnya tidak akan lama lagi. Dengan langkah gontai ia menuju kamar Deny.
“hai Rat, apa itu kamu? Kamu sudah datang?” “iya Den, ini aku” “Ratna, aku sudah tidak sabar ingin melihat kamu, ingin memeluk kamu, kapankah operasi itu akan dilaksanakan?” “sebentar lagi Den, kamu bersabar saja”. “apa kamu tau Rat, kamulah orang pertama yang ingin aku lihat saat nanti aku pertama kali membuka mataku” “benarkah?” “iya tentu saja, aku akan melamarmu. Dan kita akan hidup bahagia selamanya”.
Namun……
Sejuta-juta sayang
Harapku itu tlah hilang
Kesabaran ku tlah sia-sia
Mimpi-mimpiku tlah musnah
Hatiku hancur tak berbekas
Ratna langsung menangis mendengar semua yang diucapkan Deny. Ia berlari menuju pintu keluar, menangis sejadi-jadinya. Ia teringat kata-kata dokter itu. Ia pun memutuskan akan mendonorkan matanya sendiri untuk Deny, lagipula apalah artinya dia hidup namun harus setiap hari keluar masuk rumah sakit, di samping itu ia sudah tidak mau merepotkan Deny. Meskipun hatinya sangat terluka, namun ia sudah bertekad.
Persetujuan operasi mata pun dapat dilakukan, Deny sudah tidak sabar untuk menunggu, segera setalah ia bisa melihat lagi, ia mencari-cari Ratna. Namun sosok Ratna tidak kelihatan dalam ruangan itu, ia bertanya kepada dokter. “dok, sebenarnya di mana Ratna?” “maaf, dia……dia sudah tidak ada”. “apa? Jangan bercanda dok, di mana dia?” “dia sudah mendonorkan matanya sendiri untukmu, karena ia tahu ia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya lagi”. “tapi kenapa dok?” “dia menderita gagal ginjal, akan sangat sulit menemukan donor ginjal dibandingkan donor mata. Begitu katanya, dan kami sudah memperingatkannya, tapi ia sudah bertekad bulat. Ia menderita gagal ginjal yang sudah sangat parah, kamu bisa menemuinya di kamar sebelah barat lorong rumah sakit sekarang”. Lalu dokter pun pergi, Deny bagaikan mimpi menghadapi kenyataan ini. Ia tersenyum, namun tiba-tiba menangis…. “tidak mungkin, ini semua pasti mimpi, tidak mereka pasti berbohong. Ini pasti kejutan bagiku karena aku sudah bisa melihat”.
Ia bergegas menuju ruangan yang dimaksud itu, ternyata…..itu adalah kamar mayat. Dengan hati-hati ia melangkah. Mendapati mayat seseorang yang dikenalnya, seketika itu ia berlari dan memeluk mayat tersebut. “tidak…Ratna..kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku Rat? Seandainya aku tahu ini akan terjadi aku tidak ingin bisa melihat lagi. Kamu pembohong, kamu bilang tidak akan meninggalkan aku. Tapi kenyataannya seperti ini, kamu jahat Ratna….sangat jahat…..”. perawat segera menarik Deny yang masih terus-terusam menggoncang dan menangis. Ia pun dibawa ke kamarnya kembali. Sesampainya di sana, perawat memberikan ia sepucuk surat. Ia pun membacanya….
Buat: Deny tersayang……..
Maaf selama ini aku selalu menyembunyikan perasaanku ini. Aku hanya tidak sanggup menarik kata-kataku bahwa aku membencimu.Namun jauh dalam lubuk hatiku…Aku sangat mencintaimu….Namun aku tahu kita tidak mungkin bersatu.Hidupku sudah tidak lama lagi.Aku tidak mau lagi menyusahkanmu. Aku ingin memberikanmu hadiah.Hadiah karena selama ini kaulah yang selalu menemaniku. Kaulah pelita hatiku Deny, aku tidak akan melupakanmu meski sampai titik darah penghabisanku. Lihatlah dunia dengan mataku ini, aku harap kau bisa mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.
I LOVE YOU…..
Deny menangis, ingin rasanya merobek-robek kertas itu. Ia tidak kuat, ia telah menunggu selama ini. Tidak pernah berpaling ke hati lain. Menyerahkan semua yang ia miliki, namun orang itu kini telah mengorbankan semuanya demi dia.
Walau ku coba tuk tahan air mata ini
Namun setetes demi setetes
Air mata ini terjatuh juga
Ku coba menahan diri
Menerima kenyataan yang tlah terjadi
Biarlah…..
Kini kau pergi
Dan biarkan aku sendiri
Dan aku menyadari
Kalau selama ini
KESABARAN TAK SELALU BERUJUNG BAHAGIA
Kamis, 29 Juli 2010
SEPENGGAL KISAH DI FB
Cerita yang kelam ini seharusnya hanya terpatri dalam benakku, namun ada baiknya ini bisa terbaca dan tak terulang dalam kenyataan meski semuanya hanya fiktif belaka.
Awalnya dari facebook semua bisa ada, perkenalan, hubungan, ampe yang namanya perpisahan ada. Facebook, jejaring social yang lagi ngetrend-ngetrendnya pada masa nie dah ngebius anak-anak muda dan semua insan di dunia. Utamanya buat orang-orang yang mau nyari lebih banyak teman, hiburan, tempat keluh kesah, ataupun hanya sekedar sensasi.
Ya ga sengaja aja kadang-kadang kita nemuin seseorang di facebook, entah dia darimana, anak siapa, punya rumah berapa mah ga penting di facebook. Yang penting bisa saling berhubungan satu sama lain. Ya kadang sih cma berawal dari iseng, tapi siapa tahu kita bisa nemuin jodoh kita. Seperti Anggi dan Werdha, ya emang semuanya cuma iseng, tapi siapa tau tu jadi kisah yang paling dramatis dalam idup kita. Kayak nie kisah…..
Hufh…..suara jari lincah ketikan Anggi benar-benar cepet, ga ada jeda bahkan. Tiap malem abis kerja, pasti dia bgadang di kantor cuma buat ganti status lah, chatting lah, atau pun komen ke temen-temennya. Bahkan tiap ada kesempatan, kalo dia dah ga ada kerjaan di kantor pasti nyempetin diri buat log in ke fb-nya. Ga lewat computer kantorlah, ga lewat hp di rumah lah. Semuanya ga ada habisnya. Dia bener-bener kecanduan tu ma yang namanya fb. Ya temen-temennya si maklum juga, dia kan abis putus ma pacarnya, gara-gara pacarnya ketauan selingkuh di depan matanya sendiri. Ya wajarlah kalo dia nyari pelarian di fb. banyak juga cowok-cowok yang dah ng-add dia juga di fb. Semua express, perkenalan lah, langsung tuker-tukeran no.hp. Abis tu ketemuanlah….hmmm…..melelahkan juga, pikir Anggi kadang-kadang.
Ampe dia nemuin banyak cowok, “bingung juga nie, yang mana mo dibales dulu ya?”, ya hari-harinya paling cuma disibukin ma urusan fb. Tapi gara-gara tu juga dia jadi ngerasa ga kesepian. Dia ngerasa ada banyak teman di sekelilingnya. Meski dia tau banget kalo kebanyakan dari mereka ya cuma iseng, atau nyari gebetan asal ja. Tapi Anggi ga perduli, yang penting happy katanya. Pernah dia nyoba serius ma satu orang namanya Yuda. Bisa dibilang mereka dah lumayan deket. Smsannya dah kayak lagi pacaran ja, meski mereka sama sekali ga pernah ketemu. Akhirnya suatu ketika mereka ketemu juga, awalnya Anggi sangat deg-degan, ya bagaimanapun mereka belum kenal secara langsung. Ga banyak kata yang terucap pas mereka dah ketemu. Dan ternyata perasaan Anggi bahkan ga ada ngerasain da sesuatu dengan Yuda, begitu juga Yuda. Hubungan mereka pun putus di tengah jalan.
“Gi, bingung aku ma kamu, kamu tu banyak buanget temen smsannya, ga capek tu bales atu-atu?” , kata temen Anggi di kantor yang namanya Wiwin. Anggi sedang asik-asiknya ngetik sms lewat hpnya waktu itu, dia menoleh sebentar, “hemmm”, “yah aku nanya serius gitu, cuman dijawab hmmm doang, gitu dah kalo dah ma temen fbnya, temen sendiri dilupain”. Lalu Wiwin agak kesel, trus ninggallin Anggi dah. Setelah beberapa menit kemudian, Anggi ternyata lupa sekali bawa pengenal kantornya padahal dia waktu tu bener-bener harus ketemu ma klien. Akhirnya dia minjem di Wiwin. “Win, pinjemin aku dong, please…” “enak aja, tadi aku dicuekin. Tu suruh ja temen fb kamu minjemin” “duh, Win aku minta maaf deh. Please bantuin aku kali nie, aku janji deh ga bakal nyuekin kamu lagi. Oh ya apapun deh permintaan kamu aku turutin, tapi kali nie bener-bener aku butuh bantuan kamu win” “iya, iya deh aku bantuin. Asalkan ntar kamu traktir aku makan siang” “iya sip deh”, yah akhirnya Wiwin minjemin kartu pengenalnya. Tiap berurusan ma makanan, Wiwin mang ga bisa nolak. Ckckckck…
Hari yang ngebosenin……….
Anggi ga tau mesti ngapain, ya akhirnya seperti biasa tangannya dah gatel buat log in ke fb. Trus dia buka kotak obrolannya, ya dia ajak satu orang buat chatting. Asal aja, dia bilang Hai…ma orang yang namanya Werdha. Ga disangka-sangka dia juga bilang hai, ya sejauh itu mreka nyambung-nyambung aja. Ampe tukeran no.hp pula, semuanya tu berjalan cepet banget kayak jet, n suatu hari Werdha ngajakin ketemuan. Awalnya Anggi males banget ketemu ma Werdha, coz dia sebenernya dah males ketemu-ketemu ma orang yang ga jelas dia kenal. Belum lagi dia ga berani lagi sendirian ketemuan,coz perbah suatu kali pas dia diajakin ketemuan tu, dia kapok banget. Janjinya sie sendiri, tapi cowok yang diajaknya ketemuan tu malah rame-rame segeng gitu. Untung Anggi dah jaga-jaga, dia ga makek baju yang warnanya dah dia kasi tau ke cowok itu. Dan akhirnya Anggi sembunyi-sembunyi pulang deh ke rumah. Masak dia dah berani boong padahal nie baru permulaan, kata Anggi dalam hatinya.
Buat Werdha, dia ngasi alasan buat ga ketemuan, ya dia ga begitu semangat juga buat ketemu-ketemu kayak gitu lagi. Tapi makin lama, Werdha dapat juga meluluhkan hatinya. Werdha beda ma cowok-cowok yang lain, yang hanya ngeliat Anggi dari fisik aja, udah gitu Werdha seneng banget nyuruh Anggi biar semangat kerja n ga males-malesan. Anggi pun akhirya mau ketemuan. Ya seperti biasa nih, Anggi ga mau nunggu duluan, pasti Werdha disuruhnya buat datang setengah jam lebih awal dibanding dia. Ampe-ampe dan 10 kali Werdha ngsms nanyain jadi apa ga ketemuan. Anggi hanya cekikikan melihat Werdha yang udah lumutan nungguin dia, sebenernya dia dah ada deket Werdha, cuma dia sembunyi di balik mobil yang diparkir ga jauh dari tempatnya Werdha. Namun pada akhirnya dia ketahuan juga gara-gara dia lupa silent hpnya. N Werdha waktu tu nelpon dia. Wedha curiga kok pas dia nelpon, ada suara hp yang bordering juga di sampingnya. Anggi udah panik, mau reject ga enak, mau ngatur bunyi hp dah terlambat juga. Akhirnya Werdha nemuin dia, n dia cuma bisa bilang hai…
Mereka duduk di kursi tepat di bawah pohon mahoni yang rindang, Anggi pun membuka pembicaraan, “mmm…sorry ya tadi aku cuman mau bercanda ja” “lucu kali kamu, masak di situ sembunyi sih, kayak ga punya kerjaan ja” “ya, aku kan dah bilang cuman mau bercanda ja tadi”. Ya ga lama sih mereka ngobrol, karena Anggi dapat telpon dari tantenya. Katanya disuruh nganterin ke rumah sakit, karna neneknya sedang sakit. Ya mereka bersalaman saat akan berpisah. “Gi, kalo ada waktu kita ketemu lagi ya” “oh..iya-iya”.
Pertemuan tu emang singkat,padat, n jelas banget. Ga ada memori romantisnya sedikit pun, hati juga ga bergetar waktu tu. Semua itu dirasakan oleh Anggi suatu firasat kalo dia mang ga ada feel ma tu orang yang namanya Werdha. Dia udah ngapus nomer hpnya si Werdha, karna dia rasa orang kayak Werdha paling cma penasaran aja ma dia, tapi kemarin, dia kelihatan juga ga kayak di smsnya. “huh biarin dah mending tak apus aja nomer nie orang. Males kayaknya aku berhubungan ma orang yang udah aku ajak ketemuan”. Namun beberapa menit kemudian, Werdha mengiriminya sms, untung dia masih inget nomernya Werdha, kalo ga bisa ja kan Werdha tersinggung kalo dia ditanya sapa nie???
Ampe beberapa hari, Werdha masih mengirim sms dengan rajin. “ga nyangka aku ma nie cowok, tak kirain dah lupain aku”. Dan lama kelamaan, Werdha makin ngasi isyarat kalo dia tu suka ma Anggi. Tiba-tiba waktu itu, hujan masih sering turun di bulan Desember dan anginpun kencang, cuaca berawan, ga nyambung kali ya, mang nie ramalan cuaca apa….tapi suasana itu yang terjadi pas Anggi bener-bener kaget baca smsnya Werdha. Dia bilang hei…bebh…..Anggi bener-bener ga ngerti kenapa tiba-tiba tu orang manggil dia kayak gitu. Lalu dia membalasnya, kmu salah kirim ya Wer?, tak berapa lama kemudian, Werdha pun menjawab, ngga kok, bener…., lalu Anggi nanyak lagi, mang kamu tadi ngsms apa?, Werdha bales, mz..bebh…, jantung Anggi dah ga karuan detaknya, aliran darahnya juga jadi cepet arusnya. Dia sedang mikir keras, gimana caranya dia ngadepin nie orang. Apa dia mesti bilang kalo dia ga suka n terang-terangan nolak nie cowok. Apa dia mo ngasi nie cowok kesempatan buat bisa ada pas dia lagi sedih, pas dia lagi seneng, bisa diajak curhat, n so pasti dia ga bakal sendirian n nglanjutin masa pencarian cintanya. “uuuhhh….bingung…..”, sepupunya Anggi yang bernama Sari yang kebetulan lewat heran ngeliat spupunya yang rada-rada aneh sendiri itu. Lalu dia deketin si Anggi.
“gi….”, katanya dengan nada yang keras banget sambil menepuk bahunya Anggi. Anggi ampe kaget setengah mati, “astaga amit..amit…orang jatuh…”, sepupunya hanya ketawa ngeliat tingkah Anggi yang emang latah-latahan gitu orangnya. “he…he…he…sorry, sorry Gi….lagi ngapain sih, aneh banget” “ah kamu nie…bikin jantungku copot ja, aku lagi bingung nie Sar” “bingung kenapa toh Gi?” “nie kan da orang yang aku ajak ketemuan, trus dia dah mo aku lupain. Tapi ampe hari ini aku masih aja disms Sar, parahnya lagi dia bilang bebh ke aku” “mang kamu dah pacaran ma dia?” kata Sari sambil ngambil toples berisi kacang polong kesukaannya di atas meja tempat mereka duduk. “yah tu dah masalahnya Sar, aku bahkan ga pacaran ma dia. Tadi kan aku nanya ke dia pa dia ga salah kirim tu. Trus dia bilang ngga, n tak tanya lagi apa yang dia sms tadi , n ternyata dia bilang bebh lagi ke aku Sar” “hmmm….dia dah nganggep kamu pacarnya tuh”, kata Sari yang sambil asyik makan kacang. “ah kamu nie, dia ja belum dapet nembak aku , gimana aku bisa jadi pacarnya dia coba? Mang aku mau apa ma dia, orang ketemu ja baru satu kali”. Sari sejenak berpikir, “iya juga sih, apa dia ga terlalu cepet tu nganggep kamu jadi pacarnya. Menurutku sih kamu lebih baik nanya maksudnya dia tu apa?” trus dia ngsms Werdha n nanya apa maksudnya dia bilang kayak gitu. Ternyata Werdha cuman bilang kalo dia cuman pingin ja manggil Anggi kayak gitu, coz Werdha ngerasa dah lama smsan ma Anggi n pingin mesra ma dia. Anggi bener-bener ga percaya, masak ada orang yang cuman gara-gara dah lama smsan dah mau ngajakin mesra-mesraan, mang dia cewek apaan? Lagian Werdha juga belum nembak dia gimana mo dibilang pacaran coba, heh…hal ini makin buat Anggi bingung…..
Akhirnya coz dah jenuh kali ma yang namanya kebimbangan, Anggi pun dengan tegas ngomong ke Werdha via sms, “Wer, jangan panggil aku gitu lagi, kecuali kalo kita udah pacaran” “oh gitu, pacaran yuk” spontan aja Anggi kaget, dia bener-bener ga nyangka bakal diajakin pacaran. Yang bikin dia tambah bingung, sekarang dia mesti jawab apaan?????? Trus Anggi pun mencari Sari, dia nemuin Sari sedeng telpon-telponan ma pacarnya, tapi Anggi saking ngebetnya maksa Sari buat nutup tu telepon. “iihhh…da apaan sie Gi? Tumben kamu ganggu acara telpon-telponan aku nie, mana lagi seru-serunya lagi” “iya iya sorry Sar, masalahnya ini penting banget buat aku, aku diajakin pacaran tuh ma si Werdha” “trus????” “menurut kamu aku terima dia pa gimana ya?” “yeee, tu kan terserah kamu, kok nanya aku sih, kalo emang kamu suka ya terima, kalo engga ya tolak, ribet amat sih” “tapi aku bingung, aku kan ketemu baru satu kali tuh ma dia, masak aku dah pacaran ma dia, pedekate ja engga, duh bingung Sar” “ya kasi ja dah dia kesempatan, mumpung sama-sama jomblo, ya kalo ga cocok putusin aja, gampang kan” “oh ia, kamu bener juga”. Akhirnya Anggi nerima Werdha sebagai pacarnya meski dengan setengah hati.
Ya mereka sih jarang ketemu, coz Werdha masih sibuk ma dunia bartendernya, sedangkan Anggi juga lagi mo brangkat ke luar negeri, alnya dia kerja disana. Sebenernya mereka saling kangen, tapi mo gimana lagi, kan ga mungkin mereka ninggalin karir mereka, toh itu juga buat masa depan mereka kelak. “Bebh, ayang rindu kali ma bebh, bebh kapan pulang sie?”, kata Werdha merajuk, “e…ga tau juga yank, mungkin satu bulan lagi, yang sabar ya yank” “iya iya, ayang bakal selalu nungguin bebh”. Satu bulan kemudian….ga kayak biasanya hujan turun deres banget di pelabuhan, untung Anggi selalu siap sedia bawa payung kemana-mana, dia lari ampe hampir ja dia kepeleset n nabrak koridor pintu masuk pelabuhan, untung da cowok yang namanya Nino nolongin dia. “kalo jalan hati-hati mbak”, kata Nino tanpa simpati sama sekali, “eh iya maaf, tapi makasih” , cowok itu malah pergi, n ga ngomong apa-apa lagi ke Anggi. “akhirnya nyampe rumah juga kau Gi,aku kangen juga ma kamu”, kata Sari, “duh Sar aku capek banget, satu bulan lagi aku dah kerja lagi. Kamu enak ya kerja di kantor, ya bisa santé lah ga kaya aku nie dah kurus tambah kurus lagi” “ya itu kan dah da yang ngatur Gi, kan lumayan juga gaji kamu disana” “iya lumayan menguras tenaga juga Sar” “ya udah kamu istirahat ja dulu, ntar kalo Werdha nelpon, aku bilang kamu capek” “oh ya makasih ya Sar” “sama-sama”.
Letih ,lesu, lunglai dah ga kebayang lagi di pikiran Anggi pas dia dah nyampe di rumahnya. Ngerasa kayak udah tenang aja, pokoknya dia ga mau mikirin bulan depan dia mesti kerja lagi, ya dia pingin santé sejenak di rumahnya. Oh ya satu lah yang paling ga bisa dia tahan tu adalah ketemu ma pacarnya si Werdha. Rasanya dah lama sekali dia ga ketemuan, kata lagu yang lagi ngehits karang tu judulnya sie Rindu setengah mati. “yank, ku udah pulang nie, tadi sempet nelpon ya?” “iya bebh, tapi kayaknya kamu masih capek, ya udahlah ga pa2” “iya sie yank, tapi pa yank ga kangen ma bebh?” “uhhh…kaaaaaaaaaaaaaangeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn kali bebh, dah ga sabar pengen…..” , Werdha diem, buat Anggi tambah penasaran ja. “Pengen apa yank?” “pengen….ya pengen ketemu lah, hahahhahah..” “ih dasar bikin penasaran aja yank nie, ya udah eh ntar kita ketemu dimana yank?” “emmmmmmmmm……..di tempat kita pertama kali ketemu ja bebh” “dah lupa tu yank” “astaga, blum juga nenek2 dah pikun” “iya iya boong, inget kok” “gitu nae bebh, ayank kan tambah sayang jadinya” “iya2 bebh juga, miss u” “miss u too my lovely”. Telpon pun ditutup….
Mereka dateng bersamaan, ya Anggi masih malu2 gitu ketemu Werdha, ya udah lama juga ga ketemu gimana gitu rasanya. Werdha hanya senyum-senyum sambil terus natap mata Anggi. Mereka duduk lagi tu di bawah pohon mahoni, sambil nginget2 masa lalu juga. Tiba-tiba ujan turun deres banget, ampe semua baju Anggi n Werdha basah kuyup. Mereka nyari tempat berteduh lah, hmmm akhirnya mereka nemuin tempat yang teduh yaitu di bengkel yang karang udah gulung tikar tu. Tempatnya agak kotor sih, tapi ga apalah, daripada diguyur ujan terus ntar bisa sakit lagi. “yank ga ok kali tempatnya ya, aku bener-bener ga nyaman sini. Udah ga ada tempat duduk lagi” “ya mo gimanain men bebh, kalo kita pulang mang bebh bawa payung? Motor juga jauh parkirnya” “iya iya tau…”, Anggi hanya mengeluh sebentar. Ujan bukannya berhenti malah tambah deres, “yank kayaknya nie ujan bakal ga brenti2 deh” “iya juga bebh” “yank kita pulang aja dah yuk” “ya bentar lagi aja bebh…oh ya kamu kapan mo balik kerja lagi?” “satu bulan lagi yank” “uh cepet banget ya, mending kamu brenti aja dah sana bebh. Ntar ayangbantu deh nyari kerjaan di sini” “duh gimana men yank, dah terlanjur pake kontrak yank. Dua tahun lagi baru bebh bisa brenti yank” “lama kali bebh……”, katanya sambil menunduk. Anggi pun sebenernya ga tega teru-terusan ninggalin Werdha, dia mendekati Werdha, “udah yank, jangan tu dipikirin lagi. Kan karang kita dah bisa ketemu aja dah syukur” “iya juga bebh”, Werdha memegang tangan Anggi, lalu mengecup keningnya. “I love you”, kata Werdha. “love you too…”, ya ga kerasa tu bibir dah turun dari kening menuju ke bibir Anggi. Ya akhirnya mereka ciuman….
Hari-hari jadi amat brarti buat Anggi n Werdha, tapi mulai ada rasa curiga di hati Anggi pas dia ga sengaja ngangkat hp-nya Werdha, coz Werdhanya juga lagi ke belakang. “halo….”, kata Anggi. “halo, ada Werdha ga?”, kata cewek itu dengan nada manja. “dari siapa ya?” “oh aku tunangannya Werdha”, langsung aja Anggi diem pas denger tu cewek ngomong kayak gitu. “halo…halo…”, kata tu cewek karna udah ga denger suara Anggi lagi. Lalu telponpun ditutup, Anggi pun terhenyak di kursinya, Werdha kemudian dateng, trus aneh ngeliat Anggi natap dia kayak gitu. Lalu dia mendekat n duduk di samping Anggi. “Gi, kamu kenapa bebh?” Anggi menjauh, n berdiri “kenapa kamu ga jujur ma aku?” “jujur apa bebh?” “siapa tunangan kamu itu?” “tunangan apa?” “udah ga usah boong, aku udah tau karang ternyata ini yang kamu lakukan di belakang aku. Dari awal kan aku udah bilang, jika kamu mang udah bosen, udah ga cinta lagi ma aku bilang aja. Aku ga akan maksa kamu, atau nyalahin kamu. Tapi ga kayak gini caranya”, Anggi semakin meledak, Werdha mendekat, “sabar bebh, ini semua ga kayak yang kamu pikirin, jujur dia itu cuman pilihan orang tuaku, aku bahkan ga pernah ketemu ma dia. Aku masih n sangat cinta ma kamu untuk selamanya bebh” “jangan boong…aku muak denger kata-kata kamu. Seharusnya kamu ngomong dari awal tentang masalah ini” “tapi aku ga mau kamu terganggu konsentrasinya pas kerja bebh” “ah alasan…..” Anggi keluar dari tempat kos-kosannya Werdha….
Semalaman Anggi nangis, untung ada Sari yang nemenin dia. “udah Gi, mungkin ja dia mang ga mau ganggu kamu dulu dengan perjodohan itu, toh dia juga pasti bakal milih kamu” “kamu ga ngerti perasaan aku sih Sar, ini tu bukan masalah sepele Sar, harusnya dia bicarain sebelum-sebelumnya ma aku” “ya udah, tapi kamu ga boleh terus-terusan, beberapa minggu lagi kamu bakal kerja lagi kan” “ya ya aku ngerti Sar, uhhhh aku marah…….sakit hatiku Sar….aku dah ga mau pokoknya maafin dia, nelpon aku aja dia ga tadi, nyegah aku aja nggak, ya biarin dah” “ok, up to u aja Gi. Karang tidur dulu” “iya iya”. Esoknya pagi-pagi dengan mata yang masih sembab abis nangis tu, Anggi bangun, lalu membuka jendela kamarnya. Baru dia buka tiba-tiba dia ngeliat Werdha dah ada di luar sedang ngliat kea rah jendela tu juga, masih ga percaya Anggi megucek-ngucek matanya, ternyata dia ga mimpi. Langsung dia tutup lagi jendelanya, dia juga masih kesel ma Werdha. Sari tau kalo Werdha nunggu Anggi bukain pintu buat dia, tapi tau sifat sepupunya tu kalo udah marah ma seseorang pasti bakal ga mau ketemu ma tu orang akhirnya Sari yang bukain pintu. “hai Wer, nyari Anggi ya?” “iya Sar, aku pingin ngobrol ma dia” “hmm…kayaknya susah Wer, dia ga mau ketemu kamu” “please Sar, bantuin aku biar aku bisa ketemu ma Anggi, aku harus jelasin ini semuanya ke dia”, Sari pun ga tega ngeliat Werdha mohon-mohon kayak gitu.
“Gi, Werdha dah di ruang tamu tuh. Cepet temuin dia gih” “apa???? Ih kamu nie Sar, ngapain biarin dia masuk sih. Masak kamu juga nyuruh aku ketemu dia, mandi juga aku belum. Aku kan gengsi juga Sar, kalo masih kayak gini tapi udah ketemu dia”, “ah kamu nie kebanyakan mikir deh, cepet mandi kalo gitu” , lalu Sari kembali nemuin Werdha, “Wer, Anggi masih mandi, tunggu lagi bentar ya” “iya ga pa –pa kok Sar, thank’s sebelumnya ya” “ya tentu aja”. Beberapa menit kemudian………. Dengan langkah gusar, Anggi masuk ke ruang tamu itu, kemudian dia duduk agak jauh dengan Werdha, “ngapain ke sini?” “duh bebh, kok ketus gitu sih, maafin yank ya” “ga da yang perlu dimaafin” “ok biar aku jelasin, aku ma dia bener-bener ga ada hubungan apa-apa lagi. Kalo kamu ga percaya ayo sekarang kita nyari dia terus kelarin ni masalah” “ga usah, aku males, buang-buang waktu aja” “duh kamu tu dari dulu kalo dibilangin ga mau denger ya. Aku ga mau hubungan kita putus cuman gara-gara masalah kayak gini” “ok, aku butuh waktu buat berpikir, kamu kira gampang apa aku bisa maafin kamu, apalagi aku ga tau mungkin skarang kamu bisa bilang ga ada hubungan ma dia tapi bagaimana dengan nanti? Saat aku dah balik kerja lagi, aku ga bakal tau apa yang kamu lakuin” . “percayalah padaku Gi, aku selalu setia buat kamu, ya udah aku harus siap-siap dulu ya bebh ntar aku telpon lagi deh.” “ya ya”, trus Werdha pun pergi….
Anggi sebenernya percaya ma Werdha, cuman dia juga khawatir jika Werdha kesepian trus orang tuanya mendesaknya lagi. “gimana Gi?” “gimana apanya Sar?” “ya hubunganmu ma Werdha” “masih rumit Sar, udah ah ga usah diomongin lagi” “men mau kemana kamu karang?” “aku ada urusan sebentar ya Sar, bentar aja kok” “ya hati-hati ja Gi” “ok… ok…”. Anggi cepat-cepat ke tempat temannya dulu yang bernama Wiwin. Ya dia mang rindu banget ma tu anak, coz dah lama juga ga ktemu. Ya trakhir ktemu tu dah pas Anggi ngundurin diri dari kantornya coz udah ga betah ma bosnya yg curigaan terus ma dia, cuman gara-gara dia ngira Anggi tu cma main-main ja kerjanya. Padahal sebenernya Anggi mang pinter trus ya pas waktu senggangnya aja dia iseng buka fb. Ya dia dh di dpn rumah Wiwin tuh….dah ga sabar banget mencet bel rumahnya.
Ting…nong…..ting….nong…..awalnya Anggi ga percaya kalo itu Wiwin pas bukain dia pintu. Sempet bengong sebentar trus dia kira dia salah masuk rumah….dia liat lagi nomer rumahnya, “ah masih sama” “hemm….hm….dah lupa toh ma aku Gi, wajarlah aku berubah wong aku juga dah berkeluarga, yuk masuk ja Gi…” “eh..iya iya”, mereka kemudian masuk ke dalam rumah bercat putih itu, dah banyak yg berubah di rumah itu, pikir Anggi. Mereka duduk di sofa di ruang tamu Wiwin yg ga begitu besar itu. “eh aku buatin kamu minum dulu ya” “eh ga usah Win, aku ksini ga karna haus kok, lagian kamu lagi hamil juga ga usah banyak gerak” “ga pa pa kok Gi, udah biasa juga. Lagian kamu kan jarang ke rumah aku”.. “ya udah deh, eh aku ikut ya skalian mo liat dapur kamu” “up to u dah…”, mereka jalan beriringan ke dapur Wiwin.
“eh btw kamu kok ga bilang-bilang sih dah nikah?” “ya mo gimana lagi, aku tau kamu ada di luar negeri juga, ga mungkin lah aku ngundang kamu” “ya paling ngga kan aku bisa ngucapin met nikah n nempuh hidup baru ma kamu Win” “ya mo gimana lagi dong, aku juga lupa ma nomer hp kamu. Ya udahlah ga pa pa. btw kamu masih gini-gini aja dari dulu. Dah da planning buat marriage blum?” “ah marriage???masih jauh kayaknya Win, aku mah kalo urusan serius gitu masih pikir-pikir ampe sribu kali” “berpikir sih berpikir Gi, tapi ampe kapan kamu kayak gini terus, awas lho ntar jadi perawan tua kan umurmu udah 27 Gi, dah waktunya nikah lho” “ih….kamu nie nakut-nakutin aku aja, giman lagi dong Win, entah knapa aku ga yakin ma si Werdha ini. Well aku masih suka ma dia, tapi aku gay akin kalo aku harus nikah ma dia. Ada sesuatu dalam diri dia yang masih misteri menurut aku… ” “ah kamu nie lebay amet sih, kalo mang ga yakin ma dia bicarain dong baik2. Jangan malah kayak gini terus…ngambang…..” “tau ga tadi ja aku baru baikan ma dia, gara-gara dia ga bilang mo dijodohin ma ortunya” “wih gawat tu Gi, trus…trus….” “ya aku marah dong, aku ga terima ia ga jujur ngomong ma aku. Tu dah yang bikin aku kesel n ragu ma dia Win. Emangnya aku bakal knapa kalo bicarain itu sblum-sblumnya ma dia. Toh aku ga bakal nyalahin dia, dari dulu ampe karang ya Win, aku ga pernah nglarang dia sama sekali. Padahal kamu tau ndiri kan kalo aku tu paling anti ma yang namanya rokok, tapi demi dia aku rela nerima dia seorang prokok….udah abis ksabaranku ma dia Win, dia tu mikir semua gampang. Aku disuruh brenti lah kerja ma dia, mang dia pikir aku nie tipe cewek yang bergantung ma cowok apa”, ga kerasa air mata Anggi netes lagi….Wiwin mengusap-usap bahu Anggi, “udah Gi, aku ngerti perasaan kamu….aku saranin kamu bicara dulu ma dia baik-baik, trus kamu tentuin apa kamu bakal lanjut ma dia atau selesain itu sekarang juga”. “iya kamu bener Win, aku harus selesain nie skarang juga, masalahnya bntar lagi aku kerja lagi, biar ga kebawa di tmpat kerja nie urusan…biar kelar skarang juga” “ya, ya baguslah klo gitu….eh….tu the nya diminum dulu Gi, dari tadi nyroscos terus kamu” “eh…iya lupa aku”, kata Anggi lalu minum teh tersebut……”ya udah Win, aku pulang dulu ya…salam buat suamimu n satu lagi ma babymu ini”, kata Anggi sambil ngelus perut Wiwin, “iya, iya, sayang kamu cuma bentar mampir Gi” “ya kapan-kapan kalo aku punya waktu pasti aku ksini lagi kok” “iya hati-hati ja lo gitu” “ok….”, kata Anggi lalu dia pulang ke rumahnya….
Tapi ia kaget banget pas nyampe di dpn rumah….ada si Werdha berdiri di sana…. “hai Gi…..dari mana aja? Aku dah lama nunggu sini tau” “eh kamu kok dh di dpn sini sih? Katanya tadi ada urusan” “ya urusanku dah lesei bebh….kita jalan yuk….” “mang mo ngapain?” “yee….kan kita udah lama ga jalan skalian ngobrol gmana sih bebh nih” “bntar dulu aku mo ganti baju dulu” “duh ga usah dah bebh, udah cantik kok….” “ih…engga je gitu, nie dah bau apek tau” “ga knapa…..ayok….”, Werdha narik tangan Anggi…..
Mreka tiba di sebuah bukit yg luas banget…..”ngapain sih kita kesini Wer” “oh..lagi nanya ya buat refreshing juga lah Gi” “oh gitu….”, trus mereka berdiri di samping batu gede yang ga jauh dari pohon singapur….”oh ya mumpung di sini,aku pingin ngobrol serius ma kamu Wer” “ngomong aja bebh…” “e…..aku pingin nanya ma kamu sebenernya kamu bisa nerima aku apa adanya pa ga sih?” “ya iyalah bebh…”, kata Wedha sambil ngrangkul Anggi dari blakang, tapi Anggi langsung nglepasinnya trus balik ke blakang tepat di dpn muka Werdha, “aku ga bisa ada tiap hari di samping kamu, pa kamu masih bisa setia ma aku? Aku ga bisa kamu kekang, bukannya aku pingin bebas kayak di hutan, tapi aku ga ingin kalo cuman tergantung ma kamu”, kata Anggi dengan serius, “iya aku dah tau kok maksud kamu. Huh….mau gimana lagi, yang penting kamu ga ninggalin aku pas malem pertama kita ja”, kata Werdha sambil senyum-senyum, “bercanda ja kamu nie ya”, kata Anggi tersipu malu….lalu Werdha meluk Anggi, n bilang.. “diem…dulu ada sesuatu tuh di muka kamu” “apaan sie Wer???” “iya makanya diem dulu, tutup mata kamu tu biar aku bisa ngilanginnya” ya Anggi langsung nutup matanya, ternyata eh ternyata…..Werdha bukannya mau ngilangin apa-apa, dia cuman mau nyium Anggi…
Spontan dong Anggi kaget trus buka mata, “ih kamu nie Wer, resek kali sie cium ga bilang-bilang” “ya ga surprise dong kalo bilang-bilang, lagian cuman bentar kamu dah snewen gitu” “abis kamu sih, udah ah pulang aja aku males jadinya di sini” “ye, kok ngambek bebh…..jangan gitu dong bebh”
“iya cepetan pulang ja”, kata Anggi langsung balik badan trus jalan menuju pintu keluar. Werdha ngejar dia, “cepet banget sih bebh, blum juga ngapa-ngapain” Anggi langsung noleh dia, “mang mo ngapain lagi? Tadi dah dapet nyium juga, ga puas???” “mih….galak amat sih, ya sorry sorry….yuk nae pulang bebh….”. mereka akhirnya pulang deh….
Malemnya……
Kring…..kring….., duh sapa sih nelpon jam sgini, bru ja mo mimpi aku….., kata Anggi ngraba-ngraba nyari hpnya yg bunyi terus…., “ya halo….sapa nie”, “halo bebh…..” “dasar kamu nie, ga tau dah jam brapa karang?” “baru juga jam 12 bebh, udah bobok ya?” “ya iyalah….mo ngomong apaan mangnya?” “cuman mo denger suaranya bebh ja….” “buang-buang pulsa ja kamu Wer” “ga apalah, demi bebh tercinta” “gombal kali, ga tidur kamu?” “blum bebh….” “mang lagi ngapain?” “lagi ma temen-temen ja bebh” “udah dah mabuk ya?” “ah ngga kok, ya bebh bobok dah lagi” “ya udah……”, lalu telpon pun ditutup….
2 jam kemudian…..
Ada telpon lagi… ih….sebel…sebel…..udah mo mimpi lagi malah ada telpon, “ya mo ngapain lagi nelpon?” “bebh….ayahku masuk RS nih” “apa???” “iya Gi, aku mo kesana dulu” “ok…ntar aku nyusul Wer” , langsung aja Anggi melek, dia ga kebayang gimana perasaan Werdha. Dia cepet-cepet siap-siap ke rumah sakit. Nyampe sana ia ngeliat dah da tunangan Werdha n keluarga Werdha yang lain ,masih agak kikuk..untung Werdha ngampirin dia, “sini Gi….”, mereka semua duduk…..lalu ayah Werdha ngomong dengan terbata-bata.. “nak….bapak tau kalian udah deket, tapi bapak mohon sebagai permintaan trakhir bapak sebelum bapak kea lam sana. Tolong sudahi hubungan kalian, bapak sudah buat janji jauh sebelum Werdha dilahirkan dengan bapaknya nak Vrida ini, kalo mereka berdua bakal dijodohin…bapak mohon nak Anggi bisa nerima” semua terdiam…..Anggi dah ga sadar kalo dia denger semuanya….ia mikir….akhirnya ia tau ini akhir hubungannya, “baiklah pak, semoga bapak tenang menghadap-Nya…saya bersedia memutuskan ini semua”, “terimakasih nak….”, setelah itu ayah Werdha menutup matanya buat slama-lamanya. Semua orang menangis…..hanya Werdha yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat itu….
Dia ga ngerti kenapa bisa terjadi kayak gini, Anggi kemudian menghampiri Werdha yang masih keliatan terpukul baik karna kepergian ayahnya maupun dengan kputusan Anggi. “Wer, udah relain semuanya aku harap kamu tabah….aku akan pulang dulu…kamu kabarin aku aja kapan penguburannya aku akan dateng”, Werdha memegang tangan Anggi, “kenapa semuanya mesti pergi bersamaan Gi, apa salahku?” “jangan bilang gitu Wer, semuanya takdir….” “aku….aku ga tau bisa bertahan apa tidak jika kamu pergi juga Gi” “aku yakin kamu bisa, sudah…..jodohmu udah nunggu kamu, temanilah dia sekarang…..”, lalu Anggi melepaskan tangan Werdha….ia pergi…berusaha menahan air matanya yang dah dari tadi mo netes terus…..
Ngga….aku udah janji ma ayahnya Werdha….ga mungkin aku bohong….ya inilah akhir semuanya….., Sari tau, itu sangat berat buat Anggi, ia ngibur Anggi, tapi Anggi cuman mau sendiri…..
Esok harinya adalah pemakaman ayah Werdha,Anggi menepati janjinya, ia dateng ma Sari dengan baju serba item-item…. Werdha masih kliatan terpukul….ia memandangi jasad ayahnya yang udah masuk ke liang kubur…air mata netes…semua orang nangis….Werdha sama sekali ga nyadar kalo Anggi dah berdiri tepat di depan dia…..sampai akhirnya semua orang pergi, “Anggi….kamu dateng juga…” “iya Wer….ya udah yang tabah ja….aku mau pulang Wer…slamet tinggal” “tunggu Gi….ini mungkin bukan apa-apa buat kamu tapi udah dari dulu aku nyimpen ini buat kamu terserah kamu mau buang atau nyimpen…yang penting aku udah nyerahin ini” Anggi membuka kotak itu, ternyata ada cincin.. “cincin???buat apa Wer?” “aku sebenernya udah pingin nglamar kamu, tapi semuanya udah ga mungkin lagi…..” “tapi bagaimana aku bisa nerima cincin kamu?” “aku mohon terima sebagai tanda perpisahan terakhir kita aku mohon Gi….mungkin berat buat aku, aku ga pernah ngebayangin semuanya bakal kayak gini….tapi aku tau inilah kenyataan….tolong terima cincin itu Gi” “baik…baiklah…..Wer….” mereka pun berpisah……
Berat……banget bagi mereka berdua…..tapi live must go on….Anggi dah denger kalo Werdha udah tunangan n bentar lagi mo nikah….sakit mang rasanya….cuman bntar lagi Anggi juga mo brangkat kerja…..udah beberapa bulan kemudian Anggi masih sendiri.
Dia udah mo nutup fb-nya karena dia udah ga mau nginget kenangan ma Werdha lagi, tapi….dia ngeliat orang yang dulu nolongin dia ternyata ngirim pesan di fbnya… “hey…..who are u????” yah Anggi mulai penasaran lagi….penyakitnya dah kambuh tuh. Ya dia bales aja…..
Cerita pun dimulai lagi, mang ga ada habisnya kalo dah ngomongin masalah cinta apalagi yang berhubungan ma fb. Lembaran barupun dimulai lagi. Sedih duka terhapus oleh sosok Nino yang humoris n kadang-kadang sok jaim gitu. Tapi kali nie Anggi udah yakin ma Nino…ternyata mereka klop banget n cocok di segala bidang. Yah berkata fb juga sih, yang jelas bentar lagi mreka juga bakalan nikah……so ….happy ending deh…..
Awalnya dari facebook semua bisa ada, perkenalan, hubungan, ampe yang namanya perpisahan ada. Facebook, jejaring social yang lagi ngetrend-ngetrendnya pada masa nie dah ngebius anak-anak muda dan semua insan di dunia. Utamanya buat orang-orang yang mau nyari lebih banyak teman, hiburan, tempat keluh kesah, ataupun hanya sekedar sensasi.
Ya ga sengaja aja kadang-kadang kita nemuin seseorang di facebook, entah dia darimana, anak siapa, punya rumah berapa mah ga penting di facebook. Yang penting bisa saling berhubungan satu sama lain. Ya kadang sih cma berawal dari iseng, tapi siapa tahu kita bisa nemuin jodoh kita. Seperti Anggi dan Werdha, ya emang semuanya cuma iseng, tapi siapa tau tu jadi kisah yang paling dramatis dalam idup kita. Kayak nie kisah…..
Hufh…..suara jari lincah ketikan Anggi benar-benar cepet, ga ada jeda bahkan. Tiap malem abis kerja, pasti dia bgadang di kantor cuma buat ganti status lah, chatting lah, atau pun komen ke temen-temennya. Bahkan tiap ada kesempatan, kalo dia dah ga ada kerjaan di kantor pasti nyempetin diri buat log in ke fb-nya. Ga lewat computer kantorlah, ga lewat hp di rumah lah. Semuanya ga ada habisnya. Dia bener-bener kecanduan tu ma yang namanya fb. Ya temen-temennya si maklum juga, dia kan abis putus ma pacarnya, gara-gara pacarnya ketauan selingkuh di depan matanya sendiri. Ya wajarlah kalo dia nyari pelarian di fb. banyak juga cowok-cowok yang dah ng-add dia juga di fb. Semua express, perkenalan lah, langsung tuker-tukeran no.hp. Abis tu ketemuanlah….hmmm…..melelahkan juga, pikir Anggi kadang-kadang.
Ampe dia nemuin banyak cowok, “bingung juga nie, yang mana mo dibales dulu ya?”, ya hari-harinya paling cuma disibukin ma urusan fb. Tapi gara-gara tu juga dia jadi ngerasa ga kesepian. Dia ngerasa ada banyak teman di sekelilingnya. Meski dia tau banget kalo kebanyakan dari mereka ya cuma iseng, atau nyari gebetan asal ja. Tapi Anggi ga perduli, yang penting happy katanya. Pernah dia nyoba serius ma satu orang namanya Yuda. Bisa dibilang mereka dah lumayan deket. Smsannya dah kayak lagi pacaran ja, meski mereka sama sekali ga pernah ketemu. Akhirnya suatu ketika mereka ketemu juga, awalnya Anggi sangat deg-degan, ya bagaimanapun mereka belum kenal secara langsung. Ga banyak kata yang terucap pas mereka dah ketemu. Dan ternyata perasaan Anggi bahkan ga ada ngerasain da sesuatu dengan Yuda, begitu juga Yuda. Hubungan mereka pun putus di tengah jalan.
“Gi, bingung aku ma kamu, kamu tu banyak buanget temen smsannya, ga capek tu bales atu-atu?” , kata temen Anggi di kantor yang namanya Wiwin. Anggi sedang asik-asiknya ngetik sms lewat hpnya waktu itu, dia menoleh sebentar, “hemmm”, “yah aku nanya serius gitu, cuman dijawab hmmm doang, gitu dah kalo dah ma temen fbnya, temen sendiri dilupain”. Lalu Wiwin agak kesel, trus ninggallin Anggi dah. Setelah beberapa menit kemudian, Anggi ternyata lupa sekali bawa pengenal kantornya padahal dia waktu tu bener-bener harus ketemu ma klien. Akhirnya dia minjem di Wiwin. “Win, pinjemin aku dong, please…” “enak aja, tadi aku dicuekin. Tu suruh ja temen fb kamu minjemin” “duh, Win aku minta maaf deh. Please bantuin aku kali nie, aku janji deh ga bakal nyuekin kamu lagi. Oh ya apapun deh permintaan kamu aku turutin, tapi kali nie bener-bener aku butuh bantuan kamu win” “iya, iya deh aku bantuin. Asalkan ntar kamu traktir aku makan siang” “iya sip deh”, yah akhirnya Wiwin minjemin kartu pengenalnya. Tiap berurusan ma makanan, Wiwin mang ga bisa nolak. Ckckckck…
Hari yang ngebosenin……….
Anggi ga tau mesti ngapain, ya akhirnya seperti biasa tangannya dah gatel buat log in ke fb. Trus dia buka kotak obrolannya, ya dia ajak satu orang buat chatting. Asal aja, dia bilang Hai…ma orang yang namanya Werdha. Ga disangka-sangka dia juga bilang hai, ya sejauh itu mreka nyambung-nyambung aja. Ampe tukeran no.hp pula, semuanya tu berjalan cepet banget kayak jet, n suatu hari Werdha ngajakin ketemuan. Awalnya Anggi males banget ketemu ma Werdha, coz dia sebenernya dah males ketemu-ketemu ma orang yang ga jelas dia kenal. Belum lagi dia ga berani lagi sendirian ketemuan,coz perbah suatu kali pas dia diajakin ketemuan tu, dia kapok banget. Janjinya sie sendiri, tapi cowok yang diajaknya ketemuan tu malah rame-rame segeng gitu. Untung Anggi dah jaga-jaga, dia ga makek baju yang warnanya dah dia kasi tau ke cowok itu. Dan akhirnya Anggi sembunyi-sembunyi pulang deh ke rumah. Masak dia dah berani boong padahal nie baru permulaan, kata Anggi dalam hatinya.
Buat Werdha, dia ngasi alasan buat ga ketemuan, ya dia ga begitu semangat juga buat ketemu-ketemu kayak gitu lagi. Tapi makin lama, Werdha dapat juga meluluhkan hatinya. Werdha beda ma cowok-cowok yang lain, yang hanya ngeliat Anggi dari fisik aja, udah gitu Werdha seneng banget nyuruh Anggi biar semangat kerja n ga males-malesan. Anggi pun akhirya mau ketemuan. Ya seperti biasa nih, Anggi ga mau nunggu duluan, pasti Werdha disuruhnya buat datang setengah jam lebih awal dibanding dia. Ampe-ampe dan 10 kali Werdha ngsms nanyain jadi apa ga ketemuan. Anggi hanya cekikikan melihat Werdha yang udah lumutan nungguin dia, sebenernya dia dah ada deket Werdha, cuma dia sembunyi di balik mobil yang diparkir ga jauh dari tempatnya Werdha. Namun pada akhirnya dia ketahuan juga gara-gara dia lupa silent hpnya. N Werdha waktu tu nelpon dia. Wedha curiga kok pas dia nelpon, ada suara hp yang bordering juga di sampingnya. Anggi udah panik, mau reject ga enak, mau ngatur bunyi hp dah terlambat juga. Akhirnya Werdha nemuin dia, n dia cuma bisa bilang hai…
Mereka duduk di kursi tepat di bawah pohon mahoni yang rindang, Anggi pun membuka pembicaraan, “mmm…sorry ya tadi aku cuman mau bercanda ja” “lucu kali kamu, masak di situ sembunyi sih, kayak ga punya kerjaan ja” “ya, aku kan dah bilang cuman mau bercanda ja tadi”. Ya ga lama sih mereka ngobrol, karena Anggi dapat telpon dari tantenya. Katanya disuruh nganterin ke rumah sakit, karna neneknya sedang sakit. Ya mereka bersalaman saat akan berpisah. “Gi, kalo ada waktu kita ketemu lagi ya” “oh..iya-iya”.
Pertemuan tu emang singkat,padat, n jelas banget. Ga ada memori romantisnya sedikit pun, hati juga ga bergetar waktu tu. Semua itu dirasakan oleh Anggi suatu firasat kalo dia mang ga ada feel ma tu orang yang namanya Werdha. Dia udah ngapus nomer hpnya si Werdha, karna dia rasa orang kayak Werdha paling cma penasaran aja ma dia, tapi kemarin, dia kelihatan juga ga kayak di smsnya. “huh biarin dah mending tak apus aja nomer nie orang. Males kayaknya aku berhubungan ma orang yang udah aku ajak ketemuan”. Namun beberapa menit kemudian, Werdha mengiriminya sms, untung dia masih inget nomernya Werdha, kalo ga bisa ja kan Werdha tersinggung kalo dia ditanya sapa nie???
Ampe beberapa hari, Werdha masih mengirim sms dengan rajin. “ga nyangka aku ma nie cowok, tak kirain dah lupain aku”. Dan lama kelamaan, Werdha makin ngasi isyarat kalo dia tu suka ma Anggi. Tiba-tiba waktu itu, hujan masih sering turun di bulan Desember dan anginpun kencang, cuaca berawan, ga nyambung kali ya, mang nie ramalan cuaca apa….tapi suasana itu yang terjadi pas Anggi bener-bener kaget baca smsnya Werdha. Dia bilang hei…bebh…..Anggi bener-bener ga ngerti kenapa tiba-tiba tu orang manggil dia kayak gitu. Lalu dia membalasnya, kmu salah kirim ya Wer?, tak berapa lama kemudian, Werdha pun menjawab, ngga kok, bener…., lalu Anggi nanyak lagi, mang kamu tadi ngsms apa?, Werdha bales, mz..bebh…, jantung Anggi dah ga karuan detaknya, aliran darahnya juga jadi cepet arusnya. Dia sedang mikir keras, gimana caranya dia ngadepin nie orang. Apa dia mesti bilang kalo dia ga suka n terang-terangan nolak nie cowok. Apa dia mo ngasi nie cowok kesempatan buat bisa ada pas dia lagi sedih, pas dia lagi seneng, bisa diajak curhat, n so pasti dia ga bakal sendirian n nglanjutin masa pencarian cintanya. “uuuhhh….bingung…..”, sepupunya Anggi yang bernama Sari yang kebetulan lewat heran ngeliat spupunya yang rada-rada aneh sendiri itu. Lalu dia deketin si Anggi.
“gi….”, katanya dengan nada yang keras banget sambil menepuk bahunya Anggi. Anggi ampe kaget setengah mati, “astaga amit..amit…orang jatuh…”, sepupunya hanya ketawa ngeliat tingkah Anggi yang emang latah-latahan gitu orangnya. “he…he…he…sorry, sorry Gi….lagi ngapain sih, aneh banget” “ah kamu nie…bikin jantungku copot ja, aku lagi bingung nie Sar” “bingung kenapa toh Gi?” “nie kan da orang yang aku ajak ketemuan, trus dia dah mo aku lupain. Tapi ampe hari ini aku masih aja disms Sar, parahnya lagi dia bilang bebh ke aku” “mang kamu dah pacaran ma dia?” kata Sari sambil ngambil toples berisi kacang polong kesukaannya di atas meja tempat mereka duduk. “yah tu dah masalahnya Sar, aku bahkan ga pacaran ma dia. Tadi kan aku nanya ke dia pa dia ga salah kirim tu. Trus dia bilang ngga, n tak tanya lagi apa yang dia sms tadi , n ternyata dia bilang bebh lagi ke aku Sar” “hmmm….dia dah nganggep kamu pacarnya tuh”, kata Sari yang sambil asyik makan kacang. “ah kamu nie, dia ja belum dapet nembak aku , gimana aku bisa jadi pacarnya dia coba? Mang aku mau apa ma dia, orang ketemu ja baru satu kali”. Sari sejenak berpikir, “iya juga sih, apa dia ga terlalu cepet tu nganggep kamu jadi pacarnya. Menurutku sih kamu lebih baik nanya maksudnya dia tu apa?” trus dia ngsms Werdha n nanya apa maksudnya dia bilang kayak gitu. Ternyata Werdha cuman bilang kalo dia cuman pingin ja manggil Anggi kayak gitu, coz Werdha ngerasa dah lama smsan ma Anggi n pingin mesra ma dia. Anggi bener-bener ga percaya, masak ada orang yang cuman gara-gara dah lama smsan dah mau ngajakin mesra-mesraan, mang dia cewek apaan? Lagian Werdha juga belum nembak dia gimana mo dibilang pacaran coba, heh…hal ini makin buat Anggi bingung…..
Akhirnya coz dah jenuh kali ma yang namanya kebimbangan, Anggi pun dengan tegas ngomong ke Werdha via sms, “Wer, jangan panggil aku gitu lagi, kecuali kalo kita udah pacaran” “oh gitu, pacaran yuk” spontan aja Anggi kaget, dia bener-bener ga nyangka bakal diajakin pacaran. Yang bikin dia tambah bingung, sekarang dia mesti jawab apaan?????? Trus Anggi pun mencari Sari, dia nemuin Sari sedeng telpon-telponan ma pacarnya, tapi Anggi saking ngebetnya maksa Sari buat nutup tu telepon. “iihhh…da apaan sie Gi? Tumben kamu ganggu acara telpon-telponan aku nie, mana lagi seru-serunya lagi” “iya iya sorry Sar, masalahnya ini penting banget buat aku, aku diajakin pacaran tuh ma si Werdha” “trus????” “menurut kamu aku terima dia pa gimana ya?” “yeee, tu kan terserah kamu, kok nanya aku sih, kalo emang kamu suka ya terima, kalo engga ya tolak, ribet amat sih” “tapi aku bingung, aku kan ketemu baru satu kali tuh ma dia, masak aku dah pacaran ma dia, pedekate ja engga, duh bingung Sar” “ya kasi ja dah dia kesempatan, mumpung sama-sama jomblo, ya kalo ga cocok putusin aja, gampang kan” “oh ia, kamu bener juga”. Akhirnya Anggi nerima Werdha sebagai pacarnya meski dengan setengah hati.
Ya mereka sih jarang ketemu, coz Werdha masih sibuk ma dunia bartendernya, sedangkan Anggi juga lagi mo brangkat ke luar negeri, alnya dia kerja disana. Sebenernya mereka saling kangen, tapi mo gimana lagi, kan ga mungkin mereka ninggalin karir mereka, toh itu juga buat masa depan mereka kelak. “Bebh, ayang rindu kali ma bebh, bebh kapan pulang sie?”, kata Werdha merajuk, “e…ga tau juga yank, mungkin satu bulan lagi, yang sabar ya yank” “iya iya, ayang bakal selalu nungguin bebh”. Satu bulan kemudian….ga kayak biasanya hujan turun deres banget di pelabuhan, untung Anggi selalu siap sedia bawa payung kemana-mana, dia lari ampe hampir ja dia kepeleset n nabrak koridor pintu masuk pelabuhan, untung da cowok yang namanya Nino nolongin dia. “kalo jalan hati-hati mbak”, kata Nino tanpa simpati sama sekali, “eh iya maaf, tapi makasih” , cowok itu malah pergi, n ga ngomong apa-apa lagi ke Anggi. “akhirnya nyampe rumah juga kau Gi,aku kangen juga ma kamu”, kata Sari, “duh Sar aku capek banget, satu bulan lagi aku dah kerja lagi. Kamu enak ya kerja di kantor, ya bisa santé lah ga kaya aku nie dah kurus tambah kurus lagi” “ya itu kan dah da yang ngatur Gi, kan lumayan juga gaji kamu disana” “iya lumayan menguras tenaga juga Sar” “ya udah kamu istirahat ja dulu, ntar kalo Werdha nelpon, aku bilang kamu capek” “oh ya makasih ya Sar” “sama-sama”.
Letih ,lesu, lunglai dah ga kebayang lagi di pikiran Anggi pas dia dah nyampe di rumahnya. Ngerasa kayak udah tenang aja, pokoknya dia ga mau mikirin bulan depan dia mesti kerja lagi, ya dia pingin santé sejenak di rumahnya. Oh ya satu lah yang paling ga bisa dia tahan tu adalah ketemu ma pacarnya si Werdha. Rasanya dah lama sekali dia ga ketemuan, kata lagu yang lagi ngehits karang tu judulnya sie Rindu setengah mati. “yank, ku udah pulang nie, tadi sempet nelpon ya?” “iya bebh, tapi kayaknya kamu masih capek, ya udahlah ga pa2” “iya sie yank, tapi pa yank ga kangen ma bebh?” “uhhh…kaaaaaaaaaaaaaangeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn kali bebh, dah ga sabar pengen…..” , Werdha diem, buat Anggi tambah penasaran ja. “Pengen apa yank?” “pengen….ya pengen ketemu lah, hahahhahah..” “ih dasar bikin penasaran aja yank nie, ya udah eh ntar kita ketemu dimana yank?” “emmmmmmmmm……..di tempat kita pertama kali ketemu ja bebh” “dah lupa tu yank” “astaga, blum juga nenek2 dah pikun” “iya iya boong, inget kok” “gitu nae bebh, ayank kan tambah sayang jadinya” “iya2 bebh juga, miss u” “miss u too my lovely”. Telpon pun ditutup….
Mereka dateng bersamaan, ya Anggi masih malu2 gitu ketemu Werdha, ya udah lama juga ga ketemu gimana gitu rasanya. Werdha hanya senyum-senyum sambil terus natap mata Anggi. Mereka duduk lagi tu di bawah pohon mahoni, sambil nginget2 masa lalu juga. Tiba-tiba ujan turun deres banget, ampe semua baju Anggi n Werdha basah kuyup. Mereka nyari tempat berteduh lah, hmmm akhirnya mereka nemuin tempat yang teduh yaitu di bengkel yang karang udah gulung tikar tu. Tempatnya agak kotor sih, tapi ga apalah, daripada diguyur ujan terus ntar bisa sakit lagi. “yank ga ok kali tempatnya ya, aku bener-bener ga nyaman sini. Udah ga ada tempat duduk lagi” “ya mo gimanain men bebh, kalo kita pulang mang bebh bawa payung? Motor juga jauh parkirnya” “iya iya tau…”, Anggi hanya mengeluh sebentar. Ujan bukannya berhenti malah tambah deres, “yank kayaknya nie ujan bakal ga brenti2 deh” “iya juga bebh” “yank kita pulang aja dah yuk” “ya bentar lagi aja bebh…oh ya kamu kapan mo balik kerja lagi?” “satu bulan lagi yank” “uh cepet banget ya, mending kamu brenti aja dah sana bebh. Ntar ayangbantu deh nyari kerjaan di sini” “duh gimana men yank, dah terlanjur pake kontrak yank. Dua tahun lagi baru bebh bisa brenti yank” “lama kali bebh……”, katanya sambil menunduk. Anggi pun sebenernya ga tega teru-terusan ninggalin Werdha, dia mendekati Werdha, “udah yank, jangan tu dipikirin lagi. Kan karang kita dah bisa ketemu aja dah syukur” “iya juga bebh”, Werdha memegang tangan Anggi, lalu mengecup keningnya. “I love you”, kata Werdha. “love you too…”, ya ga kerasa tu bibir dah turun dari kening menuju ke bibir Anggi. Ya akhirnya mereka ciuman….
Hari-hari jadi amat brarti buat Anggi n Werdha, tapi mulai ada rasa curiga di hati Anggi pas dia ga sengaja ngangkat hp-nya Werdha, coz Werdhanya juga lagi ke belakang. “halo….”, kata Anggi. “halo, ada Werdha ga?”, kata cewek itu dengan nada manja. “dari siapa ya?” “oh aku tunangannya Werdha”, langsung aja Anggi diem pas denger tu cewek ngomong kayak gitu. “halo…halo…”, kata tu cewek karna udah ga denger suara Anggi lagi. Lalu telponpun ditutup, Anggi pun terhenyak di kursinya, Werdha kemudian dateng, trus aneh ngeliat Anggi natap dia kayak gitu. Lalu dia mendekat n duduk di samping Anggi. “Gi, kamu kenapa bebh?” Anggi menjauh, n berdiri “kenapa kamu ga jujur ma aku?” “jujur apa bebh?” “siapa tunangan kamu itu?” “tunangan apa?” “udah ga usah boong, aku udah tau karang ternyata ini yang kamu lakukan di belakang aku. Dari awal kan aku udah bilang, jika kamu mang udah bosen, udah ga cinta lagi ma aku bilang aja. Aku ga akan maksa kamu, atau nyalahin kamu. Tapi ga kayak gini caranya”, Anggi semakin meledak, Werdha mendekat, “sabar bebh, ini semua ga kayak yang kamu pikirin, jujur dia itu cuman pilihan orang tuaku, aku bahkan ga pernah ketemu ma dia. Aku masih n sangat cinta ma kamu untuk selamanya bebh” “jangan boong…aku muak denger kata-kata kamu. Seharusnya kamu ngomong dari awal tentang masalah ini” “tapi aku ga mau kamu terganggu konsentrasinya pas kerja bebh” “ah alasan…..” Anggi keluar dari tempat kos-kosannya Werdha….
Semalaman Anggi nangis, untung ada Sari yang nemenin dia. “udah Gi, mungkin ja dia mang ga mau ganggu kamu dulu dengan perjodohan itu, toh dia juga pasti bakal milih kamu” “kamu ga ngerti perasaan aku sih Sar, ini tu bukan masalah sepele Sar, harusnya dia bicarain sebelum-sebelumnya ma aku” “ya udah, tapi kamu ga boleh terus-terusan, beberapa minggu lagi kamu bakal kerja lagi kan” “ya ya aku ngerti Sar, uhhhh aku marah…….sakit hatiku Sar….aku dah ga mau pokoknya maafin dia, nelpon aku aja dia ga tadi, nyegah aku aja nggak, ya biarin dah” “ok, up to u aja Gi. Karang tidur dulu” “iya iya”. Esoknya pagi-pagi dengan mata yang masih sembab abis nangis tu, Anggi bangun, lalu membuka jendela kamarnya. Baru dia buka tiba-tiba dia ngeliat Werdha dah ada di luar sedang ngliat kea rah jendela tu juga, masih ga percaya Anggi megucek-ngucek matanya, ternyata dia ga mimpi. Langsung dia tutup lagi jendelanya, dia juga masih kesel ma Werdha. Sari tau kalo Werdha nunggu Anggi bukain pintu buat dia, tapi tau sifat sepupunya tu kalo udah marah ma seseorang pasti bakal ga mau ketemu ma tu orang akhirnya Sari yang bukain pintu. “hai Wer, nyari Anggi ya?” “iya Sar, aku pingin ngobrol ma dia” “hmm…kayaknya susah Wer, dia ga mau ketemu kamu” “please Sar, bantuin aku biar aku bisa ketemu ma Anggi, aku harus jelasin ini semuanya ke dia”, Sari pun ga tega ngeliat Werdha mohon-mohon kayak gitu.
“Gi, Werdha dah di ruang tamu tuh. Cepet temuin dia gih” “apa???? Ih kamu nie Sar, ngapain biarin dia masuk sih. Masak kamu juga nyuruh aku ketemu dia, mandi juga aku belum. Aku kan gengsi juga Sar, kalo masih kayak gini tapi udah ketemu dia”, “ah kamu nie kebanyakan mikir deh, cepet mandi kalo gitu” , lalu Sari kembali nemuin Werdha, “Wer, Anggi masih mandi, tunggu lagi bentar ya” “iya ga pa –pa kok Sar, thank’s sebelumnya ya” “ya tentu aja”. Beberapa menit kemudian………. Dengan langkah gusar, Anggi masuk ke ruang tamu itu, kemudian dia duduk agak jauh dengan Werdha, “ngapain ke sini?” “duh bebh, kok ketus gitu sih, maafin yank ya” “ga da yang perlu dimaafin” “ok biar aku jelasin, aku ma dia bener-bener ga ada hubungan apa-apa lagi. Kalo kamu ga percaya ayo sekarang kita nyari dia terus kelarin ni masalah” “ga usah, aku males, buang-buang waktu aja” “duh kamu tu dari dulu kalo dibilangin ga mau denger ya. Aku ga mau hubungan kita putus cuman gara-gara masalah kayak gini” “ok, aku butuh waktu buat berpikir, kamu kira gampang apa aku bisa maafin kamu, apalagi aku ga tau mungkin skarang kamu bisa bilang ga ada hubungan ma dia tapi bagaimana dengan nanti? Saat aku dah balik kerja lagi, aku ga bakal tau apa yang kamu lakuin” . “percayalah padaku Gi, aku selalu setia buat kamu, ya udah aku harus siap-siap dulu ya bebh ntar aku telpon lagi deh.” “ya ya”, trus Werdha pun pergi….
Anggi sebenernya percaya ma Werdha, cuman dia juga khawatir jika Werdha kesepian trus orang tuanya mendesaknya lagi. “gimana Gi?” “gimana apanya Sar?” “ya hubunganmu ma Werdha” “masih rumit Sar, udah ah ga usah diomongin lagi” “men mau kemana kamu karang?” “aku ada urusan sebentar ya Sar, bentar aja kok” “ya hati-hati ja Gi” “ok… ok…”. Anggi cepat-cepat ke tempat temannya dulu yang bernama Wiwin. Ya dia mang rindu banget ma tu anak, coz dah lama juga ga ktemu. Ya trakhir ktemu tu dah pas Anggi ngundurin diri dari kantornya coz udah ga betah ma bosnya yg curigaan terus ma dia, cuman gara-gara dia ngira Anggi tu cma main-main ja kerjanya. Padahal sebenernya Anggi mang pinter trus ya pas waktu senggangnya aja dia iseng buka fb. Ya dia dh di dpn rumah Wiwin tuh….dah ga sabar banget mencet bel rumahnya.
Ting…nong…..ting….nong…..awalnya Anggi ga percaya kalo itu Wiwin pas bukain dia pintu. Sempet bengong sebentar trus dia kira dia salah masuk rumah….dia liat lagi nomer rumahnya, “ah masih sama” “hemm….hm….dah lupa toh ma aku Gi, wajarlah aku berubah wong aku juga dah berkeluarga, yuk masuk ja Gi…” “eh..iya iya”, mereka kemudian masuk ke dalam rumah bercat putih itu, dah banyak yg berubah di rumah itu, pikir Anggi. Mereka duduk di sofa di ruang tamu Wiwin yg ga begitu besar itu. “eh aku buatin kamu minum dulu ya” “eh ga usah Win, aku ksini ga karna haus kok, lagian kamu lagi hamil juga ga usah banyak gerak” “ga pa pa kok Gi, udah biasa juga. Lagian kamu kan jarang ke rumah aku”.. “ya udah deh, eh aku ikut ya skalian mo liat dapur kamu” “up to u dah…”, mereka jalan beriringan ke dapur Wiwin.
“eh btw kamu kok ga bilang-bilang sih dah nikah?” “ya mo gimana lagi, aku tau kamu ada di luar negeri juga, ga mungkin lah aku ngundang kamu” “ya paling ngga kan aku bisa ngucapin met nikah n nempuh hidup baru ma kamu Win” “ya mo gimana lagi dong, aku juga lupa ma nomer hp kamu. Ya udahlah ga pa pa. btw kamu masih gini-gini aja dari dulu. Dah da planning buat marriage blum?” “ah marriage???masih jauh kayaknya Win, aku mah kalo urusan serius gitu masih pikir-pikir ampe sribu kali” “berpikir sih berpikir Gi, tapi ampe kapan kamu kayak gini terus, awas lho ntar jadi perawan tua kan umurmu udah 27 Gi, dah waktunya nikah lho” “ih….kamu nie nakut-nakutin aku aja, giman lagi dong Win, entah knapa aku ga yakin ma si Werdha ini. Well aku masih suka ma dia, tapi aku gay akin kalo aku harus nikah ma dia. Ada sesuatu dalam diri dia yang masih misteri menurut aku… ” “ah kamu nie lebay amet sih, kalo mang ga yakin ma dia bicarain dong baik2. Jangan malah kayak gini terus…ngambang…..” “tau ga tadi ja aku baru baikan ma dia, gara-gara dia ga bilang mo dijodohin ma ortunya” “wih gawat tu Gi, trus…trus….” “ya aku marah dong, aku ga terima ia ga jujur ngomong ma aku. Tu dah yang bikin aku kesel n ragu ma dia Win. Emangnya aku bakal knapa kalo bicarain itu sblum-sblumnya ma dia. Toh aku ga bakal nyalahin dia, dari dulu ampe karang ya Win, aku ga pernah nglarang dia sama sekali. Padahal kamu tau ndiri kan kalo aku tu paling anti ma yang namanya rokok, tapi demi dia aku rela nerima dia seorang prokok….udah abis ksabaranku ma dia Win, dia tu mikir semua gampang. Aku disuruh brenti lah kerja ma dia, mang dia pikir aku nie tipe cewek yang bergantung ma cowok apa”, ga kerasa air mata Anggi netes lagi….Wiwin mengusap-usap bahu Anggi, “udah Gi, aku ngerti perasaan kamu….aku saranin kamu bicara dulu ma dia baik-baik, trus kamu tentuin apa kamu bakal lanjut ma dia atau selesain itu sekarang juga”. “iya kamu bener Win, aku harus selesain nie skarang juga, masalahnya bntar lagi aku kerja lagi, biar ga kebawa di tmpat kerja nie urusan…biar kelar skarang juga” “ya, ya baguslah klo gitu….eh….tu the nya diminum dulu Gi, dari tadi nyroscos terus kamu” “eh…iya lupa aku”, kata Anggi lalu minum teh tersebut……”ya udah Win, aku pulang dulu ya…salam buat suamimu n satu lagi ma babymu ini”, kata Anggi sambil ngelus perut Wiwin, “iya, iya, sayang kamu cuma bentar mampir Gi” “ya kapan-kapan kalo aku punya waktu pasti aku ksini lagi kok” “iya hati-hati ja lo gitu” “ok….”, kata Anggi lalu dia pulang ke rumahnya….
Tapi ia kaget banget pas nyampe di dpn rumah….ada si Werdha berdiri di sana…. “hai Gi…..dari mana aja? Aku dah lama nunggu sini tau” “eh kamu kok dh di dpn sini sih? Katanya tadi ada urusan” “ya urusanku dah lesei bebh….kita jalan yuk….” “mang mo ngapain?” “yee….kan kita udah lama ga jalan skalian ngobrol gmana sih bebh nih” “bntar dulu aku mo ganti baju dulu” “duh ga usah dah bebh, udah cantik kok….” “ih…engga je gitu, nie dah bau apek tau” “ga knapa…..ayok….”, Werdha narik tangan Anggi…..
Mreka tiba di sebuah bukit yg luas banget…..”ngapain sih kita kesini Wer” “oh..lagi nanya ya buat refreshing juga lah Gi” “oh gitu….”, trus mereka berdiri di samping batu gede yang ga jauh dari pohon singapur….”oh ya mumpung di sini,aku pingin ngobrol serius ma kamu Wer” “ngomong aja bebh…” “e…..aku pingin nanya ma kamu sebenernya kamu bisa nerima aku apa adanya pa ga sih?” “ya iyalah bebh…”, kata Wedha sambil ngrangkul Anggi dari blakang, tapi Anggi langsung nglepasinnya trus balik ke blakang tepat di dpn muka Werdha, “aku ga bisa ada tiap hari di samping kamu, pa kamu masih bisa setia ma aku? Aku ga bisa kamu kekang, bukannya aku pingin bebas kayak di hutan, tapi aku ga ingin kalo cuman tergantung ma kamu”, kata Anggi dengan serius, “iya aku dah tau kok maksud kamu. Huh….mau gimana lagi, yang penting kamu ga ninggalin aku pas malem pertama kita ja”, kata Werdha sambil senyum-senyum, “bercanda ja kamu nie ya”, kata Anggi tersipu malu….lalu Werdha meluk Anggi, n bilang.. “diem…dulu ada sesuatu tuh di muka kamu” “apaan sie Wer???” “iya makanya diem dulu, tutup mata kamu tu biar aku bisa ngilanginnya” ya Anggi langsung nutup matanya, ternyata eh ternyata…..Werdha bukannya mau ngilangin apa-apa, dia cuman mau nyium Anggi…
Spontan dong Anggi kaget trus buka mata, “ih kamu nie Wer, resek kali sie cium ga bilang-bilang” “ya ga surprise dong kalo bilang-bilang, lagian cuman bentar kamu dah snewen gitu” “abis kamu sih, udah ah pulang aja aku males jadinya di sini” “ye, kok ngambek bebh…..jangan gitu dong bebh”
“iya cepetan pulang ja”, kata Anggi langsung balik badan trus jalan menuju pintu keluar. Werdha ngejar dia, “cepet banget sih bebh, blum juga ngapa-ngapain” Anggi langsung noleh dia, “mang mo ngapain lagi? Tadi dah dapet nyium juga, ga puas???” “mih….galak amat sih, ya sorry sorry….yuk nae pulang bebh….”. mereka akhirnya pulang deh….
Malemnya……
Kring…..kring….., duh sapa sih nelpon jam sgini, bru ja mo mimpi aku….., kata Anggi ngraba-ngraba nyari hpnya yg bunyi terus…., “ya halo….sapa nie”, “halo bebh…..” “dasar kamu nie, ga tau dah jam brapa karang?” “baru juga jam 12 bebh, udah bobok ya?” “ya iyalah….mo ngomong apaan mangnya?” “cuman mo denger suaranya bebh ja….” “buang-buang pulsa ja kamu Wer” “ga apalah, demi bebh tercinta” “gombal kali, ga tidur kamu?” “blum bebh….” “mang lagi ngapain?” “lagi ma temen-temen ja bebh” “udah dah mabuk ya?” “ah ngga kok, ya bebh bobok dah lagi” “ya udah……”, lalu telpon pun ditutup….
2 jam kemudian…..
Ada telpon lagi… ih….sebel…sebel…..udah mo mimpi lagi malah ada telpon, “ya mo ngapain lagi nelpon?” “bebh….ayahku masuk RS nih” “apa???” “iya Gi, aku mo kesana dulu” “ok…ntar aku nyusul Wer” , langsung aja Anggi melek, dia ga kebayang gimana perasaan Werdha. Dia cepet-cepet siap-siap ke rumah sakit. Nyampe sana ia ngeliat dah da tunangan Werdha n keluarga Werdha yang lain ,masih agak kikuk..untung Werdha ngampirin dia, “sini Gi….”, mereka semua duduk…..lalu ayah Werdha ngomong dengan terbata-bata.. “nak….bapak tau kalian udah deket, tapi bapak mohon sebagai permintaan trakhir bapak sebelum bapak kea lam sana. Tolong sudahi hubungan kalian, bapak sudah buat janji jauh sebelum Werdha dilahirkan dengan bapaknya nak Vrida ini, kalo mereka berdua bakal dijodohin…bapak mohon nak Anggi bisa nerima” semua terdiam…..Anggi dah ga sadar kalo dia denger semuanya….ia mikir….akhirnya ia tau ini akhir hubungannya, “baiklah pak, semoga bapak tenang menghadap-Nya…saya bersedia memutuskan ini semua”, “terimakasih nak….”, setelah itu ayah Werdha menutup matanya buat slama-lamanya. Semua orang menangis…..hanya Werdha yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat itu….
Dia ga ngerti kenapa bisa terjadi kayak gini, Anggi kemudian menghampiri Werdha yang masih keliatan terpukul baik karna kepergian ayahnya maupun dengan kputusan Anggi. “Wer, udah relain semuanya aku harap kamu tabah….aku akan pulang dulu…kamu kabarin aku aja kapan penguburannya aku akan dateng”, Werdha memegang tangan Anggi, “kenapa semuanya mesti pergi bersamaan Gi, apa salahku?” “jangan bilang gitu Wer, semuanya takdir….” “aku….aku ga tau bisa bertahan apa tidak jika kamu pergi juga Gi” “aku yakin kamu bisa, sudah…..jodohmu udah nunggu kamu, temanilah dia sekarang…..”, lalu Anggi melepaskan tangan Werdha….ia pergi…berusaha menahan air matanya yang dah dari tadi mo netes terus…..
Ngga….aku udah janji ma ayahnya Werdha….ga mungkin aku bohong….ya inilah akhir semuanya….., Sari tau, itu sangat berat buat Anggi, ia ngibur Anggi, tapi Anggi cuman mau sendiri…..
Esok harinya adalah pemakaman ayah Werdha,Anggi menepati janjinya, ia dateng ma Sari dengan baju serba item-item…. Werdha masih kliatan terpukul….ia memandangi jasad ayahnya yang udah masuk ke liang kubur…air mata netes…semua orang nangis….Werdha sama sekali ga nyadar kalo Anggi dah berdiri tepat di depan dia…..sampai akhirnya semua orang pergi, “Anggi….kamu dateng juga…” “iya Wer….ya udah yang tabah ja….aku mau pulang Wer…slamet tinggal” “tunggu Gi….ini mungkin bukan apa-apa buat kamu tapi udah dari dulu aku nyimpen ini buat kamu terserah kamu mau buang atau nyimpen…yang penting aku udah nyerahin ini” Anggi membuka kotak itu, ternyata ada cincin.. “cincin???buat apa Wer?” “aku sebenernya udah pingin nglamar kamu, tapi semuanya udah ga mungkin lagi…..” “tapi bagaimana aku bisa nerima cincin kamu?” “aku mohon terima sebagai tanda perpisahan terakhir kita aku mohon Gi….mungkin berat buat aku, aku ga pernah ngebayangin semuanya bakal kayak gini….tapi aku tau inilah kenyataan….tolong terima cincin itu Gi” “baik…baiklah…..Wer….” mereka pun berpisah……
Berat……banget bagi mereka berdua…..tapi live must go on….Anggi dah denger kalo Werdha udah tunangan n bentar lagi mo nikah….sakit mang rasanya….cuman bntar lagi Anggi juga mo brangkat kerja…..udah beberapa bulan kemudian Anggi masih sendiri.
Dia udah mo nutup fb-nya karena dia udah ga mau nginget kenangan ma Werdha lagi, tapi….dia ngeliat orang yang dulu nolongin dia ternyata ngirim pesan di fbnya… “hey…..who are u????” yah Anggi mulai penasaran lagi….penyakitnya dah kambuh tuh. Ya dia bales aja…..
Cerita pun dimulai lagi, mang ga ada habisnya kalo dah ngomongin masalah cinta apalagi yang berhubungan ma fb. Lembaran barupun dimulai lagi. Sedih duka terhapus oleh sosok Nino yang humoris n kadang-kadang sok jaim gitu. Tapi kali nie Anggi udah yakin ma Nino…ternyata mereka klop banget n cocok di segala bidang. Yah berkata fb juga sih, yang jelas bentar lagi mreka juga bakalan nikah……so ….happy ending deh…..
SEPENGGAL KISAH DI FB
Cerita yang kelam ini seharusnya hanya terpatri dalam benakku, namun ada baiknya ini bisa terbaca dan tak terulang dalam kenyataan meski semuanya hanya fiktif belaka.
Awalnya dari facebook semua bisa ada, perkenalan, hubungan, ampe yang namanya perpisahan ada. Facebook, jejaring social yang lagi ngetrend-ngetrendnya pada masa nie dah ngebius anak-anak muda dan semua insan di dunia. Utamanya buat orang-orang yang mau nyari lebih banyak teman, hiburan, tempat keluh kesah, ataupun hanya sekedar sensasi.
Ya ga sengaja aja kadang-kadang kita nemuin seseorang di facebook, entah dia darimana, anak siapa, punya rumah berapa mah ga penting di facebook. Yang penting bisa saling berhubungan satu sama lain. Ya kadang sih cma berawal dari iseng, tapi siapa tahu kita bisa nemuin jodoh kita. Seperti Anggi dan Werdha, ya emang semuanya cuma iseng, tapi siapa tau tu jadi kisah yang paling dramatis dalam idup kita. Kayak nie kisah…..
Hufh…..suara jari lincah ketikan Anggi benar-benar cepet, ga ada jeda bahkan. Tiap malem abis kerja, pasti dia bgadang di kantor cuma buat ganti status lah, chatting lah, atau pun komen ke temen-temennya. Bahkan tiap ada kesempatan, kalo dia dah ga ada kerjaan di kantor pasti nyempetin diri buat log in ke fb-nya. Ga lewat computer kantorlah, ga lewat hp di rumah lah. Semuanya ga ada habisnya. Dia bener-bener kecanduan tu ma yang namanya fb. Ya temen-temennya si maklum juga, dia kan abis putus ma pacarnya, gara-gara pacarnya ketauan selingkuh di depan matanya sendiri. Ya wajarlah kalo dia nyari pelarian di fb. banyak juga cowok-cowok yang dah ng-add dia juga di fb. Semua express, perkenalan lah, langsung tuker-tukeran no.hp. Abis tu ketemuanlah….hmmm…..melelahkan juga, pikir Anggi kadang-kadang.
Ampe dia nemuin banyak cowok, “bingung juga nie, yang mana mo dibales dulu ya?”, ya hari-harinya paling cuma disibukin ma urusan fb. Tapi gara-gara tu juga dia jadi ngerasa ga kesepian. Dia ngerasa ada banyak teman di sekelilingnya. Meski dia tau banget kalo kebanyakan dari mereka ya cuma iseng, atau nyari gebetan asal ja. Tapi Anggi ga perduli, yang penting happy katanya. Pernah dia nyoba serius ma satu orang namanya Yuda. Bisa dibilang mereka dah lumayan deket. Smsannya dah kayak lagi pacaran ja, meski mereka sama sekali ga pernah ketemu. Akhirnya suatu ketika mereka ketemu juga, awalnya Anggi sangat deg-degan, ya bagaimanapun mereka belum kenal secara langsung. Ga banyak kata yang terucap pas mereka dah ketemu. Dan ternyata perasaan Anggi bahkan ga ada ngerasain da sesuatu dengan Yuda, begitu juga Yuda. Hubungan mereka pun putus di tengah jalan.
“Gi, bingung aku ma kamu, kamu tu banyak buanget temen smsannya, ga capek tu bales atu-atu?” , kata temen Anggi di kantor yang namanya Wiwin. Anggi sedang asik-asiknya ngetik sms lewat hpnya waktu itu, dia menoleh sebentar, “hemmm”, “yah aku nanya serius gitu, cuman dijawab hmmm doang, gitu dah kalo dah ma temen fbnya, temen sendiri dilupain”. Lalu Wiwin agak kesel, trus ninggallin Anggi dah. Setelah beberapa menit kemudian, Anggi ternyata lupa sekali bawa pengenal kantornya padahal dia waktu tu bener-bener harus ketemu ma klien. Akhirnya dia minjem di Wiwin. “Win, pinjemin aku dong, please…” “enak aja, tadi aku dicuekin. Tu suruh ja temen fb kamu minjemin” “duh, Win aku minta maaf deh. Please bantuin aku kali nie, aku janji deh ga bakal nyuekin kamu lagi. Oh ya apapun deh permintaan kamu aku turutin, tapi kali nie bener-bener aku butuh bantuan kamu win” “iya, iya deh aku bantuin. Asalkan ntar kamu traktir aku makan siang” “iya sip deh”, yah akhirnya Wiwin minjemin kartu pengenalnya. Tiap berurusan ma makanan, Wiwin mang ga bisa nolak. Ckckckck…
Hari yang ngebosenin……….
Anggi ga tau mesti ngapain, ya akhirnya seperti biasa tangannya dah gatel buat log in ke fb. Trus dia buka kotak obrolannya, ya dia ajak satu orang buat chatting. Asal aja, dia bilang Hai…ma orang yang namanya Werdha. Ga disangka-sangka dia juga bilang hai, ya sejauh itu mreka nyambung-nyambung aja. Ampe tukeran no.hp pula, semuanya tu berjalan cepet banget kayak jet, n suatu hari Werdha ngajakin ketemuan. Awalnya Anggi males banget ketemu ma Werdha, coz dia sebenernya dah males ketemu-ketemu ma orang yang ga jelas dia kenal. Belum lagi dia ga berani lagi sendirian ketemuan,coz perbah suatu kali pas dia diajakin ketemuan tu, dia kapok banget. Janjinya sie sendiri, tapi cowok yang diajaknya ketemuan tu malah rame-rame segeng gitu. Untung Anggi dah jaga-jaga, dia ga makek baju yang warnanya dah dia kasi tau ke cowok itu. Dan akhirnya Anggi sembunyi-sembunyi pulang deh ke rumah. Masak dia dah berani boong padahal nie baru permulaan, kata Anggi dalam hatinya.
Buat Werdha, dia ngasi alasan buat ga ketemuan, ya dia ga begitu semangat juga buat ketemu-ketemu kayak gitu lagi. Tapi makin lama, Werdha dapat juga meluluhkan hatinya. Werdha beda ma cowok-cowok yang lain, yang hanya ngeliat Anggi dari fisik aja, udah gitu Werdha seneng banget nyuruh Anggi biar semangat kerja n ga males-malesan. Anggi pun akhirya mau ketemuan. Ya seperti biasa nih, Anggi ga mau nunggu duluan, pasti Werdha disuruhnya buat datang setengah jam lebih awal dibanding dia. Ampe-ampe dan 10 kali Werdha ngsms nanyain jadi apa ga ketemuan. Anggi hanya cekikikan melihat Werdha yang udah lumutan nungguin dia, sebenernya dia dah ada deket Werdha, cuma dia sembunyi di balik mobil yang diparkir ga jauh dari tempatnya Werdha. Namun pada akhirnya dia ketahuan juga gara-gara dia lupa silent hpnya. N Werdha waktu tu nelpon dia. Wedha curiga kok pas dia nelpon, ada suara hp yang bordering juga di sampingnya. Anggi udah panik, mau reject ga enak, mau ngatur bunyi hp dah terlambat juga. Akhirnya Werdha nemuin dia, n dia cuma bisa bilang hai…
Mereka duduk di kursi tepat di bawah pohon mahoni yang rindang, Anggi pun membuka pembicaraan, “mmm…sorry ya tadi aku cuman mau bercanda ja” “lucu kali kamu, masak di situ sembunyi sih, kayak ga punya kerjaan ja” “ya, aku kan dah bilang cuman mau bercanda ja tadi”. Ya ga lama sih mereka ngobrol, karena Anggi dapat telpon dari tantenya. Katanya disuruh nganterin ke rumah sakit, karna neneknya sedang sakit. Ya mereka bersalaman saat akan berpisah. “Gi, kalo ada waktu kita ketemu lagi ya” “oh..iya-iya”.
Pertemuan tu emang singkat,padat, n jelas banget. Ga ada memori romantisnya sedikit pun, hati juga ga bergetar waktu tu. Semua itu dirasakan oleh Anggi suatu firasat kalo dia mang ga ada feel ma tu orang yang namanya Werdha. Dia udah ngapus nomer hpnya si Werdha, karna dia rasa orang kayak Werdha paling cma penasaran aja ma dia, tapi kemarin, dia kelihatan juga ga kayak di smsnya. “huh biarin dah mending tak apus aja nomer nie orang. Males kayaknya aku berhubungan ma orang yang udah aku ajak ketemuan”. Namun beberapa menit kemudian, Werdha mengiriminya sms, untung dia masih inget nomernya Werdha, kalo ga bisa ja kan Werdha tersinggung kalo dia ditanya sapa nie???
Ampe beberapa hari, Werdha masih mengirim sms dengan rajin. “ga nyangka aku ma nie cowok, tak kirain dah lupain aku”. Dan lama kelamaan, Werdha makin ngasi isyarat kalo dia tu suka ma Anggi. Tiba-tiba waktu itu, hujan masih sering turun di bulan Desember dan anginpun kencang, cuaca berawan, ga nyambung kali ya, mang nie ramalan cuaca apa….tapi suasana itu yang terjadi pas Anggi bener-bener kaget baca smsnya Werdha. Dia bilang hei…bebh…..Anggi bener-bener ga ngerti kenapa tiba-tiba tu orang manggil dia kayak gitu. Lalu dia membalasnya, kmu salah kirim ya Wer?, tak berapa lama kemudian, Werdha pun menjawab, ngga kok, bener…., lalu Anggi nanyak lagi, mang kamu tadi ngsms apa?, Werdha bales, mz..bebh…, jantung Anggi dah ga karuan detaknya, aliran darahnya juga jadi cepet arusnya. Dia sedang mikir keras, gimana caranya dia ngadepin nie orang. Apa dia mesti bilang kalo dia ga suka n terang-terangan nolak nie cowok. Apa dia mo ngasi nie cowok kesempatan buat bisa ada pas dia lagi sedih, pas dia lagi seneng, bisa diajak curhat, n so pasti dia ga bakal sendirian n nglanjutin masa pencarian cintanya. “uuuhhh….bingung…..”, sepupunya Anggi yang bernama Sari yang kebetulan lewat heran ngeliat spupunya yang rada-rada aneh sendiri itu. Lalu dia deketin si Anggi.
“gi….”, katanya dengan nada yang keras banget sambil menepuk bahunya Anggi. Anggi ampe kaget setengah mati, “astaga amit..amit…orang jatuh…”, sepupunya hanya ketawa ngeliat tingkah Anggi yang emang latah-latahan gitu orangnya. “he…he…he…sorry, sorry Gi….lagi ngapain sih, aneh banget” “ah kamu nie…bikin jantungku copot ja, aku lagi bingung nie Sar” “bingung kenapa toh Gi?” “nie kan da orang yang aku ajak ketemuan, trus dia dah mo aku lupain. Tapi ampe hari ini aku masih aja disms Sar, parahnya lagi dia bilang bebh ke aku” “mang kamu dah pacaran ma dia?” kata Sari sambil ngambil toples berisi kacang polong kesukaannya di atas meja tempat mereka duduk. “yah tu dah masalahnya Sar, aku bahkan ga pacaran ma dia. Tadi kan aku nanya ke dia pa dia ga salah kirim tu. Trus dia bilang ngga, n tak tanya lagi apa yang dia sms tadi , n ternyata dia bilang bebh lagi ke aku Sar” “hmmm….dia dah nganggep kamu pacarnya tuh”, kata Sari yang sambil asyik makan kacang. “ah kamu nie, dia ja belum dapet nembak aku , gimana aku bisa jadi pacarnya dia coba? Mang aku mau apa ma dia, orang ketemu ja baru satu kali”. Sari sejenak berpikir, “iya juga sih, apa dia ga terlalu cepet tu nganggep kamu jadi pacarnya. Menurutku sih kamu lebih baik nanya maksudnya dia tu apa?” trus dia ngsms Werdha n nanya apa maksudnya dia bilang kayak gitu. Ternyata Werdha cuman bilang kalo dia cuman pingin ja manggil Anggi kayak gitu, coz Werdha ngerasa dah lama smsan ma Anggi n pingin mesra ma dia. Anggi bener-bener ga percaya, masak ada orang yang cuman gara-gara dah lama smsan dah mau ngajakin mesra-mesraan, mang dia cewek apaan? Lagian Werdha juga belum nembak dia gimana mo dibilang pacaran coba, heh…hal ini makin buat Anggi bingung…..
Akhirnya coz dah jenuh kali ma yang namanya kebimbangan, Anggi pun dengan tegas ngomong ke Werdha via sms, “Wer, jangan panggil aku gitu lagi, kecuali kalo kita udah pacaran” “oh gitu, pacaran yuk” spontan aja Anggi kaget, dia bener-bener ga nyangka bakal diajakin pacaran. Yang bikin dia tambah bingung, sekarang dia mesti jawab apaan?????? Trus Anggi pun mencari Sari, dia nemuin Sari sedeng telpon-telponan ma pacarnya, tapi Anggi saking ngebetnya maksa Sari buat nutup tu telepon. “iihhh…da apaan sie Gi? Tumben kamu ganggu acara telpon-telponan aku nie, mana lagi seru-serunya lagi” “iya iya sorry Sar, masalahnya ini penting banget buat aku, aku diajakin pacaran tuh ma si Werdha” “trus????” “menurut kamu aku terima dia pa gimana ya?” “yeee, tu kan terserah kamu, kok nanya aku sih, kalo emang kamu suka ya terima, kalo engga ya tolak, ribet amat sih” “tapi aku bingung, aku kan ketemu baru satu kali tuh ma dia, masak aku dah pacaran ma dia, pedekate ja engga, duh bingung Sar” “ya kasi ja dah dia kesempatan, mumpung sama-sama jomblo, ya kalo ga cocok putusin aja, gampang kan” “oh ia, kamu bener juga”. Akhirnya Anggi nerima Werdha sebagai pacarnya meski dengan setengah hati.
Ya mereka sih jarang ketemu, coz Werdha masih sibuk ma dunia bartendernya, sedangkan Anggi juga lagi mo brangkat ke luar negeri, alnya dia kerja disana. Sebenernya mereka saling kangen, tapi mo gimana lagi, kan ga mungkin mereka ninggalin karir mereka, toh itu juga buat masa depan mereka kelak. “Bebh, ayang rindu kali ma bebh, bebh kapan pulang sie?”, kata Werdha merajuk, “e…ga tau juga yank, mungkin satu bulan lagi, yang sabar ya yank” “iya iya, ayang bakal selalu nungguin bebh”. Satu bulan kemudian….ga kayak biasanya hujan turun deres banget di pelabuhan, untung Anggi selalu siap sedia bawa payung kemana-mana, dia lari ampe hampir ja dia kepeleset n nabrak koridor pintu masuk pelabuhan, untung da cowok yang namanya Nino nolongin dia. “kalo jalan hati-hati mbak”, kata Nino tanpa simpati sama sekali, “eh iya maaf, tapi makasih” , cowok itu malah pergi, n ga ngomong apa-apa lagi ke Anggi. “akhirnya nyampe rumah juga kau Gi,aku kangen juga ma kamu”, kata Sari, “duh Sar aku capek banget, satu bulan lagi aku dah kerja lagi. Kamu enak ya kerja di kantor, ya bisa santé lah ga kaya aku nie dah kurus tambah kurus lagi” “ya itu kan dah da yang ngatur Gi, kan lumayan juga gaji kamu disana” “iya lumayan menguras tenaga juga Sar” “ya udah kamu istirahat ja dulu, ntar kalo Werdha nelpon, aku bilang kamu capek” “oh ya makasih ya Sar” “sama-sama”.
Letih ,lesu, lunglai dah ga kebayang lagi di pikiran Anggi pas dia dah nyampe di rumahnya. Ngerasa kayak udah tenang aja, pokoknya dia ga mau mikirin bulan depan dia mesti kerja lagi, ya dia pingin santé sejenak di rumahnya. Oh ya satu lah yang paling ga bisa dia tahan tu adalah ketemu ma pacarnya si Werdha. Rasanya dah lama sekali dia ga ketemuan, kata lagu yang lagi ngehits karang tu judulnya sie Rindu setengah mati. “yank, ku udah pulang nie, tadi sempet nelpon ya?” “iya bebh, tapi kayaknya kamu masih capek, ya udahlah ga pa2” “iya sie yank, tapi pa yank ga kangen ma bebh?” “uhhh…kaaaaaaaaaaaaaangeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn kali bebh, dah ga sabar pengen…..” , Werdha diem, buat Anggi tambah penasaran ja. “Pengen apa yank?” “pengen….ya pengen ketemu lah, hahahhahah..” “ih dasar bikin penasaran aja yank nie, ya udah eh ntar kita ketemu dimana yank?” “emmmmmmmmm……..di tempat kita pertama kali ketemu ja bebh” “dah lupa tu yank” “astaga, blum juga nenek2 dah pikun” “iya iya boong, inget kok” “gitu nae bebh, ayank kan tambah sayang jadinya” “iya2 bebh juga, miss u” “miss u too my lovely”. Telpon pun ditutup….
Mereka dateng bersamaan, ya Anggi masih malu2 gitu ketemu Werdha, ya udah lama juga ga ketemu gimana gitu rasanya. Werdha hanya senyum-senyum sambil terus natap mata Anggi. Mereka duduk lagi tu di bawah pohon mahoni, sambil nginget2 masa lalu juga. Tiba-tiba ujan turun deres banget, ampe semua baju Anggi n Werdha basah kuyup. Mereka nyari tempat berteduh lah, hmmm akhirnya mereka nemuin tempat yang teduh yaitu di bengkel yang karang udah gulung tikar tu. Tempatnya agak kotor sih, tapi ga apalah, daripada diguyur ujan terus ntar bisa sakit lagi. “yank ga ok kali tempatnya ya, aku bener-bener ga nyaman sini. Udah ga ada tempat duduk lagi” “ya mo gimanain men bebh, kalo kita pulang mang bebh bawa payung? Motor juga jauh parkirnya” “iya iya tau…”, Anggi hanya mengeluh sebentar. Ujan bukannya berhenti malah tambah deres, “yank kayaknya nie ujan bakal ga brenti2 deh” “iya juga bebh” “yank kita pulang aja dah yuk” “ya bentar lagi aja bebh…oh ya kamu kapan mo balik kerja lagi?” “satu bulan lagi yank” “uh cepet banget ya, mending kamu brenti aja dah sana bebh. Ntar ayangbantu deh nyari kerjaan di sini” “duh gimana men yank, dah terlanjur pake kontrak yank. Dua tahun lagi baru bebh bisa brenti yank” “lama kali bebh……”, katanya sambil menunduk. Anggi pun sebenernya ga tega teru-terusan ninggalin Werdha, dia mendekati Werdha, “udah yank, jangan tu dipikirin lagi. Kan karang kita dah bisa ketemu aja dah syukur” “iya juga bebh”, Werdha memegang tangan Anggi, lalu mengecup keningnya. “I love you”, kata Werdha. “love you too…”, ya ga kerasa tu bibir dah turun dari kening menuju ke bibir Anggi. Ya akhirnya mereka ciuman….
Hari-hari jadi amat brarti buat Anggi n Werdha, tapi mulai ada rasa curiga di hati Anggi pas dia ga sengaja ngangkat hp-nya Werdha, coz Werdhanya juga lagi ke belakang. “halo….”, kata Anggi. “halo, ada Werdha ga?”, kata cewek itu dengan nada manja. “dari siapa ya?” “oh aku tunangannya Werdha”, langsung aja Anggi diem pas denger tu cewek ngomong kayak gitu. “halo…halo…”, kata tu cewek karna udah ga denger suara Anggi lagi. Lalu telponpun ditutup, Anggi pun terhenyak di kursinya, Werdha kemudian dateng, trus aneh ngeliat Anggi natap dia kayak gitu. Lalu dia mendekat n duduk di samping Anggi. “Gi, kamu kenapa bebh?” Anggi menjauh, n berdiri “kenapa kamu ga jujur ma aku?” “jujur apa bebh?” “siapa tunangan kamu itu?” “tunangan apa?” “udah ga usah boong, aku udah tau karang ternyata ini yang kamu lakukan di belakang aku. Dari awal kan aku udah bilang, jika kamu mang udah bosen, udah ga cinta lagi ma aku bilang aja. Aku ga akan maksa kamu, atau nyalahin kamu. Tapi ga kayak gini caranya”, Anggi semakin meledak, Werdha mendekat, “sabar bebh, ini semua ga kayak yang kamu pikirin, jujur dia itu cuman pilihan orang tuaku, aku bahkan ga pernah ketemu ma dia. Aku masih n sangat cinta ma kamu untuk selamanya bebh” “jangan boong…aku muak denger kata-kata kamu. Seharusnya kamu ngomong dari awal tentang masalah ini” “tapi aku ga mau kamu terganggu konsentrasinya pas kerja bebh” “ah alasan…..” Anggi keluar dari tempat kos-kosannya Werdha….
Semalaman Anggi nangis, untung ada Sari yang nemenin dia. “udah Gi, mungkin ja dia mang ga mau ganggu kamu dulu dengan perjodohan itu, toh dia juga pasti bakal milih kamu” “kamu ga ngerti perasaan aku sih Sar, ini tu bukan masalah sepele Sar, harusnya dia bicarain sebelum-sebelumnya ma aku” “ya udah, tapi kamu ga boleh terus-terusan, beberapa minggu lagi kamu bakal kerja lagi kan” “ya ya aku ngerti Sar, uhhhh aku marah…….sakit hatiku Sar….aku dah ga mau pokoknya maafin dia, nelpon aku aja dia ga tadi, nyegah aku aja nggak, ya biarin dah” “ok, up to u aja Gi. Karang tidur dulu” “iya iya”. Esoknya pagi-pagi dengan mata yang masih sembab abis nangis tu, Anggi bangun, lalu membuka jendela kamarnya. Baru dia buka tiba-tiba dia ngeliat Werdha dah ada di luar sedang ngliat kea rah jendela tu juga, masih ga percaya Anggi megucek-ngucek matanya, ternyata dia ga mimpi. Langsung dia tutup lagi jendelanya, dia juga masih kesel ma Werdha. Sari tau kalo Werdha nunggu Anggi bukain pintu buat dia, tapi tau sifat sepupunya tu kalo udah marah ma seseorang pasti bakal ga mau ketemu ma tu orang akhirnya Sari yang bukain pintu. “hai Wer, nyari Anggi ya?” “iya Sar, aku pingin ngobrol ma dia” “hmm…kayaknya susah Wer, dia ga mau ketemu kamu” “please Sar, bantuin aku biar aku bisa ketemu ma Anggi, aku harus jelasin ini semuanya ke dia”, Sari pun ga tega ngeliat Werdha mohon-mohon kayak gitu.
“Gi, Werdha dah di ruang tamu tuh. Cepet temuin dia gih” “apa???? Ih kamu nie Sar, ngapain biarin dia masuk sih. Masak kamu juga nyuruh aku ketemu dia, mandi juga aku belum. Aku kan gengsi juga Sar, kalo masih kayak gini tapi udah ketemu dia”, “ah kamu nie kebanyakan mikir deh, cepet mandi kalo gitu” , lalu Sari kembali nemuin Werdha, “Wer, Anggi masih mandi, tunggu lagi bentar ya” “iya ga pa –pa kok Sar, thank’s sebelumnya ya” “ya tentu aja”. Beberapa menit kemudian………. Dengan langkah gusar, Anggi masuk ke ruang tamu itu, kemudian dia duduk agak jauh dengan Werdha, “ngapain ke sini?” “duh bebh, kok ketus gitu sih, maafin yank ya” “ga da yang perlu dimaafin” “ok biar aku jelasin, aku ma dia bener-bener ga ada hubungan apa-apa lagi. Kalo kamu ga percaya ayo sekarang kita nyari dia terus kelarin ni masalah” “ga usah, aku males, buang-buang waktu aja” “duh kamu tu dari dulu kalo dibilangin ga mau denger ya. Aku ga mau hubungan kita putus cuman gara-gara masalah kayak gini” “ok, aku butuh waktu buat berpikir, kamu kira gampang apa aku bisa maafin kamu, apalagi aku ga tau mungkin skarang kamu bisa bilang ga ada hubungan ma dia tapi bagaimana dengan nanti? Saat aku dah balik kerja lagi, aku ga bakal tau apa yang kamu lakuin” . “percayalah padaku Gi, aku selalu setia buat kamu, ya udah aku harus siap-siap dulu ya bebh ntar aku telpon lagi deh.” “ya ya”, trus Werdha pun pergi….
Anggi sebenernya percaya ma Werdha, cuman dia juga khawatir jika Werdha kesepian trus orang tuanya mendesaknya lagi. “gimana Gi?” “gimana apanya Sar?” “ya hubunganmu ma Werdha” “masih rumit Sar, udah ah ga usah diomongin lagi” “men mau kemana kamu karang?” “aku ada urusan sebentar ya Sar, bentar aja kok” “ya hati-hati ja Gi” “ok… ok…”. Anggi cepat-cepat ke tempat temannya dulu yang bernama Wiwin. Ya dia mang rindu banget ma tu anak, coz dah lama juga ga ktemu. Ya trakhir ktemu tu dah pas Anggi ngundurin diri dari kantornya coz udah ga betah ma bosnya yg curigaan terus ma dia, cuman gara-gara dia ngira Anggi tu cma main-main ja kerjanya. Padahal sebenernya Anggi mang pinter trus ya pas waktu senggangnya aja dia iseng buka fb. Ya dia dh di dpn rumah Wiwin tuh….dah ga sabar banget mencet bel rumahnya.
Ting…nong…..ting….nong…..awalnya Anggi ga percaya kalo itu Wiwin pas bukain dia pintu. Sempet bengong sebentar trus dia kira dia salah masuk rumah….dia liat lagi nomer rumahnya, “ah masih sama” “hemm….hm….dah lupa toh ma aku Gi, wajarlah aku berubah wong aku juga dah berkeluarga, yuk masuk ja Gi…” “eh..iya iya”, mereka kemudian masuk ke dalam rumah bercat putih itu, dah banyak yg berubah di rumah itu, pikir Anggi. Mereka duduk di sofa di ruang tamu Wiwin yg ga begitu besar itu. “eh aku buatin kamu minum dulu ya” “eh ga usah Win, aku ksini ga karna haus kok, lagian kamu lagi hamil juga ga usah banyak gerak” “ga pa pa kok Gi, udah biasa juga. Lagian kamu kan jarang ke rumah aku”.. “ya udah deh, eh aku ikut ya skalian mo liat dapur kamu” “up to u dah…”, mereka jalan beriringan ke dapur Wiwin.
“eh btw kamu kok ga bilang-bilang sih dah nikah?” “ya mo gimana lagi, aku tau kamu ada di luar negeri juga, ga mungkin lah aku ngundang kamu” “ya paling ngga kan aku bisa ngucapin met nikah n nempuh hidup baru ma kamu Win” “ya mo gimana lagi dong, aku juga lupa ma nomer hp kamu. Ya udahlah ga pa pa. btw kamu masih gini-gini aja dari dulu. Dah da planning buat marriage blum?” “ah marriage???masih jauh kayaknya Win, aku mah kalo urusan serius gitu masih pikir-pikir ampe sribu kali” “berpikir sih berpikir Gi, tapi ampe kapan kamu kayak gini terus, awas lho ntar jadi perawan tua kan umurmu udah 27 Gi, dah waktunya nikah lho” “ih….kamu nie nakut-nakutin aku aja, giman lagi dong Win, entah knapa aku ga yakin ma si Werdha ini. Well aku masih suka ma dia, tapi aku gay akin kalo aku harus nikah ma dia. Ada sesuatu dalam diri dia yang masih misteri menurut aku… ” “ah kamu nie lebay amet sih, kalo mang ga yakin ma dia bicarain dong baik2. Jangan malah kayak gini terus…ngambang…..” “tau ga tadi ja aku baru baikan ma dia, gara-gara dia ga bilang mo dijodohin ma ortunya” “wih gawat tu Gi, trus…trus….” “ya aku marah dong, aku ga terima ia ga jujur ngomong ma aku. Tu dah yang bikin aku kesel n ragu ma dia Win. Emangnya aku bakal knapa kalo bicarain itu sblum-sblumnya ma dia. Toh aku ga bakal nyalahin dia, dari dulu ampe karang ya Win, aku ga pernah nglarang dia sama sekali. Padahal kamu tau ndiri kan kalo aku tu paling anti ma yang namanya rokok, tapi demi dia aku rela nerima dia seorang prokok….udah abis ksabaranku ma dia Win, dia tu mikir semua gampang. Aku disuruh brenti lah kerja ma dia, mang dia pikir aku nie tipe cewek yang bergantung ma cowok apa”, ga kerasa air mata Anggi netes lagi….Wiwin mengusap-usap bahu Anggi, “udah Gi, aku ngerti perasaan kamu….aku saranin kamu bicara dulu ma dia baik-baik, trus kamu tentuin apa kamu bakal lanjut ma dia atau selesain itu sekarang juga”. “iya kamu bener Win, aku harus selesain nie skarang juga, masalahnya bntar lagi aku kerja lagi, biar ga kebawa di tmpat kerja nie urusan…biar kelar skarang juga” “ya, ya baguslah klo gitu….eh….tu the nya diminum dulu Gi, dari tadi nyroscos terus kamu” “eh…iya lupa aku”, kata Anggi lalu minum teh tersebut……”ya udah Win, aku pulang dulu ya…salam buat suamimu n satu lagi ma babymu ini”, kata Anggi sambil ngelus perut Wiwin, “iya, iya, sayang kamu cuma bentar mampir Gi” “ya kapan-kapan kalo aku punya waktu pasti aku ksini lagi kok” “iya hati-hati ja lo gitu” “ok….”, kata Anggi lalu dia pulang ke rumahnya….
Tapi ia kaget banget pas nyampe di dpn rumah….ada si Werdha berdiri di sana…. “hai Gi…..dari mana aja? Aku dah lama nunggu sini tau” “eh kamu kok dh di dpn sini sih? Katanya tadi ada urusan” “ya urusanku dah lesei bebh….kita jalan yuk….” “mang mo ngapain?” “yee….kan kita udah lama ga jalan skalian ngobrol gmana sih bebh nih” “bntar dulu aku mo ganti baju dulu” “duh ga usah dah bebh, udah cantik kok….” “ih…engga je gitu, nie dah bau apek tau” “ga knapa…..ayok….”, Werdha narik tangan Anggi…..
Mreka tiba di sebuah bukit yg luas banget…..”ngapain sih kita kesini Wer” “oh..lagi nanya ya buat refreshing juga lah Gi” “oh gitu….”, trus mereka berdiri di samping batu gede yang ga jauh dari pohon singapur….”oh ya mumpung di sini,aku pingin ngobrol serius ma kamu Wer” “ngomong aja bebh…” “e…..aku pingin nanya ma kamu sebenernya kamu bisa nerima aku apa adanya pa ga sih?” “ya iyalah bebh…”, kata Wedha sambil ngrangkul Anggi dari blakang, tapi Anggi langsung nglepasinnya trus balik ke blakang tepat di dpn muka Werdha, “aku ga bisa ada tiap hari di samping kamu, pa kamu masih bisa setia ma aku? Aku ga bisa kamu kekang, bukannya aku pingin bebas kayak di hutan, tapi aku ga ingin kalo cuman tergantung ma kamu”, kata Anggi dengan serius, “iya aku dah tau kok maksud kamu. Huh….mau gimana lagi, yang penting kamu ga ninggalin aku pas malem pertama kita ja”, kata Werdha sambil senyum-senyum, “bercanda ja kamu nie ya”, kata Anggi tersipu malu….lalu Werdha meluk Anggi, n bilang.. “diem…dulu ada sesuatu tuh di muka kamu” “apaan sie Wer???” “iya makanya diem dulu, tutup mata kamu tu biar aku bisa ngilanginnya” ya Anggi langsung nutup matanya, ternyata eh ternyata…..Werdha bukannya mau ngilangin apa-apa, dia cuman mau nyium Anggi…
Spontan dong Anggi kaget trus buka mata, “ih kamu nie Wer, resek kali sie cium ga bilang-bilang” “ya ga surprise dong kalo bilang-bilang, lagian cuman bentar kamu dah snewen gitu” “abis kamu sih, udah ah pulang aja aku males jadinya di sini” “ye, kok ngambek bebh…..jangan gitu dong bebh”
“iya cepetan pulang ja”, kata Anggi langsung balik badan trus jalan menuju pintu keluar. Werdha ngejar dia, “cepet banget sih bebh, blum juga ngapa-ngapain” Anggi langsung noleh dia, “mang mo ngapain lagi? Tadi dah dapet nyium juga, ga puas???” “mih….galak amat sih, ya sorry sorry….yuk nae pulang bebh….”. mereka akhirnya pulang deh….
Malemnya……
Kring…..kring….., duh sapa sih nelpon jam sgini, bru ja mo mimpi aku….., kata Anggi ngraba-ngraba nyari hpnya yg bunyi terus…., “ya halo….sapa nie”, “halo bebh…..” “dasar kamu nie, ga tau dah jam brapa karang?” “baru juga jam 12 bebh, udah bobok ya?” “ya iyalah….mo ngomong apaan mangnya?” “cuman mo denger suaranya bebh ja….” “buang-buang pulsa ja kamu Wer” “ga apalah, demi bebh tercinta” “gombal kali, ga tidur kamu?” “blum bebh….” “mang lagi ngapain?” “lagi ma temen-temen ja bebh” “udah dah mabuk ya?” “ah ngga kok, ya bebh bobok dah lagi” “ya udah……”, lalu telpon pun ditutup….
2 jam kemudian…..
Ada telpon lagi… ih….sebel…sebel…..udah mo mimpi lagi malah ada telpon, “ya mo ngapain lagi nelpon?” “bebh….ayahku masuk RS nih” “apa???” “iya Gi, aku mo kesana dulu” “ok…ntar aku nyusul Wer” , langsung aja Anggi melek, dia ga kebayang gimana perasaan Werdha. Dia cepet-cepet siap-siap ke rumah sakit. Nyampe sana ia ngeliat dah da tunangan Werdha n keluarga Werdha yang lain ,masih agak kikuk..untung Werdha ngampirin dia, “sini Gi….”, mereka semua duduk…..lalu ayah Werdha ngomong dengan terbata-bata.. “nak….bapak tau kalian udah deket, tapi bapak mohon sebagai permintaan trakhir bapak sebelum bapak kea lam sana. Tolong sudahi hubungan kalian, bapak sudah buat janji jauh sebelum Werdha dilahirkan dengan bapaknya nak Vrida ini, kalo mereka berdua bakal dijodohin…bapak mohon nak Anggi bisa nerima” semua terdiam…..Anggi dah ga sadar kalo dia denger semuanya….ia mikir….akhirnya ia tau ini akhir hubungannya, “baiklah pak, semoga bapak tenang menghadap-Nya…saya bersedia memutuskan ini semua”, “terimakasih nak….”, setelah itu ayah Werdha menutup matanya buat slama-lamanya. Semua orang menangis…..hanya Werdha yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat itu….
Dia ga ngerti kenapa bisa terjadi kayak gini, Anggi kemudian menghampiri Werdha yang masih keliatan terpukul baik karna kepergian ayahnya maupun dengan kputusan Anggi. “Wer, udah relain semuanya aku harap kamu tabah….aku akan pulang dulu…kamu kabarin aku aja kapan penguburannya aku akan dateng”, Werdha memegang tangan Anggi, “kenapa semuanya mesti pergi bersamaan Gi, apa salahku?” “jangan bilang gitu Wer, semuanya takdir….” “aku….aku ga tau bisa bertahan apa tidak jika kamu pergi juga Gi” “aku yakin kamu bisa, sudah…..jodohmu udah nunggu kamu, temanilah dia sekarang…..”, lalu Anggi melepaskan tangan Werdha….ia pergi…berusaha menahan air matanya yang dah dari tadi mo netes terus…..
Ngga….aku udah janji ma ayahnya Werdha….ga mungkin aku bohong….ya inilah akhir semuanya….., Sari tau, itu sangat berat buat Anggi, ia ngibur Anggi, tapi Anggi cuman mau sendiri…..
Esok harinya adalah pemakaman ayah Werdha,Anggi menepati janjinya, ia dateng ma Sari dengan baju serba item-item…. Werdha masih kliatan terpukul….ia memandangi jasad ayahnya yang udah masuk ke liang kubur…air mata netes…semua orang nangis….Werdha sama sekali ga nyadar kalo Anggi dah berdiri tepat di depan dia…..sampai akhirnya semua orang pergi, “Anggi….kamu dateng juga…” “iya Wer….ya udah yang tabah ja….aku mau pulang Wer…slamet tinggal” “tunggu Gi….ini mungkin bukan apa-apa buat kamu tapi udah dari dulu aku nyimpen ini buat kamu terserah kamu mau buang atau nyimpen…yang penting aku udah nyerahin ini” Anggi membuka kotak itu, ternyata ada cincin.. “cincin???buat apa Wer?” “aku sebenernya udah pingin nglamar kamu, tapi semuanya udah ga mungkin lagi…..” “tapi bagaimana aku bisa nerima cincin kamu?” “aku mohon terima sebagai tanda perpisahan terakhir kita aku mohon Gi….mungkin berat buat aku, aku ga pernah ngebayangin semuanya bakal kayak gini….tapi aku tau inilah kenyataan….tolong terima cincin itu Gi” “baik…baiklah…..Wer….” mereka pun berpisah……
Berat……banget bagi mereka berdua…..tapi live must go on….Anggi dah denger kalo Werdha udah tunangan n bentar lagi mo nikah….sakit mang rasanya….cuman bntar lagi Anggi juga mo brangkat kerja…..udah beberapa bulan kemudian Anggi masih sendiri.
Dia udah mo nutup fb-nya karena dia udah ga mau nginget kenangan ma Werdha lagi, tapi….dia ngeliat orang yang dulu nolongin dia ternyata ngirim pesan di fbnya… “hey…..who are u????” yah Anggi mulai penasaran lagi….penyakitnya dah kambuh tuh. Ya dia bales aja…..
Cerita pun dimulai lagi, mang ga ada habisnya kalo dah ngomongin masalah cinta apalagi yang berhubungan ma fb. Lembaran barupun dimulai lagi. Sedih duka terhapus oleh sosok Nino yang humoris n kadang-kadang sok jaim gitu. Tapi kali nie Anggi udah yakin ma Nino…ternyata mereka klop banget n cocok di segala bidang. Yah berkata fb juga sih, yang jelas bentar lagi mreka juga bakalan nikah……so ….happy ending deh…..
Awalnya dari facebook semua bisa ada, perkenalan, hubungan, ampe yang namanya perpisahan ada. Facebook, jejaring social yang lagi ngetrend-ngetrendnya pada masa nie dah ngebius anak-anak muda dan semua insan di dunia. Utamanya buat orang-orang yang mau nyari lebih banyak teman, hiburan, tempat keluh kesah, ataupun hanya sekedar sensasi.
Ya ga sengaja aja kadang-kadang kita nemuin seseorang di facebook, entah dia darimana, anak siapa, punya rumah berapa mah ga penting di facebook. Yang penting bisa saling berhubungan satu sama lain. Ya kadang sih cma berawal dari iseng, tapi siapa tahu kita bisa nemuin jodoh kita. Seperti Anggi dan Werdha, ya emang semuanya cuma iseng, tapi siapa tau tu jadi kisah yang paling dramatis dalam idup kita. Kayak nie kisah…..
Hufh…..suara jari lincah ketikan Anggi benar-benar cepet, ga ada jeda bahkan. Tiap malem abis kerja, pasti dia bgadang di kantor cuma buat ganti status lah, chatting lah, atau pun komen ke temen-temennya. Bahkan tiap ada kesempatan, kalo dia dah ga ada kerjaan di kantor pasti nyempetin diri buat log in ke fb-nya. Ga lewat computer kantorlah, ga lewat hp di rumah lah. Semuanya ga ada habisnya. Dia bener-bener kecanduan tu ma yang namanya fb. Ya temen-temennya si maklum juga, dia kan abis putus ma pacarnya, gara-gara pacarnya ketauan selingkuh di depan matanya sendiri. Ya wajarlah kalo dia nyari pelarian di fb. banyak juga cowok-cowok yang dah ng-add dia juga di fb. Semua express, perkenalan lah, langsung tuker-tukeran no.hp. Abis tu ketemuanlah….hmmm…..melelahkan juga, pikir Anggi kadang-kadang.
Ampe dia nemuin banyak cowok, “bingung juga nie, yang mana mo dibales dulu ya?”, ya hari-harinya paling cuma disibukin ma urusan fb. Tapi gara-gara tu juga dia jadi ngerasa ga kesepian. Dia ngerasa ada banyak teman di sekelilingnya. Meski dia tau banget kalo kebanyakan dari mereka ya cuma iseng, atau nyari gebetan asal ja. Tapi Anggi ga perduli, yang penting happy katanya. Pernah dia nyoba serius ma satu orang namanya Yuda. Bisa dibilang mereka dah lumayan deket. Smsannya dah kayak lagi pacaran ja, meski mereka sama sekali ga pernah ketemu. Akhirnya suatu ketika mereka ketemu juga, awalnya Anggi sangat deg-degan, ya bagaimanapun mereka belum kenal secara langsung. Ga banyak kata yang terucap pas mereka dah ketemu. Dan ternyata perasaan Anggi bahkan ga ada ngerasain da sesuatu dengan Yuda, begitu juga Yuda. Hubungan mereka pun putus di tengah jalan.
“Gi, bingung aku ma kamu, kamu tu banyak buanget temen smsannya, ga capek tu bales atu-atu?” , kata temen Anggi di kantor yang namanya Wiwin. Anggi sedang asik-asiknya ngetik sms lewat hpnya waktu itu, dia menoleh sebentar, “hemmm”, “yah aku nanya serius gitu, cuman dijawab hmmm doang, gitu dah kalo dah ma temen fbnya, temen sendiri dilupain”. Lalu Wiwin agak kesel, trus ninggallin Anggi dah. Setelah beberapa menit kemudian, Anggi ternyata lupa sekali bawa pengenal kantornya padahal dia waktu tu bener-bener harus ketemu ma klien. Akhirnya dia minjem di Wiwin. “Win, pinjemin aku dong, please…” “enak aja, tadi aku dicuekin. Tu suruh ja temen fb kamu minjemin” “duh, Win aku minta maaf deh. Please bantuin aku kali nie, aku janji deh ga bakal nyuekin kamu lagi. Oh ya apapun deh permintaan kamu aku turutin, tapi kali nie bener-bener aku butuh bantuan kamu win” “iya, iya deh aku bantuin. Asalkan ntar kamu traktir aku makan siang” “iya sip deh”, yah akhirnya Wiwin minjemin kartu pengenalnya. Tiap berurusan ma makanan, Wiwin mang ga bisa nolak. Ckckckck…
Hari yang ngebosenin……….
Anggi ga tau mesti ngapain, ya akhirnya seperti biasa tangannya dah gatel buat log in ke fb. Trus dia buka kotak obrolannya, ya dia ajak satu orang buat chatting. Asal aja, dia bilang Hai…ma orang yang namanya Werdha. Ga disangka-sangka dia juga bilang hai, ya sejauh itu mreka nyambung-nyambung aja. Ampe tukeran no.hp pula, semuanya tu berjalan cepet banget kayak jet, n suatu hari Werdha ngajakin ketemuan. Awalnya Anggi males banget ketemu ma Werdha, coz dia sebenernya dah males ketemu-ketemu ma orang yang ga jelas dia kenal. Belum lagi dia ga berani lagi sendirian ketemuan,coz perbah suatu kali pas dia diajakin ketemuan tu, dia kapok banget. Janjinya sie sendiri, tapi cowok yang diajaknya ketemuan tu malah rame-rame segeng gitu. Untung Anggi dah jaga-jaga, dia ga makek baju yang warnanya dah dia kasi tau ke cowok itu. Dan akhirnya Anggi sembunyi-sembunyi pulang deh ke rumah. Masak dia dah berani boong padahal nie baru permulaan, kata Anggi dalam hatinya.
Buat Werdha, dia ngasi alasan buat ga ketemuan, ya dia ga begitu semangat juga buat ketemu-ketemu kayak gitu lagi. Tapi makin lama, Werdha dapat juga meluluhkan hatinya. Werdha beda ma cowok-cowok yang lain, yang hanya ngeliat Anggi dari fisik aja, udah gitu Werdha seneng banget nyuruh Anggi biar semangat kerja n ga males-malesan. Anggi pun akhirya mau ketemuan. Ya seperti biasa nih, Anggi ga mau nunggu duluan, pasti Werdha disuruhnya buat datang setengah jam lebih awal dibanding dia. Ampe-ampe dan 10 kali Werdha ngsms nanyain jadi apa ga ketemuan. Anggi hanya cekikikan melihat Werdha yang udah lumutan nungguin dia, sebenernya dia dah ada deket Werdha, cuma dia sembunyi di balik mobil yang diparkir ga jauh dari tempatnya Werdha. Namun pada akhirnya dia ketahuan juga gara-gara dia lupa silent hpnya. N Werdha waktu tu nelpon dia. Wedha curiga kok pas dia nelpon, ada suara hp yang bordering juga di sampingnya. Anggi udah panik, mau reject ga enak, mau ngatur bunyi hp dah terlambat juga. Akhirnya Werdha nemuin dia, n dia cuma bisa bilang hai…
Mereka duduk di kursi tepat di bawah pohon mahoni yang rindang, Anggi pun membuka pembicaraan, “mmm…sorry ya tadi aku cuman mau bercanda ja” “lucu kali kamu, masak di situ sembunyi sih, kayak ga punya kerjaan ja” “ya, aku kan dah bilang cuman mau bercanda ja tadi”. Ya ga lama sih mereka ngobrol, karena Anggi dapat telpon dari tantenya. Katanya disuruh nganterin ke rumah sakit, karna neneknya sedang sakit. Ya mereka bersalaman saat akan berpisah. “Gi, kalo ada waktu kita ketemu lagi ya” “oh..iya-iya”.
Pertemuan tu emang singkat,padat, n jelas banget. Ga ada memori romantisnya sedikit pun, hati juga ga bergetar waktu tu. Semua itu dirasakan oleh Anggi suatu firasat kalo dia mang ga ada feel ma tu orang yang namanya Werdha. Dia udah ngapus nomer hpnya si Werdha, karna dia rasa orang kayak Werdha paling cma penasaran aja ma dia, tapi kemarin, dia kelihatan juga ga kayak di smsnya. “huh biarin dah mending tak apus aja nomer nie orang. Males kayaknya aku berhubungan ma orang yang udah aku ajak ketemuan”. Namun beberapa menit kemudian, Werdha mengiriminya sms, untung dia masih inget nomernya Werdha, kalo ga bisa ja kan Werdha tersinggung kalo dia ditanya sapa nie???
Ampe beberapa hari, Werdha masih mengirim sms dengan rajin. “ga nyangka aku ma nie cowok, tak kirain dah lupain aku”. Dan lama kelamaan, Werdha makin ngasi isyarat kalo dia tu suka ma Anggi. Tiba-tiba waktu itu, hujan masih sering turun di bulan Desember dan anginpun kencang, cuaca berawan, ga nyambung kali ya, mang nie ramalan cuaca apa….tapi suasana itu yang terjadi pas Anggi bener-bener kaget baca smsnya Werdha. Dia bilang hei…bebh…..Anggi bener-bener ga ngerti kenapa tiba-tiba tu orang manggil dia kayak gitu. Lalu dia membalasnya, kmu salah kirim ya Wer?, tak berapa lama kemudian, Werdha pun menjawab, ngga kok, bener…., lalu Anggi nanyak lagi, mang kamu tadi ngsms apa?, Werdha bales, mz..bebh…, jantung Anggi dah ga karuan detaknya, aliran darahnya juga jadi cepet arusnya. Dia sedang mikir keras, gimana caranya dia ngadepin nie orang. Apa dia mesti bilang kalo dia ga suka n terang-terangan nolak nie cowok. Apa dia mo ngasi nie cowok kesempatan buat bisa ada pas dia lagi sedih, pas dia lagi seneng, bisa diajak curhat, n so pasti dia ga bakal sendirian n nglanjutin masa pencarian cintanya. “uuuhhh….bingung…..”, sepupunya Anggi yang bernama Sari yang kebetulan lewat heran ngeliat spupunya yang rada-rada aneh sendiri itu. Lalu dia deketin si Anggi.
“gi….”, katanya dengan nada yang keras banget sambil menepuk bahunya Anggi. Anggi ampe kaget setengah mati, “astaga amit..amit…orang jatuh…”, sepupunya hanya ketawa ngeliat tingkah Anggi yang emang latah-latahan gitu orangnya. “he…he…he…sorry, sorry Gi….lagi ngapain sih, aneh banget” “ah kamu nie…bikin jantungku copot ja, aku lagi bingung nie Sar” “bingung kenapa toh Gi?” “nie kan da orang yang aku ajak ketemuan, trus dia dah mo aku lupain. Tapi ampe hari ini aku masih aja disms Sar, parahnya lagi dia bilang bebh ke aku” “mang kamu dah pacaran ma dia?” kata Sari sambil ngambil toples berisi kacang polong kesukaannya di atas meja tempat mereka duduk. “yah tu dah masalahnya Sar, aku bahkan ga pacaran ma dia. Tadi kan aku nanya ke dia pa dia ga salah kirim tu. Trus dia bilang ngga, n tak tanya lagi apa yang dia sms tadi , n ternyata dia bilang bebh lagi ke aku Sar” “hmmm….dia dah nganggep kamu pacarnya tuh”, kata Sari yang sambil asyik makan kacang. “ah kamu nie, dia ja belum dapet nembak aku , gimana aku bisa jadi pacarnya dia coba? Mang aku mau apa ma dia, orang ketemu ja baru satu kali”. Sari sejenak berpikir, “iya juga sih, apa dia ga terlalu cepet tu nganggep kamu jadi pacarnya. Menurutku sih kamu lebih baik nanya maksudnya dia tu apa?” trus dia ngsms Werdha n nanya apa maksudnya dia bilang kayak gitu. Ternyata Werdha cuman bilang kalo dia cuman pingin ja manggil Anggi kayak gitu, coz Werdha ngerasa dah lama smsan ma Anggi n pingin mesra ma dia. Anggi bener-bener ga percaya, masak ada orang yang cuman gara-gara dah lama smsan dah mau ngajakin mesra-mesraan, mang dia cewek apaan? Lagian Werdha juga belum nembak dia gimana mo dibilang pacaran coba, heh…hal ini makin buat Anggi bingung…..
Akhirnya coz dah jenuh kali ma yang namanya kebimbangan, Anggi pun dengan tegas ngomong ke Werdha via sms, “Wer, jangan panggil aku gitu lagi, kecuali kalo kita udah pacaran” “oh gitu, pacaran yuk” spontan aja Anggi kaget, dia bener-bener ga nyangka bakal diajakin pacaran. Yang bikin dia tambah bingung, sekarang dia mesti jawab apaan?????? Trus Anggi pun mencari Sari, dia nemuin Sari sedeng telpon-telponan ma pacarnya, tapi Anggi saking ngebetnya maksa Sari buat nutup tu telepon. “iihhh…da apaan sie Gi? Tumben kamu ganggu acara telpon-telponan aku nie, mana lagi seru-serunya lagi” “iya iya sorry Sar, masalahnya ini penting banget buat aku, aku diajakin pacaran tuh ma si Werdha” “trus????” “menurut kamu aku terima dia pa gimana ya?” “yeee, tu kan terserah kamu, kok nanya aku sih, kalo emang kamu suka ya terima, kalo engga ya tolak, ribet amat sih” “tapi aku bingung, aku kan ketemu baru satu kali tuh ma dia, masak aku dah pacaran ma dia, pedekate ja engga, duh bingung Sar” “ya kasi ja dah dia kesempatan, mumpung sama-sama jomblo, ya kalo ga cocok putusin aja, gampang kan” “oh ia, kamu bener juga”. Akhirnya Anggi nerima Werdha sebagai pacarnya meski dengan setengah hati.
Ya mereka sih jarang ketemu, coz Werdha masih sibuk ma dunia bartendernya, sedangkan Anggi juga lagi mo brangkat ke luar negeri, alnya dia kerja disana. Sebenernya mereka saling kangen, tapi mo gimana lagi, kan ga mungkin mereka ninggalin karir mereka, toh itu juga buat masa depan mereka kelak. “Bebh, ayang rindu kali ma bebh, bebh kapan pulang sie?”, kata Werdha merajuk, “e…ga tau juga yank, mungkin satu bulan lagi, yang sabar ya yank” “iya iya, ayang bakal selalu nungguin bebh”. Satu bulan kemudian….ga kayak biasanya hujan turun deres banget di pelabuhan, untung Anggi selalu siap sedia bawa payung kemana-mana, dia lari ampe hampir ja dia kepeleset n nabrak koridor pintu masuk pelabuhan, untung da cowok yang namanya Nino nolongin dia. “kalo jalan hati-hati mbak”, kata Nino tanpa simpati sama sekali, “eh iya maaf, tapi makasih” , cowok itu malah pergi, n ga ngomong apa-apa lagi ke Anggi. “akhirnya nyampe rumah juga kau Gi,aku kangen juga ma kamu”, kata Sari, “duh Sar aku capek banget, satu bulan lagi aku dah kerja lagi. Kamu enak ya kerja di kantor, ya bisa santé lah ga kaya aku nie dah kurus tambah kurus lagi” “ya itu kan dah da yang ngatur Gi, kan lumayan juga gaji kamu disana” “iya lumayan menguras tenaga juga Sar” “ya udah kamu istirahat ja dulu, ntar kalo Werdha nelpon, aku bilang kamu capek” “oh ya makasih ya Sar” “sama-sama”.
Letih ,lesu, lunglai dah ga kebayang lagi di pikiran Anggi pas dia dah nyampe di rumahnya. Ngerasa kayak udah tenang aja, pokoknya dia ga mau mikirin bulan depan dia mesti kerja lagi, ya dia pingin santé sejenak di rumahnya. Oh ya satu lah yang paling ga bisa dia tahan tu adalah ketemu ma pacarnya si Werdha. Rasanya dah lama sekali dia ga ketemuan, kata lagu yang lagi ngehits karang tu judulnya sie Rindu setengah mati. “yank, ku udah pulang nie, tadi sempet nelpon ya?” “iya bebh, tapi kayaknya kamu masih capek, ya udahlah ga pa2” “iya sie yank, tapi pa yank ga kangen ma bebh?” “uhhh…kaaaaaaaaaaaaaangeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn kali bebh, dah ga sabar pengen…..” , Werdha diem, buat Anggi tambah penasaran ja. “Pengen apa yank?” “pengen….ya pengen ketemu lah, hahahhahah..” “ih dasar bikin penasaran aja yank nie, ya udah eh ntar kita ketemu dimana yank?” “emmmmmmmmm……..di tempat kita pertama kali ketemu ja bebh” “dah lupa tu yank” “astaga, blum juga nenek2 dah pikun” “iya iya boong, inget kok” “gitu nae bebh, ayank kan tambah sayang jadinya” “iya2 bebh juga, miss u” “miss u too my lovely”. Telpon pun ditutup….
Mereka dateng bersamaan, ya Anggi masih malu2 gitu ketemu Werdha, ya udah lama juga ga ketemu gimana gitu rasanya. Werdha hanya senyum-senyum sambil terus natap mata Anggi. Mereka duduk lagi tu di bawah pohon mahoni, sambil nginget2 masa lalu juga. Tiba-tiba ujan turun deres banget, ampe semua baju Anggi n Werdha basah kuyup. Mereka nyari tempat berteduh lah, hmmm akhirnya mereka nemuin tempat yang teduh yaitu di bengkel yang karang udah gulung tikar tu. Tempatnya agak kotor sih, tapi ga apalah, daripada diguyur ujan terus ntar bisa sakit lagi. “yank ga ok kali tempatnya ya, aku bener-bener ga nyaman sini. Udah ga ada tempat duduk lagi” “ya mo gimanain men bebh, kalo kita pulang mang bebh bawa payung? Motor juga jauh parkirnya” “iya iya tau…”, Anggi hanya mengeluh sebentar. Ujan bukannya berhenti malah tambah deres, “yank kayaknya nie ujan bakal ga brenti2 deh” “iya juga bebh” “yank kita pulang aja dah yuk” “ya bentar lagi aja bebh…oh ya kamu kapan mo balik kerja lagi?” “satu bulan lagi yank” “uh cepet banget ya, mending kamu brenti aja dah sana bebh. Ntar ayangbantu deh nyari kerjaan di sini” “duh gimana men yank, dah terlanjur pake kontrak yank. Dua tahun lagi baru bebh bisa brenti yank” “lama kali bebh……”, katanya sambil menunduk. Anggi pun sebenernya ga tega teru-terusan ninggalin Werdha, dia mendekati Werdha, “udah yank, jangan tu dipikirin lagi. Kan karang kita dah bisa ketemu aja dah syukur” “iya juga bebh”, Werdha memegang tangan Anggi, lalu mengecup keningnya. “I love you”, kata Werdha. “love you too…”, ya ga kerasa tu bibir dah turun dari kening menuju ke bibir Anggi. Ya akhirnya mereka ciuman….
Hari-hari jadi amat brarti buat Anggi n Werdha, tapi mulai ada rasa curiga di hati Anggi pas dia ga sengaja ngangkat hp-nya Werdha, coz Werdhanya juga lagi ke belakang. “halo….”, kata Anggi. “halo, ada Werdha ga?”, kata cewek itu dengan nada manja. “dari siapa ya?” “oh aku tunangannya Werdha”, langsung aja Anggi diem pas denger tu cewek ngomong kayak gitu. “halo…halo…”, kata tu cewek karna udah ga denger suara Anggi lagi. Lalu telponpun ditutup, Anggi pun terhenyak di kursinya, Werdha kemudian dateng, trus aneh ngeliat Anggi natap dia kayak gitu. Lalu dia mendekat n duduk di samping Anggi. “Gi, kamu kenapa bebh?” Anggi menjauh, n berdiri “kenapa kamu ga jujur ma aku?” “jujur apa bebh?” “siapa tunangan kamu itu?” “tunangan apa?” “udah ga usah boong, aku udah tau karang ternyata ini yang kamu lakukan di belakang aku. Dari awal kan aku udah bilang, jika kamu mang udah bosen, udah ga cinta lagi ma aku bilang aja. Aku ga akan maksa kamu, atau nyalahin kamu. Tapi ga kayak gini caranya”, Anggi semakin meledak, Werdha mendekat, “sabar bebh, ini semua ga kayak yang kamu pikirin, jujur dia itu cuman pilihan orang tuaku, aku bahkan ga pernah ketemu ma dia. Aku masih n sangat cinta ma kamu untuk selamanya bebh” “jangan boong…aku muak denger kata-kata kamu. Seharusnya kamu ngomong dari awal tentang masalah ini” “tapi aku ga mau kamu terganggu konsentrasinya pas kerja bebh” “ah alasan…..” Anggi keluar dari tempat kos-kosannya Werdha….
Semalaman Anggi nangis, untung ada Sari yang nemenin dia. “udah Gi, mungkin ja dia mang ga mau ganggu kamu dulu dengan perjodohan itu, toh dia juga pasti bakal milih kamu” “kamu ga ngerti perasaan aku sih Sar, ini tu bukan masalah sepele Sar, harusnya dia bicarain sebelum-sebelumnya ma aku” “ya udah, tapi kamu ga boleh terus-terusan, beberapa minggu lagi kamu bakal kerja lagi kan” “ya ya aku ngerti Sar, uhhhh aku marah…….sakit hatiku Sar….aku dah ga mau pokoknya maafin dia, nelpon aku aja dia ga tadi, nyegah aku aja nggak, ya biarin dah” “ok, up to u aja Gi. Karang tidur dulu” “iya iya”. Esoknya pagi-pagi dengan mata yang masih sembab abis nangis tu, Anggi bangun, lalu membuka jendela kamarnya. Baru dia buka tiba-tiba dia ngeliat Werdha dah ada di luar sedang ngliat kea rah jendela tu juga, masih ga percaya Anggi megucek-ngucek matanya, ternyata dia ga mimpi. Langsung dia tutup lagi jendelanya, dia juga masih kesel ma Werdha. Sari tau kalo Werdha nunggu Anggi bukain pintu buat dia, tapi tau sifat sepupunya tu kalo udah marah ma seseorang pasti bakal ga mau ketemu ma tu orang akhirnya Sari yang bukain pintu. “hai Wer, nyari Anggi ya?” “iya Sar, aku pingin ngobrol ma dia” “hmm…kayaknya susah Wer, dia ga mau ketemu kamu” “please Sar, bantuin aku biar aku bisa ketemu ma Anggi, aku harus jelasin ini semuanya ke dia”, Sari pun ga tega ngeliat Werdha mohon-mohon kayak gitu.
“Gi, Werdha dah di ruang tamu tuh. Cepet temuin dia gih” “apa???? Ih kamu nie Sar, ngapain biarin dia masuk sih. Masak kamu juga nyuruh aku ketemu dia, mandi juga aku belum. Aku kan gengsi juga Sar, kalo masih kayak gini tapi udah ketemu dia”, “ah kamu nie kebanyakan mikir deh, cepet mandi kalo gitu” , lalu Sari kembali nemuin Werdha, “Wer, Anggi masih mandi, tunggu lagi bentar ya” “iya ga pa –pa kok Sar, thank’s sebelumnya ya” “ya tentu aja”. Beberapa menit kemudian………. Dengan langkah gusar, Anggi masuk ke ruang tamu itu, kemudian dia duduk agak jauh dengan Werdha, “ngapain ke sini?” “duh bebh, kok ketus gitu sih, maafin yank ya” “ga da yang perlu dimaafin” “ok biar aku jelasin, aku ma dia bener-bener ga ada hubungan apa-apa lagi. Kalo kamu ga percaya ayo sekarang kita nyari dia terus kelarin ni masalah” “ga usah, aku males, buang-buang waktu aja” “duh kamu tu dari dulu kalo dibilangin ga mau denger ya. Aku ga mau hubungan kita putus cuman gara-gara masalah kayak gini” “ok, aku butuh waktu buat berpikir, kamu kira gampang apa aku bisa maafin kamu, apalagi aku ga tau mungkin skarang kamu bisa bilang ga ada hubungan ma dia tapi bagaimana dengan nanti? Saat aku dah balik kerja lagi, aku ga bakal tau apa yang kamu lakuin” . “percayalah padaku Gi, aku selalu setia buat kamu, ya udah aku harus siap-siap dulu ya bebh ntar aku telpon lagi deh.” “ya ya”, trus Werdha pun pergi….
Anggi sebenernya percaya ma Werdha, cuman dia juga khawatir jika Werdha kesepian trus orang tuanya mendesaknya lagi. “gimana Gi?” “gimana apanya Sar?” “ya hubunganmu ma Werdha” “masih rumit Sar, udah ah ga usah diomongin lagi” “men mau kemana kamu karang?” “aku ada urusan sebentar ya Sar, bentar aja kok” “ya hati-hati ja Gi” “ok… ok…”. Anggi cepat-cepat ke tempat temannya dulu yang bernama Wiwin. Ya dia mang rindu banget ma tu anak, coz dah lama juga ga ktemu. Ya trakhir ktemu tu dah pas Anggi ngundurin diri dari kantornya coz udah ga betah ma bosnya yg curigaan terus ma dia, cuman gara-gara dia ngira Anggi tu cma main-main ja kerjanya. Padahal sebenernya Anggi mang pinter trus ya pas waktu senggangnya aja dia iseng buka fb. Ya dia dh di dpn rumah Wiwin tuh….dah ga sabar banget mencet bel rumahnya.
Ting…nong…..ting….nong…..awalnya Anggi ga percaya kalo itu Wiwin pas bukain dia pintu. Sempet bengong sebentar trus dia kira dia salah masuk rumah….dia liat lagi nomer rumahnya, “ah masih sama” “hemm….hm….dah lupa toh ma aku Gi, wajarlah aku berubah wong aku juga dah berkeluarga, yuk masuk ja Gi…” “eh..iya iya”, mereka kemudian masuk ke dalam rumah bercat putih itu, dah banyak yg berubah di rumah itu, pikir Anggi. Mereka duduk di sofa di ruang tamu Wiwin yg ga begitu besar itu. “eh aku buatin kamu minum dulu ya” “eh ga usah Win, aku ksini ga karna haus kok, lagian kamu lagi hamil juga ga usah banyak gerak” “ga pa pa kok Gi, udah biasa juga. Lagian kamu kan jarang ke rumah aku”.. “ya udah deh, eh aku ikut ya skalian mo liat dapur kamu” “up to u dah…”, mereka jalan beriringan ke dapur Wiwin.
“eh btw kamu kok ga bilang-bilang sih dah nikah?” “ya mo gimana lagi, aku tau kamu ada di luar negeri juga, ga mungkin lah aku ngundang kamu” “ya paling ngga kan aku bisa ngucapin met nikah n nempuh hidup baru ma kamu Win” “ya mo gimana lagi dong, aku juga lupa ma nomer hp kamu. Ya udahlah ga pa pa. btw kamu masih gini-gini aja dari dulu. Dah da planning buat marriage blum?” “ah marriage???masih jauh kayaknya Win, aku mah kalo urusan serius gitu masih pikir-pikir ampe sribu kali” “berpikir sih berpikir Gi, tapi ampe kapan kamu kayak gini terus, awas lho ntar jadi perawan tua kan umurmu udah 27 Gi, dah waktunya nikah lho” “ih….kamu nie nakut-nakutin aku aja, giman lagi dong Win, entah knapa aku ga yakin ma si Werdha ini. Well aku masih suka ma dia, tapi aku gay akin kalo aku harus nikah ma dia. Ada sesuatu dalam diri dia yang masih misteri menurut aku… ” “ah kamu nie lebay amet sih, kalo mang ga yakin ma dia bicarain dong baik2. Jangan malah kayak gini terus…ngambang…..” “tau ga tadi ja aku baru baikan ma dia, gara-gara dia ga bilang mo dijodohin ma ortunya” “wih gawat tu Gi, trus…trus….” “ya aku marah dong, aku ga terima ia ga jujur ngomong ma aku. Tu dah yang bikin aku kesel n ragu ma dia Win. Emangnya aku bakal knapa kalo bicarain itu sblum-sblumnya ma dia. Toh aku ga bakal nyalahin dia, dari dulu ampe karang ya Win, aku ga pernah nglarang dia sama sekali. Padahal kamu tau ndiri kan kalo aku tu paling anti ma yang namanya rokok, tapi demi dia aku rela nerima dia seorang prokok….udah abis ksabaranku ma dia Win, dia tu mikir semua gampang. Aku disuruh brenti lah kerja ma dia, mang dia pikir aku nie tipe cewek yang bergantung ma cowok apa”, ga kerasa air mata Anggi netes lagi….Wiwin mengusap-usap bahu Anggi, “udah Gi, aku ngerti perasaan kamu….aku saranin kamu bicara dulu ma dia baik-baik, trus kamu tentuin apa kamu bakal lanjut ma dia atau selesain itu sekarang juga”. “iya kamu bener Win, aku harus selesain nie skarang juga, masalahnya bntar lagi aku kerja lagi, biar ga kebawa di tmpat kerja nie urusan…biar kelar skarang juga” “ya, ya baguslah klo gitu….eh….tu the nya diminum dulu Gi, dari tadi nyroscos terus kamu” “eh…iya lupa aku”, kata Anggi lalu minum teh tersebut……”ya udah Win, aku pulang dulu ya…salam buat suamimu n satu lagi ma babymu ini”, kata Anggi sambil ngelus perut Wiwin, “iya, iya, sayang kamu cuma bentar mampir Gi” “ya kapan-kapan kalo aku punya waktu pasti aku ksini lagi kok” “iya hati-hati ja lo gitu” “ok….”, kata Anggi lalu dia pulang ke rumahnya….
Tapi ia kaget banget pas nyampe di dpn rumah….ada si Werdha berdiri di sana…. “hai Gi…..dari mana aja? Aku dah lama nunggu sini tau” “eh kamu kok dh di dpn sini sih? Katanya tadi ada urusan” “ya urusanku dah lesei bebh….kita jalan yuk….” “mang mo ngapain?” “yee….kan kita udah lama ga jalan skalian ngobrol gmana sih bebh nih” “bntar dulu aku mo ganti baju dulu” “duh ga usah dah bebh, udah cantik kok….” “ih…engga je gitu, nie dah bau apek tau” “ga knapa…..ayok….”, Werdha narik tangan Anggi…..
Mreka tiba di sebuah bukit yg luas banget…..”ngapain sih kita kesini Wer” “oh..lagi nanya ya buat refreshing juga lah Gi” “oh gitu….”, trus mereka berdiri di samping batu gede yang ga jauh dari pohon singapur….”oh ya mumpung di sini,aku pingin ngobrol serius ma kamu Wer” “ngomong aja bebh…” “e…..aku pingin nanya ma kamu sebenernya kamu bisa nerima aku apa adanya pa ga sih?” “ya iyalah bebh…”, kata Wedha sambil ngrangkul Anggi dari blakang, tapi Anggi langsung nglepasinnya trus balik ke blakang tepat di dpn muka Werdha, “aku ga bisa ada tiap hari di samping kamu, pa kamu masih bisa setia ma aku? Aku ga bisa kamu kekang, bukannya aku pingin bebas kayak di hutan, tapi aku ga ingin kalo cuman tergantung ma kamu”, kata Anggi dengan serius, “iya aku dah tau kok maksud kamu. Huh….mau gimana lagi, yang penting kamu ga ninggalin aku pas malem pertama kita ja”, kata Werdha sambil senyum-senyum, “bercanda ja kamu nie ya”, kata Anggi tersipu malu….lalu Werdha meluk Anggi, n bilang.. “diem…dulu ada sesuatu tuh di muka kamu” “apaan sie Wer???” “iya makanya diem dulu, tutup mata kamu tu biar aku bisa ngilanginnya” ya Anggi langsung nutup matanya, ternyata eh ternyata…..Werdha bukannya mau ngilangin apa-apa, dia cuman mau nyium Anggi…
Spontan dong Anggi kaget trus buka mata, “ih kamu nie Wer, resek kali sie cium ga bilang-bilang” “ya ga surprise dong kalo bilang-bilang, lagian cuman bentar kamu dah snewen gitu” “abis kamu sih, udah ah pulang aja aku males jadinya di sini” “ye, kok ngambek bebh…..jangan gitu dong bebh”
“iya cepetan pulang ja”, kata Anggi langsung balik badan trus jalan menuju pintu keluar. Werdha ngejar dia, “cepet banget sih bebh, blum juga ngapa-ngapain” Anggi langsung noleh dia, “mang mo ngapain lagi? Tadi dah dapet nyium juga, ga puas???” “mih….galak amat sih, ya sorry sorry….yuk nae pulang bebh….”. mereka akhirnya pulang deh….
Malemnya……
Kring…..kring….., duh sapa sih nelpon jam sgini, bru ja mo mimpi aku….., kata Anggi ngraba-ngraba nyari hpnya yg bunyi terus…., “ya halo….sapa nie”, “halo bebh…..” “dasar kamu nie, ga tau dah jam brapa karang?” “baru juga jam 12 bebh, udah bobok ya?” “ya iyalah….mo ngomong apaan mangnya?” “cuman mo denger suaranya bebh ja….” “buang-buang pulsa ja kamu Wer” “ga apalah, demi bebh tercinta” “gombal kali, ga tidur kamu?” “blum bebh….” “mang lagi ngapain?” “lagi ma temen-temen ja bebh” “udah dah mabuk ya?” “ah ngga kok, ya bebh bobok dah lagi” “ya udah……”, lalu telpon pun ditutup….
2 jam kemudian…..
Ada telpon lagi… ih….sebel…sebel…..udah mo mimpi lagi malah ada telpon, “ya mo ngapain lagi nelpon?” “bebh….ayahku masuk RS nih” “apa???” “iya Gi, aku mo kesana dulu” “ok…ntar aku nyusul Wer” , langsung aja Anggi melek, dia ga kebayang gimana perasaan Werdha. Dia cepet-cepet siap-siap ke rumah sakit. Nyampe sana ia ngeliat dah da tunangan Werdha n keluarga Werdha yang lain ,masih agak kikuk..untung Werdha ngampirin dia, “sini Gi….”, mereka semua duduk…..lalu ayah Werdha ngomong dengan terbata-bata.. “nak….bapak tau kalian udah deket, tapi bapak mohon sebagai permintaan trakhir bapak sebelum bapak kea lam sana. Tolong sudahi hubungan kalian, bapak sudah buat janji jauh sebelum Werdha dilahirkan dengan bapaknya nak Vrida ini, kalo mereka berdua bakal dijodohin…bapak mohon nak Anggi bisa nerima” semua terdiam…..Anggi dah ga sadar kalo dia denger semuanya….ia mikir….akhirnya ia tau ini akhir hubungannya, “baiklah pak, semoga bapak tenang menghadap-Nya…saya bersedia memutuskan ini semua”, “terimakasih nak….”, setelah itu ayah Werdha menutup matanya buat slama-lamanya. Semua orang menangis…..hanya Werdha yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat itu….
Dia ga ngerti kenapa bisa terjadi kayak gini, Anggi kemudian menghampiri Werdha yang masih keliatan terpukul baik karna kepergian ayahnya maupun dengan kputusan Anggi. “Wer, udah relain semuanya aku harap kamu tabah….aku akan pulang dulu…kamu kabarin aku aja kapan penguburannya aku akan dateng”, Werdha memegang tangan Anggi, “kenapa semuanya mesti pergi bersamaan Gi, apa salahku?” “jangan bilang gitu Wer, semuanya takdir….” “aku….aku ga tau bisa bertahan apa tidak jika kamu pergi juga Gi” “aku yakin kamu bisa, sudah…..jodohmu udah nunggu kamu, temanilah dia sekarang…..”, lalu Anggi melepaskan tangan Werdha….ia pergi…berusaha menahan air matanya yang dah dari tadi mo netes terus…..
Ngga….aku udah janji ma ayahnya Werdha….ga mungkin aku bohong….ya inilah akhir semuanya….., Sari tau, itu sangat berat buat Anggi, ia ngibur Anggi, tapi Anggi cuman mau sendiri…..
Esok harinya adalah pemakaman ayah Werdha,Anggi menepati janjinya, ia dateng ma Sari dengan baju serba item-item…. Werdha masih kliatan terpukul….ia memandangi jasad ayahnya yang udah masuk ke liang kubur…air mata netes…semua orang nangis….Werdha sama sekali ga nyadar kalo Anggi dah berdiri tepat di depan dia…..sampai akhirnya semua orang pergi, “Anggi….kamu dateng juga…” “iya Wer….ya udah yang tabah ja….aku mau pulang Wer…slamet tinggal” “tunggu Gi….ini mungkin bukan apa-apa buat kamu tapi udah dari dulu aku nyimpen ini buat kamu terserah kamu mau buang atau nyimpen…yang penting aku udah nyerahin ini” Anggi membuka kotak itu, ternyata ada cincin.. “cincin???buat apa Wer?” “aku sebenernya udah pingin nglamar kamu, tapi semuanya udah ga mungkin lagi…..” “tapi bagaimana aku bisa nerima cincin kamu?” “aku mohon terima sebagai tanda perpisahan terakhir kita aku mohon Gi….mungkin berat buat aku, aku ga pernah ngebayangin semuanya bakal kayak gini….tapi aku tau inilah kenyataan….tolong terima cincin itu Gi” “baik…baiklah…..Wer….” mereka pun berpisah……
Berat……banget bagi mereka berdua…..tapi live must go on….Anggi dah denger kalo Werdha udah tunangan n bentar lagi mo nikah….sakit mang rasanya….cuman bntar lagi Anggi juga mo brangkat kerja…..udah beberapa bulan kemudian Anggi masih sendiri.
Dia udah mo nutup fb-nya karena dia udah ga mau nginget kenangan ma Werdha lagi, tapi….dia ngeliat orang yang dulu nolongin dia ternyata ngirim pesan di fbnya… “hey…..who are u????” yah Anggi mulai penasaran lagi….penyakitnya dah kambuh tuh. Ya dia bales aja…..
Cerita pun dimulai lagi, mang ga ada habisnya kalo dah ngomongin masalah cinta apalagi yang berhubungan ma fb. Lembaran barupun dimulai lagi. Sedih duka terhapus oleh sosok Nino yang humoris n kadang-kadang sok jaim gitu. Tapi kali nie Anggi udah yakin ma Nino…ternyata mereka klop banget n cocok di segala bidang. Yah berkata fb juga sih, yang jelas bentar lagi mreka juga bakalan nikah……so ….happy ending deh…..
Jumat, 09 Juli 2010
SORRY
Semakin lama, rasa itu semakin tumbuh di hatiku meski ku tak tau apakah semua ini akan tetap seperti ini. Hanya satu yang ku pikirkan sekarang, aku akan jalani semua ini dengan penuh rasa sabar, karna ku yakin kesadaran itulah yang akan menentukan ini semua.
Tanggal 16 April ini, adalah hari yang paling mengesankan bagiku. Karena dia akan berusia tepat 25 tahun, ya meskipun aku lebih tua satu bulan lebih dari dia,tapi aku sangat menyayanginya. Dia merupakan anugerah terindah dalam hidupku, dia telah mengisi hari-hariku yang kelam dan hampa ini.
Perjalanan menuju Singaraja memang memakan waktu yang agak lama, saat ku kendarai sepeda motorku yang baru, ku rasakan desiran angin yang dingin dan tetesan embun membasahi helmku dengan perlahan. Sangat indah pemandangan yang sudah lama tidak ku nikmati ini. Setelah kelulusanku dari sekolah pemerintah itu, orang pertama yang ingin ku temui adalah pacar pertamaku yang kini hubungan kami sudah menginjak usia tujuh tahun. Sungguh ku sangat merindukannya,kami hanya bisa bertemu sebulan sekali, hmmm sungguh menyedihkan. Tapi itulah yang harus kami jalani, terpisah jarak dan waktu, namun jiwa kami tetap satu, dan itulah yang terpenting dari semuanya.
Pagi sekali ku panaskan mesin motorku, lalu ku siapkan semua perlengkapan dan baju-baju yang akan ku pakai di sana. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi, cepat-cepat ku siapkan sarapan untuk keluargaku. Lalu seperti biasa jam 6 pagi ku bergegas ke kamar mandi. “Yu, mau kemana kamu nak? Tumben sudah siap-siap pagi sekali”, baru saja ku tutup pintu kamar mandiku, lalu ku buka kembali, “mau ke rumah Mitha ma”, “kok kmu ga pernah bilang ke mama dari kemarin?”. “ya ini juga dadakan ma, Yuri ada urusan juga ma Mitha ma, udah ya mo cepet-cepet nie”. Segera pintu ku tutup, ku dengar mamaku masih berbicara, tapi konsentrasiku sekarang hanya tertuju pada Badra. Sudah tak sabar ku tunggu saat-saat ini, kebetulan kantor tempatku bekerja sekarang liburm dan dia pun diberi cuti oleh bosnya.
Tepat pukul 8 pagi ku berangkat dari rumah, dengan terlebih dahulu selalu ingat untuk sembahyang dan meminta salam kepada mama dan ayahku. Pelan-pelan ku keluarkan motorku dari bagasiku yang lumayan sempit ini. Tas-tas semua sudah ku gantung di motor, kemudian ku tancap gas motorku. Ku lihat di jalan banyak ada pemandangan yang sangat indah. Untunglah ku masih ingat jalan ke sana, meski aku rasa aku masih sedikit lupa. Rasa lapar sempat hinggap saat setengah perjalanan menuju ke sana ku lewati. Terpaksa ku turun dan membeli bakso di sisi jalan sepanjang penelokan. Indah sekali gunung Batur tersebut, ku ingin sekali bisa berfoto bersama Badra di sini, pasti akan sangat indah…..
Akhirnya ku sampai juga di rumah saudaraku Mitha, seperti biasa dia menyambutku dengan ramah. Terus terang ku lelah sekali, sesaat setelah ku rebahkan badanku di kasurnya, Badra meneleponku. “mmm…hello my darling” “hi my lovely, don’t you know, I’ve already arrived here, so tired now”. “yes, I see. Ok, just take a rest” “but I still want to talk with you” “don’t worry, I’ll call you again, but you have to rest now” “yeah, up to you” “bye my sweety” “bye my honey”. Ya telepon ku tutup, kini ku hanyut dalam mimpi indah bersama dia, aku sudah memikirkan cara memberikan kejutan bagi dia di hari ulang tahunnya. Dan tentu dengan sedikit bantuan Mitha hal ini akan bisa sempurna.
Terik matahari singaraja benar-benar menyengat, meski jaketku sudah ku pakai, sepertinya rasa panas itu sudah membakar kulitku. Sempat sekali ku pergi ke rumah Badra, rumahnya sederhana, tapi sangat nyaman ku rasakan di sana. Keluarganya menerimaku dengan hangat. Tapi sayang satu hal yang selalu ku takutkan bila berkunjung ke sana adalah aku akan bertemu orang yang paling tidak ingin ku ingat lagi. Ya, dia Indra, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Namun tidak pernah ku rasakan hal yang mengesankan darinya. Karena sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan manja. Dengan setelah blus dan celana jins biru, ku pergi ke rumah Badra, suasana di sana masih belum berubah. Ku jumpai ibunya saat sampai di sana, “Om Swastyastu bu”, “lho Yuri, Om Swastyastu nak. Sini duduk nak, kanggoin ya” “ah ibu ini, kayak sama siapa aja ngomong gitu. Oh ya Badranya ada di rumah kan?” “oh ya, ya dia ada di kamar dengan temannya, Yuri langsung masuk saja ke kamarnya, tidak apa-apa kok”. “oh ya, makasih bu, saya cari Badra dulu”. Dengan langkah lari kecil ku bergegas ke kamarnya, betapa terkejutnya begitu ku buka pintu kamarnya, ternyata Indra ada di sana…..
Kami semua terkejut, Badra terkejut karena ia tidak menyangka aku datang. Sedangkan aku dan Indra terkejut karena kami bisa bertemu sekarang. Sesaat aku dan Indra sempat bertatapan, lalu cepat-cepat ku alihkan pandanganku. Lalu ku panggil Badra, “Badra, come here please”. Lalu Badra berkata ke Indra, “indra, sini dulu bentar ya. Aku mau bicara dulu ma Yuri”. Indra hanya mengangguk. Sementara dengan langkah kaku, aku keluar dari kamarnya bersama Badra. Kami duduk di teras depan yang sederhana yang dilapisi keramik berwarna putih kecoklatan tersebut, suasana hatiku masih tidak karuan, sungguh aku tidak pernah menebak saat ini aku akan bertemu dengan dia lagi. “Yu,kamu kok bengong?”, kata Badra. “ah ngga da apa-apa kok, oh ya Dra ntar bisa kan ke pantai?”. “mang pantai mana?” “pantai camplung ja dah biar deket ma rumah Dra” “oh mang ada apa Yu?” “ya ada sesuatu yang ingin Yuri omongin”. “kenapa ga di sini aja sie Yu?” “pokoknya kita ketemu di sana ja dah!!!” “ia, ia my honey”. Lalu ku berdiri, “”eh dah dulu ya Dra, aku mau ke rumah tanteku dulu” “ok take care ya” “ya, bye-bye” “bye”, katanya sambil melambaikan tangannya.
Aku tidak berani menoleh ke arah manapun…
“dra, tu Yuri dari Gianyar kan?”, kata Indra dengan penasaran. “iya ndra, kenapa?” “kok kamu ga pernah bilang kalau kamu pacaran ma dia, kan aku sohibmu?” “ya aku ga sempat ja, sorry ya” “ya udah lupain ja, btw kamu dah berapa lama pacaran ma dia?” “em…sekitar 5 tahun lah” “wih dah lama banget ya, aku kira kamu ampe karang belum punya pacar”. “iya lumayan lah ndra”. “ah kamu nie, jeg ga ngasi tau aku dari dulu. Kan aku kenal kalian berdua” “ya mo gimana lagi aku kan ga suka juga ngumbar-ngumbar masalah gituan”. “ya dah aku pulang dulu ya dra”. “ok”. Indra pulang dengan seribu Tanya dalam benaknya. Kenapa ya dia tidak bilang pacaran dengan teman dekatku sendiri, salah aku pa sih?ya sudahlah aku juga tidak berhak mengurus mereka lagi.
Sore yang indah saat ku ingin memberi kejutan pada Badra di pantai camplung. Tapi tak ku sangka-sangka Indra datang, awalnya dia tidak melihatku namun akhirnya dia pun menghampiriku. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa, namun seperti biasa ku pura-pura cuek padanya. “eh yuri, ngapain ke sini?”. “da urusan Ndra” “pasti mo ketemuan ma Badra ya?” “ya”, jawabku pendek, tanpa memandang ke arahnya. “Yu, aku ada salah ya ma kamu? Kok kamu jutek gitu sie ma aku?” “ga kok”, “trus???” “ya aku Cuma ga mau ganggu kamu ja”. “aku ga pernah ngerasa pernah terganggu kok”. Aku hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. “Yu…Yuri”, katanya sambil mendekatiku dan berdiri tepat di depanku. Lalu memegang pundakku, “aku minta maaf kalau punya salah padamu”. “ga kok, udah deh Ndra. Ngapain di sini?”, kataku sambil melepaskan pegangannya. “lagi pingin jalan-jalan ja Ndra”, dalam hatiku berkata, duh si Badra lama kali sie, males kali lama-lama ngomong ma nie orang. Untunglah Badra datang beberapa saat kemudian. “lho Yuri n Indra rupanya udah ada di sini toh”. “eh iya Dra, tadi ga sengaja aku ketemu ma Yuri”. “Dra, yuk kita kesana, aku punya kejutan buat kamu”. Lalu aku bergegas ke selatan berjalan. “bro, ntar kita sambung lagi ya”. “iya Dra”. Indra hanya bisa menatap kepergian mereka berdua…..
“tutup nae matanya Dra”, kataku. “duh kok pake gitu-gituan sie Yu?”. “ya ikutin ja”. Lalu ku buka bungkusan yang sudah ku tutup rapat. Dan ku letakkan lilin-lilin penuh kehati-hatian. Lalu ku lumuri dengan saus cherry dan kutuliskan Aishiteru. Lalu ku buka penutup matanya, “surprise…happy birthday ya Dra…”. “Yuri, makasih banyak ya…aku bahkan ga pernah ngasi kejutan apa-apa buat kamu”. “ah jangan itu dipikirin, yang penting kita harus happy karang, cepetan nae tiup lilinnya”. Kemudian Badra meniup lilin tersebut,dan memotong kue tart tersebut. Potongan itu ia berikan kepadaku, “makasih lagi ya Yuri” lalu sambil menyerahkan potongan kue tersebut ia mengecup keningku. Setelah itu ku kecup pipinya juga, “tetaplah ada di sampingku dra” “pasti Yuri”. Ya setelah itu kue itu kami habiskan berdua. Sambil melihat ke arah pantai hingga sore akhirnya kami pun berpisah.. “Dra, dah dulu ya” “iya Yu, hati-hati ja di jalan”. “ok dra”.
Hari itu sungguh berkesan bagiku, tak dapat ku pungkiri semuanya sungguh merupakan momen-momen yang selalu ku nantikan bersamanya. Namun esoknya ku dengar kabar bahwa dia dan Indra mengalami kecelakaaan. Langsung ku telpon orang tuanya dan ku cari dia di rumah sakit tersebut. Begitu sampai di kamarnya ku lihat juga ada Indra di sana. Mereka satu kamar tapi beda kasur, namun saat itu hanya satu yang ku pikirkan yaitu keselamatan Badra. “Dra, kamu kenapa bisa sampai kayak gini?”. Dengan sedikit kesulitan ia tetap menjawab pertanyaanku, “e…iya…gara-gara nyalip Yu”, “ya udah jangan diterusin, udah ga bisa dipaksain juga ngomongnya”. Lalu ku benahi bantal dan selimutnya. Meskipun ku tahu ada indra di dekatku, tapi aku tidak berniat untuk menyapanya. Lalu ku berkata, “Dra, aku mau pulang dulu ntar aku balik lagi dah”. Badra pun mengangguk.
Sesampainya di rumah sepupuku tersebut ku buatkan bubur untuk Badra berisi sedikit ayam dan sayur. Lalu secepatnya ku menuju rumah sakit, “dra, nie dah Yuri buatin bubur dimaem ya”. Ku buka bungkusan bubur tersebut, “ayo maem dulu dra”. Ku suapi Badra, dengan lahapnya dia makan. Mungkin Indra melihat kemesraan kami. Tapi jujur aku sudah tidak perduli lagi dengannya, dia bahkan tidak tahu bagaimana rasa sakit hatiku padanya, dia hanya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa di antara kami. Masih ku ingat saat-saat itu….
Lima tahun lalu ku buat jejaring social bernama FB…begitu banyak orang yang ku kenal, tapi hanya ada satu orang yang sangat ku ingin tahu. Ia bernama Indra Sanjaya. Kami menjalin hubungan pertemanan selama beberapa minggu, namun semakin lama ku merasa nadanya mengirim sms dengan kata-kata yang sangat romantic. Membuatku bingung harus menganggapnya apa, namun ku sadari dia telah mengisi segenap hari-hariku. Akhirnya kami bertemu saat dia sempat berkunjung ke rumah kakaknya di gianyar. Tapi sungguh sial, waktu itu hujan turun dengan derasnya. Apalagi dia tidak tahu arah, jadi kami janji di pom bensin. Tahu-tahunya hujan semakin deras dan kami berteduh di sebuah bengkel yang sudah tidak terurus lagi. Sungguh menyebalkan pertemuan itu, hingga aku pun tidak merasakan adanya sesuatu yang berarti saat itu. Kami bercakap-cakap hanya tentang hal-hal yang biasa kami perbincangkan dalam sms kami.
Tidak ada sesuatu yang membuatku terkejut saat itu ia mengajakku untuk mampir ke rumah kakakknya. Sungguh ku kaget setengah mati, bagaimana bisa aku ke sana padahal aku baru bertemu dengannya beberapa menit yang lalu. Akhirnya ku suruh dia pulang saja,lagipula dia juga ada acara dengan keluarganya. Bagaimana pun pertemuan itu adalah pertemuan pertamaku dengan seorang lelaki. Setelah itu hubungan kami agak renggang. Dan hal yang paling menyakitkan bagiku adalah di saat dia berbohong padaku. Awalnya pagi itu aku heran, tumben dia ngsms pagi-pagi jam 6. Lalu ku tanyakan kenapa dia bisa bangun sepagi itu. Dia menjawab bahwa pacarnyalah yang membangunkannya. Begitu melihat sms itu aku langsung down dan mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin di cap sebagai pengganggu hubungan orang dengan bersmsan dengannya. Dia sebenarnya tidak terima dengan keputusanku tersebut. Namun tekadku sudah bulat, apalagi ia sempat berkata bahwa apabila ia menyesal tahu kenyataannya seperti itu dia tidak akan memberitahuku tentang pacarnya.
Hal tersebut membuatku menyadari bahwa dia bukan tipe lelaki setia dengan pasangannya. Sejak saat itu kami lost contact…..dan sampai kini ak masih merasakan rasa sakit itu, bukan karena dia menganggapku hanya teman, tapi karena dia mengaku menyesal telah berkata jujur padaku…
Betapa terkejutnya aku ketika melihat kenyataan yang terjadi sekarang, ketika aku sudah sangat menyayangi Badra, tiba-tiba dia berubah beberapa minggu ini. Setiap perkataanku selalu salah, entah kenapa dia bisa seperti ini padahal hubungan kami masih baik-baik saja. Ternyata Indra benar-benar membongkar semua hubungan kami di masa lalu pada Badra. Dan Badra sudah menganggap aku seorang pembohong besar. Dengan menutup-nutupi kedekatanku dengan Indra. Lalu ku hampiri Badra, “Dra, bukan maksudku menutup-nutupi”, “pantes Indra aneh ku lihat sikapnya dari waktu ini ke kamu, ternyata ini yang sebenarnya”. “ya tapi yang penting sekarang kan hanya aku dan kamu, buat apa kamu mempersalahkan yang lalu-lalu”. “aku tidak bisa terima kamu berbohong kayak gini, kita kan udah janji buat terbuka Yu”. “tapi kan bukan berarti aku harus mengumbar-umbar semua masa lalu aku, aku bahkan ingin melupakannya”. “jangan-jangan kamu ingin bilang kalo dulu kamu pernah suka ma Indra?” “ya tapi itu kan dulu dra, ngerti nae” “aku ga ngerti kenapa kamu hebat banget udah sama dia deketin temannya lagi” “asal kamu tahu aja Dra, aku ga tahu kamu tu temannya dia, kalau aku tahu dari awal juga aku ga bakal deket ma kamu”. “ya udah kalau gitu, ga usah ja karang deket ma aku”. “lho, kamu nie salah minum obat ya?”. “ga da yang perlu diomongin lagi kan Yu?”, lalu seenaknya saja dia pergi meninggalkanku, setetes air mata jatuh membasahi pipiku…
Seandainya kau tahu Yuri, aku tidak bisa melepaskanmu. Tapi aku tidak tega melihat sahabatku Indra seperti itu melihat kita berdua. Bagaimanapun aku sudah berutang budi dengan dia dan keluarganya. Aku tidak mungkin melukai perasaannya.
Sudah beratus-ratus sms ku kirim padanya tapi ia bahkan tidak pernah menghiraukannya. Setiap panggilanku ditolak, dan saat aku datang ke rumahnya juga dia selalu tidak ada atau menghilangkan diri. Dengan rasa sakit hati ku beranikan diri bertemu Indra. Kami berjanji bertemu di pantai itu lagi, “hai Yu…dah lama nunggu?”, “ya iyalah…ngaret banget sie jadi cowok” “ya tadi aku baru selesai mandi” “ya udah to do point ja karang, sebenarnya apa sie maksud kamu ngasi tau keadaan kita dulu ma badra?” “sebenarnya aku ga bermaksud kayak gitu, awalnya dia yang nanya kenapa aku bisa kenal ma kamu” “terus kenapa kamu ngasi tau dia ampe sedetil-detilnya kayak gitu” “aku ga sengaja aku ga sengaja Yu, kamu marah ya?” “pake nanya lagi, kamu ga tau udah 5 tahun aku ma dia sekarang dengan mudahnya kamu rusak begitu saja” “aku minta maaf Yuri”, katanya sambil memegang tanganku. “kamu jahat Ndra, aku nyesel dah kenal ma kamu”,kataku sambil menghempaskan tangannya. “Yuri…maaf” “brengsek kali kamu jadi orang ya, kamu ga ngerti bagaimana perasaan aku”,tak terasa air mataku jatuh….lalu dia mengusapnya dengan tangannya, “aku yang salah, maafin aku. Aku akan jelaskan lagi kepada Badra tentang semuanya”. “aku sudah putus asa, lebih baik aku balik ke gianyar sekarang”..lalu aku pergi dengan langkah pelan. Indra menarik lenganku, “ga, kamu ga boleh pergi. Ak janji akan menyatukan kalian berdua” “ta…tapi bagaimana caranya?” “ya tenang saja, serahkan semuanya padaku”.
Pagi yang cerah, aku dan Indra menunggu Badra di taman kota untuk mengejutkan dia. Seperti biasa dia lari pagi, lalu kami berpapasan…tapi sungguh sial saat aku tersenyum dan menyapanya, dia bahkan tidak menoleh ke arahku. Kemudian kami menjalankan rencana kedua, saat itu kami pura-pura menelpon dan menyuruh dia bertemu, akhirnya kami bertemu di sebuah ruangan yang tertutup. Dan semua itu sudah diatur oleh Indra, dia datang dan bingung saat melihatku. “lho kamu kok ada di sini?” “ya aku lah orang yang ingin bertemu dengan kamu Dra. Aku mohon dengarlah penjelasanku” “sudah tidak ada yang perlu dijelasin lagi, aku sudah merelakan kamu dengan Indra” “What? Indra? Aku tidak pernah ada hubungan serius dengan dia, kami hanya berteman dari awal”. Lalu ku dekati dia, ku tatap matanya, seakan-akan dia sangat menghindari bertatap mata denganku. “kenapa Dra?apa yang kamu takutkan, tataplah mataku dan bicaralah” “aku ga mau!!!” lalu dengan lembut ku pegang wajahnya, ku tatap lagi matanya. Akhirnya dia berani menatapku, masih ku lihat sorot cinta dalam matanya. Dengan refleks ku cium bibirnya…..
“aku sekarang tahu apa yang terjadi Dra, sudahlah jangan kau korbankan cinta kita, bagaimanapun kita masih sangat saling mencintai” “tapi aku tidak tega Yu” “bagaimanapun kau juga harus tidak tega padaku, apa salahku hingga kau bersikap seperti ini padaku?” “aku….” Kemudian ku peluk dia, “indra pasti bisa menerima semuanya Dra” “tapi…” sudahlah jangan banyak bicara, aku sudah bicara padanya” akhirnya kami bersatu kembali….
Meski dalam hati Indra merasa kehilangan, tapi ia juga sangat menyayangi sahabatnya. Namun saat pikirannya sedang mengambang, tanpa disadarinya….tiba-tiba truk datang dari arah berlawanan saat ia ingin menyalip sebuah mobil…banyak darah mengalir dari kepalanya…untunglah ia masih bisa bertahan. Namun dokter mengatakan bahwa ia sedang amnesia untuk sementara waktu, dan sebaiknya agar ingatannya dapat segera pulih, ia harus bertemu dengan orang yang paling diingatnya. Yuri….Yuri…begitulah kata-kata yang selalu dia ucapkan di saat tidur dan sadarnya. Sampai-sampai orangtuanya Indra bingung mencari dimana aku berada. Lalu orangtuanya menemui Badra, “nak, kamu tahu kan siapa Yuri itu?” “ya ada apa tante?” “tante mohon kamu harus bawa dia kemari, Indra butuh dia agar ingatannya bisa cepat pulih” “tapi dia ada di gianyar tante” “ya kamu bujuk dra, tante mohon sekali” “baik tante saya usahakan”.
Tumben sekali Badra datang ke rumahku, “lho Badra ada apa datang ke sini? Ga bilang-bilang lagi”. “aku disuruh orangtuanya Indra ngajak kamu ke rumah mereka, kamu tau ga kalau Indra kecelakaan dan sekarang lagi amnesia di rumah sakit” seketika aku kaget, “masak sie dra?” “iya Yu, dan katanya Cuma kamu ja yang diingat Indra, makanya mereka nyuruh aku buat ngejemput kamu”. “ah enak ja, aku kan ga kenal ma mereka”. “dah ikut ja yuk, kasian juga mereka. Aku juga ga enak bilangnya ke mereka nantinya”. “lho kok kamu yang ga enak? Harusnya mereka lagi yang kesini ngomong empat mata ma aku, tu kan kepentingan mereka bukan kamu”. “tapi aku sudah kenal dekat ma mereka. Dan sangat akrab, ga mungkin aku ngecewain mereka”. “ya kamu bilang aja sejujurnya kalau aku tu lagi sibuk-sibuknya sekarang dan ga bisa diganggu” “yah kamu nie malah buat aku malu ja Yu” “lagi kamu kayak gini dra, udah deh ga usah lagi mikir berat-berat” “ya udah deh aku pulang dulu ya”. “ok, hati-hati dra”.
Ternyata beberapa hari kemudian Badra datang lagi, dan kali ini ia bersama dengan orangtuanya Indra…. “siang tante, da keperluan apa?” “ini Yuri ya, tante ini ibunya Indra, maaf tante mengganggu sekarang” “oh ya da apa tante?” “nak Yuri, tante mohon dengan sangat tolong ikut tante. Indra tidak akan bisa pulih ingatannya bila dia tidak bertemu dengan nak Yuri” “tapi saya juga punya kesibukan yang tidak bisa saya tinggalkan di sini tante” “biar tante yang urus nak, yang penting tante mohon nak Yuri bisa ikut tante” “tapi tidak semudah itu tante”, kataku dengan nada yang agak tinggi. “yuri, aku sebagai pacar kamu juga mohon dengan sangat tolong ikut kami”, lalu aku hanya diam, sementara ibunya Indra mendekat lalu berlinang air mata dan akhirnya ingin berlutut padaku. Segera aku menyadarinya dan langsung memegangi tangannya, “tante ga usah kayak gini” “tapi tante ga ingin anak tante terus-terusan kayak gini nak, tolonglah bantu tante. Apapun yang anak minta akan berusaha tante memberikannya”. Akhirnya hatiku luluh juga….
Sesampainya aku tiba di rumahnya aku merasa sangat asing, uhh kenapa sie aku susah kali nolak permintaan orang? Kenapa lagi aku mau tinggal di rumahnya, sial kali…. “sini nak, ini kamar kamu” “ya tante”. Kamarnya cukup luas, tapi tetap saja aku tidak merasakan kenyamanan berada di sana. “nak ini kamar Indra, masuk saja nak ga apa-apa”. Aku melangkahkan kakiku ke kamarnya dan ku lihat dia sedang berbaring di kasurnya. Sungguh memperihatinkan, dia sedang menatap ke langit-langit kamarnya. Ku coba untuk mendekatinya, “Ndra…..” lama ia menatapku, aku pun bingung harus berbuat apa. Lalu aku duduk di sebelahnya, “Ndra, ni aku Yuri datang. Maaf baru bisa datang sekarang” tiba-tiba dia bangun dan memegang pundakku, “kamu, ga dibalas smsku” “hah????” aku semakin bingung, dan ternyata aku baru menyadari momen-momen yang paling dia ingat adalah saat terakhir aku mengakhiri smsku padanya. “oh aku sibuk” “lain kali ga boleh kayak gitu” “ok Ndra”, kataku segera. Lalu tanpa ku sadari aku tertawa dengan kerasnya… “kok ketawa Yu?” “ga Ndra…hehehehe” sejak saat itu aku tinggal di rumahnya bisa dikatakan akulah perawatnya. Semua kebutuhanku sudah dipenuhi tanpa ku minta dari orangtuanya.
Badra jarang ke rumah Indra, aku juga tidak mengerti kenapa ia menjauh, aku hanya bisa menelponnya, karena setiap aku ajak bertemu dia tidak pernah mau. Pagi itu seperti biasa aku sarapan bersama Indra, “yu, maem yang banyak ya” “ah ya ya In”, tiba-tiba ibunya nyeletuk, “ah dah serasi sekali kalian berdua, kapan mau lebih serius lagi?” langsung aku batuk, dan Indra menepuk punggungku. “ah mama ini, kita kan baru temenan” lalu aku berdiri, “tante om saya permisi dulu” tanpa menoleh lagi aku bergegas ke kamar. Dan Indra mengikutiku, “yuri, kamu kenapa?” “kenapa kamu ga bilang kalau kejadiannya bakal kayak gini?” “maksud kamu?” “ah sudahlah aku mau pulang ke gianyar, aku rasa kamu juga sudah sembuh kan” lalu ku bereskan semua pakaianku. Dan baru aku mau ke luar pintu kamar, Indra sudah berdiri di sana….
“ga boleh yuri, kamu ga boleh pergi” “kamu ini ngapain si Ndra?” “aku ga kan biarin kamu pergi lagi” “udah aku udah ga punya rasa lagi ke kamu tau. Tujuanku murni Cuma untuk ngembaliin ingatan kamu aja”. Dia tetap berdiri di depan pintu, lalu ku coba untuk mendorongnya, tapi tubuhku yang kecil bukannya bisa mendorongnya, tapi ia malah memelukku. “jangan pergi, aku membutuhkanmu” lalu ku berusaha melepaskan pelukannya. Tapi pelukannya sangat kuat, “Indra lepasin aku” ia tetap memelukku. Akhirnya ku tampar saja pipinya, “aku benci ma kamu, cepat lepasin aku sekarang juga!!!”. Dia agak kaget saat aku menamparnya, tapi hal yang paling membuatku kaget adalah saat dia mulai tersenyum aneh….dan berkata, “sekarang aku tahu cara agar kau tidak pernah pergi dariku Yuri”, seketika pikiran itu terlintas di benakku, cepat-cepat aku menjauh darinya. Apa yang akan dia lakukan ya Tuhan? Ku mohon lindungilah aku Tuhan. Ternyata benar seperti apa yang sudah ku duga…
“Ihh…kamu nie ngapain si Ndra” “ntar juga kamu tau kok, ga usah jauh-jauh dari aku napa sie” “eh jangan gila deh Ndra, aku ke sini Cuma buat nyembuhin ingatan kamu aja, ga lebih” “mang aku salah ingin yang lebih?” “aku tambah ga ngerti ma kamu” “kamu ga tau ya aku tu sayang banget ma kamu, aku ga bisa lepas dari kamu. Sadar ga sie kamu kalo aku bisa ngelakuin apa aja biar kamu tetap di samping aku” “jangan harap kamu bisa seenaknya sama aku, aku kan sudah bilang dari awal kalo hubungan kita nie udah berakhir. Kamu nie congek pa tuli sie?” kataku sambil terus berusaha keluar dari kamar itu. Tiba-tiba dia memegang bahuku dengan kedua tangannya, “ga akan ku lepasin untuk kedua kalinya” lalu dia berusaha menciumku…dengan cepat ku tampar saja mukanya, “dasar ga punya etika, cepat lepasin aku”, tiba-tiba pandangan matanya semakin tajam, seakan-akan dia mau memakanku, “sudahlah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu ternyata butuh cara paksa Yuri” dengan keras ia mendorongku hingga aku terjatuh di atas kasur tersebut. Ku coba berdiri tapi sudah berada di sampingku dan ingin……..menodaiku…..
Aku tetep meronta, namun tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dariku tidak dapat ku kalahkan. Terlintas wajah Badra dalam benakku, bagaimana kalau dia tahu semua ini, aku tidak dapat membayangkan lagi bagaimana perasaannya akan remuk redam, bagaimana diriku akan menghadapi apa yang terjadi setelah ini??? Dia merobek blus putih yang diberikan oleh Badra pada hari ulangtahunku, itu adalah blus kesayanganku. Dan sialnya dia dengan kasar merobeknya dan membuangnya ke lantai. Aku masih tetap meronta, “Ndra please jangan lakuin ini, lepasin aku”, kataku sambil menangis. “tidak bisa, aku harus melakukan ini agar kau tidak bisa berpaling dariku lagi”. Entahlah, semua tenagaku sudah habis…..dan aku sudah tidak ingat apa yang terjadi setelahnya…….
Ku lihat diriku sudah tidak memakai apa-apa, lalu ku menangis dan terus menangis. Dia mendekatiku, “sudahlah kau tidak perlu menangis, aku akan melamarmu sekarang”. Aku tetap menangis, dia ingin mengusap air mata di pipiku, “udah Yu” lalu dengan cepat ku hempaskan jari tangannya. “dasar brengsek, walaupun kita menikah nanti, aku tidak akan pernah memaafkanmu” “terserah padamu, tapi aku akan selalu berada di sisimu mulai dari detik ini”. Seharian itu aku menangis terus di kamar yang penuh dengan kenangan pahit malam itu, “”ya tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apakah salahku? Bagaimana aku menjelaskan ini semua pada Badra?”. Dengan langkah lemah ku berjalan ke kamar mandi, ku basuh mukaku dan ku lihat bayanganku di cermin. Langsung air mataku jatuh, ingin sekali ku pecahkan cermin itu, aku sudah tidak sanggup melihat diriku lagi yang sudah kotor ini. Makanan yang mereka siapkan bahkan sama sekali belum ku jamah sedikit pun. Tubuhku semakin kurus dan aku pun sudah tidak pernah memperhatikan keadaanku lagi.
Dan Badra sempat suatu kali mampir dan menjengukku… “Yuri, kamu sakit ya?”, aku benar-benar tidak sanggup menatap wajahnya. “ia, sebaiknya kamu pergi saja dra”, secepat mungkin ku palingkan badanku. “Yu, kamu marah ya ma aku?” “ngga kok”. “aku minta maaf kalo gitu, aku mungkin tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi aku harap kau segeraa membaik, dan kita bisa seperti dulu lagi” tanpa terasa air mataku jatuh saat mendengar kata-katanya. “Dra…..aku yang seharusnya minta maaf” “memangnya kenapa Yu” “aku….aku tidak sanggup mengatakannya sekarang….tapi ku mohon menjauhlah dariku” lalu dia mendekatiku, “kenapa Yu?” “jangan mendekatiku dra, aku mohon”, kataku dengan penuh berlinang air mata. “baiklah…..”, katanya sambil melangkah pelan, dengan penuh rasa kecewa. “huhhh”, ku hempaskan nafasku dengan kasar, seandainya kau tahu apa yang terjadi sebenarnya Dra. Aku sungguh tidak sanggup, masih ku ingat masa-masa di saat kita tertawa bersama, menangis bersama, dan mencurahkan segenap rasa sayang kita berdua. Dan kini semua harus ku lepaskan begitu saja….
Indra memasuki kamarku, cepat-cepat ku palingkan wajahku. “aku tahu Yuri kamu sangat membenciku, tapi aku sudah menelpon orangtuamu. Besok kita ke rumahmu dan membicarakan pernikahan kita”. “apa? Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelumnya?” “aku kira kamu sudah tahu semuanya, sudahlah jangan membahas ini lagi. Kamu sudah baikan?” katanya sambil mengusap kepalaku,kembali ku hempaskan tangannya. “jangan sentuh aku lagi, yang waktu ini sudah cukup menyakitkan bagiku”. “baiklah, sekarang kamu bisa berkata seperti ini. Tapi kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi”, dengan cepat dia mengecup keningku.
Sebelum keberangkatanku ke gianyar bersama keluarganya Indra, aku pergi ke apotek dan mencari tes cek kehamilan, secepatnya ku bergegas memeriksanya. Sudah tak sabar ku melihat semuanya, dan ternyata…..alat tersebut hanya menunjukkan dua garis merah. Setelah itu badanku terasa lemas, ternyata aku sudah…..ya Tuhan maafkan aku jika tidak bisa mengakuinya pada Badra, tapi aku tahu aku harus memperhatikan janin ini…sejenak ku terdiam, kemudian ku bereskan pakaianku. Mereka sudah menungguku dan semua tersenyum saat melihatku. Mungkin mereka senang melihatku yang sudah memperhatikan diriku sekarang. “kenapa kalian meliahtku seperti itu?” Indra menjawab, “akhirnya kamu kembali seperti dulu Yuri”. Aku tidak menghiraukan perkataannya, cepat saja ku masuk ke mobil itu. Perjalanan memang cukup lama, dan aku baru ingat aku belum pamitan dengan Badra. Langsung ku telpon dia, “halo…”, terdengar suara lembutnya di telingaku, “halo Dra, aku…aku udah balik ke gianyar” “lho kok kamu ga bilang-bilang dulu ma aku sie?” “ya aku kan harus cepat-cepat dra, ada urusan mendadak” “oh ya, hati-hati di jalan ya” “iya-iya,kalo gitu udah dulu ya” “ok Yu”. Ku tutup telepon dengan perlahan, aku tahu mereka semua pasti mendengar pembicaraaanku dengan Badra, tapi aku tidak terlalu perduli dengan itu semua. Aku rasa mereka juga tahu bagaimana hancurnya perasaanku.
Tiba di Gianyar aku langsung memeluk ibuku, lalu menangis. Berkali-kali ia bertanya mengapa aku menangis, tapi tetap ku hanya bilang bahwa aku sangat merindukannya. Akhirnya orang tua Indra mengutarakan maksud mereka, namun tiba-tiba Badra datang. Ia sangat kaget melihat kedatangan Indra dan orang tuanya di rumahku. Langsung ia memberi salam dan aku tau dia sudah mulai memahami maksud mereka. Beberapa menit kemudian ia pamit, masih ku lihat dia berjalan penuh keputusasaan. Dan aku duduk terdiam seperti seseorang yang sudah tidak punya harapan lagi. Saat ditanya apa aku sungguh-sungguh aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu harus berbuat apa di sana. Segera setelah pembicaraan selesai, aku langsung berdiri dan bilang bahwa aku tidak enak badan. Kurebahkan badanku di kasur yang sudah beberapa minggu itu tidak ku tempati lagi. Aku menangis lagi, menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya…
Sejak pertemuan itu, Badra sudah tidak pernah mengirim pesan maupun menelponku. Aku pun tidak berusaha untuk member penjelasan kepadanya karena aku tahu itu hanya akan menambah sakit yang akan dia rasakan. Pernikahan kami tinggal sebulan lagi namun entahlah aku sama sekali tidak merasakan apa-apa dalam rahimku. Bahkan mual pun aku tidak, sekarang yang aku pikirkan adalah bagaimana nanti aku harus menjalani kehidupanku dengan orang yang sudah menyakitiku. “halo…Yu”, kata Indra dalam telepon. “apa?” “ga deg-degan? 1 minggu lagi pernikahan kita lho” “buat apa? Ini semua kan memang keinginan kamu saja” “ya aku tahu Yu, ya udah gimana kabar anak kita?” “anak? Jangan sebut dia anakmu, kita bahkan belum menikah” “tapi kita kan sudah kawin Yuri” “ih brengsek banget kmu Ndra”, langsung ku tutup teleponnya…
Ternyata Badra datang ke pesta pernikahanku, ku lihat senyum palsunya, “selamat ya Ndra, Yuri”, katanya sambil bersalaman dengan kami berdua, “iya Dra, semoga kamu cepat juga mendapat pasangan” “amin”. Aku tetap tidak berani menatapnya. Saat malam pertama kami, aku berpura-pura tidur. “Yu, kamu udah tidur ya?” tak kujawab juga pertanyaannya. Dengan cepat ku tarik selimutnya, entah kenapa aku bertindak seperti itu, “lho Yu, bagi-bagi nae selimutnya, aku kan juga kedinginan di sini” “kamu pilih selimut pa tidur di sini?” “ya ya aku pilih tidur di sini, tapi…..jangan nae tidur dulu Yu” “apa hak mu melarangku?” “aku kan suamimu sekarang” “udah aku ngantuk berat nie”, tiba-tiba Indra memelukku dari samping, “istriku……” “ihh ngapain sih”, lalu ku berbalik dan mendorongnya menjauh. Tapi dia malah memelukku sambil tersenyum. “aku tidak akan memaksamu sekarang Yu, lagipula kau sudah menjadi milikku seutuhnya” “lepasin tanganmu dari tubuhku” “iya-iya sayang”.
Sudah 2 bulan tapi perutku belum juga membesar, ku beranikan diri sendiri ke bidan, dan ternyata aku tidak hamil sama sekali…..aku pun segera pulang. “indra ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sekarang juga”. “apa istriku?” “aku minta cerai Ndra”. “apa?jangan bercanda Yu” “aku tidak pernah bercanda” “kenapa Yu?apa ada yang salah?” “iya kamu salah mengira, memang kau sudah menodaiku. Tapi entah apa karena tubuhku memang tidak ingin ada setetes darahmu mengalir dalam rahimku, Tuhan tidak memberikan anak padaku. Aku sudah memeriksakannya pada dokter tadi siang” “tapi kita baru beberapa bulan menikah, tidakkah kamu memikirkan perasaan orang tua kita?” “ini semua salahmu, harusnya sejak awal kau lah yang malu melakukan itu semua padaku” “tidak, aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu”
Aku pergi dari rumah itu, dan tinggal sementara di rumah temanku Ines, “nes, kamu tahu kan apa yang terjadi padaku selama ini? Sungguh aku ingin lepas darinya, aku benar-benar merasa hidup dalam kepalsuan. Salahkah aku bila ingin bercerai dengannya?” “hmmm…aku sebenarnya tidak ingin terlalu mencampuri urusan kalian. Tapi lebih baik kau mempertimbangkannya matang-matang dulu” “apa yang perlu dipertimbangkan lagi? Sudah jelas yang aku takutkan anakku tidak memiliki bapak, namun ternyata tidak ada apa-apa dalam rahimku” “aku ingin tanyakan terlebih dahulu padamu apa rencanamu jika seandainya kau berhasil bercerai dengan Indra?” “aku…aku ingin kembali dengan Badra” “sebaiknya kau selidiki dahulu bagaimana keadaan Badra, bukankah dia sudah kau tinggalkan 3 bulan lebih. Mustahil dia sedang sendiri sekarang. Tidakkah kau malu berhadapan dengannya?” “iya…kau benar juga. Aku akan coba menemuinya di tempat kerja barunya sekarang”.
Betapa terkejutnya aku , ketika aku ketika petugas yang ada di sana mengatakan bahwa Badra telah menikah hari itu juga. Dengan perasaan luluh lantah aku kembali ke rumah Ines. “Nes, ternyata dia sudah menikah” “ya sudahlah Yu. Relakan saja, mungkin jodohmu memang Indra seorang” “entahlah, namun belakangan ini saat aku bersama Indra aku bisa melupakan Badra. Apakah yang terjadi pada diriku ini Nes? Mungkin aku harus benar-benar minta maaf pada Indra” “jika seperti itu aku sangat setuju Yu, aku juga tidak ingin kau tergesa-gesa mengambil keputusan”. Akhirnya aku kembali ke rumah Indra. Dia sedang tidak ada di rumah, hanya pembantu kami yang menyambutku saat itu. Pembantuku bilang dia sedang ada di luar kota, mungkin malam baru pulang. Aku benar-benar berpikir keras bagaimana cara untuk meminta maaf pada Indra. Aku harus menarik kata cerai itu, sungguh membingungkan….
Ku benahi kamar tidur kami, aku semprotkan sedikit parfum ruangan di kamar kami tersebut. Aku juga memasakkannya masakan buatanku sendiri, dengan sedikit ku rias meja makan tersebut. Aku juga menyediakan air hangat untuknya. Sedikit berdebar-debar jantungku saat menunggu kedatangannya. Ini adalah hal yang pertama ku lakukan untuknya. Tok…tok….tok….lalu ku bukakan pintu, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum kaku melihatnya. Dia pun heran dengan tingkah lakuku, “Yu, kamu sudah pulang toh. Makasih ya udah bukain aku pintu” “ya sama-sama, oh ya kamu mandi dulu gih. Air hangatnya dah aku siapin” “apa? Air hangat? Terimakasih Yu” “ya ya cepat nae, entar keburu dingin airnya”. Indra bergegas ke kamar mandi. Aku merapikan tas-tas dan jaket yang tadi dibawanya.
“duh…laper banget nie Yu” dia duduk di sebelahku. “ya makan dah dulu Ndra”, tiba-tiba pembantu kami berkata, “ayo tuan makan yang banyak, itu nyonya sendiri lho yang masak. Bahkan saya tidak dikasi membantu sedikitpun, ayo tuan jarang-jarang lho nyonya mau masak”. “oh yang bener Yu?” “iya, cepetan makan…entar keburu dingin”. Lalu dia makan dengan lahapnya padahal makanan yang ku buat bisa dikatakan sederhana sekali. Malamnya aku mendekati dia yang seperti biasa duduk-duduk di teras depan. “Ndra…” “eh Yuri, da apa?” “aku….aku ingin….”lalu ku ambil tangannya. “kenapa Yu?” “Sorry, selama ini aku tidak menghiraukan permintaan maafmu. Aku merasa bersalah padamu, aku harap kau bisa memaafkanku” “baiklah, tenang saja aku tidak pernah menganggap kau menyakitiku, tapi aku sangat bahagia karena kau tetap mau ada di sisiku” “oh ya Indra, aku rasa aku tidak jadi meminta cerai padamu” “kamu sungguh-sungguh Yu?” “iya Ndra, aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik mulai sekarang” “apa kau tidak main-main?” “iya, buat apa aku main-main” “baiklah kalau kau yang meminta, tapi ada satu hal yang harus kau camkan baik-baik Yu” “apa itu Ndra?” “sini, mendekatlah padaku” lalu aku mendekat…dia membisikkan kalimat yang membuatku tersenyum, “sebagai istri apa kau tahu kewajibanmu?” “maksudmu?” “aduh, masak ga ngerti sie? Ternyata kamu masih tetap seperti dulu ya, masih telmi masalah seperti ini” “kamu juga sie, to do point juga nae” tiba-tiba dia menggendongku, “masih belum ngerti juga?” “oh…ya..ya, aku mengerti…”
Saat itulah kehidupan baru kami dimulai, dan beberapa bulan lagi aku pun hamil. Kedua orang tua kami sangat bahagia melihat kami berdua. Sementara hubungan dengan Badra sudah mulai membaik, kami sudah terbiasa dengan hidup kami masing-masing. Ternyata kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, meski kita berusaha keras merubahnya, namun apabila Tuhan sudah menghendakinya semua apa pun pasti akan bisa terjadi……
Tanggal 16 April ini, adalah hari yang paling mengesankan bagiku. Karena dia akan berusia tepat 25 tahun, ya meskipun aku lebih tua satu bulan lebih dari dia,tapi aku sangat menyayanginya. Dia merupakan anugerah terindah dalam hidupku, dia telah mengisi hari-hariku yang kelam dan hampa ini.
Perjalanan menuju Singaraja memang memakan waktu yang agak lama, saat ku kendarai sepeda motorku yang baru, ku rasakan desiran angin yang dingin dan tetesan embun membasahi helmku dengan perlahan. Sangat indah pemandangan yang sudah lama tidak ku nikmati ini. Setelah kelulusanku dari sekolah pemerintah itu, orang pertama yang ingin ku temui adalah pacar pertamaku yang kini hubungan kami sudah menginjak usia tujuh tahun. Sungguh ku sangat merindukannya,kami hanya bisa bertemu sebulan sekali, hmmm sungguh menyedihkan. Tapi itulah yang harus kami jalani, terpisah jarak dan waktu, namun jiwa kami tetap satu, dan itulah yang terpenting dari semuanya.
Pagi sekali ku panaskan mesin motorku, lalu ku siapkan semua perlengkapan dan baju-baju yang akan ku pakai di sana. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi, cepat-cepat ku siapkan sarapan untuk keluargaku. Lalu seperti biasa jam 6 pagi ku bergegas ke kamar mandi. “Yu, mau kemana kamu nak? Tumben sudah siap-siap pagi sekali”, baru saja ku tutup pintu kamar mandiku, lalu ku buka kembali, “mau ke rumah Mitha ma”, “kok kmu ga pernah bilang ke mama dari kemarin?”. “ya ini juga dadakan ma, Yuri ada urusan juga ma Mitha ma, udah ya mo cepet-cepet nie”. Segera pintu ku tutup, ku dengar mamaku masih berbicara, tapi konsentrasiku sekarang hanya tertuju pada Badra. Sudah tak sabar ku tunggu saat-saat ini, kebetulan kantor tempatku bekerja sekarang liburm dan dia pun diberi cuti oleh bosnya.
Tepat pukul 8 pagi ku berangkat dari rumah, dengan terlebih dahulu selalu ingat untuk sembahyang dan meminta salam kepada mama dan ayahku. Pelan-pelan ku keluarkan motorku dari bagasiku yang lumayan sempit ini. Tas-tas semua sudah ku gantung di motor, kemudian ku tancap gas motorku. Ku lihat di jalan banyak ada pemandangan yang sangat indah. Untunglah ku masih ingat jalan ke sana, meski aku rasa aku masih sedikit lupa. Rasa lapar sempat hinggap saat setengah perjalanan menuju ke sana ku lewati. Terpaksa ku turun dan membeli bakso di sisi jalan sepanjang penelokan. Indah sekali gunung Batur tersebut, ku ingin sekali bisa berfoto bersama Badra di sini, pasti akan sangat indah…..
Akhirnya ku sampai juga di rumah saudaraku Mitha, seperti biasa dia menyambutku dengan ramah. Terus terang ku lelah sekali, sesaat setelah ku rebahkan badanku di kasurnya, Badra meneleponku. “mmm…hello my darling” “hi my lovely, don’t you know, I’ve already arrived here, so tired now”. “yes, I see. Ok, just take a rest” “but I still want to talk with you” “don’t worry, I’ll call you again, but you have to rest now” “yeah, up to you” “bye my sweety” “bye my honey”. Ya telepon ku tutup, kini ku hanyut dalam mimpi indah bersama dia, aku sudah memikirkan cara memberikan kejutan bagi dia di hari ulang tahunnya. Dan tentu dengan sedikit bantuan Mitha hal ini akan bisa sempurna.
Terik matahari singaraja benar-benar menyengat, meski jaketku sudah ku pakai, sepertinya rasa panas itu sudah membakar kulitku. Sempat sekali ku pergi ke rumah Badra, rumahnya sederhana, tapi sangat nyaman ku rasakan di sana. Keluarganya menerimaku dengan hangat. Tapi sayang satu hal yang selalu ku takutkan bila berkunjung ke sana adalah aku akan bertemu orang yang paling tidak ingin ku ingat lagi. Ya, dia Indra, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Namun tidak pernah ku rasakan hal yang mengesankan darinya. Karena sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan manja. Dengan setelah blus dan celana jins biru, ku pergi ke rumah Badra, suasana di sana masih belum berubah. Ku jumpai ibunya saat sampai di sana, “Om Swastyastu bu”, “lho Yuri, Om Swastyastu nak. Sini duduk nak, kanggoin ya” “ah ibu ini, kayak sama siapa aja ngomong gitu. Oh ya Badranya ada di rumah kan?” “oh ya, ya dia ada di kamar dengan temannya, Yuri langsung masuk saja ke kamarnya, tidak apa-apa kok”. “oh ya, makasih bu, saya cari Badra dulu”. Dengan langkah lari kecil ku bergegas ke kamarnya, betapa terkejutnya begitu ku buka pintu kamarnya, ternyata Indra ada di sana…..
Kami semua terkejut, Badra terkejut karena ia tidak menyangka aku datang. Sedangkan aku dan Indra terkejut karena kami bisa bertemu sekarang. Sesaat aku dan Indra sempat bertatapan, lalu cepat-cepat ku alihkan pandanganku. Lalu ku panggil Badra, “Badra, come here please”. Lalu Badra berkata ke Indra, “indra, sini dulu bentar ya. Aku mau bicara dulu ma Yuri”. Indra hanya mengangguk. Sementara dengan langkah kaku, aku keluar dari kamarnya bersama Badra. Kami duduk di teras depan yang sederhana yang dilapisi keramik berwarna putih kecoklatan tersebut, suasana hatiku masih tidak karuan, sungguh aku tidak pernah menebak saat ini aku akan bertemu dengan dia lagi. “Yu,kamu kok bengong?”, kata Badra. “ah ngga da apa-apa kok, oh ya Dra ntar bisa kan ke pantai?”. “mang pantai mana?” “pantai camplung ja dah biar deket ma rumah Dra” “oh mang ada apa Yu?” “ya ada sesuatu yang ingin Yuri omongin”. “kenapa ga di sini aja sie Yu?” “pokoknya kita ketemu di sana ja dah!!!” “ia, ia my honey”. Lalu ku berdiri, “”eh dah dulu ya Dra, aku mau ke rumah tanteku dulu” “ok take care ya” “ya, bye-bye” “bye”, katanya sambil melambaikan tangannya.
Aku tidak berani menoleh ke arah manapun…
“dra, tu Yuri dari Gianyar kan?”, kata Indra dengan penasaran. “iya ndra, kenapa?” “kok kamu ga pernah bilang kalau kamu pacaran ma dia, kan aku sohibmu?” “ya aku ga sempat ja, sorry ya” “ya udah lupain ja, btw kamu dah berapa lama pacaran ma dia?” “em…sekitar 5 tahun lah” “wih dah lama banget ya, aku kira kamu ampe karang belum punya pacar”. “iya lumayan lah ndra”. “ah kamu nie, jeg ga ngasi tau aku dari dulu. Kan aku kenal kalian berdua” “ya mo gimana lagi aku kan ga suka juga ngumbar-ngumbar masalah gituan”. “ya dah aku pulang dulu ya dra”. “ok”. Indra pulang dengan seribu Tanya dalam benaknya. Kenapa ya dia tidak bilang pacaran dengan teman dekatku sendiri, salah aku pa sih?ya sudahlah aku juga tidak berhak mengurus mereka lagi.
Sore yang indah saat ku ingin memberi kejutan pada Badra di pantai camplung. Tapi tak ku sangka-sangka Indra datang, awalnya dia tidak melihatku namun akhirnya dia pun menghampiriku. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa, namun seperti biasa ku pura-pura cuek padanya. “eh yuri, ngapain ke sini?”. “da urusan Ndra” “pasti mo ketemuan ma Badra ya?” “ya”, jawabku pendek, tanpa memandang ke arahnya. “Yu, aku ada salah ya ma kamu? Kok kamu jutek gitu sie ma aku?” “ga kok”, “trus???” “ya aku Cuma ga mau ganggu kamu ja”. “aku ga pernah ngerasa pernah terganggu kok”. Aku hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. “Yu…Yuri”, katanya sambil mendekatiku dan berdiri tepat di depanku. Lalu memegang pundakku, “aku minta maaf kalau punya salah padamu”. “ga kok, udah deh Ndra. Ngapain di sini?”, kataku sambil melepaskan pegangannya. “lagi pingin jalan-jalan ja Ndra”, dalam hatiku berkata, duh si Badra lama kali sie, males kali lama-lama ngomong ma nie orang. Untunglah Badra datang beberapa saat kemudian. “lho Yuri n Indra rupanya udah ada di sini toh”. “eh iya Dra, tadi ga sengaja aku ketemu ma Yuri”. “Dra, yuk kita kesana, aku punya kejutan buat kamu”. Lalu aku bergegas ke selatan berjalan. “bro, ntar kita sambung lagi ya”. “iya Dra”. Indra hanya bisa menatap kepergian mereka berdua…..
“tutup nae matanya Dra”, kataku. “duh kok pake gitu-gituan sie Yu?”. “ya ikutin ja”. Lalu ku buka bungkusan yang sudah ku tutup rapat. Dan ku letakkan lilin-lilin penuh kehati-hatian. Lalu ku lumuri dengan saus cherry dan kutuliskan Aishiteru. Lalu ku buka penutup matanya, “surprise…happy birthday ya Dra…”. “Yuri, makasih banyak ya…aku bahkan ga pernah ngasi kejutan apa-apa buat kamu”. “ah jangan itu dipikirin, yang penting kita harus happy karang, cepetan nae tiup lilinnya”. Kemudian Badra meniup lilin tersebut,dan memotong kue tart tersebut. Potongan itu ia berikan kepadaku, “makasih lagi ya Yuri” lalu sambil menyerahkan potongan kue tersebut ia mengecup keningku. Setelah itu ku kecup pipinya juga, “tetaplah ada di sampingku dra” “pasti Yuri”. Ya setelah itu kue itu kami habiskan berdua. Sambil melihat ke arah pantai hingga sore akhirnya kami pun berpisah.. “Dra, dah dulu ya” “iya Yu, hati-hati ja di jalan”. “ok dra”.
Hari itu sungguh berkesan bagiku, tak dapat ku pungkiri semuanya sungguh merupakan momen-momen yang selalu ku nantikan bersamanya. Namun esoknya ku dengar kabar bahwa dia dan Indra mengalami kecelakaaan. Langsung ku telpon orang tuanya dan ku cari dia di rumah sakit tersebut. Begitu sampai di kamarnya ku lihat juga ada Indra di sana. Mereka satu kamar tapi beda kasur, namun saat itu hanya satu yang ku pikirkan yaitu keselamatan Badra. “Dra, kamu kenapa bisa sampai kayak gini?”. Dengan sedikit kesulitan ia tetap menjawab pertanyaanku, “e…iya…gara-gara nyalip Yu”, “ya udah jangan diterusin, udah ga bisa dipaksain juga ngomongnya”. Lalu ku benahi bantal dan selimutnya. Meskipun ku tahu ada indra di dekatku, tapi aku tidak berniat untuk menyapanya. Lalu ku berkata, “Dra, aku mau pulang dulu ntar aku balik lagi dah”. Badra pun mengangguk.
Sesampainya di rumah sepupuku tersebut ku buatkan bubur untuk Badra berisi sedikit ayam dan sayur. Lalu secepatnya ku menuju rumah sakit, “dra, nie dah Yuri buatin bubur dimaem ya”. Ku buka bungkusan bubur tersebut, “ayo maem dulu dra”. Ku suapi Badra, dengan lahapnya dia makan. Mungkin Indra melihat kemesraan kami. Tapi jujur aku sudah tidak perduli lagi dengannya, dia bahkan tidak tahu bagaimana rasa sakit hatiku padanya, dia hanya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa di antara kami. Masih ku ingat saat-saat itu….
Lima tahun lalu ku buat jejaring social bernama FB…begitu banyak orang yang ku kenal, tapi hanya ada satu orang yang sangat ku ingin tahu. Ia bernama Indra Sanjaya. Kami menjalin hubungan pertemanan selama beberapa minggu, namun semakin lama ku merasa nadanya mengirim sms dengan kata-kata yang sangat romantic. Membuatku bingung harus menganggapnya apa, namun ku sadari dia telah mengisi segenap hari-hariku. Akhirnya kami bertemu saat dia sempat berkunjung ke rumah kakaknya di gianyar. Tapi sungguh sial, waktu itu hujan turun dengan derasnya. Apalagi dia tidak tahu arah, jadi kami janji di pom bensin. Tahu-tahunya hujan semakin deras dan kami berteduh di sebuah bengkel yang sudah tidak terurus lagi. Sungguh menyebalkan pertemuan itu, hingga aku pun tidak merasakan adanya sesuatu yang berarti saat itu. Kami bercakap-cakap hanya tentang hal-hal yang biasa kami perbincangkan dalam sms kami.
Tidak ada sesuatu yang membuatku terkejut saat itu ia mengajakku untuk mampir ke rumah kakakknya. Sungguh ku kaget setengah mati, bagaimana bisa aku ke sana padahal aku baru bertemu dengannya beberapa menit yang lalu. Akhirnya ku suruh dia pulang saja,lagipula dia juga ada acara dengan keluarganya. Bagaimana pun pertemuan itu adalah pertemuan pertamaku dengan seorang lelaki. Setelah itu hubungan kami agak renggang. Dan hal yang paling menyakitkan bagiku adalah di saat dia berbohong padaku. Awalnya pagi itu aku heran, tumben dia ngsms pagi-pagi jam 6. Lalu ku tanyakan kenapa dia bisa bangun sepagi itu. Dia menjawab bahwa pacarnyalah yang membangunkannya. Begitu melihat sms itu aku langsung down dan mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin di cap sebagai pengganggu hubungan orang dengan bersmsan dengannya. Dia sebenarnya tidak terima dengan keputusanku tersebut. Namun tekadku sudah bulat, apalagi ia sempat berkata bahwa apabila ia menyesal tahu kenyataannya seperti itu dia tidak akan memberitahuku tentang pacarnya.
Hal tersebut membuatku menyadari bahwa dia bukan tipe lelaki setia dengan pasangannya. Sejak saat itu kami lost contact…..dan sampai kini ak masih merasakan rasa sakit itu, bukan karena dia menganggapku hanya teman, tapi karena dia mengaku menyesal telah berkata jujur padaku…
Betapa terkejutnya aku ketika melihat kenyataan yang terjadi sekarang, ketika aku sudah sangat menyayangi Badra, tiba-tiba dia berubah beberapa minggu ini. Setiap perkataanku selalu salah, entah kenapa dia bisa seperti ini padahal hubungan kami masih baik-baik saja. Ternyata Indra benar-benar membongkar semua hubungan kami di masa lalu pada Badra. Dan Badra sudah menganggap aku seorang pembohong besar. Dengan menutup-nutupi kedekatanku dengan Indra. Lalu ku hampiri Badra, “Dra, bukan maksudku menutup-nutupi”, “pantes Indra aneh ku lihat sikapnya dari waktu ini ke kamu, ternyata ini yang sebenarnya”. “ya tapi yang penting sekarang kan hanya aku dan kamu, buat apa kamu mempersalahkan yang lalu-lalu”. “aku tidak bisa terima kamu berbohong kayak gini, kita kan udah janji buat terbuka Yu”. “tapi kan bukan berarti aku harus mengumbar-umbar semua masa lalu aku, aku bahkan ingin melupakannya”. “jangan-jangan kamu ingin bilang kalo dulu kamu pernah suka ma Indra?” “ya tapi itu kan dulu dra, ngerti nae” “aku ga ngerti kenapa kamu hebat banget udah sama dia deketin temannya lagi” “asal kamu tahu aja Dra, aku ga tahu kamu tu temannya dia, kalau aku tahu dari awal juga aku ga bakal deket ma kamu”. “ya udah kalau gitu, ga usah ja karang deket ma aku”. “lho, kamu nie salah minum obat ya?”. “ga da yang perlu diomongin lagi kan Yu?”, lalu seenaknya saja dia pergi meninggalkanku, setetes air mata jatuh membasahi pipiku…
Seandainya kau tahu Yuri, aku tidak bisa melepaskanmu. Tapi aku tidak tega melihat sahabatku Indra seperti itu melihat kita berdua. Bagaimanapun aku sudah berutang budi dengan dia dan keluarganya. Aku tidak mungkin melukai perasaannya.
Sudah beratus-ratus sms ku kirim padanya tapi ia bahkan tidak pernah menghiraukannya. Setiap panggilanku ditolak, dan saat aku datang ke rumahnya juga dia selalu tidak ada atau menghilangkan diri. Dengan rasa sakit hati ku beranikan diri bertemu Indra. Kami berjanji bertemu di pantai itu lagi, “hai Yu…dah lama nunggu?”, “ya iyalah…ngaret banget sie jadi cowok” “ya tadi aku baru selesai mandi” “ya udah to do point ja karang, sebenarnya apa sie maksud kamu ngasi tau keadaan kita dulu ma badra?” “sebenarnya aku ga bermaksud kayak gitu, awalnya dia yang nanya kenapa aku bisa kenal ma kamu” “terus kenapa kamu ngasi tau dia ampe sedetil-detilnya kayak gitu” “aku ga sengaja aku ga sengaja Yu, kamu marah ya?” “pake nanya lagi, kamu ga tau udah 5 tahun aku ma dia sekarang dengan mudahnya kamu rusak begitu saja” “aku minta maaf Yuri”, katanya sambil memegang tanganku. “kamu jahat Ndra, aku nyesel dah kenal ma kamu”,kataku sambil menghempaskan tangannya. “Yuri…maaf” “brengsek kali kamu jadi orang ya, kamu ga ngerti bagaimana perasaan aku”,tak terasa air mataku jatuh….lalu dia mengusapnya dengan tangannya, “aku yang salah, maafin aku. Aku akan jelaskan lagi kepada Badra tentang semuanya”. “aku sudah putus asa, lebih baik aku balik ke gianyar sekarang”..lalu aku pergi dengan langkah pelan. Indra menarik lenganku, “ga, kamu ga boleh pergi. Ak janji akan menyatukan kalian berdua” “ta…tapi bagaimana caranya?” “ya tenang saja, serahkan semuanya padaku”.
Pagi yang cerah, aku dan Indra menunggu Badra di taman kota untuk mengejutkan dia. Seperti biasa dia lari pagi, lalu kami berpapasan…tapi sungguh sial saat aku tersenyum dan menyapanya, dia bahkan tidak menoleh ke arahku. Kemudian kami menjalankan rencana kedua, saat itu kami pura-pura menelpon dan menyuruh dia bertemu, akhirnya kami bertemu di sebuah ruangan yang tertutup. Dan semua itu sudah diatur oleh Indra, dia datang dan bingung saat melihatku. “lho kamu kok ada di sini?” “ya aku lah orang yang ingin bertemu dengan kamu Dra. Aku mohon dengarlah penjelasanku” “sudah tidak ada yang perlu dijelasin lagi, aku sudah merelakan kamu dengan Indra” “What? Indra? Aku tidak pernah ada hubungan serius dengan dia, kami hanya berteman dari awal”. Lalu ku dekati dia, ku tatap matanya, seakan-akan dia sangat menghindari bertatap mata denganku. “kenapa Dra?apa yang kamu takutkan, tataplah mataku dan bicaralah” “aku ga mau!!!” lalu dengan lembut ku pegang wajahnya, ku tatap lagi matanya. Akhirnya dia berani menatapku, masih ku lihat sorot cinta dalam matanya. Dengan refleks ku cium bibirnya…..
“aku sekarang tahu apa yang terjadi Dra, sudahlah jangan kau korbankan cinta kita, bagaimanapun kita masih sangat saling mencintai” “tapi aku tidak tega Yu” “bagaimanapun kau juga harus tidak tega padaku, apa salahku hingga kau bersikap seperti ini padaku?” “aku….” Kemudian ku peluk dia, “indra pasti bisa menerima semuanya Dra” “tapi…” sudahlah jangan banyak bicara, aku sudah bicara padanya” akhirnya kami bersatu kembali….
Meski dalam hati Indra merasa kehilangan, tapi ia juga sangat menyayangi sahabatnya. Namun saat pikirannya sedang mengambang, tanpa disadarinya….tiba-tiba truk datang dari arah berlawanan saat ia ingin menyalip sebuah mobil…banyak darah mengalir dari kepalanya…untunglah ia masih bisa bertahan. Namun dokter mengatakan bahwa ia sedang amnesia untuk sementara waktu, dan sebaiknya agar ingatannya dapat segera pulih, ia harus bertemu dengan orang yang paling diingatnya. Yuri….Yuri…begitulah kata-kata yang selalu dia ucapkan di saat tidur dan sadarnya. Sampai-sampai orangtuanya Indra bingung mencari dimana aku berada. Lalu orangtuanya menemui Badra, “nak, kamu tahu kan siapa Yuri itu?” “ya ada apa tante?” “tante mohon kamu harus bawa dia kemari, Indra butuh dia agar ingatannya bisa cepat pulih” “tapi dia ada di gianyar tante” “ya kamu bujuk dra, tante mohon sekali” “baik tante saya usahakan”.
Tumben sekali Badra datang ke rumahku, “lho Badra ada apa datang ke sini? Ga bilang-bilang lagi”. “aku disuruh orangtuanya Indra ngajak kamu ke rumah mereka, kamu tau ga kalau Indra kecelakaan dan sekarang lagi amnesia di rumah sakit” seketika aku kaget, “masak sie dra?” “iya Yu, dan katanya Cuma kamu ja yang diingat Indra, makanya mereka nyuruh aku buat ngejemput kamu”. “ah enak ja, aku kan ga kenal ma mereka”. “dah ikut ja yuk, kasian juga mereka. Aku juga ga enak bilangnya ke mereka nantinya”. “lho kok kamu yang ga enak? Harusnya mereka lagi yang kesini ngomong empat mata ma aku, tu kan kepentingan mereka bukan kamu”. “tapi aku sudah kenal dekat ma mereka. Dan sangat akrab, ga mungkin aku ngecewain mereka”. “ya kamu bilang aja sejujurnya kalau aku tu lagi sibuk-sibuknya sekarang dan ga bisa diganggu” “yah kamu nie malah buat aku malu ja Yu” “lagi kamu kayak gini dra, udah deh ga usah lagi mikir berat-berat” “ya udah deh aku pulang dulu ya”. “ok, hati-hati dra”.
Ternyata beberapa hari kemudian Badra datang lagi, dan kali ini ia bersama dengan orangtuanya Indra…. “siang tante, da keperluan apa?” “ini Yuri ya, tante ini ibunya Indra, maaf tante mengganggu sekarang” “oh ya da apa tante?” “nak Yuri, tante mohon dengan sangat tolong ikut tante. Indra tidak akan bisa pulih ingatannya bila dia tidak bertemu dengan nak Yuri” “tapi saya juga punya kesibukan yang tidak bisa saya tinggalkan di sini tante” “biar tante yang urus nak, yang penting tante mohon nak Yuri bisa ikut tante” “tapi tidak semudah itu tante”, kataku dengan nada yang agak tinggi. “yuri, aku sebagai pacar kamu juga mohon dengan sangat tolong ikut kami”, lalu aku hanya diam, sementara ibunya Indra mendekat lalu berlinang air mata dan akhirnya ingin berlutut padaku. Segera aku menyadarinya dan langsung memegangi tangannya, “tante ga usah kayak gini” “tapi tante ga ingin anak tante terus-terusan kayak gini nak, tolonglah bantu tante. Apapun yang anak minta akan berusaha tante memberikannya”. Akhirnya hatiku luluh juga….
Sesampainya aku tiba di rumahnya aku merasa sangat asing, uhh kenapa sie aku susah kali nolak permintaan orang? Kenapa lagi aku mau tinggal di rumahnya, sial kali…. “sini nak, ini kamar kamu” “ya tante”. Kamarnya cukup luas, tapi tetap saja aku tidak merasakan kenyamanan berada di sana. “nak ini kamar Indra, masuk saja nak ga apa-apa”. Aku melangkahkan kakiku ke kamarnya dan ku lihat dia sedang berbaring di kasurnya. Sungguh memperihatinkan, dia sedang menatap ke langit-langit kamarnya. Ku coba untuk mendekatinya, “Ndra…..” lama ia menatapku, aku pun bingung harus berbuat apa. Lalu aku duduk di sebelahnya, “Ndra, ni aku Yuri datang. Maaf baru bisa datang sekarang” tiba-tiba dia bangun dan memegang pundakku, “kamu, ga dibalas smsku” “hah????” aku semakin bingung, dan ternyata aku baru menyadari momen-momen yang paling dia ingat adalah saat terakhir aku mengakhiri smsku padanya. “oh aku sibuk” “lain kali ga boleh kayak gitu” “ok Ndra”, kataku segera. Lalu tanpa ku sadari aku tertawa dengan kerasnya… “kok ketawa Yu?” “ga Ndra…hehehehe” sejak saat itu aku tinggal di rumahnya bisa dikatakan akulah perawatnya. Semua kebutuhanku sudah dipenuhi tanpa ku minta dari orangtuanya.
Badra jarang ke rumah Indra, aku juga tidak mengerti kenapa ia menjauh, aku hanya bisa menelponnya, karena setiap aku ajak bertemu dia tidak pernah mau. Pagi itu seperti biasa aku sarapan bersama Indra, “yu, maem yang banyak ya” “ah ya ya In”, tiba-tiba ibunya nyeletuk, “ah dah serasi sekali kalian berdua, kapan mau lebih serius lagi?” langsung aku batuk, dan Indra menepuk punggungku. “ah mama ini, kita kan baru temenan” lalu aku berdiri, “tante om saya permisi dulu” tanpa menoleh lagi aku bergegas ke kamar. Dan Indra mengikutiku, “yuri, kamu kenapa?” “kenapa kamu ga bilang kalau kejadiannya bakal kayak gini?” “maksud kamu?” “ah sudahlah aku mau pulang ke gianyar, aku rasa kamu juga sudah sembuh kan” lalu ku bereskan semua pakaianku. Dan baru aku mau ke luar pintu kamar, Indra sudah berdiri di sana….
“ga boleh yuri, kamu ga boleh pergi” “kamu ini ngapain si Ndra?” “aku ga kan biarin kamu pergi lagi” “udah aku udah ga punya rasa lagi ke kamu tau. Tujuanku murni Cuma untuk ngembaliin ingatan kamu aja”. Dia tetap berdiri di depan pintu, lalu ku coba untuk mendorongnya, tapi tubuhku yang kecil bukannya bisa mendorongnya, tapi ia malah memelukku. “jangan pergi, aku membutuhkanmu” lalu ku berusaha melepaskan pelukannya. Tapi pelukannya sangat kuat, “Indra lepasin aku” ia tetap memelukku. Akhirnya ku tampar saja pipinya, “aku benci ma kamu, cepat lepasin aku sekarang juga!!!”. Dia agak kaget saat aku menamparnya, tapi hal yang paling membuatku kaget adalah saat dia mulai tersenyum aneh….dan berkata, “sekarang aku tahu cara agar kau tidak pernah pergi dariku Yuri”, seketika pikiran itu terlintas di benakku, cepat-cepat aku menjauh darinya. Apa yang akan dia lakukan ya Tuhan? Ku mohon lindungilah aku Tuhan. Ternyata benar seperti apa yang sudah ku duga…
“Ihh…kamu nie ngapain si Ndra” “ntar juga kamu tau kok, ga usah jauh-jauh dari aku napa sie” “eh jangan gila deh Ndra, aku ke sini Cuma buat nyembuhin ingatan kamu aja, ga lebih” “mang aku salah ingin yang lebih?” “aku tambah ga ngerti ma kamu” “kamu ga tau ya aku tu sayang banget ma kamu, aku ga bisa lepas dari kamu. Sadar ga sie kamu kalo aku bisa ngelakuin apa aja biar kamu tetap di samping aku” “jangan harap kamu bisa seenaknya sama aku, aku kan sudah bilang dari awal kalo hubungan kita nie udah berakhir. Kamu nie congek pa tuli sie?” kataku sambil terus berusaha keluar dari kamar itu. Tiba-tiba dia memegang bahuku dengan kedua tangannya, “ga akan ku lepasin untuk kedua kalinya” lalu dia berusaha menciumku…dengan cepat ku tampar saja mukanya, “dasar ga punya etika, cepat lepasin aku”, tiba-tiba pandangan matanya semakin tajam, seakan-akan dia mau memakanku, “sudahlah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu ternyata butuh cara paksa Yuri” dengan keras ia mendorongku hingga aku terjatuh di atas kasur tersebut. Ku coba berdiri tapi sudah berada di sampingku dan ingin……..menodaiku…..
Aku tetep meronta, namun tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dariku tidak dapat ku kalahkan. Terlintas wajah Badra dalam benakku, bagaimana kalau dia tahu semua ini, aku tidak dapat membayangkan lagi bagaimana perasaannya akan remuk redam, bagaimana diriku akan menghadapi apa yang terjadi setelah ini??? Dia merobek blus putih yang diberikan oleh Badra pada hari ulangtahunku, itu adalah blus kesayanganku. Dan sialnya dia dengan kasar merobeknya dan membuangnya ke lantai. Aku masih tetap meronta, “Ndra please jangan lakuin ini, lepasin aku”, kataku sambil menangis. “tidak bisa, aku harus melakukan ini agar kau tidak bisa berpaling dariku lagi”. Entahlah, semua tenagaku sudah habis…..dan aku sudah tidak ingat apa yang terjadi setelahnya…….
Ku lihat diriku sudah tidak memakai apa-apa, lalu ku menangis dan terus menangis. Dia mendekatiku, “sudahlah kau tidak perlu menangis, aku akan melamarmu sekarang”. Aku tetap menangis, dia ingin mengusap air mata di pipiku, “udah Yu” lalu dengan cepat ku hempaskan jari tangannya. “dasar brengsek, walaupun kita menikah nanti, aku tidak akan pernah memaafkanmu” “terserah padamu, tapi aku akan selalu berada di sisimu mulai dari detik ini”. Seharian itu aku menangis terus di kamar yang penuh dengan kenangan pahit malam itu, “”ya tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apakah salahku? Bagaimana aku menjelaskan ini semua pada Badra?”. Dengan langkah lemah ku berjalan ke kamar mandi, ku basuh mukaku dan ku lihat bayanganku di cermin. Langsung air mataku jatuh, ingin sekali ku pecahkan cermin itu, aku sudah tidak sanggup melihat diriku lagi yang sudah kotor ini. Makanan yang mereka siapkan bahkan sama sekali belum ku jamah sedikit pun. Tubuhku semakin kurus dan aku pun sudah tidak pernah memperhatikan keadaanku lagi.
Dan Badra sempat suatu kali mampir dan menjengukku… “Yuri, kamu sakit ya?”, aku benar-benar tidak sanggup menatap wajahnya. “ia, sebaiknya kamu pergi saja dra”, secepat mungkin ku palingkan badanku. “Yu, kamu marah ya ma aku?” “ngga kok”. “aku minta maaf kalo gitu, aku mungkin tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi aku harap kau segeraa membaik, dan kita bisa seperti dulu lagi” tanpa terasa air mataku jatuh saat mendengar kata-katanya. “Dra…..aku yang seharusnya minta maaf” “memangnya kenapa Yu” “aku….aku tidak sanggup mengatakannya sekarang….tapi ku mohon menjauhlah dariku” lalu dia mendekatiku, “kenapa Yu?” “jangan mendekatiku dra, aku mohon”, kataku dengan penuh berlinang air mata. “baiklah…..”, katanya sambil melangkah pelan, dengan penuh rasa kecewa. “huhhh”, ku hempaskan nafasku dengan kasar, seandainya kau tahu apa yang terjadi sebenarnya Dra. Aku sungguh tidak sanggup, masih ku ingat masa-masa di saat kita tertawa bersama, menangis bersama, dan mencurahkan segenap rasa sayang kita berdua. Dan kini semua harus ku lepaskan begitu saja….
Indra memasuki kamarku, cepat-cepat ku palingkan wajahku. “aku tahu Yuri kamu sangat membenciku, tapi aku sudah menelpon orangtuamu. Besok kita ke rumahmu dan membicarakan pernikahan kita”. “apa? Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelumnya?” “aku kira kamu sudah tahu semuanya, sudahlah jangan membahas ini lagi. Kamu sudah baikan?” katanya sambil mengusap kepalaku,kembali ku hempaskan tangannya. “jangan sentuh aku lagi, yang waktu ini sudah cukup menyakitkan bagiku”. “baiklah, sekarang kamu bisa berkata seperti ini. Tapi kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi”, dengan cepat dia mengecup keningku.
Sebelum keberangkatanku ke gianyar bersama keluarganya Indra, aku pergi ke apotek dan mencari tes cek kehamilan, secepatnya ku bergegas memeriksanya. Sudah tak sabar ku melihat semuanya, dan ternyata…..alat tersebut hanya menunjukkan dua garis merah. Setelah itu badanku terasa lemas, ternyata aku sudah…..ya Tuhan maafkan aku jika tidak bisa mengakuinya pada Badra, tapi aku tahu aku harus memperhatikan janin ini…sejenak ku terdiam, kemudian ku bereskan pakaianku. Mereka sudah menungguku dan semua tersenyum saat melihatku. Mungkin mereka senang melihatku yang sudah memperhatikan diriku sekarang. “kenapa kalian meliahtku seperti itu?” Indra menjawab, “akhirnya kamu kembali seperti dulu Yuri”. Aku tidak menghiraukan perkataannya, cepat saja ku masuk ke mobil itu. Perjalanan memang cukup lama, dan aku baru ingat aku belum pamitan dengan Badra. Langsung ku telpon dia, “halo…”, terdengar suara lembutnya di telingaku, “halo Dra, aku…aku udah balik ke gianyar” “lho kok kamu ga bilang-bilang dulu ma aku sie?” “ya aku kan harus cepat-cepat dra, ada urusan mendadak” “oh ya, hati-hati di jalan ya” “iya-iya,kalo gitu udah dulu ya” “ok Yu”. Ku tutup telepon dengan perlahan, aku tahu mereka semua pasti mendengar pembicaraaanku dengan Badra, tapi aku tidak terlalu perduli dengan itu semua. Aku rasa mereka juga tahu bagaimana hancurnya perasaanku.
Tiba di Gianyar aku langsung memeluk ibuku, lalu menangis. Berkali-kali ia bertanya mengapa aku menangis, tapi tetap ku hanya bilang bahwa aku sangat merindukannya. Akhirnya orang tua Indra mengutarakan maksud mereka, namun tiba-tiba Badra datang. Ia sangat kaget melihat kedatangan Indra dan orang tuanya di rumahku. Langsung ia memberi salam dan aku tau dia sudah mulai memahami maksud mereka. Beberapa menit kemudian ia pamit, masih ku lihat dia berjalan penuh keputusasaan. Dan aku duduk terdiam seperti seseorang yang sudah tidak punya harapan lagi. Saat ditanya apa aku sungguh-sungguh aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu harus berbuat apa di sana. Segera setelah pembicaraan selesai, aku langsung berdiri dan bilang bahwa aku tidak enak badan. Kurebahkan badanku di kasur yang sudah beberapa minggu itu tidak ku tempati lagi. Aku menangis lagi, menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya…
Sejak pertemuan itu, Badra sudah tidak pernah mengirim pesan maupun menelponku. Aku pun tidak berusaha untuk member penjelasan kepadanya karena aku tahu itu hanya akan menambah sakit yang akan dia rasakan. Pernikahan kami tinggal sebulan lagi namun entahlah aku sama sekali tidak merasakan apa-apa dalam rahimku. Bahkan mual pun aku tidak, sekarang yang aku pikirkan adalah bagaimana nanti aku harus menjalani kehidupanku dengan orang yang sudah menyakitiku. “halo…Yu”, kata Indra dalam telepon. “apa?” “ga deg-degan? 1 minggu lagi pernikahan kita lho” “buat apa? Ini semua kan memang keinginan kamu saja” “ya aku tahu Yu, ya udah gimana kabar anak kita?” “anak? Jangan sebut dia anakmu, kita bahkan belum menikah” “tapi kita kan sudah kawin Yuri” “ih brengsek banget kmu Ndra”, langsung ku tutup teleponnya…
Ternyata Badra datang ke pesta pernikahanku, ku lihat senyum palsunya, “selamat ya Ndra, Yuri”, katanya sambil bersalaman dengan kami berdua, “iya Dra, semoga kamu cepat juga mendapat pasangan” “amin”. Aku tetap tidak berani menatapnya. Saat malam pertama kami, aku berpura-pura tidur. “Yu, kamu udah tidur ya?” tak kujawab juga pertanyaannya. Dengan cepat ku tarik selimutnya, entah kenapa aku bertindak seperti itu, “lho Yu, bagi-bagi nae selimutnya, aku kan juga kedinginan di sini” “kamu pilih selimut pa tidur di sini?” “ya ya aku pilih tidur di sini, tapi…..jangan nae tidur dulu Yu” “apa hak mu melarangku?” “aku kan suamimu sekarang” “udah aku ngantuk berat nie”, tiba-tiba Indra memelukku dari samping, “istriku……” “ihh ngapain sih”, lalu ku berbalik dan mendorongnya menjauh. Tapi dia malah memelukku sambil tersenyum. “aku tidak akan memaksamu sekarang Yu, lagipula kau sudah menjadi milikku seutuhnya” “lepasin tanganmu dari tubuhku” “iya-iya sayang”.
Sudah 2 bulan tapi perutku belum juga membesar, ku beranikan diri sendiri ke bidan, dan ternyata aku tidak hamil sama sekali…..aku pun segera pulang. “indra ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sekarang juga”. “apa istriku?” “aku minta cerai Ndra”. “apa?jangan bercanda Yu” “aku tidak pernah bercanda” “kenapa Yu?apa ada yang salah?” “iya kamu salah mengira, memang kau sudah menodaiku. Tapi entah apa karena tubuhku memang tidak ingin ada setetes darahmu mengalir dalam rahimku, Tuhan tidak memberikan anak padaku. Aku sudah memeriksakannya pada dokter tadi siang” “tapi kita baru beberapa bulan menikah, tidakkah kamu memikirkan perasaan orang tua kita?” “ini semua salahmu, harusnya sejak awal kau lah yang malu melakukan itu semua padaku” “tidak, aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu”
Aku pergi dari rumah itu, dan tinggal sementara di rumah temanku Ines, “nes, kamu tahu kan apa yang terjadi padaku selama ini? Sungguh aku ingin lepas darinya, aku benar-benar merasa hidup dalam kepalsuan. Salahkah aku bila ingin bercerai dengannya?” “hmmm…aku sebenarnya tidak ingin terlalu mencampuri urusan kalian. Tapi lebih baik kau mempertimbangkannya matang-matang dulu” “apa yang perlu dipertimbangkan lagi? Sudah jelas yang aku takutkan anakku tidak memiliki bapak, namun ternyata tidak ada apa-apa dalam rahimku” “aku ingin tanyakan terlebih dahulu padamu apa rencanamu jika seandainya kau berhasil bercerai dengan Indra?” “aku…aku ingin kembali dengan Badra” “sebaiknya kau selidiki dahulu bagaimana keadaan Badra, bukankah dia sudah kau tinggalkan 3 bulan lebih. Mustahil dia sedang sendiri sekarang. Tidakkah kau malu berhadapan dengannya?” “iya…kau benar juga. Aku akan coba menemuinya di tempat kerja barunya sekarang”.
Betapa terkejutnya aku , ketika aku ketika petugas yang ada di sana mengatakan bahwa Badra telah menikah hari itu juga. Dengan perasaan luluh lantah aku kembali ke rumah Ines. “Nes, ternyata dia sudah menikah” “ya sudahlah Yu. Relakan saja, mungkin jodohmu memang Indra seorang” “entahlah, namun belakangan ini saat aku bersama Indra aku bisa melupakan Badra. Apakah yang terjadi pada diriku ini Nes? Mungkin aku harus benar-benar minta maaf pada Indra” “jika seperti itu aku sangat setuju Yu, aku juga tidak ingin kau tergesa-gesa mengambil keputusan”. Akhirnya aku kembali ke rumah Indra. Dia sedang tidak ada di rumah, hanya pembantu kami yang menyambutku saat itu. Pembantuku bilang dia sedang ada di luar kota, mungkin malam baru pulang. Aku benar-benar berpikir keras bagaimana cara untuk meminta maaf pada Indra. Aku harus menarik kata cerai itu, sungguh membingungkan….
Ku benahi kamar tidur kami, aku semprotkan sedikit parfum ruangan di kamar kami tersebut. Aku juga memasakkannya masakan buatanku sendiri, dengan sedikit ku rias meja makan tersebut. Aku juga menyediakan air hangat untuknya. Sedikit berdebar-debar jantungku saat menunggu kedatangannya. Ini adalah hal yang pertama ku lakukan untuknya. Tok…tok….tok….lalu ku bukakan pintu, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum kaku melihatnya. Dia pun heran dengan tingkah lakuku, “Yu, kamu sudah pulang toh. Makasih ya udah bukain aku pintu” “ya sama-sama, oh ya kamu mandi dulu gih. Air hangatnya dah aku siapin” “apa? Air hangat? Terimakasih Yu” “ya ya cepat nae, entar keburu dingin airnya”. Indra bergegas ke kamar mandi. Aku merapikan tas-tas dan jaket yang tadi dibawanya.
“duh…laper banget nie Yu” dia duduk di sebelahku. “ya makan dah dulu Ndra”, tiba-tiba pembantu kami berkata, “ayo tuan makan yang banyak, itu nyonya sendiri lho yang masak. Bahkan saya tidak dikasi membantu sedikitpun, ayo tuan jarang-jarang lho nyonya mau masak”. “oh yang bener Yu?” “iya, cepetan makan…entar keburu dingin”. Lalu dia makan dengan lahapnya padahal makanan yang ku buat bisa dikatakan sederhana sekali. Malamnya aku mendekati dia yang seperti biasa duduk-duduk di teras depan. “Ndra…” “eh Yuri, da apa?” “aku….aku ingin….”lalu ku ambil tangannya. “kenapa Yu?” “Sorry, selama ini aku tidak menghiraukan permintaan maafmu. Aku merasa bersalah padamu, aku harap kau bisa memaafkanku” “baiklah, tenang saja aku tidak pernah menganggap kau menyakitiku, tapi aku sangat bahagia karena kau tetap mau ada di sisiku” “oh ya Indra, aku rasa aku tidak jadi meminta cerai padamu” “kamu sungguh-sungguh Yu?” “iya Ndra, aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik mulai sekarang” “apa kau tidak main-main?” “iya, buat apa aku main-main” “baiklah kalau kau yang meminta, tapi ada satu hal yang harus kau camkan baik-baik Yu” “apa itu Ndra?” “sini, mendekatlah padaku” lalu aku mendekat…dia membisikkan kalimat yang membuatku tersenyum, “sebagai istri apa kau tahu kewajibanmu?” “maksudmu?” “aduh, masak ga ngerti sie? Ternyata kamu masih tetap seperti dulu ya, masih telmi masalah seperti ini” “kamu juga sie, to do point juga nae” tiba-tiba dia menggendongku, “masih belum ngerti juga?” “oh…ya..ya, aku mengerti…”
Saat itulah kehidupan baru kami dimulai, dan beberapa bulan lagi aku pun hamil. Kedua orang tua kami sangat bahagia melihat kami berdua. Sementara hubungan dengan Badra sudah mulai membaik, kami sudah terbiasa dengan hidup kami masing-masing. Ternyata kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, meski kita berusaha keras merubahnya, namun apabila Tuhan sudah menghendakinya semua apa pun pasti akan bisa terjadi……