Penutup
Bagi semua orang yang
Pernah jatuh cinta
Percayalah apabila
Dialah cinta sejati kita
Dia takkan pernah
Berpaling dari cinta kita
Meski waktu dan rupa
Ingin menyembunyikan cinta itu
Senin, 12 April 2010
SEVENTEEN
Hari Minggu yang cerah, Danan masih sarapan pagi di apartemennya. Tiba-tiba ada telepon “ya halo” “halo kak, ni Tari aku ingin ketemuan ntar siang bisa kan?” “ya” “soalnya ada hal penting yang ingin aku omongin” “ok”. Uuh si Tari pake bilang mau ngomong penting lagi, pasti itu Cuma omong kosong. Ahtapi mau gimana lagi, ntar dia marah lagi.kata Danan dalam hatinya.
Sementara di rumah Asti..
“kak ntar siang kita jalan-jalan yuk” “aduh kakak lagi sibuk bersih-bersih nih, bantuin apa De” “ya itu kan nanti siang kak. Ok deh aku bantuin tapi kakak harus mau ikut aku” “iya.iya”.
Tibalah Asti dan Ade di tempat itu, betapa terkejutnya Asti melihat Danan dan Tari di sana. Tapi Ade menyuruhnya duduk di dekat mereka. “hai kak Asti” “hai” Asti dan Danan bertatapan tak mengerti. “kalian pasti bingung, ini rencana aku dan Ade.” “buat apa Tar?” “e..aku tau kalian kasihan denganku” spontan Asti menoleh ke adiknya, pasti adiknya yang bilang ke Tari. “aku tau aku sudah egois kak selama ini. Jadi sekarang aku ingin menghapus kesalahanku selama ini.” “maksud kamu?” “aku yakin kalian pasti masih saling mencintai, meski kak Danan sudah bertunangan denganku. Dan sekarang aku putuskan untuk menyudahi sandiwara ini kak. Kalian harus bersatu kembali”, Tari mengambil tangan Asti dan Danan dan menyatukannya. “aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” “tapi..” “aku pasti akan jauh lebih sakit jika kak Danan menderita, jadi berbahagialah”
Sejak saat itu mereka bertiga berbaikan dan Asti serta Danan selalu berusaha menemani Tari. Sampai Tari menemukan seseorang yang benar-benar dibutuhkannya lebih dari seorang teman yaitu Jerry. Bagaimanapun Tari baru menyadari bahwa Jerry sangat mencintainya. Mereka menikah meski Jerry pun tau hidup Tari tak lama lagi. Tapi ada satu masalah yang membebani mereka, Tari menderita kanker rahim, dan ia menyembunyikan kehamilannya yang baru beberapa bulan. Sampai Asti menjenguknya ke rumahnya. “Tar, kok belakangan ini aku liat kamu tambah rakus dan gemuk” “ah kamu ini bisa aja” “bener, jangan-jangan…” “Kak, aku emang lagi hamil” seketika Asti berdiri “apa, kamu tau kan resikonya As. Lalu apa Jerry tau?” “ya aku boongin dia, abis apa gunanya jadi wanita kalo ga bisa punya anak” “tapi taruhannya nyawa Tar” “ga apa-apa kak, walau bagaimanapun hidupku juga lagi beberapa tahun, aku rasa g ada salahnya aku punya anak. Anak ini yang akan mengingatkan kalian pada diriku kelak” “aku tak bisa bicara apa-apa lagi jika keputusanmu sudah bulat”
Akhirnya Tari menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan anaknya. Semua orang terharu bahkan anak yang dilahirkannya itu sangat sehat tak kurang suatu apa pun. Pengorbanan cinta sejati yang telah diperlihatkan Tari membuat Asti dan Danan berfikir ternyata seorang Tari sebenarnya seorang yang penuh kasih. Dan kini hanya ada satu pertanyaan buat mereka. Kapan cinta sejati mereka terbuktikan?
Belum terikat cinta itu
Masih menyisakan batas tak terlihat
Menahan gumpalan asa dan gelora
Merangkul kasih menjemput esok
Bersama membuktikan ketulusan
Kesetiaan, dan kejujuran
Sampai ajal menjemput
THE END
Hari Minggu yang cerah, Danan masih sarapan pagi di apartemennya. Tiba-tiba ada telepon “ya halo” “halo kak, ni Tari aku ingin ketemuan ntar siang bisa kan?” “ya” “soalnya ada hal penting yang ingin aku omongin” “ok”. Uuh si Tari pake bilang mau ngomong penting lagi, pasti itu Cuma omong kosong. Ahtapi mau gimana lagi, ntar dia marah lagi.kata Danan dalam hatinya.
Sementara di rumah Asti..
“kak ntar siang kita jalan-jalan yuk” “aduh kakak lagi sibuk bersih-bersih nih, bantuin apa De” “ya itu kan nanti siang kak. Ok deh aku bantuin tapi kakak harus mau ikut aku” “iya.iya”.
Tibalah Asti dan Ade di tempat itu, betapa terkejutnya Asti melihat Danan dan Tari di sana. Tapi Ade menyuruhnya duduk di dekat mereka. “hai kak Asti” “hai” Asti dan Danan bertatapan tak mengerti. “kalian pasti bingung, ini rencana aku dan Ade.” “buat apa Tar?” “e..aku tau kalian kasihan denganku” spontan Asti menoleh ke adiknya, pasti adiknya yang bilang ke Tari. “aku tau aku sudah egois kak selama ini. Jadi sekarang aku ingin menghapus kesalahanku selama ini.” “maksud kamu?” “aku yakin kalian pasti masih saling mencintai, meski kak Danan sudah bertunangan denganku. Dan sekarang aku putuskan untuk menyudahi sandiwara ini kak. Kalian harus bersatu kembali”, Tari mengambil tangan Asti dan Danan dan menyatukannya. “aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” “tapi..” “aku pasti akan jauh lebih sakit jika kak Danan menderita, jadi berbahagialah”
Sejak saat itu mereka bertiga berbaikan dan Asti serta Danan selalu berusaha menemani Tari. Sampai Tari menemukan seseorang yang benar-benar dibutuhkannya lebih dari seorang teman yaitu Jerry. Bagaimanapun Tari baru menyadari bahwa Jerry sangat mencintainya. Mereka menikah meski Jerry pun tau hidup Tari tak lama lagi. Tapi ada satu masalah yang membebani mereka, Tari menderita kanker rahim, dan ia menyembunyikan kehamilannya yang baru beberapa bulan. Sampai Asti menjenguknya ke rumahnya. “Tar, kok belakangan ini aku liat kamu tambah rakus dan gemuk” “ah kamu ini bisa aja” “bener, jangan-jangan…” “Kak, aku emang lagi hamil” seketika Asti berdiri “apa, kamu tau kan resikonya As. Lalu apa Jerry tau?” “ya aku boongin dia, abis apa gunanya jadi wanita kalo ga bisa punya anak” “tapi taruhannya nyawa Tar” “ga apa-apa kak, walau bagaimanapun hidupku juga lagi beberapa tahun, aku rasa g ada salahnya aku punya anak. Anak ini yang akan mengingatkan kalian pada diriku kelak” “aku tak bisa bicara apa-apa lagi jika keputusanmu sudah bulat”
Akhirnya Tari menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan anaknya. Semua orang terharu bahkan anak yang dilahirkannya itu sangat sehat tak kurang suatu apa pun. Pengorbanan cinta sejati yang telah diperlihatkan Tari membuat Asti dan Danan berfikir ternyata seorang Tari sebenarnya seorang yang penuh kasih. Dan kini hanya ada satu pertanyaan buat mereka. Kapan cinta sejati mereka terbuktikan?
Belum terikat cinta itu
Masih menyisakan batas tak terlihat
Menahan gumpalan asa dan gelora
Merangkul kasih menjemput esok
Bersama membuktikan ketulusan
Kesetiaan, dan kejujuran
Sampai ajal menjemput
THE END
SIXTEEN
Tanggal 15 Desember, reuni sekolah Ade. Ade dan teman-temannya sedang berbincang-bincang “hai De lu makin gaya aja” “gaya gimana?biasa aja lagi” “oh ya gimana kalo kita ke kafe?” “buat apaa sih?” “ya nyari hiburan, kalo di sini kan ga bebas. Lagian gue janji deh ga bakal ngajak lo yang aneh-aneh” “gimana ya” “udah ga usah kebanyakan mikir deh, suer gue ga punya duit bakal mabuk” “ok” “kalo gitu ayo let’s go” mereka menuju ke diskotik.
Lampu kelap-kelip diiringi suara musik yang mledap-mledup. Ade hanya menikmati minuman ringannya dan duduk di depan meja. Ia terkejut karena melihat Tari bersama teman-temannya. Lho itu bukannya Si Tari, kok dia malah seneng-seneng di sini sih. Bukannya dia sedang sakit? Lalu Ade mendekati meja itu, Tari sama sekali tidak tahu wajah Ade. Ade mendengarkan percakapan mereka “hello guys gimana malam ini?” kata teman Tari. “ya happy banget sama kayak malam-malam sebelumnya”, “oh ya Tar, kapan loe bakal kawin?” “bentar lagi, liat aja gue pasti bisa milikin dia” “kalo begitu sebelum loe kawin mending kita seneng-seneng terus.” “ok” “tapi jangan tersinggung ya Tar, sekarang hubungan loe ma Jerry gimana?” “aduh gue juga pusing nih. Si Jerry baek banget ma gue, dia tu lebih merhatiin gue.” “trus kenapa loe milih Danan?” “ya, dia lebih deh pokoknya dibanding si Jerry” “kenyataannya loe menderita sama Danan kan?” “ah bodo amat yang penting juag gue bisa manfaatin si Danan dan semua kelebihannya.” “terserah loe deh” di sisi lain Ade mendengar dengan geram “sialan kakak gue rela ngorbanin dirinya Cuma buat orang yang tak bermoral ini? Pokoknya guemesti kasih pelajaran ntar” tanpa sepengaetahuan Ade sebenarnya itu hanya kamuflase, karena Tari melakukannya untuk melupakan hari-hari kesedihannya menuju hidupnya yang tinggal sebentar.
Lalu Ade pun pura-pura menumpahkan minuman tepat di pakaian Tari “ya ampun brengsek” “sorry deh aku ga sengaja” “pokoknya kamu harus tanggung jawab” “pa sih yang nggak buat cewek secantik kamu” “swit..swit” kata temen Tari, “kalo gitu boleh ga aku bicara sebentar ma kamu” kata Ade “e..ya deh, tapi kamu harus bayarin temen-temen aku ini” “sip” lalu mereka pun pergi menjauh dari temen-teman Tari. “siapa nama loe?” “aku Ade pradipta” “mau bicarain apaan” “kamu kenal Danan?” “ya-iyalah dia kan tunangan gue” “oh..kalian saling cinta ya?” “ga sih si Danan selalu nolak gue, tapi entah kenapa dia sekarang malah berbalik ngebet banget pingin nyayangin gue” “itu karena Asti” “As.ti? loe sebenarnya siapa sih? Tau urusan gue? Jangan-jangan loe suruhan si Asti” “jangan salah aku adiknya Asti dan aku sangat kecewa mereka tidak tau tingkah laku kamu di luar” “mau apa sih loe?” “gue Cuma kasihan ma loe, Danan ngedeketin loe lagi karna dia tau loe sakit” “apa?” “baru nyadar kan loe” “darimana dia tau?” “kakak gue yang ngasih tau dan nyuruh Danan ma loe lagi” “ga mungkin loe pasti bohong.” “terserah loe mau percaya atau ga. Yang jelas gue bakal beberin semua ini” “tolong jangan, kamu ga tau perasaan aku saat ini”,kata Tari sambil mengangis “mau apa lagi loe?” “aku tau aku salah, tapi aku hanya ingin nglupain sakitku ini. Apa itu salah? Aku tak tau harus berbagi dengan siapa, harus ke mana. Jadi aku pergi ke tempat ini saja.” “tapi itu malah membuat keadaan kamu tambah buruk kan?” “persetan dengan tubuh ini. Tubuh ini hanya menunggu waktu saja.” “cukup Tari, justru kakak gue dan Danan yang akan nemenin kamu, termasuk juga aku. Percayalah kami akan jadi teman baikmu.” “benarkah itu?” “tapi kamu harus janji satu hal padaku” “apa?” “kamu harus menyatukan mereka kembali, aku yakin nanti kamu tidak akan terus-terusan merasa bersalah.” “aku setuju, sudah waktunya mereka bersatu.
Tanggal 15 Desember, reuni sekolah Ade. Ade dan teman-temannya sedang berbincang-bincang “hai De lu makin gaya aja” “gaya gimana?biasa aja lagi” “oh ya gimana kalo kita ke kafe?” “buat apaa sih?” “ya nyari hiburan, kalo di sini kan ga bebas. Lagian gue janji deh ga bakal ngajak lo yang aneh-aneh” “gimana ya” “udah ga usah kebanyakan mikir deh, suer gue ga punya duit bakal mabuk” “ok” “kalo gitu ayo let’s go” mereka menuju ke diskotik.
Lampu kelap-kelip diiringi suara musik yang mledap-mledup. Ade hanya menikmati minuman ringannya dan duduk di depan meja. Ia terkejut karena melihat Tari bersama teman-temannya. Lho itu bukannya Si Tari, kok dia malah seneng-seneng di sini sih. Bukannya dia sedang sakit? Lalu Ade mendekati meja itu, Tari sama sekali tidak tahu wajah Ade. Ade mendengarkan percakapan mereka “hello guys gimana malam ini?” kata teman Tari. “ya happy banget sama kayak malam-malam sebelumnya”, “oh ya Tar, kapan loe bakal kawin?” “bentar lagi, liat aja gue pasti bisa milikin dia” “kalo begitu sebelum loe kawin mending kita seneng-seneng terus.” “ok” “tapi jangan tersinggung ya Tar, sekarang hubungan loe ma Jerry gimana?” “aduh gue juga pusing nih. Si Jerry baek banget ma gue, dia tu lebih merhatiin gue.” “trus kenapa loe milih Danan?” “ya, dia lebih deh pokoknya dibanding si Jerry” “kenyataannya loe menderita sama Danan kan?” “ah bodo amat yang penting juag gue bisa manfaatin si Danan dan semua kelebihannya.” “terserah loe deh” di sisi lain Ade mendengar dengan geram “sialan kakak gue rela ngorbanin dirinya Cuma buat orang yang tak bermoral ini? Pokoknya guemesti kasih pelajaran ntar” tanpa sepengaetahuan Ade sebenarnya itu hanya kamuflase, karena Tari melakukannya untuk melupakan hari-hari kesedihannya menuju hidupnya yang tinggal sebentar.
Lalu Ade pun pura-pura menumpahkan minuman tepat di pakaian Tari “ya ampun brengsek” “sorry deh aku ga sengaja” “pokoknya kamu harus tanggung jawab” “pa sih yang nggak buat cewek secantik kamu” “swit..swit” kata temen Tari, “kalo gitu boleh ga aku bicara sebentar ma kamu” kata Ade “e..ya deh, tapi kamu harus bayarin temen-temen aku ini” “sip” lalu mereka pun pergi menjauh dari temen-teman Tari. “siapa nama loe?” “aku Ade pradipta” “mau bicarain apaan” “kamu kenal Danan?” “ya-iyalah dia kan tunangan gue” “oh..kalian saling cinta ya?” “ga sih si Danan selalu nolak gue, tapi entah kenapa dia sekarang malah berbalik ngebet banget pingin nyayangin gue” “itu karena Asti” “As.ti? loe sebenarnya siapa sih? Tau urusan gue? Jangan-jangan loe suruhan si Asti” “jangan salah aku adiknya Asti dan aku sangat kecewa mereka tidak tau tingkah laku kamu di luar” “mau apa sih loe?” “gue Cuma kasihan ma loe, Danan ngedeketin loe lagi karna dia tau loe sakit” “apa?” “baru nyadar kan loe” “darimana dia tau?” “kakak gue yang ngasih tau dan nyuruh Danan ma loe lagi” “ga mungkin loe pasti bohong.” “terserah loe mau percaya atau ga. Yang jelas gue bakal beberin semua ini” “tolong jangan, kamu ga tau perasaan aku saat ini”,kata Tari sambil mengangis “mau apa lagi loe?” “aku tau aku salah, tapi aku hanya ingin nglupain sakitku ini. Apa itu salah? Aku tak tau harus berbagi dengan siapa, harus ke mana. Jadi aku pergi ke tempat ini saja.” “tapi itu malah membuat keadaan kamu tambah buruk kan?” “persetan dengan tubuh ini. Tubuh ini hanya menunggu waktu saja.” “cukup Tari, justru kakak gue dan Danan yang akan nemenin kamu, termasuk juga aku. Percayalah kami akan jadi teman baikmu.” “benarkah itu?” “tapi kamu harus janji satu hal padaku” “apa?” “kamu harus menyatukan mereka kembali, aku yakin nanti kamu tidak akan terus-terusan merasa bersalah.” “aku setuju, sudah waktunya mereka bersatu.
Minggu, 04 April 2010
FIFTEEN
Di apartemennya Danan sendiri, cuaca saat itu masih mendung. Danan duduk menatap tvnya, tapi tak ada acara yang dapat menarik hatinya. Tiba-tiba ada suara ketokan pintu, “ya” Danan seakan tak percaya ada sosok wanita yang sangat dicintainya dan tak pernah disangka-sangkanya akan datang ke apartemennya. “Dan…aku ingin bicara” “oh silakan masuk As” Danan begitu gugup dan tak tau harus berbuat apa. “mau minum apa As?” “ga usah repot-repot Dan, aku hanya sebentar. Aku mau berterimakasih sekaligus minta maaf” “minta maaf?” “ya soal adikku yang bersikap kasar padamu.” “lupakan saja As, aku sudah memaafkan adikmu kok.” “oh ya bagaimana hubunganmu dengan Tari?” “ironis sekali As, dia maunya menang sendiri. Ga pernah berubah meski kami sudah bertunangan. Terkadang aku ingin mengakhirinya, tapi mengingat keadaannya….aku bingung harus berbuat apa” “ya jalanin aja, dia butuh kasih sayangmu. Aku juga ke sini untuk ngucapin makasih atas tumpanganmu tadi siang dan selamat juag atas pertunanganmu” “entahlah” “oh ya aku pulang dulu, sudah malam” “hati-hati”.
Di rumah Asti
“kakak habis dari mana kok basah kuyup?” “e.. dari kantor” “bohong, kakak pasti ke rumah bajingan itu” “siapa?” “si Danan” “Ade, cukup, kamu tidak yahu apa-apa tentang hubungan kami. Tolong jangan ikut campur” “tapi buat apa sih kakak ketemu dia lagi? Dia kan udah nyakitin kakak?” Asti diam sejenak “kamu ga tahu perasaan kakak De. Sebenarnya kami saling jatuh cinta, tapi……” “tapi kenapa kak?” “ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan dia daripada kakak” “siapa?” “Tari, dia menderita penyakit kanker rahim” Ade tak bisa berkata apa-apa lagi. Dan Asti pergi menuju kamarnya.
Ade kebbingungan menghadapi masalah kakaknya, di satu sisi ia ingin menyatukan kakaknya tapi di sisi lain ia sadar kakaknya benar. Lalu ia berkata di dalam hati “ya kalo benar kakakku bahagia dengan pilihannya aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi sebaiknya aku jugaminta maaf pada Danan, aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak.”
Esoknya…
“ada apa De” “aku benar-benar minta maaf soal waktu ini. Aku sudah berburuk sangka terhadapmu. Sekarang aku tahu apa yang terjadi sebenarnya.” “ya, jadi Asti sudah memberitahumu tentang hubungan kami?” “benar, dan aku sangat salut dengan kalian.” “terkadang hidup memang tak seperti yang kita inginkan De” mereka terus bercengkrama seperti dua sahabat yang jarang bertemu.
Di apartemennya Danan sendiri, cuaca saat itu masih mendung. Danan duduk menatap tvnya, tapi tak ada acara yang dapat menarik hatinya. Tiba-tiba ada suara ketokan pintu, “ya” Danan seakan tak percaya ada sosok wanita yang sangat dicintainya dan tak pernah disangka-sangkanya akan datang ke apartemennya. “Dan…aku ingin bicara” “oh silakan masuk As” Danan begitu gugup dan tak tau harus berbuat apa. “mau minum apa As?” “ga usah repot-repot Dan, aku hanya sebentar. Aku mau berterimakasih sekaligus minta maaf” “minta maaf?” “ya soal adikku yang bersikap kasar padamu.” “lupakan saja As, aku sudah memaafkan adikmu kok.” “oh ya bagaimana hubunganmu dengan Tari?” “ironis sekali As, dia maunya menang sendiri. Ga pernah berubah meski kami sudah bertunangan. Terkadang aku ingin mengakhirinya, tapi mengingat keadaannya….aku bingung harus berbuat apa” “ya jalanin aja, dia butuh kasih sayangmu. Aku juga ke sini untuk ngucapin makasih atas tumpanganmu tadi siang dan selamat juag atas pertunanganmu” “entahlah” “oh ya aku pulang dulu, sudah malam” “hati-hati”.
Di rumah Asti
“kakak habis dari mana kok basah kuyup?” “e.. dari kantor” “bohong, kakak pasti ke rumah bajingan itu” “siapa?” “si Danan” “Ade, cukup, kamu tidak yahu apa-apa tentang hubungan kami. Tolong jangan ikut campur” “tapi buat apa sih kakak ketemu dia lagi? Dia kan udah nyakitin kakak?” Asti diam sejenak “kamu ga tahu perasaan kakak De. Sebenarnya kami saling jatuh cinta, tapi……” “tapi kenapa kak?” “ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan dia daripada kakak” “siapa?” “Tari, dia menderita penyakit kanker rahim” Ade tak bisa berkata apa-apa lagi. Dan Asti pergi menuju kamarnya.
Ade kebbingungan menghadapi masalah kakaknya, di satu sisi ia ingin menyatukan kakaknya tapi di sisi lain ia sadar kakaknya benar. Lalu ia berkata di dalam hati “ya kalo benar kakakku bahagia dengan pilihannya aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi sebaiknya aku jugaminta maaf pada Danan, aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak.”
Esoknya…
“ada apa De” “aku benar-benar minta maaf soal waktu ini. Aku sudah berburuk sangka terhadapmu. Sekarang aku tahu apa yang terjadi sebenarnya.” “ya, jadi Asti sudah memberitahumu tentang hubungan kami?” “benar, dan aku sangat salut dengan kalian.” “terkadang hidup memang tak seperti yang kita inginkan De” mereka terus bercengkrama seperti dua sahabat yang jarang bertemu.
FOURTEEN
“As bukannya kita baru mulai?” “udah Dan, relain aja” “ya bila itu maumu.” Asti melepaskan pelukannya dan mengecup kening Danan. “Aku harus pergi” Asti meninggalkan Danan yang masih duduk menunduk.
Hari yang panjang
Dipenuhi seribu satu kata-kata
Yang mengharukan
Sekaligus menyesakkan hati
Asti dan Danan tak dapat tidur semalaman, esok harinya mereka benar-benar tak saling bicara. Penampilan mereka pun berubah, Asti semakin kurus, mukanya pun seperti tak terurus. Sementara Danan pun pakaiannya sembrawut, parfumnya sudah tak tercium lagi. Semua orang heran melihat perubahan mereka.
Dua bulan kemudian…
“kak Danan aku ga nyangka lho, kita bisa tunangan. Apalagi Kak Danan sudah tak berhubungan lagi dengan Kak Asti.” “sudah Tari, jangan banyak bicara” “lho kakak kok marah sih” “udah cepetan pilih bajunya”
Asti lebih banyak menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Hubungannya dengan Rama sudah kandas, tapi Rama tak pernah berhenti mengejarnya. Bahkan hanya untuk sekedar makan siang untuk Asti ia rela meninggalakn meeting yang sangat penting. Adik Asti yang bernama Ade sangat mengerti perasaan kakaknya. Tapi ia juga tau kalo kakaknya tidak ingin dicampuri urusan pribadinya.
Di kantor….
“halo kak, ibu sakit”, kata Ade dalam telepon. “apa de?, ya ya sekarang kakak ke sana”. Lalu Asti pun pergi ke ruangan Danan dan meminta izin “maaf pak, saya harus permisi sebentar” “ada apa” mereka bicara sambil tak berpandangan. “ibu saya sakit” “karena hujan, saya saja yang mengantarmu” “ta…pi” Danan segera membereskan file-filenya dan langsung menuju mobilnya sementara Asti membuntutinya dari belakang dengan perasaan tak menentu.
Di rumah sakit….
Saat Ade melihat Danan, ia sangat geram tapi karena ada kakaknya ia menahan emosinya. Meski Danan sudah menyapanya, tapi Ade hanya tersenyum masam. Kemudian saat Asti berbicara dengan ibunya, Ade menarik tangan Danan, “aku ingin bicara sebentar Dan” mereka ke luar. “buat apa sih kamu di sini?” “aku hanya ingin menjenguk ibumu” “sudah cepet pergi kehadiranmu tak dibutuhkan lagi di sini” “tapi kenapa kamu begini De?” “pake nanya lagi, liat keadaan kakakku gara-gara kamu” “kamu salah paham De” “persetan, kamu mau cara baik-baik atau kasar?” “ok ok aku akan keluar” akhirnya Danan pergi dengan langkah gontai.
“ibu bagaimana keadaan ibu sekarang?” “ibu hanya butuh istirahat saja nak, ga apa-apa kok. Oh ya tadi siapa yang kamu ajak?” “oh itu bosku bu, dia baik sekali mau mengantar aku” “tapi sekarang kemana dia nak?” “e..sebentar aku cari dulu ya bu, aku belum sempat berterimakasih” “iya”. Asti keluar dari ruangan itu. “De mana Danan?” “udah aku usir” “kamu ga punay hak untuk ngusir dia tau” “kakak ini bagaimana sih? Aku muak liat samdiwara kakak ma dia. Kalian sedang musuhan kan?” “itu bukan berarti kamu bisa seenaknya De. Dia bos aku” “tapi kak….” “sudahlah sekali lagi kamu berlaku seperti itu kakak tak kan pernahmemaafkankamu lagi” lalu Asti pergi. Ade mengumpat dalam hati “dasar nenek sihir, udah dibantuin malah ngomel”.
“As bukannya kita baru mulai?” “udah Dan, relain aja” “ya bila itu maumu.” Asti melepaskan pelukannya dan mengecup kening Danan. “Aku harus pergi” Asti meninggalkan Danan yang masih duduk menunduk.
Hari yang panjang
Dipenuhi seribu satu kata-kata
Yang mengharukan
Sekaligus menyesakkan hati
Asti dan Danan tak dapat tidur semalaman, esok harinya mereka benar-benar tak saling bicara. Penampilan mereka pun berubah, Asti semakin kurus, mukanya pun seperti tak terurus. Sementara Danan pun pakaiannya sembrawut, parfumnya sudah tak tercium lagi. Semua orang heran melihat perubahan mereka.
Dua bulan kemudian…
“kak Danan aku ga nyangka lho, kita bisa tunangan. Apalagi Kak Danan sudah tak berhubungan lagi dengan Kak Asti.” “sudah Tari, jangan banyak bicara” “lho kakak kok marah sih” “udah cepetan pilih bajunya”
Asti lebih banyak menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Hubungannya dengan Rama sudah kandas, tapi Rama tak pernah berhenti mengejarnya. Bahkan hanya untuk sekedar makan siang untuk Asti ia rela meninggalakn meeting yang sangat penting. Adik Asti yang bernama Ade sangat mengerti perasaan kakaknya. Tapi ia juga tau kalo kakaknya tidak ingin dicampuri urusan pribadinya.
Di kantor….
“halo kak, ibu sakit”, kata Ade dalam telepon. “apa de?, ya ya sekarang kakak ke sana”. Lalu Asti pun pergi ke ruangan Danan dan meminta izin “maaf pak, saya harus permisi sebentar” “ada apa” mereka bicara sambil tak berpandangan. “ibu saya sakit” “karena hujan, saya saja yang mengantarmu” “ta…pi” Danan segera membereskan file-filenya dan langsung menuju mobilnya sementara Asti membuntutinya dari belakang dengan perasaan tak menentu.
Di rumah sakit….
Saat Ade melihat Danan, ia sangat geram tapi karena ada kakaknya ia menahan emosinya. Meski Danan sudah menyapanya, tapi Ade hanya tersenyum masam. Kemudian saat Asti berbicara dengan ibunya, Ade menarik tangan Danan, “aku ingin bicara sebentar Dan” mereka ke luar. “buat apa sih kamu di sini?” “aku hanya ingin menjenguk ibumu” “sudah cepet pergi kehadiranmu tak dibutuhkan lagi di sini” “tapi kenapa kamu begini De?” “pake nanya lagi, liat keadaan kakakku gara-gara kamu” “kamu salah paham De” “persetan, kamu mau cara baik-baik atau kasar?” “ok ok aku akan keluar” akhirnya Danan pergi dengan langkah gontai.
“ibu bagaimana keadaan ibu sekarang?” “ibu hanya butuh istirahat saja nak, ga apa-apa kok. Oh ya tadi siapa yang kamu ajak?” “oh itu bosku bu, dia baik sekali mau mengantar aku” “tapi sekarang kemana dia nak?” “e..sebentar aku cari dulu ya bu, aku belum sempat berterimakasih” “iya”. Asti keluar dari ruangan itu. “De mana Danan?” “udah aku usir” “kamu ga punay hak untuk ngusir dia tau” “kakak ini bagaimana sih? Aku muak liat samdiwara kakak ma dia. Kalian sedang musuhan kan?” “itu bukan berarti kamu bisa seenaknya De. Dia bos aku” “tapi kak….” “sudahlah sekali lagi kamu berlaku seperti itu kakak tak kan pernahmemaafkankamu lagi” lalu Asti pergi. Ade mengumpat dalam hati “dasar nenek sihir, udah dibantuin malah ngomel”.