Senin, 12 April 2010

SEVENTEEN
Hari Minggu yang cerah, Danan masih sarapan pagi di apartemennya. Tiba-tiba ada telepon “ya halo” “halo kak, ni Tari aku ingin ketemuan ntar siang bisa kan?” “ya” “soalnya ada hal penting yang ingin aku omongin” “ok”. Uuh si Tari pake bilang mau ngomong penting lagi, pasti itu Cuma omong kosong. Ahtapi mau gimana lagi, ntar dia marah lagi.kata Danan dalam hatinya.
Sementara di rumah Asti..
“kak ntar siang kita jalan-jalan yuk” “aduh kakak lagi sibuk bersih-bersih nih, bantuin apa De” “ya itu kan nanti siang kak. Ok deh aku bantuin tapi kakak harus mau ikut aku” “iya.iya”.
Tibalah Asti dan Ade di tempat itu, betapa terkejutnya Asti melihat Danan dan Tari di sana. Tapi Ade menyuruhnya duduk di dekat mereka. “hai kak Asti” “hai” Asti dan Danan bertatapan tak mengerti. “kalian pasti bingung, ini rencana aku dan Ade.” “buat apa Tar?” “e..aku tau kalian kasihan denganku” spontan Asti menoleh ke adiknya, pasti adiknya yang bilang ke Tari. “aku tau aku sudah egois kak selama ini. Jadi sekarang aku ingin menghapus kesalahanku selama ini.” “maksud kamu?” “aku yakin kalian pasti masih saling mencintai, meski kak Danan sudah bertunangan denganku. Dan sekarang aku putuskan untuk menyudahi sandiwara ini kak. Kalian harus bersatu kembali”, Tari mengambil tangan Asti dan Danan dan menyatukannya. “aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” “tapi..” “aku pasti akan jauh lebih sakit jika kak Danan menderita, jadi berbahagialah”
Sejak saat itu mereka bertiga berbaikan dan Asti serta Danan selalu berusaha menemani Tari. Sampai Tari menemukan seseorang yang benar-benar dibutuhkannya lebih dari seorang teman yaitu Jerry. Bagaimanapun Tari baru menyadari bahwa Jerry sangat mencintainya. Mereka menikah meski Jerry pun tau hidup Tari tak lama lagi. Tapi ada satu masalah yang membebani mereka, Tari menderita kanker rahim, dan ia menyembunyikan kehamilannya yang baru beberapa bulan. Sampai Asti menjenguknya ke rumahnya. “Tar, kok belakangan ini aku liat kamu tambah rakus dan gemuk” “ah kamu ini bisa aja” “bener, jangan-jangan…” “Kak, aku emang lagi hamil” seketika Asti berdiri “apa, kamu tau kan resikonya As. Lalu apa Jerry tau?” “ya aku boongin dia, abis apa gunanya jadi wanita kalo ga bisa punya anak” “tapi taruhannya nyawa Tar” “ga apa-apa kak, walau bagaimanapun hidupku juga lagi beberapa tahun, aku rasa g ada salahnya aku punya anak. Anak ini yang akan mengingatkan kalian pada diriku kelak” “aku tak bisa bicara apa-apa lagi jika keputusanmu sudah bulat”
Akhirnya Tari menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkan anaknya. Semua orang terharu bahkan anak yang dilahirkannya itu sangat sehat tak kurang suatu apa pun. Pengorbanan cinta sejati yang telah diperlihatkan Tari membuat Asti dan Danan berfikir ternyata seorang Tari sebenarnya seorang yang penuh kasih. Dan kini hanya ada satu pertanyaan buat mereka. Kapan cinta sejati mereka terbuktikan?
Belum terikat cinta itu
Masih menyisakan batas tak terlihat
Menahan gumpalan asa dan gelora
Merangkul kasih menjemput esok
Bersama membuktikan ketulusan
Kesetiaan, dan kejujuran
Sampai ajal menjemput


THE END

0 komentar:

Posting Komentar