Minggu, 04 April 2010

FOURTEEN
“As bukannya kita baru mulai?” “udah Dan, relain aja” “ya bila itu maumu.” Asti melepaskan pelukannya dan mengecup kening Danan. “Aku harus pergi” Asti meninggalkan Danan yang masih duduk menunduk.
Hari yang panjang
Dipenuhi seribu satu kata-kata
Yang mengharukan
Sekaligus menyesakkan hati
Asti dan Danan tak dapat tidur semalaman, esok harinya mereka benar-benar tak saling bicara. Penampilan mereka pun berubah, Asti semakin kurus, mukanya pun seperti tak terurus. Sementara Danan pun pakaiannya sembrawut, parfumnya sudah tak tercium lagi. Semua orang heran melihat perubahan mereka.
Dua bulan kemudian…
“kak Danan aku ga nyangka lho, kita bisa tunangan. Apalagi Kak Danan sudah tak berhubungan lagi dengan Kak Asti.” “sudah Tari, jangan banyak bicara” “lho kakak kok marah sih” “udah cepetan pilih bajunya”
Asti lebih banyak menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Hubungannya dengan Rama sudah kandas, tapi Rama tak pernah berhenti mengejarnya. Bahkan hanya untuk sekedar makan siang untuk Asti ia rela meninggalakn meeting yang sangat penting. Adik Asti yang bernama Ade sangat mengerti perasaan kakaknya. Tapi ia juga tau kalo kakaknya tidak ingin dicampuri urusan pribadinya.
Di kantor….
“halo kak, ibu sakit”, kata Ade dalam telepon. “apa de?, ya ya sekarang kakak ke sana”. Lalu Asti pun pergi ke ruangan Danan dan meminta izin “maaf pak, saya harus permisi sebentar” “ada apa” mereka bicara sambil tak berpandangan. “ibu saya sakit” “karena hujan, saya saja yang mengantarmu” “ta…pi” Danan segera membereskan file-filenya dan langsung menuju mobilnya sementara Asti membuntutinya dari belakang dengan perasaan tak menentu.
Di rumah sakit….
Saat Ade melihat Danan, ia sangat geram tapi karena ada kakaknya ia menahan emosinya. Meski Danan sudah menyapanya, tapi Ade hanya tersenyum masam. Kemudian saat Asti berbicara dengan ibunya, Ade menarik tangan Danan, “aku ingin bicara sebentar Dan” mereka ke luar. “buat apa sih kamu di sini?” “aku hanya ingin menjenguk ibumu” “sudah cepet pergi kehadiranmu tak dibutuhkan lagi di sini” “tapi kenapa kamu begini De?” “pake nanya lagi, liat keadaan kakakku gara-gara kamu” “kamu salah paham De” “persetan, kamu mau cara baik-baik atau kasar?” “ok ok aku akan keluar” akhirnya Danan pergi dengan langkah gontai.
“ibu bagaimana keadaan ibu sekarang?” “ibu hanya butuh istirahat saja nak, ga apa-apa kok. Oh ya tadi siapa yang kamu ajak?” “oh itu bosku bu, dia baik sekali mau mengantar aku” “tapi sekarang kemana dia nak?” “e..sebentar aku cari dulu ya bu, aku belum sempat berterimakasih” “iya”. Asti keluar dari ruangan itu. “De mana Danan?” “udah aku usir” “kamu ga punay hak untuk ngusir dia tau” “kakak ini bagaimana sih? Aku muak liat samdiwara kakak ma dia. Kalian sedang musuhan kan?” “itu bukan berarti kamu bisa seenaknya De. Dia bos aku” “tapi kak….” “sudahlah sekali lagi kamu berlaku seperti itu kakak tak kan pernahmemaafkankamu lagi” lalu Asti pergi. Ade mengumpat dalam hati “dasar nenek sihir, udah dibantuin malah ngomel”.

0 komentar:

Posting Komentar