Minggu, 04 April 2010

FIFTEEN
Di apartemennya Danan sendiri, cuaca saat itu masih mendung. Danan duduk menatap tvnya, tapi tak ada acara yang dapat menarik hatinya. Tiba-tiba ada suara ketokan pintu, “ya” Danan seakan tak percaya ada sosok wanita yang sangat dicintainya dan tak pernah disangka-sangkanya akan datang ke apartemennya. “Dan…aku ingin bicara” “oh silakan masuk As” Danan begitu gugup dan tak tau harus berbuat apa. “mau minum apa As?” “ga usah repot-repot Dan, aku hanya sebentar. Aku mau berterimakasih sekaligus minta maaf” “minta maaf?” “ya soal adikku yang bersikap kasar padamu.” “lupakan saja As, aku sudah memaafkan adikmu kok.” “oh ya bagaimana hubunganmu dengan Tari?” “ironis sekali As, dia maunya menang sendiri. Ga pernah berubah meski kami sudah bertunangan. Terkadang aku ingin mengakhirinya, tapi mengingat keadaannya….aku bingung harus berbuat apa” “ya jalanin aja, dia butuh kasih sayangmu. Aku juga ke sini untuk ngucapin makasih atas tumpanganmu tadi siang dan selamat juag atas pertunanganmu” “entahlah” “oh ya aku pulang dulu, sudah malam” “hati-hati”.
Di rumah Asti
“kakak habis dari mana kok basah kuyup?” “e.. dari kantor” “bohong, kakak pasti ke rumah bajingan itu” “siapa?” “si Danan” “Ade, cukup, kamu tidak yahu apa-apa tentang hubungan kami. Tolong jangan ikut campur” “tapi buat apa sih kakak ketemu dia lagi? Dia kan udah nyakitin kakak?” Asti diam sejenak “kamu ga tahu perasaan kakak De. Sebenarnya kami saling jatuh cinta, tapi……” “tapi kenapa kak?” “ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan dia daripada kakak” “siapa?” “Tari, dia menderita penyakit kanker rahim” Ade tak bisa berkata apa-apa lagi. Dan Asti pergi menuju kamarnya.
Ade kebbingungan menghadapi masalah kakaknya, di satu sisi ia ingin menyatukan kakaknya tapi di sisi lain ia sadar kakaknya benar. Lalu ia berkata di dalam hati “ya kalo benar kakakku bahagia dengan pilihannya aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi sebaiknya aku jugaminta maaf pada Danan, aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak.”
Esoknya…
“ada apa De” “aku benar-benar minta maaf soal waktu ini. Aku sudah berburuk sangka terhadapmu. Sekarang aku tahu apa yang terjadi sebenarnya.” “ya, jadi Asti sudah memberitahumu tentang hubungan kami?” “benar, dan aku sangat salut dengan kalian.” “terkadang hidup memang tak seperti yang kita inginkan De” mereka terus bercengkrama seperti dua sahabat yang jarang bertemu.

0 komentar:

Posting Komentar