Senin, 06 September 2010

KESABARAN TAK SELALU BERUJUNG BAHAGIA

Tak pernah terselip dalam benak ku
Kalau kau tlah tinggalkan ku
Tanpa memikirkan perasaan ku
Langkah Deny semakin berat ia rasakan, cintanya tidak ada lagi, meski sampai titik batas hidupnya dia tidak pernah bisa memilikinya. Dia menjenguk Ratna di rumah sakit tepat beberapa saat setelah Ratna menutup matanya. Semua terasa seperti mimpi buruk baginya, Ratna yang kelihatan sangat sehat dan ceria kini terkulai kaku di perbaringannya. Tangannya yang dingin, mukanya yang pucat…tak pernah ada dalam benak Deny sebelumnya.
Tak ada seorang pun selain dia di kamar salah satu rumah sakit itu, hanya dentuman jam yang berdetak detik demi detik menemaninya melewati malam-malam saat ia menunggu Ratna sadar dari komanya. Tapi semua yang ada di sana begitu dingin, begitu sepi, dan begitu gelap sama seperti apa yang dirasakannya sekarang. Ia tidak pernah tidur, meskipun sesekali ia tertidur, namun dengan cepat ia bangun kembali. Berharap keajaiban akan datang, meski dokter telah mengatakan bahwa harapan hidup Ratna hanya 10persen. Ia tak pernah menyerah berdoa dan berharap, kadang-kadang ia menangis mengingat semua kenangan yang dilaluinya bersama Ratna. Namun tak satupun menenangkan hatinya.
Persahabatan sangat penting bagi Ratna dan Putri, sejak kelas satu SMA mereka selalu bersama-sama. Bahkan saat mereka berpisah kelas, tidak pernah sekalipun mereka putus hubungan. Suka duka dilalui bersama, dan mereka sama-sama belum pernah pacaran…. Sampai suatu ketika Putri datang ke rumah Ratna, “ha Rat, aku pingin curhat ma kamu”, “curhat apa sih? Belakangan ini kamu happy kali, pasti ada hubungannya ma yang bakal kamu curhatin ke aku ya?” “iya Rat, belakangan ini aku sangat senang ada di kelas itu, ga pernah kebayang aku bisa dapet temen-temen yang asik-asik semua di sana, termasuk…..” “termasuk apa Put?” “termasuk seseorang yang kini ada di hatiku” “em…kalo boleh tau siapa tu Put?” “e…dia itu Deny…Rat” “oh si Deny, trus….trus….” “ya dia ngesms aku, terus aku ngerasa nyambung kali ma dia, kita selalu smsan. Sampai akhirnya dia nanya apa aku suka ma dia” “trus, kamu bilang apa?” “ya aku bilang kalau aku suka ma dia” “trus dia gimana responnya?” “dia agak ragu sebenarnya dengan perasaan dia padaku, ya tapi dia ingin nyoba jalanin ma aku ” “jadi dia nembak kamu dong….n kamu ma dia udah pacaran?” “iya Rat, aku seneng sekali. Dia pacar aku sekarang” “iya selamat aja Put, aku turut senang dengan kabar baik ini. Tapi inget kita sebagai cewek juga mesti punya harga diri. Jangan biarin dia ngira kalo kita tu memuja-muja cowok” “iya, iya aku ngerti Rat. Tapi kamu juga ga seharusnya nutup diri kayak gini. Hadapi kenyataan, bahwa kamu juga perlu seseorang yang kamu sukai” “aku rasa sekarang belum waktunya Put”.
Sesungguhnya Ratna agak khawatir dengan hubungan Putri dan Deny, karena dia sering mendengar bahwa Deny bukan tipe orang setia. Ia hanya tidak ingin Putri menderita gara-gara Deny. Namun Ratna tidak pernah mengutarakannya. Ia hanya diam, tak ingin membuat Putri yang sedang bahagia malah terpuruk dalam kesedihannya. Benih kebencian mulai timbul di hati Ratna saat ia tahu, kadang-kadang Putri tak diacuhkan oleh Deny. Ia akan menyuruh Putri untuk mengakhiri hubungan mereka, tapi Putri benar-benar tidak mau putus dengan Deny. Sampai akhirnya, Putri melihat Deny bermesraan dengan seorang teman sekelas mereka. Hati Putri sangat hancur, ia meminta penjelasan pada Deny. Namun Deny hanya mengatakan, lebih baik kita putus. Putri tidak tau harus berkata apa-apa, untung ada Ratna yang tepat berada di blakangnya karena Putri bahkan tidak sanggup berdiri dengan tegak ketika mendengar kata-kata Deny. Ia mengajak Putri untuk pergi saat itu juga. Mereka duduk di dalam kelas Ratna, “Putri, udah jangan nangis lagi, laki-laki kayak gitu ga perlu ditangisin” “kamu ga ngerti perasaan aku Rat” “justru karena aku sangat ngerti perasaan kamu, aku ingin kamu berhenti memikirkan dia. Masih ada yang lebih baik dari dia di dunia ini. Bukankah sudah aku katakan bahwa dia itu orangnya seperti itu. Tapi kamu masih tetap saja seperti orang buta di depannya, ga pernah mau dengerin aku” . “aku saat itu belum mendapatkan bukti, bagaimana aku bisa mempercayaimu Rat. Sudahlah….hari ini aku ga mau membahas ini, aku mau pulang saja” “iya iya, apa perlu aku antar?” “ga usah Rat, aku mau sendiri”.
Tidak hanya hati Putri yang hancur, tetapi juga hati Ratna. Ia tidak tega melihat sahabatnya menderita. Apalagi ia sangat mengagumi cinta yang tulus, dan Deny sudah membuktikan bahwa ada di dalam dunia ini kepura-puraan. Ratna memikirkan cara bagaimana ia bisa membalas sakit hati Putri. Ia berencana untuk mendekati Deny. Hal itu tanpa sepengetahuan Putri tentunya. Ia berkali-kali memisscall Deny, namun saat Deny mengangkatnya, ia selalu menutup telponnya. Akhirnya Deny mengirim sms ke dia karena sudah tidak tahan diteror seperti itu saat tengah malam. Kamu kalau berani, ayo kita bertemu sekarang, kita selesaikan masalah di antara kita sekarang juga. Aku tunggu kamu di depan pintu sekolah. Ratna sudah lama menunggu saat-saat ini, ia sudah menyiapkan apa saja yang akan dikatakannya, ia juga sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi Deny dan untuk pertama kalinya berhadapan dengan Deny.
Ia sengaja berdandan dan membuat penampilannya menarik di hadapan Deny. Ia sudah melihat Deny menunggu di sana. Awalnya Ia ragu untuk melanjutkan niatnya. Namun ia teringat wajah Putri, lalu ia pun dengan langkah yang penuh percaya diri mendekat menuju Deny. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang ketika ia sudah berada di dekat Deny, Deny juga sangat kaget saat melihat Ratna berjalan menuju arah tempatnya berdiri, terlebih Ratna terlihat sangat cantik. Deny membuka pembicaraan, “maaf, apa kamu yang ingin bertemu denganku?” “iya tentu saja” “tapi…..kita kan satu sekolah, kamu bisa bertemu aku kapan saja tanpa harus menelponku setiap malam” “e….maafkan aku, tapi aku sangat…..haus. bisakah kita mencari tempat minum?” “oh iya cuaca sangat panas hari ini”. Mereka berjalan menuju kantin yang berada di dekat sekolah, saat itu suasana masih sangat rame. Dan Ratna tau itulah saat yang tepat untuk dia melancarkan aksinya. Mereka meneguk minuman mereka, “sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” “e….aku”, kemudian Ratna tiba-tiba menangis. Deny sangat kaget, orang-orang melihat mereka, lalu Deny mendekati Ratna. “aduh kamu kok nangis? Liat orang-orang pada ngeliatin kita, dikira aku yang bikin kamu nangis lagi” Ratna malah semakin menjadi-jadi, “kamu jahat kamu ga mau bertanggung jawab, padahal aku udah kasi semua yang aku punya. Dasar laki-laki brengsek….” Kemudia Ratna berdiri, Deny yang tidak tahu apa-apa hanya bisa kaget dan ikut berdiri juga. Tiba-tiba Ratna mengambil minumannya, lalu langsung menyiramkannya ke muka Deny, “ini untuk semua janji palsumu kepada temanku, dan yang satu ini untuk pembalasan atas perselingkuhanmu”, kemudian Ratna menampar Deny. Lalu dia pergi, “oh ya, tolong dibayar minumannya ya”. Dia meninggalkan Deny di tengah kebingungannya.
Deny benar-benar marah, belum pernah ada yang berani melakukan itu padanya. “dasar cewek brengsek, awas ja ntar klo ketemu di sekolah. Aku ga akan tinggal diam, selain buat aku malu dia juga benar-benar membuat bekas di pipiku yang hingga saat ini masih sedikit perih. Benar-benar ga bisa dipercaya aku ditampar pertama kali oleh wanita. Padahal badannya terlihat kecil, dan lemah, tapi kenapa dia bisa menampar sekuat ini? Huh awas…..nanti”. belakangan ini Deny sangat gelisah, di samping malu, ia juga sangat penasaran dengan Ratna. Ia memikirkan sebuah cara, “aha….bagaimana kalau aku lanjutkan saja permainan ini. Aku akan berpura-pura menjadi pacarnya, biar dia tahu rasa”. Akhirnya Deny menemukan Ratna di perpustakaan sekolah, saat ia sibuk mencari-cari sebuah buku. Deny menutup matanya dari belakang, awalnya Ratna mengira itu Putri, “aduh, Put, kamu tu pake main-main gini segala….”, lalu ia memegang tangan itu, dan berbalik ke belakang sambil tetap memegang tangan itu, betapa kagetnya dia… “kamu………” spontan saja ia melepaskan tangan itu. “buat apa kamu di sini?” “lho….sayang….katanya kamu mau aku tanggung jawab, jadi sekarang aku mau tanggung jawab”. Lalu Deny mengelus perut Ratna, “bukan begitu sayang?”. Semua orang melihat ke arah mereka. Ratna sangat panik, ia menarik Deny keluar dari perpustakaan. “dasar, kamu ini kenapa tadi bicara seperti itu. Buat aku malu aja” “kamu kira aku ga malu pas kemarin kamu perlakukan aku seperti itu?” Ratna terdiam, lalu dia berbalik arah meninggalkan Deny. “eit…mau kemana kamu? Urusan kita belumm selesai” “aku ga perduli, terserah apa yang mau kamu lakukan”. Ratna berlari………..sementara Deny masih berdiri di situ, “kita liat saja nanti…..”
Ratna merasa sangat bingung, ia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya. Putri tiba-tiba datang, “Rat, kamu sudah mencari masalah ya sama Deny?” “siapa yang nyari masalah” “udah, jangan bohongin aku Rat. Aku sudah dengar semuanya” “hmmm….aku cuma tidak rela bila dia bersenang-senang di atas penderitaanmu Put. Pokoknya aku sudah membalas semuanya” “tapi lihatlah sekarang, dia akan terus mengganggumu” “aku tidak perduli Put, biarkanlah anjing menggonggong kafilah berlalu” “ya aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu”. Bel masuk pun berbunyi……
Hari demi hari bukannya semakin membuat hidup Ratna tenang, namun ia terus-menerus diteror Deny. Sampai-sampai ia hampir tak tahan dan ingin pindah sekolah saja. “Rat, kamu jangan main-main deh. Udah nanggung juga masak mau pindah sekolah. Belum lagi penyesuaian di sekolah baru” “tapi aku ga kuat terus-terusan kayak gini Put” “lebih baik kamu ngomong baik-baik dengan Deny” “apa? Ngomong baik-baik? Enak saja, ga akan tu Put”. Tiba-tiba di belakang mereka muncul Deny, “kenapa ga mungkin?”. Ratna dan Putri sangat terkejut. “mari kita selesaikan ini sekarang juga Ratna. Putri aku mohon biarkan masalah ini aku bicarakan berdua dengan Ratna”. Putri menoleh Ratna, Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi ia tetap pergi…. “mau apalagi kamu?”, kata Ratna ketus. “aku Cuma ingin menyelesaikan ini semua kok Rat.” “menyelesaikan seperti apa? Bukankah kamu yang memperpanjang masalah ini?” “ya itu karena kamu selalu menghindar dariku” “aku males ketemu kamu” “apakah aku sehina itu Rat? Oke aku akui aku salah, tapi aku sudah meminta maaf. Aku menerima Putri juga karena aku awalnya tidak ingin menyakiti hatinya yang sudah terlanjur cinta padaku. Tapi semakin lama, aku tidak nyaman dengan hubungan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk berselingkuh di depan Putri, agar dia memutuskan aku. Dan menganggap aku sangat buruk, agar dia bisa mencari yang lebih baik. Tapu kamu sepertinya menganggap aku benar-benar jahat.” “bisakah semua itu ku percaya?” “ok, aku menyerah. Terserah kamu mau percaya /tidak kepadaku. Yang jelas bukan karena aku ingin membalas kamu aku meneror kamu selama ini. Tapi karena……..karena aku mulai menyukaimu. Aku tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah pertama kali kamu menamparku”. Ratna tercengang, ia tidak pernah menyangka semua akan menjadi seperti ini. “jangan bohong Deny” “bagaimana aku bisa bohong? Setiap hari aku ingin dekat denganmu. Tapi aku selalu menahan rasa ini, ga tahu sampai kapan akan bertahan” “kamu jangan ngacok, aku juga tidak menyukaimu. Apa kamu tau kalo aku benci sama kamu, jauh sebelum aku mengenal kamu” “baiklah jika itu pendapatmu, tapi aku ga akan pernah menyerah buat dapetin kamu” “sudahlah kamu hanya membuang-buang waktu berbicara seperti ini” lalu Ratna pergi meninggalkan Deny, “huh lagi-lagi aku ditinggalin ma dia”, kata Deny.
Rasa cintaku pada mu
Dengan rasa sabar
Dengan pengertian hati
Aku menunggu mu
Dengan harapan
Hati mu akan terbuka untukku

Meski sekian tahun telah berlalu, Ratna masih belum percaya pada Deny. Ratna benar-benar tidak mengerti pada Deny, bukannya semakin menjauh, tapi Deny malah selalu setia berada di dekatnya. Seperti saat-saat terberat dalam hidup Ratna, di mana kedua orang tua Ratna meninggal dalam kecelakaan tragis. Deny lah yang ada menemaninya. “sudahlah Rat, ikhlaskanlah mereka di sana” “kamu ga ngerti Den, kamu kira gampang kehilangan 2 orang yang kita sayangi sekaligus?” “tapi itulah takdir Rat. Meskipun kamu seperti ini terus-menerus apakah mereka dapat hidup kembali?” “tapi paling tidak biarkan aku sendiri sekarang Den, please” “tidak, aku akan terus di sampingmu. Apalagi saat jiwamu rapuh seperti ini”, ia memeluk Ratna. Ratna tidak kuat menahan, dia menangis dalam dekapan Deny. “menangislah sekencang-kencangnya. Biar semua beban dalam otakmu hilang” “terimakasih Den….”
Sebenarnya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh dalam hati Ratna. Tapi ia masih mengikat kuat pendapatnya bahwa Deny bukan laki-laki yang baik untuknya. “hey Rat” “hai juga, ngapain kamu ke sini?” “huh…masih ja jutek gitu. Tapi itu malah bikin kamu semakin cantik aja” “dasar gombal” “ih siapa yang gombal juga. Yang jelas aku masih menyukai kamu tau” “terserah lah, tapi aku belum suka tuh ma kamu” “sekarang sih belum tapi kita lihat saja nanti”.
Ratna melihat jam dindingnya, sudah menunjukkan pukul 10 malam, entah kenapa perasaannya tidak tenang hari itu. Ia menelpon Deny, tapi tidak diangkat. Ternyata Deny masuk rumah sakit, Ratna segera menuju rumah sakit tersebut. Dokter mengatakan bahwa Deny mengalami luka parah di area matanya, bahkan dokter mengatakan apabila Deny tidak mendapatkan donor mata, maka ia tidak akan pernah bisa melihat. Entah kenapa hati Ratna sangat hancur. Ia tidak pernah menyangka orang yang sudah disayanginya itu kini tidak bisa melihat. Ia tidak tega meninggalkan Deny di rumah sakit sendirian. Setiap hari dialah yang menjaga Deny. Orang tua Deny ada jauh di Sumatra sana, dan sudah lama mereka tidak pernah berhubungan lagi apalagi setelah kedua orang tua Deny bercerai.
Belakangan ini Deny masih koma, dan Ratna dengan setia selalu mengajaknya bicara. Akhirnya suatu hari Deny menggerakkan tangannya, ia membuka mata perlahan. Tapi ia hanya mengatakan, “gelap….kenapa gelap seperti ini?” “sudah sudah tenang Den, aku di sampingmu. Untuk sementara waktu kamu memang belum bisa melihat, tapi setelah nanti dioperasi kamu akan bisa lagi melihat seperti dulu” “Ratna, aku sangat takut” “tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi”. Ratna sangat senang Deny sudah sadar kembali. Namun ia merasakan hal yang aneh tentang dirinya belakangan ini. Kepalanya selalu terasa pusing, ia pun memeriksakan ke dokter. Ternyata ia menderita gagal ginjal. Hidupnya tidak akan lama lagi. Dengan langkah gontai ia menuju kamar Deny.
“hai Rat, apa itu kamu? Kamu sudah datang?” “iya Den, ini aku” “Ratna, aku sudah tidak sabar ingin melihat kamu, ingin memeluk kamu, kapankah operasi itu akan dilaksanakan?” “sebentar lagi Den, kamu bersabar saja”. “apa kamu tau Rat, kamulah orang pertama yang ingin aku lihat saat nanti aku pertama kali membuka mataku” “benarkah?” “iya tentu saja, aku akan melamarmu. Dan kita akan hidup bahagia selamanya”.
Namun……
Sejuta-juta sayang
Harapku itu tlah hilang
Kesabaran ku tlah sia-sia
Mimpi-mimpiku tlah musnah
Hatiku hancur tak berbekas
Ratna langsung menangis mendengar semua yang diucapkan Deny. Ia berlari menuju pintu keluar, menangis sejadi-jadinya. Ia teringat kata-kata dokter itu. Ia pun memutuskan akan mendonorkan matanya sendiri untuk Deny, lagipula apalah artinya dia hidup namun harus setiap hari keluar masuk rumah sakit, di samping itu ia sudah tidak mau merepotkan Deny. Meskipun hatinya sangat terluka, namun ia sudah bertekad.
Persetujuan operasi mata pun dapat dilakukan, Deny sudah tidak sabar untuk menunggu, segera setalah ia bisa melihat lagi, ia mencari-cari Ratna. Namun sosok Ratna tidak kelihatan dalam ruangan itu, ia bertanya kepada dokter. “dok, sebenarnya di mana Ratna?” “maaf, dia……dia sudah tidak ada”. “apa? Jangan bercanda dok, di mana dia?” “dia sudah mendonorkan matanya sendiri untukmu, karena ia tahu ia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya lagi”. “tapi kenapa dok?” “dia menderita gagal ginjal, akan sangat sulit menemukan donor ginjal dibandingkan donor mata. Begitu katanya, dan kami sudah memperingatkannya, tapi ia sudah bertekad bulat. Ia menderita gagal ginjal yang sudah sangat parah, kamu bisa menemuinya di kamar sebelah barat lorong rumah sakit sekarang”. Lalu dokter pun pergi, Deny bagaikan mimpi menghadapi kenyataan ini. Ia tersenyum, namun tiba-tiba menangis…. “tidak mungkin, ini semua pasti mimpi, tidak mereka pasti berbohong. Ini pasti kejutan bagiku karena aku sudah bisa melihat”.
Ia bergegas menuju ruangan yang dimaksud itu, ternyata…..itu adalah kamar mayat. Dengan hati-hati ia melangkah. Mendapati mayat seseorang yang dikenalnya, seketika itu ia berlari dan memeluk mayat tersebut. “tidak…Ratna..kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa salahku Rat? Seandainya aku tahu ini akan terjadi aku tidak ingin bisa melihat lagi. Kamu pembohong, kamu bilang tidak akan meninggalkan aku. Tapi kenyataannya seperti ini, kamu jahat Ratna….sangat jahat…..”. perawat segera menarik Deny yang masih terus-terusam menggoncang dan menangis. Ia pun dibawa ke kamarnya kembali. Sesampainya di sana, perawat memberikan ia sepucuk surat. Ia pun membacanya….
Buat: Deny tersayang……..
Maaf selama ini aku selalu menyembunyikan perasaanku ini. Aku hanya tidak sanggup menarik kata-kataku bahwa aku membencimu.Namun jauh dalam lubuk hatiku…Aku sangat mencintaimu….Namun aku tahu kita tidak mungkin bersatu.Hidupku sudah tidak lama lagi.Aku tidak mau lagi menyusahkanmu. Aku ingin memberikanmu hadiah.Hadiah karena selama ini kaulah yang selalu menemaniku. Kaulah pelita hatiku Deny, aku tidak akan melupakanmu meski sampai titik darah penghabisanku. Lihatlah dunia dengan mataku ini, aku harap kau bisa mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku.
I LOVE YOU…..
Deny menangis, ingin rasanya merobek-robek kertas itu. Ia tidak kuat, ia telah menunggu selama ini. Tidak pernah berpaling ke hati lain. Menyerahkan semua yang ia miliki, namun orang itu kini telah mengorbankan semuanya demi dia.
Walau ku coba tuk tahan air mata ini
Namun setetes demi setetes
Air mata ini terjatuh juga
Ku coba menahan diri
Menerima kenyataan yang tlah terjadi
Biarlah…..
Kini kau pergi
Dan biarkan aku sendiri
Dan aku menyadari
Kalau selama ini
KESABARAN TAK SELALU BERUJUNG BAHAGIA