THIRTEEN
Rama dan Asti kian dekat, membuat Danan cemburu setengah mati. Ia pun selalu mengganggu mereka dan menyuruh Asti untuk lembur. Kring….telepon dari Rama, “ya Ram?” “entar jalan yuk” “kemana?” “ya rahasia dong” “ok, abis pulang kerja ya” “sip”. Tanpa sengaja Danan mendengar percakapan mereka.siapa bilang kalian bisa ketemu.
Setelah semua karyawan pulang, Asti membersihkan meja kerjanya, dan bersiap untuk pergi. Danan yang sejak semula berniat untuk menggagalkan kencan mereka telah mendahului mencegatnya. “lho kamu ngapain di sini, permisi aku mau pergi, tugas dah aku kerjain, mau apa lagi?” “tunggu sebentar aku masih butuh bantuan kamu” karena merasa kasihan, ia pun membantu Danan “ya udah ayo cepet ke ruangan kamu” sms masuk dari hp Asti “As, gimana?” “bentar ½ jam lagi Ram”. “yuk Dan aku ga bisa lama-lama nih” “e ga mau minum dulu?” “ya ampun Danan waktu kita ni singkat tau mana yang perlu aku bantu?” “ni file-filenya tolong dibaca dulu” Asti segera membacanya, tiba-tiba Danan berkata, “As aku boleh tanya-tanya sedikit ga?” “apa cepetan?” “kamu sudah jadian sama Rama?” “udah”, kata Asti bohong “pasti kamu bohong As.” “duh kamu ganggu konsenrasi aku aja, mau dibantuin ga sih” dalam hati Danan berkata “persetan dengan tu tugas” “As jawab yang jujur” “iya, aku udah jadian bahkan entar aku mau ngedate ma dia tapi gara-gara bantuin kamu nih jadi terlambat” “aku ga percaya, terus apa kamu anggap selama ini kebersamaan kita” “kita berteman kan?” “Cuma itu?” “iya dong, sekarang aku dah ngerti file-file ini, besok pasti aku kerjain lagi, tapi sekarang aku mau pergi, aku benar-benar pusing apalagi setelah semua pertanyaan konyolmu itu Dan” ia benar-benar ngerasa ga sanggup harus menatap dan menjawab pertanyaan yang mnyudutkannya itu. “kamu ga boleh pergi kamu harus klarifikasi semuanya, agar masalah ini clear.” “ga bisa Rama udah nungguin aku, minggir” Asti mencoba meraih pintu tapi Danan terus menghalangi. Tubuh Asti yang kalah dibanding Danan, tiba-tiba tersungkur, dia pingsan. Danan sangat panik “As, kamu kenapa?” Danan membaringkan Asti di sofa “aduh ini semua salahku, harusnya aku ga memaksanya”
Beberapa menit kemudian Asti sadar, “Asti maafin aku kamu ga apa-apa kan?” “e…” Asti memegangi kepalanya “aku ga punya hak kan Asti untuk nanya hal itu, ga punya hak untuk nanya kenapa kamu nglupain aku setelah bersama Rama” kata Danan bersalah “maaf..” “apa As? Ga kok kamu ga salah sama sekali, aku yang bodoh berharap perasaan ini abadi” “tenanglah Dan, duduk” “ya As ada yang kamu butuhin?” “aku hanya ingin bilang bahwa…” tiba-tiba hp Asti berbunyi dan itu telepon dari Rama “Ram aku capek kita batalin aja semua ini” “tapi As.” Belum sempat Rama berbicara Asti menutup telponnya. “lho As Rama kan..” “ga usah mikirin dia, kamu benar Dan, aku ga bisa bohong padamu. Aku dah nyoba nerima Rama tapi dia tak bisa menggantikan orang itu.” “siapa dia As?” “kamu” “apa?” “iya, aku juga cinta ma kamu. Bahkan sejak pertama kita bertatapan, jantungku berdegup kencang. Aku pun sangat gelisah saat kamu berdekatan dengan Tari” “lalu kenapa sekarang kamu menjauhiku padahal aku dan Tari sudah berpisah?” “itu karena aku ingin melupakanmu dan mencoba menerima Rama. Karena….Tari”perkataan Asti terhenti seiring dengan perubahan mimik wajahnya “kenapa dia?” “dia sakit kanker rahim, hidupnya tak lama lagi. Aku ga tega” “dia tidak pernah bilang ma aku” “itu karena dia tidak ingin dikasihani Dan” “aku benar-benar ga nyangka kejadiannya bisa serumit ini As” “sudahlah Dan, bahagiakan Tari di sisa akhir hidupnya, biarkan saja cinta ini ga ada” kata Asti sambil memeluk Danan, saat itulah pertama kalinya Danan merasakan pelukan Asti.
Kamis, 18 Maret 2010
Kamis, 11 Maret 2010
TWELVE
Danan sangat bahagia, beberapa saat setelah dia tiba di rumah…sms masuk ke hpnya.besok jam 1 siang jemput aku ya kak Danan, awas terlambat. “si Tari ini ngrepotin aja”
Keesokan paginya
“maaf pak nanti ada meeting jabis jam makan siang”, kata sekretarisnya. “duh ga bisa diundur San?” “tidak bisa pak soalnya klien kita yang satu ini sangat penting.” “ya ya” terpaksa Danan pergi, ia berharap Tari mau menunggu ½ jam lagi.
Tapi Tari sudah ngambek, “hai Tar” “dasar lelet, atau udah mulai pikun” “maaf sibuk” “aku ga perduli,jangan-jangan itu semua alasan biar bisa deketan ma Kak Asti.” “Tari aku kan sudah minta maaf ma kamu, kamu ga pernah ngerti ya. Kesabaranku udah habis, aku bukan mainanmu yang bisa kamu atur sesuka hatimu. Lebih baik aku kembali ke kantor saja.” Danan malah pergi meninggalkan Tari yang sudah menangis. Bahkan dia tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Tari sudah menelpon Danan berulang kali tapi selalu direject olehnya.
Tari belakangan ini merasa pusing, dia pikir mungkin karena terlalu sedih memikirkan Danan. Ternyata setelah dia check up, dia divonis menderita sakit kanker rahim. Dan tanpa sengaja Asti yang kebetulan menjemput ibunya yang juga check up bertanya kepada dokter tentang penyakit yang diderita Tari. Betapa terkejutnya dia, apalagi hidup Tari ternyata tak lama lagi. Asti pun sadar bahwa dengan Danan tidak mengacuhkannya itu malah memperburuk keadaan Tari.
Ia memikirkan bagaimana cara agar Danan mau memperbaiki hubungannya kembali dengan Tari. Tanpa ia sadari, ada mobil di depannya. Asti langsung membuka helmnya. “maaf aku ga sengaja” begitu melihat Asti lelaki itu langsung tersenyum. “ga apa apa tapi kalo kamu mau maaf dari aku sekarang juga temenin aku makan siang” “apa?” “kalo ga mau terserah yang penting nomor dekamu dah aku catat.” “ya deh”. Semenjak saat itu Asti tau mungkin dengan cara inilah dia bisa menghindari Danan.
Rama adalah orang yang baik, tapi kini dia menghadapi suatu masalah di mana orangtuanya menginginkan ia cepat menikah, dan ia telah memutuskan untuk memilih Asti sebagai calon pendamping hidupnya saat ia pertama kali bertatapan dengan Asti. Sedangkan Asti cuma menganggap ia teman dekat saja.
Danan sangat bahagia, beberapa saat setelah dia tiba di rumah…sms masuk ke hpnya.besok jam 1 siang jemput aku ya kak Danan, awas terlambat. “si Tari ini ngrepotin aja”
Keesokan paginya
“maaf pak nanti ada meeting jabis jam makan siang”, kata sekretarisnya. “duh ga bisa diundur San?” “tidak bisa pak soalnya klien kita yang satu ini sangat penting.” “ya ya” terpaksa Danan pergi, ia berharap Tari mau menunggu ½ jam lagi.
Tapi Tari sudah ngambek, “hai Tar” “dasar lelet, atau udah mulai pikun” “maaf sibuk” “aku ga perduli,jangan-jangan itu semua alasan biar bisa deketan ma Kak Asti.” “Tari aku kan sudah minta maaf ma kamu, kamu ga pernah ngerti ya. Kesabaranku udah habis, aku bukan mainanmu yang bisa kamu atur sesuka hatimu. Lebih baik aku kembali ke kantor saja.” Danan malah pergi meninggalkan Tari yang sudah menangis. Bahkan dia tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Tari sudah menelpon Danan berulang kali tapi selalu direject olehnya.
Tari belakangan ini merasa pusing, dia pikir mungkin karena terlalu sedih memikirkan Danan. Ternyata setelah dia check up, dia divonis menderita sakit kanker rahim. Dan tanpa sengaja Asti yang kebetulan menjemput ibunya yang juga check up bertanya kepada dokter tentang penyakit yang diderita Tari. Betapa terkejutnya dia, apalagi hidup Tari ternyata tak lama lagi. Asti pun sadar bahwa dengan Danan tidak mengacuhkannya itu malah memperburuk keadaan Tari.
Ia memikirkan bagaimana cara agar Danan mau memperbaiki hubungannya kembali dengan Tari. Tanpa ia sadari, ada mobil di depannya. Asti langsung membuka helmnya. “maaf aku ga sengaja” begitu melihat Asti lelaki itu langsung tersenyum. “ga apa apa tapi kalo kamu mau maaf dari aku sekarang juga temenin aku makan siang” “apa?” “kalo ga mau terserah yang penting nomor dekamu dah aku catat.” “ya deh”. Semenjak saat itu Asti tau mungkin dengan cara inilah dia bisa menghindari Danan.
Rama adalah orang yang baik, tapi kini dia menghadapi suatu masalah di mana orangtuanya menginginkan ia cepat menikah, dan ia telah memutuskan untuk memilih Asti sebagai calon pendamping hidupnya saat ia pertama kali bertatapan dengan Asti. Sedangkan Asti cuma menganggap ia teman dekat saja.
Selasa, 09 Maret 2010
ELEVEN
Seiring berjalannya waktu, dan karena tuntutan pekerjaan. Mereka pun dekat kembali. Suatu ketika hujan turun dengan derasnya. Asti benar-benar tidak tahu harus pulang dengan apa. Tiba-tiba “hai” Danan menepuk bahunya “astaga Tuhan kamu ini ngagetin aku aja Dan nagapain kamu di sini?” “iseng aja kok sambil nunggu ujan reda. Oh ya aku punya surprise” lalu Dana membuka kuenya “tara.met ultah As” “oh iya aku lupa, makasih ya” “sama-sama” ternyata hujan turun kian deras dan petir menyambar-nyambar. “duh Dan gimana nih mana udah larut lagi” “kalo gitu kamu naik mobil aku aja, biar orang tua kamu di rumah juga ga khawatir” “kalo gitu makasih sekali lagi ya Dan” “ok”
Danan mengantar Asti dengan mobilnya, ia sengaja memperlambat laju mobilnya di samping karena ujannya begitu deras. Ia ingin memanfaatkan waktu itu dengan baik. Tapi yang terjadi Asti malah ketiduran. Ia dengan suara pelan membangunkan Asti, tapi Asti belum juga terbangun. “aduh si Asti ini kalo udah tidur susah banget banguninnya.” Terpaksa Danan lebih mendekat, tanpa ia sadari ia menatap Asti dan jantungnya pun berdegup kencang “ah ngapain sih aku ini, entar dia ngeliat aku lagi merhatiin dia lagi. Mending aku teriakin ada kebakaran aja. “Asti bangun, rumah kita kebakaran..woooe bangun cepet.” Asti terkesiap “ah mana, cepetan panggil polisi. Lho” “ha ha ha, udah sampai As” “tega banget kamu Dan” “abis kamu ngorok terus sih” “makasih dah nganterin hati-hati di jal;an ya” “ya” Danan menunggu sampai tubuh Asti menghilang di balik pintu lalu ia menancapkan gas.”
Seandainya dapat ku katakan
Gejolak dan bara yang membentang
Dan memenuhi seluruh tubuhku
Saat kau ada di sampingku
Membawaku ke alam cinta
Seiring berjalannya waktu, dan karena tuntutan pekerjaan. Mereka pun dekat kembali. Suatu ketika hujan turun dengan derasnya. Asti benar-benar tidak tahu harus pulang dengan apa. Tiba-tiba “hai” Danan menepuk bahunya “astaga Tuhan kamu ini ngagetin aku aja Dan nagapain kamu di sini?” “iseng aja kok sambil nunggu ujan reda. Oh ya aku punya surprise” lalu Dana membuka kuenya “tara.met ultah As” “oh iya aku lupa, makasih ya” “sama-sama” ternyata hujan turun kian deras dan petir menyambar-nyambar. “duh Dan gimana nih mana udah larut lagi” “kalo gitu kamu naik mobil aku aja, biar orang tua kamu di rumah juga ga khawatir” “kalo gitu makasih sekali lagi ya Dan” “ok”
Danan mengantar Asti dengan mobilnya, ia sengaja memperlambat laju mobilnya di samping karena ujannya begitu deras. Ia ingin memanfaatkan waktu itu dengan baik. Tapi yang terjadi Asti malah ketiduran. Ia dengan suara pelan membangunkan Asti, tapi Asti belum juga terbangun. “aduh si Asti ini kalo udah tidur susah banget banguninnya.” Terpaksa Danan lebih mendekat, tanpa ia sadari ia menatap Asti dan jantungnya pun berdegup kencang “ah ngapain sih aku ini, entar dia ngeliat aku lagi merhatiin dia lagi. Mending aku teriakin ada kebakaran aja. “Asti bangun, rumah kita kebakaran..woooe bangun cepet.” Asti terkesiap “ah mana, cepetan panggil polisi. Lho” “ha ha ha, udah sampai As” “tega banget kamu Dan” “abis kamu ngorok terus sih” “makasih dah nganterin hati-hati di jal;an ya” “ya” Danan menunggu sampai tubuh Asti menghilang di balik pintu lalu ia menancapkan gas.”
Seandainya dapat ku katakan
Gejolak dan bara yang membentang
Dan memenuhi seluruh tubuhku
Saat kau ada di sampingku
Membawaku ke alam cinta
Minggu, 07 Maret 2010
TEN
Sejak saat itu Danan dan Asti jarang bertemu, Asti memutuskan untuk tidak sering berhubungan dengan Danan. “halo As, sebenarnya kenapa sih kamu ngindarin aku, apa gara-gara kejadian waktu ini?” “enggak sih aku cuma lagi banyak tugas, bentar lagi mau bikin skripsi.” “oh aku kirain…kalo gitu liburan nanti kita bisa ketemuan kan?” “aku usahain deh” “thank’s”.
Liburan tiba, Asti dan Danan bertemu di taman di mana Danan sudah memperhitungkan bahwa Tari tidak mungkin menemukan mereka. “hai As, apa kabar?” “I’m so-so” “As, I have an idea for us.” “what’s that Danan?” “can you follow me?” “of course” “but I have one requisite before it” “so what?” “close your eyes” “are you really I must do it?” “why not, it’s surprising.”
Setelah tiba…
“surprise Asti, you may open your eyes” “is it true? It is beautiful flower garden.” “do you know it’s my special day. I haven’t seen like that before.” “it’s just for you” seketika jantung Asti berdegup kencang, apakah ini cuma mimpi? Mereka berpandangan, “duh Dan I capek ngomong bahasa Inggris.” “oh ya bentar lagi kita kan nyari kerja, kamu mau kerja di mana As?” “kayaknya sih di bidang akuntan gitu.” “aku sih masih bingung, tapi mulai sekarang aku tau aku harus lebih serius.” “aku juga”
5 tahun kemudian….
Udara dingin menyergap
Membasuh hatiku yang kian redup
Oleh kehampaan dan
Kesepian mendalam
Kini Asti bekerja di sebuah kantor, ia sangat teliti dan jujur. Tak salah bila dia cepat mangkat jabatan. Sementara Danan kebetulan bekerja di kantor yang sama cuma cabangnya yang berbeda dengan Asti. Tapi mereka sama sekali tidak tahu. Sampai suatu ketika Danan dipindahtugaskan ke kantor Asti. “hai As, lama tak berjumpa akhirnya ketemu di sini.” “iya aku juga ga nyangka kamu bakalan bekerja di bidang kayak gini” “abis tawarannya begitu menggiurkan As, daripada nganggur” “iya deh aku tau kamu jadi direktur aku di sini” “tapi kamu juga jadi sekretaris aku kan, jadi kita bisa …” Danan hampir saja keceplosan “bisa apa Dan?” “enggak maksudku kita bisa bekerja sama dengan baik karena sudah saling kenal lama.” ”oh, tapi mulai sekarang aku harus manggil kamu pak Danan dong” “ya kalo di kantor aja, aku juga risih ngedengernya.”
Sejak saat itu Danan dan Asti jarang bertemu, Asti memutuskan untuk tidak sering berhubungan dengan Danan. “halo As, sebenarnya kenapa sih kamu ngindarin aku, apa gara-gara kejadian waktu ini?” “enggak sih aku cuma lagi banyak tugas, bentar lagi mau bikin skripsi.” “oh aku kirain…kalo gitu liburan nanti kita bisa ketemuan kan?” “aku usahain deh” “thank’s”.
Liburan tiba, Asti dan Danan bertemu di taman di mana Danan sudah memperhitungkan bahwa Tari tidak mungkin menemukan mereka. “hai As, apa kabar?” “I’m so-so” “As, I have an idea for us.” “what’s that Danan?” “can you follow me?” “of course” “but I have one requisite before it” “so what?” “close your eyes” “are you really I must do it?” “why not, it’s surprising.”
Setelah tiba…
“surprise Asti, you may open your eyes” “is it true? It is beautiful flower garden.” “do you know it’s my special day. I haven’t seen like that before.” “it’s just for you” seketika jantung Asti berdegup kencang, apakah ini cuma mimpi? Mereka berpandangan, “duh Dan I capek ngomong bahasa Inggris.” “oh ya bentar lagi kita kan nyari kerja, kamu mau kerja di mana As?” “kayaknya sih di bidang akuntan gitu.” “aku sih masih bingung, tapi mulai sekarang aku tau aku harus lebih serius.” “aku juga”
5 tahun kemudian….
Udara dingin menyergap
Membasuh hatiku yang kian redup
Oleh kehampaan dan
Kesepian mendalam
Kini Asti bekerja di sebuah kantor, ia sangat teliti dan jujur. Tak salah bila dia cepat mangkat jabatan. Sementara Danan kebetulan bekerja di kantor yang sama cuma cabangnya yang berbeda dengan Asti. Tapi mereka sama sekali tidak tahu. Sampai suatu ketika Danan dipindahtugaskan ke kantor Asti. “hai As, lama tak berjumpa akhirnya ketemu di sini.” “iya aku juga ga nyangka kamu bakalan bekerja di bidang kayak gini” “abis tawarannya begitu menggiurkan As, daripada nganggur” “iya deh aku tau kamu jadi direktur aku di sini” “tapi kamu juga jadi sekretaris aku kan, jadi kita bisa …” Danan hampir saja keceplosan “bisa apa Dan?” “enggak maksudku kita bisa bekerja sama dengan baik karena sudah saling kenal lama.” ”oh, tapi mulai sekarang aku harus manggil kamu pak Danan dong” “ya kalo di kantor aja, aku juga risih ngedengernya.”
Sabtu, 06 Maret 2010
NINE
Di sekolah Asti,
“Asti kamu kok bengong terus sih? Kamu sebenarnya ngelamunin apaa sih?” “ga kok” “jangan boongin aku As, balakangan ini aku liat kamu ngelamun sambil senyum terus” “emang ga boleh Fer?” “ga sih tapi dari tanda-tandanya kayaknya kamu lagi fallin love ya?” “Fer, udah deh aku mau ngapain juga urusan aku.” “As udah kalo kamu emang mau kayak gitu, mending kita ga usah bicara lagi, aku capek , selalu aku yang mulai duluan. Kamu ga pernah ngertiin aku.” Sejak saat itu Asti dan Fery sudah tak bertemu lagi, Fery memang sudah muak dengan semua penolakan yang diberikan Asti meski ia sudah berusaha mengerti dan memendam perasaanya.
Sekarang malah berbalik, Asti dan Danan sering bertemu, Tari pun menjadi curiga. Iari sempat memergoki mereka, “oh jadi Kak Danan sekarang dah berani selingkuh ya sama Kak Asti lagi, trus aku selama ini dianggap apaa?. Aku bukan boneka kak, kita jugakan udah dijodohkan ” “tapi itu bukan sepenuhnya keinginan aku Tari., tapi kami juga cuman berteman kok” “apa ini namanya berteman? Kakak ini ga waras ya? Aku benci ma kakak”, kata Tari sambil menangis dan berlari. Asti mengingatkan, “Dan kejar dia” “udah ga usah dia kerjaannya ngambek terus. Selama ini bahkan dia yang ga jujur ma aku As, kata temen-temennya dia punya cowok lain., tapi aku sama sekali ga pernah marahin dia” “aduh kamu ini, kalo kamu ga mau biar aku sendiri aja yang kejar.” Asti pun mencari Tari “Tari tunggu dulu, biar aku jelasin” “buat apa semua sudah jelas kan?” “belum Tar, aku ma Danan benar-benar temenan. Aku janji, ga akan jalan ma Danan lagi” “aku pegang janji kakak”.
Di sekolah Asti,
“Asti kamu kok bengong terus sih? Kamu sebenarnya ngelamunin apaa sih?” “ga kok” “jangan boongin aku As, balakangan ini aku liat kamu ngelamun sambil senyum terus” “emang ga boleh Fer?” “ga sih tapi dari tanda-tandanya kayaknya kamu lagi fallin love ya?” “Fer, udah deh aku mau ngapain juga urusan aku.” “As udah kalo kamu emang mau kayak gitu, mending kita ga usah bicara lagi, aku capek , selalu aku yang mulai duluan. Kamu ga pernah ngertiin aku.” Sejak saat itu Asti dan Fery sudah tak bertemu lagi, Fery memang sudah muak dengan semua penolakan yang diberikan Asti meski ia sudah berusaha mengerti dan memendam perasaanya.
Sekarang malah berbalik, Asti dan Danan sering bertemu, Tari pun menjadi curiga. Iari sempat memergoki mereka, “oh jadi Kak Danan sekarang dah berani selingkuh ya sama Kak Asti lagi, trus aku selama ini dianggap apaa?. Aku bukan boneka kak, kita jugakan udah dijodohkan ” “tapi itu bukan sepenuhnya keinginan aku Tari., tapi kami juga cuman berteman kok” “apa ini namanya berteman? Kakak ini ga waras ya? Aku benci ma kakak”, kata Tari sambil menangis dan berlari. Asti mengingatkan, “Dan kejar dia” “udah ga usah dia kerjaannya ngambek terus. Selama ini bahkan dia yang ga jujur ma aku As, kata temen-temennya dia punya cowok lain., tapi aku sama sekali ga pernah marahin dia” “aduh kamu ini, kalo kamu ga mau biar aku sendiri aja yang kejar.” Asti pun mencari Tari “Tari tunggu dulu, biar aku jelasin” “buat apa semua sudah jelas kan?” “belum Tar, aku ma Danan benar-benar temenan. Aku janji, ga akan jalan ma Danan lagi” “aku pegang janji kakak”.
Kamis, 04 Maret 2010
EIGHT
“Dor” “ya ampun, Fery ngagetin aku aja”, kata Asti. “gitu aja marah As” “udah tau aku jantungan pake nanya lagi kamu Fer” “ya sorry banget, ga akan aku ulangin.” Kini Asti sudah berpisah dengan Danan, tepat 1 tahun setelah ia menginjakkan kakinya di universitas.
Akankah ada asa lagi?
Setiap ku ingat kini
Hanya relung hati yang hampa ini
Yang selalu meronta-ronta
Memanggil namanya
Namun yang ada hanya
Bayangan semu dirinya
Membasuh mimpi-mimpiku
Membutakan mataku
Dan menutup hatiku
Untuk insan lain
Sementara itu, hubungan Asti dan Fery semakin dekat karna mereka satu universitas. Di sisi lain Maya telah putus dengan Fery, kata Fery karena mereka sudah tak sepaham lagi. Entah kenapa juga Maya kini telah menjauhi Asti, padahal Asti sudah bertanya ada apa gerangan. Tapi hanya bisu yang menjawab semua pertanyaannya. Sesungguhnya Maya tidak berniat seperti itu, dia sangat menyayangi Asti. Tapi sakit hatinya tak bisa disembunyikan lagi.
Panas terik seakan memanggang tubuh Asti, saat ia sedang berjalan menyebrangi jalan sambil membawa bukunya. Tiba-tiba…”brukkkkk”. Sebuah motor mengerem di depannya dan hampir saja menabraknya. “astaga tadi mimpi apa bukan ya? Sepertinya maut sudah di dekat mata”, katanya sambil mengambil bukunya yang terjatuh dan segera pergi. “eh maaf, tunggu” kata si pengendara motor. Tapi Asti tak menghiraukannya, ia terus berjalan. Sehingga si pengendara motor terus mengejarnya. “hey tunggu”, Asti berhenti, ia seakan mengenal suara itu. “maaf nona, apa ada yang terluka?” lalu Asti menoleh, si pengendara itu pun menatapnya. Betapa terkejutnya mereka. Tak tau harus berbuat apa, tatapan rindu yang jelas terpancar dari mata mereka, membuat mereka lupa akan hal yang terjadi tadi. “Asti””Danan?”, “ya ampun aku ga nyangka kita bisa ketemu di sini.” “ia” “eh maaf tadi aku lagi ngelamun jadi ga liat kalo ada yang nyebrang.” “kalo aku sih ga apa-apa Dan, tapi gimana kalo itu orang tua, bisa-bisa langsung m-a-t-i.” “ia, As, aku ga kepikiran”, “sorry ya aku harus pergi dulu.” “tapi boleh kan aku jadi temenmu lagi.””ya ampun emang dulu-dulu kamu apaku?” “ya nyambung slahturahmi aja.””ok da…”
Di rumah Asti merenung, sampai-sampai iatak mendengar bunyi ponselnya. Adiknya pun datang “As, Asti angkat telponnya dong berisik tau”, katanya sambil menggendor-gendor pintu. Asti terbangun dari lamunannya. “ya ampun ada telepon dari Fery, aku benar-benar ga sadar. Ya halo Fer,” “aduh Asti tau ga aku dah 5 kali nyoba nelpon kamu, udah mulai budek ya?” “sorry, aku ketiduran nih. Kenapa Fer?” “gimana bukunya dah dapet?” “oh iya udah” “kapan kita bisa ngerjain?” “pas pulang sekolah aja.” “ya deh bye” “bye” uuh si Fery ganggu aja,kata Asti dalam hati.
Aku kembali bermimpi
Dengan romansa yang kian jelas
Terbayang lagi jurang perpisahan
Menanti jurang itu rapat
Sampai dua hati menyatu
Bersama berseminya cinta lagi
“Dor” “ya ampun, Fery ngagetin aku aja”, kata Asti. “gitu aja marah As” “udah tau aku jantungan pake nanya lagi kamu Fer” “ya sorry banget, ga akan aku ulangin.” Kini Asti sudah berpisah dengan Danan, tepat 1 tahun setelah ia menginjakkan kakinya di universitas.
Akankah ada asa lagi?
Setiap ku ingat kini
Hanya relung hati yang hampa ini
Yang selalu meronta-ronta
Memanggil namanya
Namun yang ada hanya
Bayangan semu dirinya
Membasuh mimpi-mimpiku
Membutakan mataku
Dan menutup hatiku
Untuk insan lain
Sementara itu, hubungan Asti dan Fery semakin dekat karna mereka satu universitas. Di sisi lain Maya telah putus dengan Fery, kata Fery karena mereka sudah tak sepaham lagi. Entah kenapa juga Maya kini telah menjauhi Asti, padahal Asti sudah bertanya ada apa gerangan. Tapi hanya bisu yang menjawab semua pertanyaannya. Sesungguhnya Maya tidak berniat seperti itu, dia sangat menyayangi Asti. Tapi sakit hatinya tak bisa disembunyikan lagi.
Panas terik seakan memanggang tubuh Asti, saat ia sedang berjalan menyebrangi jalan sambil membawa bukunya. Tiba-tiba…”brukkkkk”. Sebuah motor mengerem di depannya dan hampir saja menabraknya. “astaga tadi mimpi apa bukan ya? Sepertinya maut sudah di dekat mata”, katanya sambil mengambil bukunya yang terjatuh dan segera pergi. “eh maaf, tunggu” kata si pengendara motor. Tapi Asti tak menghiraukannya, ia terus berjalan. Sehingga si pengendara motor terus mengejarnya. “hey tunggu”, Asti berhenti, ia seakan mengenal suara itu. “maaf nona, apa ada yang terluka?” lalu Asti menoleh, si pengendara itu pun menatapnya. Betapa terkejutnya mereka. Tak tau harus berbuat apa, tatapan rindu yang jelas terpancar dari mata mereka, membuat mereka lupa akan hal yang terjadi tadi. “Asti””Danan?”, “ya ampun aku ga nyangka kita bisa ketemu di sini.” “ia” “eh maaf tadi aku lagi ngelamun jadi ga liat kalo ada yang nyebrang.” “kalo aku sih ga apa-apa Dan, tapi gimana kalo itu orang tua, bisa-bisa langsung m-a-t-i.” “ia, As, aku ga kepikiran”, “sorry ya aku harus pergi dulu.” “tapi boleh kan aku jadi temenmu lagi.””ya ampun emang dulu-dulu kamu apaku?” “ya nyambung slahturahmi aja.””ok da…”
Di rumah Asti merenung, sampai-sampai iatak mendengar bunyi ponselnya. Adiknya pun datang “As, Asti angkat telponnya dong berisik tau”, katanya sambil menggendor-gendor pintu. Asti terbangun dari lamunannya. “ya ampun ada telepon dari Fery, aku benar-benar ga sadar. Ya halo Fer,” “aduh Asti tau ga aku dah 5 kali nyoba nelpon kamu, udah mulai budek ya?” “sorry, aku ketiduran nih. Kenapa Fer?” “gimana bukunya dah dapet?” “oh iya udah” “kapan kita bisa ngerjain?” “pas pulang sekolah aja.” “ya deh bye” “bye” uuh si Fery ganggu aja,kata Asti dalam hati.
Aku kembali bermimpi
Dengan romansa yang kian jelas
Terbayang lagi jurang perpisahan
Menanti jurang itu rapat
Sampai dua hati menyatu
Bersama berseminya cinta lagi
Rabu, 03 Maret 2010
SIX
“As kok kamu jarang lagi ngomong ma Danan? Da masalah ya?” “ga ada apa-apa kok. Lagian buat apa aku bicara ma dia kami ga ada urusan kan?” dengan nada yang cukup tinggi.“maaf kalo kamu ga mau ngomongin masalah itu,aku cuma ingin tanya aja.” Kata Maya tenang“oh aku juga minta maaf ma kamu, ya aku sekarang lagi kesal.” “ya udah, ga apa-apa”.
Ya ampun ni buku pake jatuh lagi,kata Asti sembari memunguti buku-buku yang jatuh dari tangannya. Dia disuruh membawa buku-buku tersebut ke ruang guru, namun karena mendengar gosip Danan dan Tari yang kian mesra membuat semua konsentrasinya hilang. Tiba-tiba ada seseorang di depannya berdiri, “kamu perlu bantuan?” “ga usah, makasih” “ya ampun Asti dari dulu kamu ga pernah berubah ya.” Seketika Asti menengok, “Fery?ini beneran kamu? Kok bisa.” “iya As, ni aku Fery, aku dah pindah ke sini.” “kamu dapat kelas apa?” “kls B, maklum anak bodoh.” “kalo kls B sih lumayan Fer. Ngomong-ngomong udah lama juga ya kita ga ketemu.” “kamu kangen ya As?” “ye gr banget sih, ga tuh.” “sorry jangan sewot dulu As, aku cuma bercanda kok.” “e udah dulu ya Fer, aku mesti bawa ini dulu ke kantor guru.” “kalo gitu kita searah dong, aku juga mau ke kantor guru, anterin ya.” “ya”. Mereka berdua berjalan beriringan.
Di kelas Asti, semua anak perempuan membicarakan Fery, begitu juga Maya. “As, tau ga ada anak baru” “so….what?” “guanteng banget lho As” “pasti namanya Fery” “lho kamu kok tau As?” “tadi aku ketemu ma dia, dia tu temen sekolahku dulu.” “ya ampun kok kamu baru ngasi tau aku klo punya kenalan bening kayak gitu sih?” “abis kamu ga pernah nanya sih.” “kalo gitu kenalin aku dong ma dia.” “gimana ya?” “please As, aku ngefans banget ma dia, sekalian comblangin aku ya.” “ya deh apa sih yang ga buat temenku yang cantik ini.”
Semenjak saat itu mereka dekat dengan Fery, Fery selalu mengikuti Maya dan Asti. Ternyata perasaanya dulu terhadap Asti tak berubah. Dan ia bertekad akan mengungkapkannya. Pada akhirnya Danan juga cemburu. Ia selalu meledek Asti dan Fery bila mereka bertemu. Asti pun merasa sangat kesal, padahal semua orang tahu yang berpacaran bukan dia dan Fery, tapi Maya dan Fery.
Sinar lain datang lagi
Meski redupnya mengusik
Jiwa yang kini gundah
Menanti ketidakpastian
SEVEN
Sebentar lagi acara jalan-jalan untuk sekolah Asti diadakan, semua sangat antusias. Dan hari itu pun tiba, “aku mo duduk depan aja ah, mumpung sepi.” Dan Asti melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang dekat dengan sopir bus. Itu juga karena dia sering mabuk darat. Jadi kalo mau muntah kan gampang minta tas kresek. Sementara Danan bingung mau duduk di mana, dia sudah kehabisan tempat, jadi ia coba mencari tempat di depan. Dan ia melihat Asti sedang duduk sendiri di sana. “As boleh kan aku duduk di sini soalnya di belakang sudah penuh.” “terserah”.
Mereka sama sekali tidak bicara, sampai Danan tiba-tiba gelisah. Awalnya Asti tidak perduli, tapi dia kasihan juga melihatnya. “kamu kenapa sih” “aku kayaknya mau muntah deh As.” “apa muntah?” Asti pun panik. “kalo gitu mending kamu duduk di tempat aku, biar lebih deket ma jendela. Aku akan minta kresek sama pak sopir.” Lalu Asti pun meminta kresek. Setelah selesai, ia memberikannya kepada Danan. “niih, kreseknya.” “makasih As.”
“aku minta maaf ya As, gara-gara aku kamu jadi repot.” “ga usah dipikirin, kalo kamu muntah di sini kan aku juga yang repot. Aku ternyata baru tau kalo kamu itu mabuk darat. Lucu juga.” “iya sih, mana aku bangun kesiangan lagi. Aku jadi lupa minum obat anti mabuk.” “oh ni aku bawa, minum aja, aku tadi dah minum kok.” “beneran nih?” “ya kalo ga mau juga ga pa-pa.” “eh mau kok.”
Sepanjang perjalanan mereka tertidur, tanpa sengaja mereka saling bersandar. Danan yang lebih dulu terbangun. Tapi ia tidak tega membangunkan Asti. Sesungguhnya ia sangat senang, kesempatan ini sangat jarang. Tapi Asti bangun. “oh.. maaf aku ketiduran.” “ya ga pa-pa itung-itung balas budi.” “ngomong-ngomong kita dah sampai belum ya?” “bentar lagi kayaknya.” Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di objek wisata yang dituju. Saat Asti hendak menuruni tangga bis, tiba-tiba kepalanya pusing. Hampir saja ia terjatuh, untung Danan memegang tangannya dan memapahnya sampai turun.
“As, kamu sebaiknya jangan dulu jalan. Mukamu pucat sekali.” “e…tapi.” Kata Asti sambil memegangi kepalanya. Lalu Maya dan Fery datang. “Dan kenapa si Asti”,tanya Maya. “ga tau nih May, tadi tiba-tiba aja dia limbung.” “kalo gitu ngapain kamu biarin dia di sini? Mending kamu pergi saja, biar kami sahabat-sahabatnya yang menjaganya”, kata Fery. Ternyata Fery cemburu melihat Danan di samping Asti. “mending kalian aja yang pergi, kalian kan pacaran, manfaatin dong saat-saat kayak gini.” “huh untung pacarmu ga ada di sini Danan.” Kata Fery marah. Maya langsung curiga dengan sikap Fery.
“Fer, kamu kenapa sih aneh gitu, udah deh jangan bertengkar.” Lalu Asti bicara “bener Fer, aku juga ga mau ngrusak rencana kalian. Udah pergi aja” “bener kan Fer, ayo kita pergi”,ucap Maya sambil menarik tangan Fery. “brengsek, awas ya lain kali aku akan beri kamu pelajaran Danan.”ungkap Fery dalam hatinya. “Danan kamu sebaiknya pergi juga, aku bisa sendiri kok.” “ga mungkin aku ninggalin kamu, lebih baik kita nyari warung terdekat sambil nunggu mereka kembali, paling satu jam lagi mereka datang As.” “aduh aku jadi ga enak sama kamu.” “jangan kayak gitu As, aku cuma ga mau kamu kenapa-kenapa.” “ya makasih”.
Setelah perjalanan usai, mereka bersiap-siap untuk pulang. Asti mengira ia bisa menjaga keseimbangannya, tapi tiba-tiba ia limbung, untung Danan segera memapahnya. “As, kamu kok ga bilang kalo mau pergi”, Asti hanya diam. “kalo gitu aku bantu kamu ke luar ya.” “ya”. Fery kembali cemburu, tapi ia rasa ia tak akan melakukan apa-apa menjaga agar Maya tidak cemburu lagi.
“As kok kamu jarang lagi ngomong ma Danan? Da masalah ya?” “ga ada apa-apa kok. Lagian buat apa aku bicara ma dia kami ga ada urusan kan?” dengan nada yang cukup tinggi.“maaf kalo kamu ga mau ngomongin masalah itu,aku cuma ingin tanya aja.” Kata Maya tenang“oh aku juga minta maaf ma kamu, ya aku sekarang lagi kesal.” “ya udah, ga apa-apa”.
Ya ampun ni buku pake jatuh lagi,kata Asti sembari memunguti buku-buku yang jatuh dari tangannya. Dia disuruh membawa buku-buku tersebut ke ruang guru, namun karena mendengar gosip Danan dan Tari yang kian mesra membuat semua konsentrasinya hilang. Tiba-tiba ada seseorang di depannya berdiri, “kamu perlu bantuan?” “ga usah, makasih” “ya ampun Asti dari dulu kamu ga pernah berubah ya.” Seketika Asti menengok, “Fery?ini beneran kamu? Kok bisa.” “iya As, ni aku Fery, aku dah pindah ke sini.” “kamu dapat kelas apa?” “kls B, maklum anak bodoh.” “kalo kls B sih lumayan Fer. Ngomong-ngomong udah lama juga ya kita ga ketemu.” “kamu kangen ya As?” “ye gr banget sih, ga tuh.” “sorry jangan sewot dulu As, aku cuma bercanda kok.” “e udah dulu ya Fer, aku mesti bawa ini dulu ke kantor guru.” “kalo gitu kita searah dong, aku juga mau ke kantor guru, anterin ya.” “ya”. Mereka berdua berjalan beriringan.
Di kelas Asti, semua anak perempuan membicarakan Fery, begitu juga Maya. “As, tau ga ada anak baru” “so….what?” “guanteng banget lho As” “pasti namanya Fery” “lho kamu kok tau As?” “tadi aku ketemu ma dia, dia tu temen sekolahku dulu.” “ya ampun kok kamu baru ngasi tau aku klo punya kenalan bening kayak gitu sih?” “abis kamu ga pernah nanya sih.” “kalo gitu kenalin aku dong ma dia.” “gimana ya?” “please As, aku ngefans banget ma dia, sekalian comblangin aku ya.” “ya deh apa sih yang ga buat temenku yang cantik ini.”
Semenjak saat itu mereka dekat dengan Fery, Fery selalu mengikuti Maya dan Asti. Ternyata perasaanya dulu terhadap Asti tak berubah. Dan ia bertekad akan mengungkapkannya. Pada akhirnya Danan juga cemburu. Ia selalu meledek Asti dan Fery bila mereka bertemu. Asti pun merasa sangat kesal, padahal semua orang tahu yang berpacaran bukan dia dan Fery, tapi Maya dan Fery.
Sinar lain datang lagi
Meski redupnya mengusik
Jiwa yang kini gundah
Menanti ketidakpastian
SEVEN
Sebentar lagi acara jalan-jalan untuk sekolah Asti diadakan, semua sangat antusias. Dan hari itu pun tiba, “aku mo duduk depan aja ah, mumpung sepi.” Dan Asti melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang dekat dengan sopir bus. Itu juga karena dia sering mabuk darat. Jadi kalo mau muntah kan gampang minta tas kresek. Sementara Danan bingung mau duduk di mana, dia sudah kehabisan tempat, jadi ia coba mencari tempat di depan. Dan ia melihat Asti sedang duduk sendiri di sana. “As boleh kan aku duduk di sini soalnya di belakang sudah penuh.” “terserah”.
Mereka sama sekali tidak bicara, sampai Danan tiba-tiba gelisah. Awalnya Asti tidak perduli, tapi dia kasihan juga melihatnya. “kamu kenapa sih” “aku kayaknya mau muntah deh As.” “apa muntah?” Asti pun panik. “kalo gitu mending kamu duduk di tempat aku, biar lebih deket ma jendela. Aku akan minta kresek sama pak sopir.” Lalu Asti pun meminta kresek. Setelah selesai, ia memberikannya kepada Danan. “niih, kreseknya.” “makasih As.”
“aku minta maaf ya As, gara-gara aku kamu jadi repot.” “ga usah dipikirin, kalo kamu muntah di sini kan aku juga yang repot. Aku ternyata baru tau kalo kamu itu mabuk darat. Lucu juga.” “iya sih, mana aku bangun kesiangan lagi. Aku jadi lupa minum obat anti mabuk.” “oh ni aku bawa, minum aja, aku tadi dah minum kok.” “beneran nih?” “ya kalo ga mau juga ga pa-pa.” “eh mau kok.”
Sepanjang perjalanan mereka tertidur, tanpa sengaja mereka saling bersandar. Danan yang lebih dulu terbangun. Tapi ia tidak tega membangunkan Asti. Sesungguhnya ia sangat senang, kesempatan ini sangat jarang. Tapi Asti bangun. “oh.. maaf aku ketiduran.” “ya ga pa-pa itung-itung balas budi.” “ngomong-ngomong kita dah sampai belum ya?” “bentar lagi kayaknya.” Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di objek wisata yang dituju. Saat Asti hendak menuruni tangga bis, tiba-tiba kepalanya pusing. Hampir saja ia terjatuh, untung Danan memegang tangannya dan memapahnya sampai turun.
“As, kamu sebaiknya jangan dulu jalan. Mukamu pucat sekali.” “e…tapi.” Kata Asti sambil memegangi kepalanya. Lalu Maya dan Fery datang. “Dan kenapa si Asti”,tanya Maya. “ga tau nih May, tadi tiba-tiba aja dia limbung.” “kalo gitu ngapain kamu biarin dia di sini? Mending kamu pergi saja, biar kami sahabat-sahabatnya yang menjaganya”, kata Fery. Ternyata Fery cemburu melihat Danan di samping Asti. “mending kalian aja yang pergi, kalian kan pacaran, manfaatin dong saat-saat kayak gini.” “huh untung pacarmu ga ada di sini Danan.” Kata Fery marah. Maya langsung curiga dengan sikap Fery.
“Fer, kamu kenapa sih aneh gitu, udah deh jangan bertengkar.” Lalu Asti bicara “bener Fer, aku juga ga mau ngrusak rencana kalian. Udah pergi aja” “bener kan Fer, ayo kita pergi”,ucap Maya sambil menarik tangan Fery. “brengsek, awas ya lain kali aku akan beri kamu pelajaran Danan.”ungkap Fery dalam hatinya. “Danan kamu sebaiknya pergi juga, aku bisa sendiri kok.” “ga mungkin aku ninggalin kamu, lebih baik kita nyari warung terdekat sambil nunggu mereka kembali, paling satu jam lagi mereka datang As.” “aduh aku jadi ga enak sama kamu.” “jangan kayak gitu As, aku cuma ga mau kamu kenapa-kenapa.” “ya makasih”.
Setelah perjalanan usai, mereka bersiap-siap untuk pulang. Asti mengira ia bisa menjaga keseimbangannya, tapi tiba-tiba ia limbung, untung Danan segera memapahnya. “As, kamu kok ga bilang kalo mau pergi”, Asti hanya diam. “kalo gitu aku bantu kamu ke luar ya.” “ya”. Fery kembali cemburu, tapi ia rasa ia tak akan melakukan apa-apa menjaga agar Maya tidak cemburu lagi.
Selasa, 02 Maret 2010
FIVE
“As, belanja dulu yuk!”, ajak Maya. “E..aku ke toilet dulu, kamu ke sana aja duluan May.” “ok”. Namun sebelum ia pergi ke toilet, ia melihat Danan dan Tari sedang berbicara, tanpa sengaja ia menguping pembicaraaan mereka. “Kak Danan, kata temenku kamu sedang ada fair ya sama Kak Asti?” “Ah kamu ini Tar,ga ada apa-apa di antara kami. Dia bukan siapa-siapa aku kok.” Seketika itu Asti sangat terpukul. Ia pun bertekad tidak akan lagi bicara dengan Danan.
Saat jam istirahat, “Gimana As, tugasnya?” kata Danan. “ini, aku harap kamu ga kecewa.” Kata Asti sambil menyerahkan tugas itu dengan kasar. “kamu kenapa As?marah?”. “Ga, aku cuma ingin kita ga ada urusan lagi dengan tugas ini.” Danan hanya diam melihat Asti beranjak dan pergi. Setelah insiden dingin itu, Asti dipanggil ke ruang kepsek. Ia pulang agak terlambat, karena kepsek menyuruhnya untuk menulis beberapa makalah tentang sekolah. Karena pengarahan telah usai, ia bergegas pergi ke kelas. Namun setelah sampai di kelas dia melihat Danan. Betapa terkejutnya dia, tapi ia tetap berusaha untuk tetap bersikap tenang seolah-olah tak ada apa-apa diantara mereka.
“As, aku ingin bicara.” “Bicara apa lagi? Tugas itu dah kelar kan, lagi pula aku ga punya waktu lama-lama di sini. Aku mau pulang, kapan-kapan aja bicaranya.” Asti segera mengambil tasnya, tapi karena tergesa-gesa ia tak melihat ada tangga di depannya. Ia terjatuh. “As, kamu ga pa-pa?” Asti tak menjawab. Ia hanya mencoba untuk berdiri, tapi ia merasa sangat kesakitan. “Udah As. Yang penting kita obatin dulu kaki kamu. Tunggu di sini ya aku beliin plester dulu.” Meski Asti marah tapi ia tetap menunggu Danan. “Gimana As? Masih sakit?” “aduh kenapa sih kamu cerewet banget, urusan aja kerjaan kamu sendiri. Aku bisa jalan kok.” “bisa apanya? Berdiri aja ga bisa, apalagi jalan. Emang kamu mo ngesot?” Akhirnya terpaksa juga Asti menuruti Danan.
Kau datang tiba-tiba
Membuatku gundah dan gelisah
Bermimpi di tengah asa
Yang selalu kau ciptakan
Meski kau tau aku…….
Tak mungkin menggapaimu kini
“As, belanja dulu yuk!”, ajak Maya. “E..aku ke toilet dulu, kamu ke sana aja duluan May.” “ok”. Namun sebelum ia pergi ke toilet, ia melihat Danan dan Tari sedang berbicara, tanpa sengaja ia menguping pembicaraaan mereka. “Kak Danan, kata temenku kamu sedang ada fair ya sama Kak Asti?” “Ah kamu ini Tar,ga ada apa-apa di antara kami. Dia bukan siapa-siapa aku kok.” Seketika itu Asti sangat terpukul. Ia pun bertekad tidak akan lagi bicara dengan Danan.
Saat jam istirahat, “Gimana As, tugasnya?” kata Danan. “ini, aku harap kamu ga kecewa.” Kata Asti sambil menyerahkan tugas itu dengan kasar. “kamu kenapa As?marah?”. “Ga, aku cuma ingin kita ga ada urusan lagi dengan tugas ini.” Danan hanya diam melihat Asti beranjak dan pergi. Setelah insiden dingin itu, Asti dipanggil ke ruang kepsek. Ia pulang agak terlambat, karena kepsek menyuruhnya untuk menulis beberapa makalah tentang sekolah. Karena pengarahan telah usai, ia bergegas pergi ke kelas. Namun setelah sampai di kelas dia melihat Danan. Betapa terkejutnya dia, tapi ia tetap berusaha untuk tetap bersikap tenang seolah-olah tak ada apa-apa diantara mereka.
“As, aku ingin bicara.” “Bicara apa lagi? Tugas itu dah kelar kan, lagi pula aku ga punya waktu lama-lama di sini. Aku mau pulang, kapan-kapan aja bicaranya.” Asti segera mengambil tasnya, tapi karena tergesa-gesa ia tak melihat ada tangga di depannya. Ia terjatuh. “As, kamu ga pa-pa?” Asti tak menjawab. Ia hanya mencoba untuk berdiri, tapi ia merasa sangat kesakitan. “Udah As. Yang penting kita obatin dulu kaki kamu. Tunggu di sini ya aku beliin plester dulu.” Meski Asti marah tapi ia tetap menunggu Danan. “Gimana As? Masih sakit?” “aduh kenapa sih kamu cerewet banget, urusan aja kerjaan kamu sendiri. Aku bisa jalan kok.” “bisa apanya? Berdiri aja ga bisa, apalagi jalan. Emang kamu mo ngesot?” Akhirnya terpaksa juga Asti menuruti Danan.
Kau datang tiba-tiba
Membuatku gundah dan gelisah
Bermimpi di tengah asa
Yang selalu kau ciptakan
Meski kau tau aku…….
Tak mungkin menggapaimu kini