ELEVEN
Seiring berjalannya waktu, dan karena tuntutan pekerjaan. Mereka pun dekat kembali. Suatu ketika hujan turun dengan derasnya. Asti benar-benar tidak tahu harus pulang dengan apa. Tiba-tiba “hai” Danan menepuk bahunya “astaga Tuhan kamu ini ngagetin aku aja Dan nagapain kamu di sini?” “iseng aja kok sambil nunggu ujan reda. Oh ya aku punya surprise” lalu Dana membuka kuenya “tara.met ultah As” “oh iya aku lupa, makasih ya” “sama-sama” ternyata hujan turun kian deras dan petir menyambar-nyambar. “duh Dan gimana nih mana udah larut lagi” “kalo gitu kamu naik mobil aku aja, biar orang tua kamu di rumah juga ga khawatir” “kalo gitu makasih sekali lagi ya Dan” “ok”
Danan mengantar Asti dengan mobilnya, ia sengaja memperlambat laju mobilnya di samping karena ujannya begitu deras. Ia ingin memanfaatkan waktu itu dengan baik. Tapi yang terjadi Asti malah ketiduran. Ia dengan suara pelan membangunkan Asti, tapi Asti belum juga terbangun. “aduh si Asti ini kalo udah tidur susah banget banguninnya.” Terpaksa Danan lebih mendekat, tanpa ia sadari ia menatap Asti dan jantungnya pun berdegup kencang “ah ngapain sih aku ini, entar dia ngeliat aku lagi merhatiin dia lagi. Mending aku teriakin ada kebakaran aja. “Asti bangun, rumah kita kebakaran..woooe bangun cepet.” Asti terkesiap “ah mana, cepetan panggil polisi. Lho” “ha ha ha, udah sampai As” “tega banget kamu Dan” “abis kamu ngorok terus sih” “makasih dah nganterin hati-hati di jal;an ya” “ya” Danan menunggu sampai tubuh Asti menghilang di balik pintu lalu ia menancapkan gas.”
Seandainya dapat ku katakan
Gejolak dan bara yang membentang
Dan memenuhi seluruh tubuhku
Saat kau ada di sampingku
Membawaku ke alam cinta
0 komentar:
Posting Komentar