Kamis, 04 Maret 2010

EIGHT
“Dor” “ya ampun, Fery ngagetin aku aja”, kata Asti. “gitu aja marah As” “udah tau aku jantungan pake nanya lagi kamu Fer” “ya sorry banget, ga akan aku ulangin.” Kini Asti sudah berpisah dengan Danan, tepat 1 tahun setelah ia menginjakkan kakinya di universitas.
Akankah ada asa lagi?
Setiap ku ingat kini
Hanya relung hati yang hampa ini
Yang selalu meronta-ronta
Memanggil namanya
Namun yang ada hanya
Bayangan semu dirinya
Membasuh mimpi-mimpiku
Membutakan mataku
Dan menutup hatiku
Untuk insan lain
Sementara itu, hubungan Asti dan Fery semakin dekat karna mereka satu universitas. Di sisi lain Maya telah putus dengan Fery, kata Fery karena mereka sudah tak sepaham lagi. Entah kenapa juga Maya kini telah menjauhi Asti, padahal Asti sudah bertanya ada apa gerangan. Tapi hanya bisu yang menjawab semua pertanyaannya. Sesungguhnya Maya tidak berniat seperti itu, dia sangat menyayangi Asti. Tapi sakit hatinya tak bisa disembunyikan lagi.
Panas terik seakan memanggang tubuh Asti, saat ia sedang berjalan menyebrangi jalan sambil membawa bukunya. Tiba-tiba…”brukkkkk”. Sebuah motor mengerem di depannya dan hampir saja menabraknya. “astaga tadi mimpi apa bukan ya? Sepertinya maut sudah di dekat mata”, katanya sambil mengambil bukunya yang terjatuh dan segera pergi. “eh maaf, tunggu” kata si pengendara motor. Tapi Asti tak menghiraukannya, ia terus berjalan. Sehingga si pengendara motor terus mengejarnya. “hey tunggu”, Asti berhenti, ia seakan mengenal suara itu. “maaf nona, apa ada yang terluka?” lalu Asti menoleh, si pengendara itu pun menatapnya. Betapa terkejutnya mereka. Tak tau harus berbuat apa, tatapan rindu yang jelas terpancar dari mata mereka, membuat mereka lupa akan hal yang terjadi tadi. “Asti””Danan?”, “ya ampun aku ga nyangka kita bisa ketemu di sini.” “ia” “eh maaf tadi aku lagi ngelamun jadi ga liat kalo ada yang nyebrang.” “kalo aku sih ga apa-apa Dan, tapi gimana kalo itu orang tua, bisa-bisa langsung m-a-t-i.” “ia, As, aku ga kepikiran”, “sorry ya aku harus pergi dulu.” “tapi boleh kan aku jadi temenmu lagi.””ya ampun emang dulu-dulu kamu apaku?” “ya nyambung slahturahmi aja.””ok da…”
Di rumah Asti merenung, sampai-sampai iatak mendengar bunyi ponselnya. Adiknya pun datang “As, Asti angkat telponnya dong berisik tau”, katanya sambil menggendor-gendor pintu. Asti terbangun dari lamunannya. “ya ampun ada telepon dari Fery, aku benar-benar ga sadar. Ya halo Fer,” “aduh Asti tau ga aku dah 5 kali nyoba nelpon kamu, udah mulai budek ya?” “sorry, aku ketiduran nih. Kenapa Fer?” “gimana bukunya dah dapet?” “oh iya udah” “kapan kita bisa ngerjain?” “pas pulang sekolah aja.” “ya deh bye” “bye” uuh si Fery ganggu aja,kata Asti dalam hati.
Aku kembali bermimpi
Dengan romansa yang kian jelas
Terbayang lagi jurang perpisahan
Menanti jurang itu rapat
Sampai dua hati menyatu
Bersama berseminya cinta lagi

0 komentar:

Posting Komentar