Jumat, 09 Juli 2010

SORRY

Semakin lama, rasa itu semakin tumbuh di hatiku meski ku tak tau apakah semua ini akan tetap seperti ini. Hanya satu yang ku pikirkan sekarang, aku akan jalani semua ini dengan penuh rasa sabar, karna ku yakin kesadaran itulah yang akan menentukan ini semua.

Tanggal 16 April ini, adalah hari yang paling mengesankan bagiku. Karena dia akan berusia tepat 25 tahun, ya meskipun aku lebih tua satu bulan lebih dari dia,tapi aku sangat menyayanginya. Dia merupakan anugerah terindah dalam hidupku, dia telah mengisi hari-hariku yang kelam dan hampa ini.
Perjalanan menuju Singaraja memang memakan waktu yang agak lama, saat ku kendarai sepeda motorku yang baru, ku rasakan desiran angin yang dingin dan tetesan embun membasahi helmku dengan perlahan. Sangat indah pemandangan yang sudah lama tidak ku nikmati ini. Setelah kelulusanku dari sekolah pemerintah itu, orang pertama yang ingin ku temui adalah pacar pertamaku yang kini hubungan kami sudah menginjak usia tujuh tahun. Sungguh ku sangat merindukannya,kami hanya bisa bertemu sebulan sekali, hmmm sungguh menyedihkan. Tapi itulah yang harus kami jalani, terpisah jarak dan waktu, namun jiwa kami tetap satu, dan itulah yang terpenting dari semuanya.
Pagi sekali ku panaskan mesin motorku, lalu ku siapkan semua perlengkapan dan baju-baju yang akan ku pakai di sana. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 pagi, cepat-cepat ku siapkan sarapan untuk keluargaku. Lalu seperti biasa jam 6 pagi ku bergegas ke kamar mandi. “Yu, mau kemana kamu nak? Tumben sudah siap-siap pagi sekali”, baru saja ku tutup pintu kamar mandiku, lalu ku buka kembali, “mau ke rumah Mitha ma”, “kok kmu ga pernah bilang ke mama dari kemarin?”. “ya ini juga dadakan ma, Yuri ada urusan juga ma Mitha ma, udah ya mo cepet-cepet nie”. Segera pintu ku tutup, ku dengar mamaku masih berbicara, tapi konsentrasiku sekarang hanya tertuju pada Badra. Sudah tak sabar ku tunggu saat-saat ini, kebetulan kantor tempatku bekerja sekarang liburm dan dia pun diberi cuti oleh bosnya.
Tepat pukul 8 pagi ku berangkat dari rumah, dengan terlebih dahulu selalu ingat untuk sembahyang dan meminta salam kepada mama dan ayahku. Pelan-pelan ku keluarkan motorku dari bagasiku yang lumayan sempit ini. Tas-tas semua sudah ku gantung di motor, kemudian ku tancap gas motorku. Ku lihat di jalan banyak ada pemandangan yang sangat indah. Untunglah ku masih ingat jalan ke sana, meski aku rasa aku masih sedikit lupa. Rasa lapar sempat hinggap saat setengah perjalanan menuju ke sana ku lewati. Terpaksa ku turun dan membeli bakso di sisi jalan sepanjang penelokan. Indah sekali gunung Batur tersebut, ku ingin sekali bisa berfoto bersama Badra di sini, pasti akan sangat indah…..
Akhirnya ku sampai juga di rumah saudaraku Mitha, seperti biasa dia menyambutku dengan ramah. Terus terang ku lelah sekali, sesaat setelah ku rebahkan badanku di kasurnya, Badra meneleponku. “mmm…hello my darling” “hi my lovely, don’t you know, I’ve already arrived here, so tired now”. “yes, I see. Ok, just take a rest” “but I still want to talk with you” “don’t worry, I’ll call you again, but you have to rest now” “yeah, up to you” “bye my sweety” “bye my honey”. Ya telepon ku tutup, kini ku hanyut dalam mimpi indah bersama dia, aku sudah memikirkan cara memberikan kejutan bagi dia di hari ulang tahunnya. Dan tentu dengan sedikit bantuan Mitha hal ini akan bisa sempurna.
Terik matahari singaraja benar-benar menyengat, meski jaketku sudah ku pakai, sepertinya rasa panas itu sudah membakar kulitku. Sempat sekali ku pergi ke rumah Badra, rumahnya sederhana, tapi sangat nyaman ku rasakan di sana. Keluarganya menerimaku dengan hangat. Tapi sayang satu hal yang selalu ku takutkan bila berkunjung ke sana adalah aku akan bertemu orang yang paling tidak ingin ku ingat lagi. Ya, dia Indra, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Namun tidak pernah ku rasakan hal yang mengesankan darinya. Karena sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan manja. Dengan setelah blus dan celana jins biru, ku pergi ke rumah Badra, suasana di sana masih belum berubah. Ku jumpai ibunya saat sampai di sana, “Om Swastyastu bu”, “lho Yuri, Om Swastyastu nak. Sini duduk nak, kanggoin ya” “ah ibu ini, kayak sama siapa aja ngomong gitu. Oh ya Badranya ada di rumah kan?” “oh ya, ya dia ada di kamar dengan temannya, Yuri langsung masuk saja ke kamarnya, tidak apa-apa kok”. “oh ya, makasih bu, saya cari Badra dulu”. Dengan langkah lari kecil ku bergegas ke kamarnya, betapa terkejutnya begitu ku buka pintu kamarnya, ternyata Indra ada di sana…..
Kami semua terkejut, Badra terkejut karena ia tidak menyangka aku datang. Sedangkan aku dan Indra terkejut karena kami bisa bertemu sekarang. Sesaat aku dan Indra sempat bertatapan, lalu cepat-cepat ku alihkan pandanganku. Lalu ku panggil Badra, “Badra, come here please”. Lalu Badra berkata ke Indra, “indra, sini dulu bentar ya. Aku mau bicara dulu ma Yuri”. Indra hanya mengangguk. Sementara dengan langkah kaku, aku keluar dari kamarnya bersama Badra. Kami duduk di teras depan yang sederhana yang dilapisi keramik berwarna putih kecoklatan tersebut, suasana hatiku masih tidak karuan, sungguh aku tidak pernah menebak saat ini aku akan bertemu dengan dia lagi. “Yu,kamu kok bengong?”, kata Badra. “ah ngga da apa-apa kok, oh ya Dra ntar bisa kan ke pantai?”. “mang pantai mana?” “pantai camplung ja dah biar deket ma rumah Dra” “oh mang ada apa Yu?” “ya ada sesuatu yang ingin Yuri omongin”. “kenapa ga di sini aja sie Yu?” “pokoknya kita ketemu di sana ja dah!!!” “ia, ia my honey”. Lalu ku berdiri, “”eh dah dulu ya Dra, aku mau ke rumah tanteku dulu” “ok take care ya” “ya, bye-bye” “bye”, katanya sambil melambaikan tangannya.
Aku tidak berani menoleh ke arah manapun…
“dra, tu Yuri dari Gianyar kan?”, kata Indra dengan penasaran. “iya ndra, kenapa?” “kok kamu ga pernah bilang kalau kamu pacaran ma dia, kan aku sohibmu?” “ya aku ga sempat ja, sorry ya” “ya udah lupain ja, btw kamu dah berapa lama pacaran ma dia?” “em…sekitar 5 tahun lah” “wih dah lama banget ya, aku kira kamu ampe karang belum punya pacar”. “iya lumayan lah ndra”. “ah kamu nie, jeg ga ngasi tau aku dari dulu. Kan aku kenal kalian berdua” “ya mo gimana lagi aku kan ga suka juga ngumbar-ngumbar masalah gituan”. “ya dah aku pulang dulu ya dra”. “ok”. Indra pulang dengan seribu Tanya dalam benaknya. Kenapa ya dia tidak bilang pacaran dengan teman dekatku sendiri, salah aku pa sih?ya sudahlah aku juga tidak berhak mengurus mereka lagi.
Sore yang indah saat ku ingin memberi kejutan pada Badra di pantai camplung. Tapi tak ku sangka-sangka Indra datang, awalnya dia tidak melihatku namun akhirnya dia pun menghampiriku. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa, namun seperti biasa ku pura-pura cuek padanya. “eh yuri, ngapain ke sini?”. “da urusan Ndra” “pasti mo ketemuan ma Badra ya?” “ya”, jawabku pendek, tanpa memandang ke arahnya. “Yu, aku ada salah ya ma kamu? Kok kamu jutek gitu sie ma aku?” “ga kok”, “trus???” “ya aku Cuma ga mau ganggu kamu ja”. “aku ga pernah ngerasa pernah terganggu kok”. Aku hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. “Yu…Yuri”, katanya sambil mendekatiku dan berdiri tepat di depanku. Lalu memegang pundakku, “aku minta maaf kalau punya salah padamu”. “ga kok, udah deh Ndra. Ngapain di sini?”, kataku sambil melepaskan pegangannya. “lagi pingin jalan-jalan ja Ndra”, dalam hatiku berkata, duh si Badra lama kali sie, males kali lama-lama ngomong ma nie orang. Untunglah Badra datang beberapa saat kemudian. “lho Yuri n Indra rupanya udah ada di sini toh”. “eh iya Dra, tadi ga sengaja aku ketemu ma Yuri”. “Dra, yuk kita kesana, aku punya kejutan buat kamu”. Lalu aku bergegas ke selatan berjalan. “bro, ntar kita sambung lagi ya”. “iya Dra”. Indra hanya bisa menatap kepergian mereka berdua…..
“tutup nae matanya Dra”, kataku. “duh kok pake gitu-gituan sie Yu?”. “ya ikutin ja”. Lalu ku buka bungkusan yang sudah ku tutup rapat. Dan ku letakkan lilin-lilin penuh kehati-hatian. Lalu ku lumuri dengan saus cherry dan kutuliskan Aishiteru. Lalu ku buka penutup matanya, “surprise…happy birthday ya Dra…”. “Yuri, makasih banyak ya…aku bahkan ga pernah ngasi kejutan apa-apa buat kamu”. “ah jangan itu dipikirin, yang penting kita harus happy karang, cepetan nae tiup lilinnya”. Kemudian Badra meniup lilin tersebut,dan memotong kue tart tersebut. Potongan itu ia berikan kepadaku, “makasih lagi ya Yuri” lalu sambil menyerahkan potongan kue tersebut ia mengecup keningku. Setelah itu ku kecup pipinya juga, “tetaplah ada di sampingku dra” “pasti Yuri”. Ya setelah itu kue itu kami habiskan berdua. Sambil melihat ke arah pantai hingga sore akhirnya kami pun berpisah.. “Dra, dah dulu ya” “iya Yu, hati-hati ja di jalan”. “ok dra”.
Hari itu sungguh berkesan bagiku, tak dapat ku pungkiri semuanya sungguh merupakan momen-momen yang selalu ku nantikan bersamanya. Namun esoknya ku dengar kabar bahwa dia dan Indra mengalami kecelakaaan. Langsung ku telpon orang tuanya dan ku cari dia di rumah sakit tersebut. Begitu sampai di kamarnya ku lihat juga ada Indra di sana. Mereka satu kamar tapi beda kasur, namun saat itu hanya satu yang ku pikirkan yaitu keselamatan Badra. “Dra, kamu kenapa bisa sampai kayak gini?”. Dengan sedikit kesulitan ia tetap menjawab pertanyaanku, “e…iya…gara-gara nyalip Yu”, “ya udah jangan diterusin, udah ga bisa dipaksain juga ngomongnya”. Lalu ku benahi bantal dan selimutnya. Meskipun ku tahu ada indra di dekatku, tapi aku tidak berniat untuk menyapanya. Lalu ku berkata, “Dra, aku mau pulang dulu ntar aku balik lagi dah”. Badra pun mengangguk.
Sesampainya di rumah sepupuku tersebut ku buatkan bubur untuk Badra berisi sedikit ayam dan sayur. Lalu secepatnya ku menuju rumah sakit, “dra, nie dah Yuri buatin bubur dimaem ya”. Ku buka bungkusan bubur tersebut, “ayo maem dulu dra”. Ku suapi Badra, dengan lahapnya dia makan. Mungkin Indra melihat kemesraan kami. Tapi jujur aku sudah tidak perduli lagi dengannya, dia bahkan tidak tahu bagaimana rasa sakit hatiku padanya, dia hanya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa di antara kami. Masih ku ingat saat-saat itu….
Lima tahun lalu ku buat jejaring social bernama FB…begitu banyak orang yang ku kenal, tapi hanya ada satu orang yang sangat ku ingin tahu. Ia bernama Indra Sanjaya. Kami menjalin hubungan pertemanan selama beberapa minggu, namun semakin lama ku merasa nadanya mengirim sms dengan kata-kata yang sangat romantic. Membuatku bingung harus menganggapnya apa, namun ku sadari dia telah mengisi segenap hari-hariku. Akhirnya kami bertemu saat dia sempat berkunjung ke rumah kakaknya di gianyar. Tapi sungguh sial, waktu itu hujan turun dengan derasnya. Apalagi dia tidak tahu arah, jadi kami janji di pom bensin. Tahu-tahunya hujan semakin deras dan kami berteduh di sebuah bengkel yang sudah tidak terurus lagi. Sungguh menyebalkan pertemuan itu, hingga aku pun tidak merasakan adanya sesuatu yang berarti saat itu. Kami bercakap-cakap hanya tentang hal-hal yang biasa kami perbincangkan dalam sms kami.
Tidak ada sesuatu yang membuatku terkejut saat itu ia mengajakku untuk mampir ke rumah kakakknya. Sungguh ku kaget setengah mati, bagaimana bisa aku ke sana padahal aku baru bertemu dengannya beberapa menit yang lalu. Akhirnya ku suruh dia pulang saja,lagipula dia juga ada acara dengan keluarganya. Bagaimana pun pertemuan itu adalah pertemuan pertamaku dengan seorang lelaki. Setelah itu hubungan kami agak renggang. Dan hal yang paling menyakitkan bagiku adalah di saat dia berbohong padaku. Awalnya pagi itu aku heran, tumben dia ngsms pagi-pagi jam 6. Lalu ku tanyakan kenapa dia bisa bangun sepagi itu. Dia menjawab bahwa pacarnyalah yang membangunkannya. Begitu melihat sms itu aku langsung down dan mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin di cap sebagai pengganggu hubungan orang dengan bersmsan dengannya. Dia sebenarnya tidak terima dengan keputusanku tersebut. Namun tekadku sudah bulat, apalagi ia sempat berkata bahwa apabila ia menyesal tahu kenyataannya seperti itu dia tidak akan memberitahuku tentang pacarnya.
Hal tersebut membuatku menyadari bahwa dia bukan tipe lelaki setia dengan pasangannya. Sejak saat itu kami lost contact…..dan sampai kini ak masih merasakan rasa sakit itu, bukan karena dia menganggapku hanya teman, tapi karena dia mengaku menyesal telah berkata jujur padaku…
Betapa terkejutnya aku ketika melihat kenyataan yang terjadi sekarang, ketika aku sudah sangat menyayangi Badra, tiba-tiba dia berubah beberapa minggu ini. Setiap perkataanku selalu salah, entah kenapa dia bisa seperti ini padahal hubungan kami masih baik-baik saja. Ternyata Indra benar-benar membongkar semua hubungan kami di masa lalu pada Badra. Dan Badra sudah menganggap aku seorang pembohong besar. Dengan menutup-nutupi kedekatanku dengan Indra. Lalu ku hampiri Badra, “Dra, bukan maksudku menutup-nutupi”, “pantes Indra aneh ku lihat sikapnya dari waktu ini ke kamu, ternyata ini yang sebenarnya”. “ya tapi yang penting sekarang kan hanya aku dan kamu, buat apa kamu mempersalahkan yang lalu-lalu”. “aku tidak bisa terima kamu berbohong kayak gini, kita kan udah janji buat terbuka Yu”. “tapi kan bukan berarti aku harus mengumbar-umbar semua masa lalu aku, aku bahkan ingin melupakannya”. “jangan-jangan kamu ingin bilang kalo dulu kamu pernah suka ma Indra?” “ya tapi itu kan dulu dra, ngerti nae” “aku ga ngerti kenapa kamu hebat banget udah sama dia deketin temannya lagi” “asal kamu tahu aja Dra, aku ga tahu kamu tu temannya dia, kalau aku tahu dari awal juga aku ga bakal deket ma kamu”. “ya udah kalau gitu, ga usah ja karang deket ma aku”. “lho, kamu nie salah minum obat ya?”. “ga da yang perlu diomongin lagi kan Yu?”, lalu seenaknya saja dia pergi meninggalkanku, setetes air mata jatuh membasahi pipiku…
Seandainya kau tahu Yuri, aku tidak bisa melepaskanmu. Tapi aku tidak tega melihat sahabatku Indra seperti itu melihat kita berdua. Bagaimanapun aku sudah berutang budi dengan dia dan keluarganya. Aku tidak mungkin melukai perasaannya.
Sudah beratus-ratus sms ku kirim padanya tapi ia bahkan tidak pernah menghiraukannya. Setiap panggilanku ditolak, dan saat aku datang ke rumahnya juga dia selalu tidak ada atau menghilangkan diri. Dengan rasa sakit hati ku beranikan diri bertemu Indra. Kami berjanji bertemu di pantai itu lagi, “hai Yu…dah lama nunggu?”, “ya iyalah…ngaret banget sie jadi cowok” “ya tadi aku baru selesai mandi” “ya udah to do point ja karang, sebenarnya apa sie maksud kamu ngasi tau keadaan kita dulu ma badra?” “sebenarnya aku ga bermaksud kayak gitu, awalnya dia yang nanya kenapa aku bisa kenal ma kamu” “terus kenapa kamu ngasi tau dia ampe sedetil-detilnya kayak gitu” “aku ga sengaja aku ga sengaja Yu, kamu marah ya?” “pake nanya lagi, kamu ga tau udah 5 tahun aku ma dia sekarang dengan mudahnya kamu rusak begitu saja” “aku minta maaf Yuri”, katanya sambil memegang tanganku. “kamu jahat Ndra, aku nyesel dah kenal ma kamu”,kataku sambil menghempaskan tangannya. “Yuri…maaf” “brengsek kali kamu jadi orang ya, kamu ga ngerti bagaimana perasaan aku”,tak terasa air mataku jatuh….lalu dia mengusapnya dengan tangannya, “aku yang salah, maafin aku. Aku akan jelaskan lagi kepada Badra tentang semuanya”. “aku sudah putus asa, lebih baik aku balik ke gianyar sekarang”..lalu aku pergi dengan langkah pelan. Indra menarik lenganku, “ga, kamu ga boleh pergi. Ak janji akan menyatukan kalian berdua” “ta…tapi bagaimana caranya?” “ya tenang saja, serahkan semuanya padaku”.
Pagi yang cerah, aku dan Indra menunggu Badra di taman kota untuk mengejutkan dia. Seperti biasa dia lari pagi, lalu kami berpapasan…tapi sungguh sial saat aku tersenyum dan menyapanya, dia bahkan tidak menoleh ke arahku. Kemudian kami menjalankan rencana kedua, saat itu kami pura-pura menelpon dan menyuruh dia bertemu, akhirnya kami bertemu di sebuah ruangan yang tertutup. Dan semua itu sudah diatur oleh Indra, dia datang dan bingung saat melihatku. “lho kamu kok ada di sini?” “ya aku lah orang yang ingin bertemu dengan kamu Dra. Aku mohon dengarlah penjelasanku” “sudah tidak ada yang perlu dijelasin lagi, aku sudah merelakan kamu dengan Indra” “What? Indra? Aku tidak pernah ada hubungan serius dengan dia, kami hanya berteman dari awal”. Lalu ku dekati dia, ku tatap matanya, seakan-akan dia sangat menghindari bertatap mata denganku. “kenapa Dra?apa yang kamu takutkan, tataplah mataku dan bicaralah” “aku ga mau!!!” lalu dengan lembut ku pegang wajahnya, ku tatap lagi matanya. Akhirnya dia berani menatapku, masih ku lihat sorot cinta dalam matanya. Dengan refleks ku cium bibirnya…..
“aku sekarang tahu apa yang terjadi Dra, sudahlah jangan kau korbankan cinta kita, bagaimanapun kita masih sangat saling mencintai” “tapi aku tidak tega Yu” “bagaimanapun kau juga harus tidak tega padaku, apa salahku hingga kau bersikap seperti ini padaku?” “aku….” Kemudian ku peluk dia, “indra pasti bisa menerima semuanya Dra” “tapi…” sudahlah jangan banyak bicara, aku sudah bicara padanya” akhirnya kami bersatu kembali….
Meski dalam hati Indra merasa kehilangan, tapi ia juga sangat menyayangi sahabatnya. Namun saat pikirannya sedang mengambang, tanpa disadarinya….tiba-tiba truk datang dari arah berlawanan saat ia ingin menyalip sebuah mobil…banyak darah mengalir dari kepalanya…untunglah ia masih bisa bertahan. Namun dokter mengatakan bahwa ia sedang amnesia untuk sementara waktu, dan sebaiknya agar ingatannya dapat segera pulih, ia harus bertemu dengan orang yang paling diingatnya. Yuri….Yuri…begitulah kata-kata yang selalu dia ucapkan di saat tidur dan sadarnya. Sampai-sampai orangtuanya Indra bingung mencari dimana aku berada. Lalu orangtuanya menemui Badra, “nak, kamu tahu kan siapa Yuri itu?” “ya ada apa tante?” “tante mohon kamu harus bawa dia kemari, Indra butuh dia agar ingatannya bisa cepat pulih” “tapi dia ada di gianyar tante” “ya kamu bujuk dra, tante mohon sekali” “baik tante saya usahakan”.
Tumben sekali Badra datang ke rumahku, “lho Badra ada apa datang ke sini? Ga bilang-bilang lagi”. “aku disuruh orangtuanya Indra ngajak kamu ke rumah mereka, kamu tau ga kalau Indra kecelakaan dan sekarang lagi amnesia di rumah sakit” seketika aku kaget, “masak sie dra?” “iya Yu, dan katanya Cuma kamu ja yang diingat Indra, makanya mereka nyuruh aku buat ngejemput kamu”. “ah enak ja, aku kan ga kenal ma mereka”. “dah ikut ja yuk, kasian juga mereka. Aku juga ga enak bilangnya ke mereka nantinya”. “lho kok kamu yang ga enak? Harusnya mereka lagi yang kesini ngomong empat mata ma aku, tu kan kepentingan mereka bukan kamu”. “tapi aku sudah kenal dekat ma mereka. Dan sangat akrab, ga mungkin aku ngecewain mereka”. “ya kamu bilang aja sejujurnya kalau aku tu lagi sibuk-sibuknya sekarang dan ga bisa diganggu” “yah kamu nie malah buat aku malu ja Yu” “lagi kamu kayak gini dra, udah deh ga usah lagi mikir berat-berat” “ya udah deh aku pulang dulu ya”. “ok, hati-hati dra”.
Ternyata beberapa hari kemudian Badra datang lagi, dan kali ini ia bersama dengan orangtuanya Indra…. “siang tante, da keperluan apa?” “ini Yuri ya, tante ini ibunya Indra, maaf tante mengganggu sekarang” “oh ya da apa tante?” “nak Yuri, tante mohon dengan sangat tolong ikut tante. Indra tidak akan bisa pulih ingatannya bila dia tidak bertemu dengan nak Yuri” “tapi saya juga punya kesibukan yang tidak bisa saya tinggalkan di sini tante” “biar tante yang urus nak, yang penting tante mohon nak Yuri bisa ikut tante” “tapi tidak semudah itu tante”, kataku dengan nada yang agak tinggi. “yuri, aku sebagai pacar kamu juga mohon dengan sangat tolong ikut kami”, lalu aku hanya diam, sementara ibunya Indra mendekat lalu berlinang air mata dan akhirnya ingin berlutut padaku. Segera aku menyadarinya dan langsung memegangi tangannya, “tante ga usah kayak gini” “tapi tante ga ingin anak tante terus-terusan kayak gini nak, tolonglah bantu tante. Apapun yang anak minta akan berusaha tante memberikannya”. Akhirnya hatiku luluh juga….
Sesampainya aku tiba di rumahnya aku merasa sangat asing, uhh kenapa sie aku susah kali nolak permintaan orang? Kenapa lagi aku mau tinggal di rumahnya, sial kali…. “sini nak, ini kamar kamu” “ya tante”. Kamarnya cukup luas, tapi tetap saja aku tidak merasakan kenyamanan berada di sana. “nak ini kamar Indra, masuk saja nak ga apa-apa”. Aku melangkahkan kakiku ke kamarnya dan ku lihat dia sedang berbaring di kasurnya. Sungguh memperihatinkan, dia sedang menatap ke langit-langit kamarnya. Ku coba untuk mendekatinya, “Ndra…..” lama ia menatapku, aku pun bingung harus berbuat apa. Lalu aku duduk di sebelahnya, “Ndra, ni aku Yuri datang. Maaf baru bisa datang sekarang” tiba-tiba dia bangun dan memegang pundakku, “kamu, ga dibalas smsku” “hah????” aku semakin bingung, dan ternyata aku baru menyadari momen-momen yang paling dia ingat adalah saat terakhir aku mengakhiri smsku padanya. “oh aku sibuk” “lain kali ga boleh kayak gitu” “ok Ndra”, kataku segera. Lalu tanpa ku sadari aku tertawa dengan kerasnya… “kok ketawa Yu?” “ga Ndra…hehehehe” sejak saat itu aku tinggal di rumahnya bisa dikatakan akulah perawatnya. Semua kebutuhanku sudah dipenuhi tanpa ku minta dari orangtuanya.
Badra jarang ke rumah Indra, aku juga tidak mengerti kenapa ia menjauh, aku hanya bisa menelponnya, karena setiap aku ajak bertemu dia tidak pernah mau. Pagi itu seperti biasa aku sarapan bersama Indra, “yu, maem yang banyak ya” “ah ya ya In”, tiba-tiba ibunya nyeletuk, “ah dah serasi sekali kalian berdua, kapan mau lebih serius lagi?” langsung aku batuk, dan Indra menepuk punggungku. “ah mama ini, kita kan baru temenan” lalu aku berdiri, “tante om saya permisi dulu” tanpa menoleh lagi aku bergegas ke kamar. Dan Indra mengikutiku, “yuri, kamu kenapa?” “kenapa kamu ga bilang kalau kejadiannya bakal kayak gini?” “maksud kamu?” “ah sudahlah aku mau pulang ke gianyar, aku rasa kamu juga sudah sembuh kan” lalu ku bereskan semua pakaianku. Dan baru aku mau ke luar pintu kamar, Indra sudah berdiri di sana….
“ga boleh yuri, kamu ga boleh pergi” “kamu ini ngapain si Ndra?” “aku ga kan biarin kamu pergi lagi” “udah aku udah ga punya rasa lagi ke kamu tau. Tujuanku murni Cuma untuk ngembaliin ingatan kamu aja”. Dia tetap berdiri di depan pintu, lalu ku coba untuk mendorongnya, tapi tubuhku yang kecil bukannya bisa mendorongnya, tapi ia malah memelukku. “jangan pergi, aku membutuhkanmu” lalu ku berusaha melepaskan pelukannya. Tapi pelukannya sangat kuat, “Indra lepasin aku” ia tetap memelukku. Akhirnya ku tampar saja pipinya, “aku benci ma kamu, cepat lepasin aku sekarang juga!!!”. Dia agak kaget saat aku menamparnya, tapi hal yang paling membuatku kaget adalah saat dia mulai tersenyum aneh….dan berkata, “sekarang aku tahu cara agar kau tidak pernah pergi dariku Yuri”, seketika pikiran itu terlintas di benakku, cepat-cepat aku menjauh darinya. Apa yang akan dia lakukan ya Tuhan? Ku mohon lindungilah aku Tuhan. Ternyata benar seperti apa yang sudah ku duga…
“Ihh…kamu nie ngapain si Ndra” “ntar juga kamu tau kok, ga usah jauh-jauh dari aku napa sie” “eh jangan gila deh Ndra, aku ke sini Cuma buat nyembuhin ingatan kamu aja, ga lebih” “mang aku salah ingin yang lebih?” “aku tambah ga ngerti ma kamu” “kamu ga tau ya aku tu sayang banget ma kamu, aku ga bisa lepas dari kamu. Sadar ga sie kamu kalo aku bisa ngelakuin apa aja biar kamu tetap di samping aku” “jangan harap kamu bisa seenaknya sama aku, aku kan sudah bilang dari awal kalo hubungan kita nie udah berakhir. Kamu nie congek pa tuli sie?” kataku sambil terus berusaha keluar dari kamar itu. Tiba-tiba dia memegang bahuku dengan kedua tangannya, “ga akan ku lepasin untuk kedua kalinya” lalu dia berusaha menciumku…dengan cepat ku tampar saja mukanya, “dasar ga punya etika, cepat lepasin aku”, tiba-tiba pandangan matanya semakin tajam, seakan-akan dia mau memakanku, “sudahlah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kamu ternyata butuh cara paksa Yuri” dengan keras ia mendorongku hingga aku terjatuh di atas kasur tersebut. Ku coba berdiri tapi sudah berada di sampingku dan ingin……..menodaiku…..
Aku tetep meronta, namun tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dariku tidak dapat ku kalahkan. Terlintas wajah Badra dalam benakku, bagaimana kalau dia tahu semua ini, aku tidak dapat membayangkan lagi bagaimana perasaannya akan remuk redam, bagaimana diriku akan menghadapi apa yang terjadi setelah ini??? Dia merobek blus putih yang diberikan oleh Badra pada hari ulangtahunku, itu adalah blus kesayanganku. Dan sialnya dia dengan kasar merobeknya dan membuangnya ke lantai. Aku masih tetap meronta, “Ndra please jangan lakuin ini, lepasin aku”, kataku sambil menangis. “tidak bisa, aku harus melakukan ini agar kau tidak bisa berpaling dariku lagi”. Entahlah, semua tenagaku sudah habis…..dan aku sudah tidak ingat apa yang terjadi setelahnya…….
Ku lihat diriku sudah tidak memakai apa-apa, lalu ku menangis dan terus menangis. Dia mendekatiku, “sudahlah kau tidak perlu menangis, aku akan melamarmu sekarang”. Aku tetap menangis, dia ingin mengusap air mata di pipiku, “udah Yu” lalu dengan cepat ku hempaskan jari tangannya. “dasar brengsek, walaupun kita menikah nanti, aku tidak akan pernah memaafkanmu” “terserah padamu, tapi aku akan selalu berada di sisimu mulai dari detik ini”. Seharian itu aku menangis terus di kamar yang penuh dengan kenangan pahit malam itu, “”ya tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apakah salahku? Bagaimana aku menjelaskan ini semua pada Badra?”. Dengan langkah lemah ku berjalan ke kamar mandi, ku basuh mukaku dan ku lihat bayanganku di cermin. Langsung air mataku jatuh, ingin sekali ku pecahkan cermin itu, aku sudah tidak sanggup melihat diriku lagi yang sudah kotor ini. Makanan yang mereka siapkan bahkan sama sekali belum ku jamah sedikit pun. Tubuhku semakin kurus dan aku pun sudah tidak pernah memperhatikan keadaanku lagi.
Dan Badra sempat suatu kali mampir dan menjengukku… “Yuri, kamu sakit ya?”, aku benar-benar tidak sanggup menatap wajahnya. “ia, sebaiknya kamu pergi saja dra”, secepat mungkin ku palingkan badanku. “Yu, kamu marah ya ma aku?” “ngga kok”. “aku minta maaf kalo gitu, aku mungkin tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi aku harap kau segeraa membaik, dan kita bisa seperti dulu lagi” tanpa terasa air mataku jatuh saat mendengar kata-katanya. “Dra…..aku yang seharusnya minta maaf” “memangnya kenapa Yu” “aku….aku tidak sanggup mengatakannya sekarang….tapi ku mohon menjauhlah dariku” lalu dia mendekatiku, “kenapa Yu?” “jangan mendekatiku dra, aku mohon”, kataku dengan penuh berlinang air mata. “baiklah…..”, katanya sambil melangkah pelan, dengan penuh rasa kecewa. “huhhh”, ku hempaskan nafasku dengan kasar, seandainya kau tahu apa yang terjadi sebenarnya Dra. Aku sungguh tidak sanggup, masih ku ingat masa-masa di saat kita tertawa bersama, menangis bersama, dan mencurahkan segenap rasa sayang kita berdua. Dan kini semua harus ku lepaskan begitu saja….
Indra memasuki kamarku, cepat-cepat ku palingkan wajahku. “aku tahu Yuri kamu sangat membenciku, tapi aku sudah menelpon orangtuamu. Besok kita ke rumahmu dan membicarakan pernikahan kita”. “apa? Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelumnya?” “aku kira kamu sudah tahu semuanya, sudahlah jangan membahas ini lagi. Kamu sudah baikan?” katanya sambil mengusap kepalaku,kembali ku hempaskan tangannya. “jangan sentuh aku lagi, yang waktu ini sudah cukup menyakitkan bagiku”. “baiklah, sekarang kamu bisa berkata seperti ini. Tapi kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi”, dengan cepat dia mengecup keningku.
Sebelum keberangkatanku ke gianyar bersama keluarganya Indra, aku pergi ke apotek dan mencari tes cek kehamilan, secepatnya ku bergegas memeriksanya. Sudah tak sabar ku melihat semuanya, dan ternyata…..alat tersebut hanya menunjukkan dua garis merah. Setelah itu badanku terasa lemas, ternyata aku sudah…..ya Tuhan maafkan aku jika tidak bisa mengakuinya pada Badra, tapi aku tahu aku harus memperhatikan janin ini…sejenak ku terdiam, kemudian ku bereskan pakaianku. Mereka sudah menungguku dan semua tersenyum saat melihatku. Mungkin mereka senang melihatku yang sudah memperhatikan diriku sekarang. “kenapa kalian meliahtku seperti itu?” Indra menjawab, “akhirnya kamu kembali seperti dulu Yuri”. Aku tidak menghiraukan perkataannya, cepat saja ku masuk ke mobil itu. Perjalanan memang cukup lama, dan aku baru ingat aku belum pamitan dengan Badra. Langsung ku telpon dia, “halo…”, terdengar suara lembutnya di telingaku, “halo Dra, aku…aku udah balik ke gianyar” “lho kok kamu ga bilang-bilang dulu ma aku sie?” “ya aku kan harus cepat-cepat dra, ada urusan mendadak” “oh ya, hati-hati di jalan ya” “iya-iya,kalo gitu udah dulu ya” “ok Yu”. Ku tutup telepon dengan perlahan, aku tahu mereka semua pasti mendengar pembicaraaanku dengan Badra, tapi aku tidak terlalu perduli dengan itu semua. Aku rasa mereka juga tahu bagaimana hancurnya perasaanku.
Tiba di Gianyar aku langsung memeluk ibuku, lalu menangis. Berkali-kali ia bertanya mengapa aku menangis, tapi tetap ku hanya bilang bahwa aku sangat merindukannya. Akhirnya orang tua Indra mengutarakan maksud mereka, namun tiba-tiba Badra datang. Ia sangat kaget melihat kedatangan Indra dan orang tuanya di rumahku. Langsung ia memberi salam dan aku tau dia sudah mulai memahami maksud mereka. Beberapa menit kemudian ia pamit, masih ku lihat dia berjalan penuh keputusasaan. Dan aku duduk terdiam seperti seseorang yang sudah tidak punya harapan lagi. Saat ditanya apa aku sungguh-sungguh aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu harus berbuat apa di sana. Segera setelah pembicaraan selesai, aku langsung berdiri dan bilang bahwa aku tidak enak badan. Kurebahkan badanku di kasur yang sudah beberapa minggu itu tidak ku tempati lagi. Aku menangis lagi, menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya…
Sejak pertemuan itu, Badra sudah tidak pernah mengirim pesan maupun menelponku. Aku pun tidak berusaha untuk member penjelasan kepadanya karena aku tahu itu hanya akan menambah sakit yang akan dia rasakan. Pernikahan kami tinggal sebulan lagi namun entahlah aku sama sekali tidak merasakan apa-apa dalam rahimku. Bahkan mual pun aku tidak, sekarang yang aku pikirkan adalah bagaimana nanti aku harus menjalani kehidupanku dengan orang yang sudah menyakitiku. “halo…Yu”, kata Indra dalam telepon. “apa?” “ga deg-degan? 1 minggu lagi pernikahan kita lho” “buat apa? Ini semua kan memang keinginan kamu saja” “ya aku tahu Yu, ya udah gimana kabar anak kita?” “anak? Jangan sebut dia anakmu, kita bahkan belum menikah” “tapi kita kan sudah kawin Yuri” “ih brengsek banget kmu Ndra”, langsung ku tutup teleponnya…
Ternyata Badra datang ke pesta pernikahanku, ku lihat senyum palsunya, “selamat ya Ndra, Yuri”, katanya sambil bersalaman dengan kami berdua, “iya Dra, semoga kamu cepat juga mendapat pasangan” “amin”. Aku tetap tidak berani menatapnya. Saat malam pertama kami, aku berpura-pura tidur. “Yu, kamu udah tidur ya?” tak kujawab juga pertanyaannya. Dengan cepat ku tarik selimutnya, entah kenapa aku bertindak seperti itu, “lho Yu, bagi-bagi nae selimutnya, aku kan juga kedinginan di sini” “kamu pilih selimut pa tidur di sini?” “ya ya aku pilih tidur di sini, tapi…..jangan nae tidur dulu Yu” “apa hak mu melarangku?” “aku kan suamimu sekarang” “udah aku ngantuk berat nie”, tiba-tiba Indra memelukku dari samping, “istriku……” “ihh ngapain sih”, lalu ku berbalik dan mendorongnya menjauh. Tapi dia malah memelukku sambil tersenyum. “aku tidak akan memaksamu sekarang Yu, lagipula kau sudah menjadi milikku seutuhnya” “lepasin tanganmu dari tubuhku” “iya-iya sayang”.
Sudah 2 bulan tapi perutku belum juga membesar, ku beranikan diri sendiri ke bidan, dan ternyata aku tidak hamil sama sekali…..aku pun segera pulang. “indra ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sekarang juga”. “apa istriku?” “aku minta cerai Ndra”. “apa?jangan bercanda Yu” “aku tidak pernah bercanda” “kenapa Yu?apa ada yang salah?” “iya kamu salah mengira, memang kau sudah menodaiku. Tapi entah apa karena tubuhku memang tidak ingin ada setetes darahmu mengalir dalam rahimku, Tuhan tidak memberikan anak padaku. Aku sudah memeriksakannya pada dokter tadi siang” “tapi kita baru beberapa bulan menikah, tidakkah kamu memikirkan perasaan orang tua kita?” “ini semua salahmu, harusnya sejak awal kau lah yang malu melakukan itu semua padaku” “tidak, aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu”
Aku pergi dari rumah itu, dan tinggal sementara di rumah temanku Ines, “nes, kamu tahu kan apa yang terjadi padaku selama ini? Sungguh aku ingin lepas darinya, aku benar-benar merasa hidup dalam kepalsuan. Salahkah aku bila ingin bercerai dengannya?” “hmmm…aku sebenarnya tidak ingin terlalu mencampuri urusan kalian. Tapi lebih baik kau mempertimbangkannya matang-matang dulu” “apa yang perlu dipertimbangkan lagi? Sudah jelas yang aku takutkan anakku tidak memiliki bapak, namun ternyata tidak ada apa-apa dalam rahimku” “aku ingin tanyakan terlebih dahulu padamu apa rencanamu jika seandainya kau berhasil bercerai dengan Indra?” “aku…aku ingin kembali dengan Badra” “sebaiknya kau selidiki dahulu bagaimana keadaan Badra, bukankah dia sudah kau tinggalkan 3 bulan lebih. Mustahil dia sedang sendiri sekarang. Tidakkah kau malu berhadapan dengannya?” “iya…kau benar juga. Aku akan coba menemuinya di tempat kerja barunya sekarang”.
Betapa terkejutnya aku , ketika aku ketika petugas yang ada di sana mengatakan bahwa Badra telah menikah hari itu juga. Dengan perasaan luluh lantah aku kembali ke rumah Ines. “Nes, ternyata dia sudah menikah” “ya sudahlah Yu. Relakan saja, mungkin jodohmu memang Indra seorang” “entahlah, namun belakangan ini saat aku bersama Indra aku bisa melupakan Badra. Apakah yang terjadi pada diriku ini Nes? Mungkin aku harus benar-benar minta maaf pada Indra” “jika seperti itu aku sangat setuju Yu, aku juga tidak ingin kau tergesa-gesa mengambil keputusan”. Akhirnya aku kembali ke rumah Indra. Dia sedang tidak ada di rumah, hanya pembantu kami yang menyambutku saat itu. Pembantuku bilang dia sedang ada di luar kota, mungkin malam baru pulang. Aku benar-benar berpikir keras bagaimana cara untuk meminta maaf pada Indra. Aku harus menarik kata cerai itu, sungguh membingungkan….
Ku benahi kamar tidur kami, aku semprotkan sedikit parfum ruangan di kamar kami tersebut. Aku juga memasakkannya masakan buatanku sendiri, dengan sedikit ku rias meja makan tersebut. Aku juga menyediakan air hangat untuknya. Sedikit berdebar-debar jantungku saat menunggu kedatangannya. Ini adalah hal yang pertama ku lakukan untuknya. Tok…tok….tok….lalu ku bukakan pintu, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum kaku melihatnya. Dia pun heran dengan tingkah lakuku, “Yu, kamu sudah pulang toh. Makasih ya udah bukain aku pintu” “ya sama-sama, oh ya kamu mandi dulu gih. Air hangatnya dah aku siapin” “apa? Air hangat? Terimakasih Yu” “ya ya cepat nae, entar keburu dingin airnya”. Indra bergegas ke kamar mandi. Aku merapikan tas-tas dan jaket yang tadi dibawanya.
“duh…laper banget nie Yu” dia duduk di sebelahku. “ya makan dah dulu Ndra”, tiba-tiba pembantu kami berkata, “ayo tuan makan yang banyak, itu nyonya sendiri lho yang masak. Bahkan saya tidak dikasi membantu sedikitpun, ayo tuan jarang-jarang lho nyonya mau masak”. “oh yang bener Yu?” “iya, cepetan makan…entar keburu dingin”. Lalu dia makan dengan lahapnya padahal makanan yang ku buat bisa dikatakan sederhana sekali. Malamnya aku mendekati dia yang seperti biasa duduk-duduk di teras depan. “Ndra…” “eh Yuri, da apa?” “aku….aku ingin….”lalu ku ambil tangannya. “kenapa Yu?” “Sorry, selama ini aku tidak menghiraukan permintaan maafmu. Aku merasa bersalah padamu, aku harap kau bisa memaafkanku” “baiklah, tenang saja aku tidak pernah menganggap kau menyakitiku, tapi aku sangat bahagia karena kau tetap mau ada di sisiku” “oh ya Indra, aku rasa aku tidak jadi meminta cerai padamu” “kamu sungguh-sungguh Yu?” “iya Ndra, aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik mulai sekarang” “apa kau tidak main-main?” “iya, buat apa aku main-main” “baiklah kalau kau yang meminta, tapi ada satu hal yang harus kau camkan baik-baik Yu” “apa itu Ndra?” “sini, mendekatlah padaku” lalu aku mendekat…dia membisikkan kalimat yang membuatku tersenyum, “sebagai istri apa kau tahu kewajibanmu?” “maksudmu?” “aduh, masak ga ngerti sie? Ternyata kamu masih tetap seperti dulu ya, masih telmi masalah seperti ini” “kamu juga sie, to do point juga nae” tiba-tiba dia menggendongku, “masih belum ngerti juga?” “oh…ya..ya, aku mengerti…”
Saat itulah kehidupan baru kami dimulai, dan beberapa bulan lagi aku pun hamil. Kedua orang tua kami sangat bahagia melihat kami berdua. Sementara hubungan dengan Badra sudah mulai membaik, kami sudah terbiasa dengan hidup kami masing-masing. Ternyata kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, meski kita berusaha keras merubahnya, namun apabila Tuhan sudah menghendakinya semua apa pun pasti akan bisa terjadi……

0 komentar:

Posting Komentar