Kamis, 08 Juli 2010

DOKTER CINTA

APAKAH ARTI CINTA SEJATI?
TAK ADA KEBAHAGIAAN HANYA PELAMPIASAN SESAAT,
HANYA SATU HARAPAN CINTA ITU DATANG ATAU HANYA DIAM SETELAH
MEMBEKU BEBERAPA LAMANYA.

Hari itu ia kembali dengan senyuman mengembang seperti biasanya. Tak ada yang berubah meski mereka telah lama berpacaran. Hingga suatu saat…..
“Sha, aku rasa udah saatnya kita serius”, Samuel duduk mendekatinya. “a…menikah maksud kamu?”, kata Marsha santai. “ya iyalah, aku udah ngerasa cocok sama kamu, tau ga aku bahkan dah ngebayangin sampai nanti kita punya anak”, kata Samuel antusias. “widih ngarep nih” kata Marsha kembali santai. Terpaksa Samuel memegang bahu Marsha dan agak mencengkramnya, “Marsha kamu ga sayang lagi ma aku? Atau ada laki-laki lain di hati kamu ya?”, “ok ok sebenarnya aku juga setuju ma rencana kamu, terserah kamu deh. Aku udah ga bisa berkata-kata apa lagi, apalagi kamu juga udah lulus ujian dari aku.”, kata Marsha tersenyum. “ujian apa maksud kamu?” “oh ya aku lupa ngasi tau kamu kalo aku pernah nyuruh satu temen aku yang paling cantik buat ngegodain kamu, tapi ternyata kamu ga tergoda. Aku seneng banget.”, kata Marsha tertawa. “dasar curang, aku ga pernah nguji kamu kayak gitu. So, jadi kan kita nikah?”, kata Samuel sungguh-sungguh. “tentu, tapi kamu kok deket banget sih?”, “emang knapa kita kan dah mau nikah?” “ah ngawur kamu matamu kok aneh gitu sih” “biasa aja lagi Sha, tenang ja aku ga bakal ngapa-ngapain kamu kok.” Samuel mendekati Marsha dan hanya mencium keningnya.
Kaulah belahan jiwaku..
Kaulah curahan hatiku…
Kaulah cahaya hidupku..
Kaulah segalanya…..
Takkan pernah terganti…
Tak ada yang bisa sepertimu…
(DOT)
Acara pertunangan pun sudah digelar, kedua orang tua mereka memang sejak awal sudah saling menyetujui pernikahan mereka. Meski awalnya di antara mereka pernah terjadi kesalahpahaman dimana ayah Marsha sempat mengira bahwa Samuel dan Marsha adalah saudara tiri karena dulu ibu Samuel pernah berpacaran dengan Ayah Marsha, dan mungkin saja terjadi sesuatu di antara mereka. Tetapi untunglah ternyata Ibu Samuel tidak pernah hamil dengan ayah Marsha. Sementara sekarang mereka dipertemukan kembali oleh anak-anak mereka. Persiapan pernikahan pun rampung setelah 6 bulan kemudian…
“selamat ya Sha, aku turut senang akhirnya selama 3 tahun pacaran kalian bisa bersatu juga. Oh ya ini hadiah sederhana yang bisa aku berikan sebagai teman kamu.” , kata Sinta seorang teman terdekat Marsha, sambil menyalami Marsha “oh makasih Sin”, kata Marsha sambil tersenyum. Resepsi pernikahan mereka pun telah usai, Marsha dan Samuel kini sedang ada di ruang tamu berdua. Mereka sangat bahagia dan berbincang-bincang bersama mengenai rencana mereka ke depan, tiba-tiba…kring… handphone Samuel berdering.“halo, ya pak?..apa tidak bisa diundur?....baik..baik pak” kemudian Samuel menutup telponnya. “ada apa Sam?” “duh maafin aku ya Sha, malam ini aku harus kerja. Aku sudah berusaha untuk meminta izin, tapi kata bosku ini adalah tender yang sangat penting. Sementara atasanku itu sedang menemani anaknya yang sedang dioperasi. Sabar ya”, Samuel mengecup kening Marsha “ya udah kalo emang itu darurat. Aku cuma ingin kamu jaga diri ya. Oh ya aku akan tinggal di rumah ibu dulu.” “ya baiklah”. Sebelum Samuel pergi ia minum air, namun belum sempat gelas diambilnya, tiba-tiba gelas tersebut pecah berserakan. Marsha pun kaget, dan langsung menghampiri Samuel, “Sam, aku punya firasat ga enak”, “ah tenang ja Sha, ntar suruh ja Mbok Inah yang bersihin ya, mungkin tadi aku lagi buru-buru jadi ga sengaja ke senggol pas ngambil gelasnya”. Marsha sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berpisah, setelah Samuel pergi menuju kantornya. Untunglah investor yang ingin menanamkan modalnya juga tidak suka berbasa-basi dan urusan itu pun cepat selesai. Waktu itu tengah malam saat Samuel menuju rumahnya kembali. Ia sangat senang, karena memikirkan Marsha yang tengah menunggunya bukan hanya sebagai kekasih melainkan juga sebagai istri yang sudah sepenuhnya kini telah menjadi miliknya.
Suasana jalan yang masih ramai meski sudah lewat dari jam 11 malam, tiba-tiba…..ada orang yang menyebrang tepat di depan mobil Samuel dan Samuel hendak menghindarinya, tapi sayang ia tak melihat di belakangnya di mana ada truk besar yang juga tak bisa berhenti karena remnya telah blong. Kecelakaan pun tak dapat dihindarkan. Samuel meninggal dengan luka berat pada otak belakangnya. Banyak darah keluar dari kepalanya, hingga akhirnya ia tak sanggup bertahan dan ia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Berita itu baru diketahui oleh keluarganya setelah esok harinya. Semua orang sangat sedih terutama Marsha. Bagaikan petir di siang hari, semalaman ia menunggu Samuel. Tapi yang ada kini hanya kekecewaan, orang yang sangat dicintainya kini telah tiada. Ia benar-benar tidak dapat menerima kenyataan tersebut, Marsha bahkan tidak mau menghadiri pemakaman Samuel.
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
(PETERPAN)
Ia masih tak percaya dan selalu bilang sebentar lagi Samuel akan datang. Orang tua Marsha sangat prihatin dengan keadaan Marsha, bukan karena status anaknya yang kini menjanda, namun lebih karena jiwa anaknya yang benar-benar telah tergoncang. Marsha lebih banyak diam sekarang, bisa dibilang badannya sangat kurus, terlihat ia tidak mau merawat dirinya lagi. Semakin lama ia menjadi pendiam dan tak banyak bicara lagi seperti dulu. Banyak teman-temannya silih berganti datang menjenguknya dan berniat menghiburnya, namun ia tetap tak bergeming. Ia hanya menyapa temannya sekedarnya saja, setelah itu kembali menunduk dan menatap dengan pandangan kosong.
Setelah 6 bulan kemudian, orang tuanya mengajaknya ke RS. Setelah ia sembuh dan kembali lagi seperti biasa. Hanya satu yang tak akan pernah kembali yaitu keceriannya. Dalam hatinya ia menyalahkan bos suaminya. Sampai-sampai ia bisa dibilang membenci laki-laki, ia seakan paranoid pada laki-laki. Namun ada keanehan yang kini muncul, yaitu Marsha sangat dekat dengan teman-teman perempuannya. Dia kini semakin intens mendekati teman-teman perempuan di kantornya. Entah untuk tujuan apa?.....
Banyak kabar dan desas-desus di kantornya, tapi tak ada yang berani bicara dengannya secara langsung. Sinta adalah teman dekatnya tapi kini ia menjauh, entah ia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Ia pun kini telah mengoleksi banyak majalah dewasa untuk laki-laki. Ia memilih menyendiri tinggal di apartemennya. Kini Marsha yang dulunya feminim menjadi agak tomboi, ia memotong pendek rambut panjangnya. “kamu ga apa-apa Sha?”, Tanya ibunya. “ga”. “udah 1 tahun lho Sha, mama cuma takut…” “takut aku jadi janda selamanya ya?”. “bukan begitu”. “sudahlah mama ga usah lagi ngungkit-ngungkit masalah ini lagi” “tapi apa kamu tahu banyak yang membicarakan kamu di luar sana,mama ga mau kamu terus-terusan kayak gitu”, tapi Marsha malah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Marsha pergi ke klub malam, di sana ia biasa bertemu dengan Anik, seorang PSK yang benar-benar sangat membutuhkan uang. Hingga ia rela berbuat apapun demi mendapatkan uang. Termasuk menjadi pacar Marsha pun dia mau, asalkan dia dibayar. Anik tahu Marsha sudah datang, kemudian dia mengucapkan selamat tinggal pada kliennya Anto, “to, udah dulu ya, temanku dah nyemput” “ya honey, bsok ketemuan lagi ya” “oke-oke yang penting ada duit To”, ia menghampiri Marsha. Marsha yang melihat kedekatan Anik dengan kliennya tersebut sempat sedikit cemburu. “kamu suka ya ma dia?” “duh Marsha sayang, aku bukan suka dia, tapi aku suka uangnya” “ya udah yuk, aku sudah tidak sabar” “kemana Sha?” “ke hotel ja yuk?” “up to you Sha”. Mereka akhirnya menuju ke hotel, pertama kali Marsha mengenal Anik sejak ia sering ke klub malam setelah beberapa bulan kematian suaminya.
Hubungan mereka semakin akrab saat Marsha mengetahui bahwa Anik kesulitan masalah keuangan, dan Marsha menawarkan untuk mengadakan hubungan kontrak dengan Anik. Awalnya Anik menganggap bahwa Marsha ini sakit jiwa, namun ia saat itu juga membutuhkan uang untuk berobat adiknya. Akhirnya ia menyetujui perjanjian tersebut. “Nik, kamu tahu ga aku sudah muak melihat laki-laki di luar sana. Aku benci mereka, aku rasa dengan wanita aku bisa lebih nyaman.” “namun Sha, aku bukannya sok tau, tapi apa kamu tidak malu seandainya ada orang yang tahu hubungan kita?” “mengapa mesti malu? Mereka tidak berhak mengatur hidupku, aku hanya minta kamu tetap ada bersamaku, kamu mengerti?” “baik Sha, aku mengerti kok perasaan kamu”. Di dalam kamar hotel terebut Marsha seperti biasa mengecup kening Anik. Anik yang sudah biasa menghadapi situasi seperti ini sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya perlu menganggap bahwa Marsha adalah sama seperti klien-kliennya yang lain.
Sempat ibunya memergokinya dengan Anik di apartmentnya, ibunya langsung menelpon ayahnya dan ia pun langsung dibawa ke seorang dokter psikologis yang bernama Daniel. Dia merupakan anak teman ayahnya Marsha yg sudah meninggal. Mereka berangkat ke tempat Dokter Daniel pada pukul 2 siang. Kantornya begitu ramai, tapi karena ayahnya Marsha adalah teman ayahnya Daniel, jadi mereka dapat bertemu dengan Daniel lebih cepat. “Pa, Ma, udah deh. Aku ga mau ke sini, entar aku disangkain orang gila lagi.” “kamu diem aja, kami tau apa yang terbaik buat kamu.” Dalam hati Marsha ia merasa bahwa tak kan ada siapa pun yang dapat menyembuhkannya. Lalu ibu Marsha menjelaskan duduk permasalahannya kepada dokter Daniel. “oh..saya sekarang bisa mengerti keadaan Mbak Marsha ini.” “enak aja manggil Mbak, Mbak, kapan ibuku nikah ma ayahmu!”, kata Marsha nyeletuk. “aduh Dok, maaf anak saya ini memang kurang waras otaknya.” “ya bu, saya maklum, beban yang dipikulnya cukup berat.” “kalau begitu Dok, apa yang harus kami lakukan?”, “begini saja, ibu coba carikan dia pengganti suamunya yang sesuai dengan tipenya / yang mirip dengan almarhum suaminya.” “tapi Dok, begitu didekati lelaki dia selalu saja temperamen. Bagaimana lelaki mau mendekati dia?” “oh apa dia tidak punya teman? Biasanya perkataan seorang teman lebih dipercaya.” “bagaimana bisa Dok, temannya kebanyakan wanita. Setelah mendengar gossip tentangnya, semua pun menjauh.” “baiklah, kalau begitu sebulan sekali saya akan memberikan bimbingan pada anak ibu dan juga obat penenang agar kemarahannya tidak meledak-ledak lagi.” “saya rasa sebulan terlalu jarang, saya mohon Dokter bisa datang setiap seminggu sekali. Masalah biaya saya akan urus dengan baik.” “bukan begitu bu, saya bukannya hanya memikirkan materi, tapi pasien saya yang lain juga membutuhkan saya. Tetapi mengingat hubungan kita selama ini saya akan usahakan.” “terimakasih banyak Dok” “sama-sama”. Saat perbincangan itu, Marsha hanya diam, bahkan ia sama sekali tidak mau menatap Dokter Daniel.
Dalam pikiran Marsha yang ada hanyalah rasa sakit sehingga ia tak berminat untuk dibantu oleh siapapun. Kini Daniel pun merasa bahwa ia patut menolong Marsha. Ia memutuskan untuk mengamati Marsha secara langsung. Diangkatnya gagang telepon dan mulai menekan nomor telepon keluarga Marsha. Ada sedikit rasa ragu dalam benaknya namun entah mengapa tatapan mata Marsha yang sayu dan kondisi jiwa Marsha yang semakin memprihatinkan membuat tangannya tak kuasa menghentikan desakan itu. “halo…” “halo tante, saya Daniel” “oh nak Daniel,bagaimana??” “saya sudah memikirkan masak-masak dan saya memutuskan untuk menangani Marsha secara langsung” “maksud nak Daniel?” “jika tante dan Marsha mengijinkan saya akan tinggal sementara di rumah Marsha” “oh terserah nak Daniel saja, tante rela melakukan apapun demi anak tante ini satu-satunya. Nak Daniel jangan khawatir, nanti tante akan mengatur semuanya”. “ya tante itu saja, saya akan datang besok” “ya ya, lebih cepat lebih baik nak”. Telepon ditutup oleh Daniel…..
Tok…tok…..tok….
“aduh siapa sih siang bolong begini datang? Ganggu aja”. Marsha berjalan dengan malasnya melintasi tangga demi tangga apartmentnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat ibunya datang bersama dokter Daniel yang sedang membawa koper hitamnya. “lho…kok bengong sha?kasi tamunya masuk napa” “oh..ya ya. Silakan ,masuk”. Suasana menjadi sangat kikuk bagi Marsha, ia berpikir dalam hatinya mimpi apa dia semalam?kenapa dokter jiwa ini bisa datang ke rumahnya. Dokter Daniel hanya tersenyum melihat tingkah Marsha, ibu Marsha langsung berkata. “baiklah ibu tidak mau berbasa-basi lagi, ibu mengijinkan dokter Daniel untuk tinggal di sini untuk beberapa minggu.” “sebentar dulu, saya ingin bertanya kepada dokter, apa dokter tidak punya rumah?? Sampai pakek acara nginep segala?” “Marsha…”, bentak ibunya marah. “terus buat apa dokter tinggal di sini?” “saya akan merawat dan menyembuhkanmu semampu saya”. “saya tidak perduli dok, sebaiknya dokter cepat pergi dari sini”, ibunya langsung menamparnya. “kmu ini tidak tahu sopan santun ya? Awas kalo kamu tidak mau menuruti kata-kata mama. Mama tidak akan mengijinkan kamu untuk berkunjung lagi ke rumah mertuamu lagi”. “tapi ma…” bagi Marsha meski kini Samuel sudah meninggal,tapi hubungannya dengan mertuanya masih tetap dijaganya. “ga ada tapi-tapian!! Dokter silakan tidur di kamar itu, saya sekarang ada urusan, bila dokter perlu apa-apa bisa telepon saya. Saya serahkan semuanya ditangan dokter Daniel.” “baik tante”. Kemudian mereka masuk ke sebuah kamar yang lumayan besar. Hanya ada sebuah meja, lemari dan tempat tidur di sana. Daniel mulai merapikan barang-barangnya. Terdengar bunyi mobil ibu Marsha keluar dari garasi….
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Marsha datang tanpa mengetuk pintu, dengan tatapan marah ia bertanya kepada dokter Daniel. “sudah saya katakana dokter tidak usah ikut campur dalam urusan pribadi saya dan keluarga saya. Apa dokter juga tidak malu serumah dengan seorang janda seperti saya ini?” “saya rasa itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah bagaimana saya harus menyembuhkan kamu seutuhnya” Marsha tertawa… “seutuhnya??dokter tidak tau bagaimana penderitaan saya. Dokter tidak akan mampu melakukannya”. “selama masih ada kemauan pasti ada jalan Sha”. Marsha pergi dengan marah sambil menghempaskan pintu Kamar Daniel
Keesokan hari….
Di meja makan sudah tersedia roti dan selai kacang, aroma susu yang lezat membuat Marsha bangun. Seakan lupa bahwa dokter Daniel sekarang ada di rumahnya, ia menuruni tangga dengan langkah gontai dengan wajah dan pakaian yang sembrawut. Baru dikuceknya matanya, ia melihat dokter Daniel memandangnya dengan tatapan aneh. “pagi Sha, jadi seperti ini penampilanmu yang sebenarnya” “ada yang salah?? Coba dokter pikir ini rumah siapa? Ini rumah saya jadi saya berhak melakukan apapun yang saya suka disini”. Ia mulai membenarkan kancing piyamanya yang masih terbuka. Ia mengambil sepotong roti, sempat diliriknya dokter Daniel. Ia sempat membandingkannya dengan Samuel. Mereka sangat berbeda, dokter Daniel sangat tinggi sementara Samuel hampir sama dengan tingginya. Namun sifat mereka sangat mirip. Ia cepat-cepat menghapus lamunannya. Kemudian dia menuju kamar mandi.
Buka hatimu…
Bukalah sedikit untukku….
Sehingga ku bisa memiliki dirimu…
(ARMADA)
Beberapa hari berlalu, sikap Marsha masih tidak ramah kepada dokter Daniel. Akhirnya Daniel memberanikan diri bertanya pada Marsha, “saya ingin bertanya, kenapa kamu sangat benci melihat lawan jenismu sekarang?” “karena itu mengingatkanku pada kenanganku yang kelam” “bukankah itu sudah berlalu?” “berlalu untuk sesaat” “haruskah kamu menjadi seperti ini?” “ah, udah, saya capek denger kuliah dokter yang bertele-tele itu.” Marsha ingin masuk ke kamarnya namun sebelum ia mencapai kamarnya, dunia seakan gelap, dan ia pingsan….
“gimana Ben?” “oh dia hanya banyak pikiran aja” “sebenarnya siapa dia Dan?” “dia adalah pasienku”. Daniel menjaga Marsha hingga Marsha akhirnya membuka matanya, “dimana ini??” “oh kamu sedang berada di rumah sakit, tadi malam kamu pingsan”. “saya ingin cepat-cepat pulang!!!” “baiklah, tunggu sebentar saya akan menyelesaikan administrasinya”. Begitu Daniel kembali, Marsha ternyata sudah pergi. Akhirnya Daniel kembali ke apartement Marsha. Marsha sudah berbaring di kamarnya, tiba-tiba Daniel masuk dan membawa sarapan. “ini Sha, kamu pasti lapar” “saya tidak butuh bantuan dokter” “terserah kamu, tapi saya akan meninggalkan sarapan ini di sini”. Sudah lama, aku tak merasakan hai ini, kata Marsha dalam hatinya. Tak dapat dibendungnya rasa laparnya, dan akhirnya dimakannya juga sarapan itu.
Pemadaman bergilir membuatnya takut dan tentu Daniel memanfaatkan kesempatan ini. Karena dia tau bahwa Marsha sangat takut gelap, terbukti dari selalu dinyalakannya lampunya saat ia tidur sampai pagi datang. Daniel segera duduk di samping telepon rumah Marsha, karena ia tau Marsha pasti ingin sekali menelpon ibunya. “ada apa Sha? Butuh lilin, apa sedang ketakutan?” “enak saja, siapa yang takut??” tiba-tiba hujan turun dengan derasnya disertai dengan halilintar. Marsha tidak kuat menghadapi itu, ia menangis tersedu-sedu. “kamu kenapa Sha?” kata Daniel seraya mendekatinya perlahan. “saya…saya takut.”. Daniel menggenggam tangannya. “sudahlah, mari saya antar ke kamarmu” “saya ga sudi diantar olehmu”. “ya sudah saya akan kembali ke kamar saya”. Halilintar kembali bergemuruh, Marsha berlari menuju Daniel sambil memegang tangannya. “tolong….”. mereka beriringan menuju kamar Marsha. “tolong jangan tinggalin saya, saya takut gelap dok” “baiklah hanya untuk hari ini, asalkan kamu mau membuka sedikit rahasiamu”. “tentang apa?” “benarkah kamu suka dengan sesama jenismu sekarang?”. “mungkin”.
Esok paginya….
Tak disadarinya ia membuka mata dan melihat mukanya dan muka Daniel sangat dekat. “hah….” Daniel segera terbangun, ia sangat kaget. “kamu ini kenapa lagi sha?” “kenapa dokter di sini?” “bukannya kmarin kamu yang menyuruh saya untuk tetap berada di sini? Kan kemarin listrik mati dan kamu meminta saya untuk menemani kamu malam itu. Ya sudahlah….” Marsha terdiam, Daniel melangkah ke luar, namun sempat didengarnya suara kecil dari bibir Marsha, terimakasih.
Daniel juga mencari informasi dari teman-teman kantornya Marsha. Awalnya mereka tidak mau membuka mulut, tetapi mengingat keadaan Marsha yang tidak karuan seperti itu akhirnya mereka mau menceritakan hal yang terjadi pada Marsha. Akhirnya Daniel dapat mengambil keputusan bahwa Marsha hanya kesepian….
Angin lembut menyapa Marsha seakan mengingatkannya akan kisahnya bersama Samuel. Malam semakin larut namun ia tetap menangis mengingat luka yang masih menganga itu. Tanpa sepengetahuannya Daniel sudah duduk di sampingnya dan memegang pundaknya. Segera dihempaskannya tangan Daniel dan ia berdiri menghapus sisa-sisa air matanya. “tak seharusnya kamu menyesali semua yang terjadi.” “tak ada yang berhak mengatur kehidupanku, termasuk juga dokter”. Ia pergi dengan gusarnya menuju kamarnya.
Marsha hendak bertemu dengan teman wanitanya, dan Daniel mengikutinya….
Marsha tiba di sebuah taman yang cukup luas dipenuhi bunga-bunga saat teman wanitanya, Anik itu datang. Mereka mengumbar sesuatu yang tak sepatutnya mereka perlihatkan. Keadaan taman masih sangat sepi, banyak hal yang mereka perbincangkan terutama hubungan mereka. Daniel sangat kesal melihat tingkah mereka. Akhirnya Daniel berbohong dan mendekati mereka berdua dengan langkah yang tergesa-gesa.
“Marsha, ibumu menelepon bahwa ayahmu kecelakaan”, sontak Marsha kaget, segera ia menyudahi pertemuannya itu, “sudah dulu ya Sis, aku harus pergi dulu”, “ya ya ga pa..pa..makasih ya”. Marsha dan Daniel bergegas, namun sampai di ujung taman…Daniel mencegat Marsha, “sudah jangan ke mana-mana”. “maksud kamu apa sih? Ini keadaan darurat tau”. “iya saya tau karena tadi saya hanya berbohong mengenai kecelakaan yang ditimpa ayahmu” “apa? Jadi dokter berani membohongi saya?” “saya tidak ingin kamu terlambat, jadi sudahilah hubunganmu dengannya”. Marsha hendak berlari mengejar Anik, namun Daniel memegangi tangannya. Dengan marah, didorongnya Daniel sampai ia terjatuh di kolam dekat taman tersebut. Marsha sama sekali tidak memperdulikannya dan kembali ke mobilnya. Sudah ssampai di dekat lampu merah, ia menghentikan mobilnya, dihidupkannya radio. Dan ia mendengar berita…dikabarkan seorang pria terbawa ombak dan jasadnya kini sedang diotopsi oleh pihak rumah sakit. Sementara ia belum jelas apakah ia bunuh diri atau dibunuh oleh seseorang. Langsung dimatikannya radio itu, lalu ia berbalik arah, dan melihat Daniel masih terjebak di kolam itu. Untunglah ada orang yang lewat. Mereka mengulurkan tali dan menyelamatkan Daniel yang terlihat pucat.
mereka segera membawanya menuju mobil, dalam mobil Marsha gelisah, Daniel masih menggigil. “sorry Dan, kamu mau kuantar ke rumah sakit?” “tidak usah”. Akhirnya mereka sampai di apartment Marsha, Marsha hendak memapah Daniel, namun Daniel menolak. Ia masuk ke kamar, Marsha tetap mengikutinya. “kenapa kamu mengikuti saya, bukankah ini yang kamu inginkan? Agar saya cepat-cepat keluar dari rumahmu” “saya memang tidak menyukai dokter, tapi saya tidak ingin orang-orang menyalahkan saya karena hal ini”, “sudah sana pergi, saya akan mengganti pakaian saya”. Marsha terpaksa keluar. Hatinya tetap tak tenang, ia menunggu hampir setengah jam. Ia sudah tak kuat lagi, dibukanya pintu kamar Daniel secara perlahan-lahan…. “Daniel…”
Daniel punya penyakit paru-paru, ia juga sangat phobia dengan air. Mukanya masih terlihat pucat. Marsha pun disalahkan oleh orangtuanya. “kamu jahat sha, mama hanya minta terima dia untuk sementara waktu, dan tujuannya juga baik Sha, untuk nyembuhin kamu”. “mama juga sih maksa-maksa aku, kan aku ga tau kalau dia punya penyakit kayak gitu” dengan kasar Marsha duduk, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis…
Dokter Hasan seorang ahli paru-paru keluar dari kamar Daniel. Langsung saja Marsha menghampirinya, “gimana dok? Apa Daniel baik-baik saja?” “ia, tenang-tenang. Kini ia sudah agak baikan, tapi ia sepertinya belum sadar saat ini” “oh bolehkan saya masuk dok?” “oh tentu saja, asalkan jangan ganggu istirahat dia” “baik dok”. Langsung saja Marsha masuk ke dalam, ia tak perduli orang tuanya yang heran melihat tingkah laku dia saat masuk dan berada di kamar Daniel tersebut. Marsha duduk di samping Daniel, dia mengusap kening Daniel yang masih dingin bagaikan es. Sejenak ibu Marsha memperhatikan tingkah laku anaknya, ia tersenyum dan berbalik menatap suaminya, “pa, akhirnya ia menemukan kembali cintanya” “iya ma, Tuhan memang memberkati kita. Semoga mereka dapat bersatu, papa sangat bahagia apabila bisa melihat anak almarhum sahabat papa ini dapat menikah dengan anak kita” “iya pa, mama juga senang. Dokter Daniel anak yang baik dan sopan” mereka pulang dan membiarkan Marsha tetap di sana.
Esoknya Daniel kaget juga ketika dia melihat Marsha sudah ada di sampingnya. Marsha masih tidur dan ia juga bingung mengapa ia bisa ada di rumah sakit. Akhirnya dia ingat setelah beberapa kali menguras otaknya untuk mengulang kejadian yang lalu. Ia tau Marsha sudah menyesali perbuatannya, ia tersenyum. Tiba-tiba Marsha bangun, namun matanya masih agak terpejam. Daniel buru-buru berbaring, namun ia tidak sempat keburu kelihatan oleh Marsha, “Dan, kamu udah bangun toh…hmmm….lama juga kamu ga sadar Dan” “iya, tapi buat apa kamu di sini?” “aku kan dah buat salah ma kamu kmaren. Aku minta maaf” “akhirnya kamu sadar juga, dan sekarang aku minta kamu ngelakuin sesuatu buat aku” “sesuatu? Apa maksudmu?” “ya kita lihat saja nanti”….
Begitulah sejak saat itu Marsha lah yang merawat Daniel di rumahnya. Daniel tidak ingin lama-lama menginap di rumah sakit. Awalnya Marsha tidak bersedia namun ia tidak tega melihat keadaan Daniel. Sudah tersusun jadwal apa-apa yang dikerjakan Marsha, seakan-akan Marsha adalah seorang pembantu. Semua itu dikerjakannya dengan tulus ikhlas, demi kesembuhan Daniel. Sampai akhirnya Daniel sudah mulai membaik. Pagi itu seperti biasa Marsha menjenguk ke kamarnya, “Dan…kamu di mana?” Daniel sebenarnya sedang bersembunyi di balik pintu. “dor!!!!” “astaga-astaga”. Begitu terkejutnya Marsha sampai dia bengong, ia ingat saat dulu Samuel juga pernah melakukan hal yang sama seperti itu. Ia duduk perlahan, menangis sejadi-jadinya. Daniel bingung, ia mendekati Marsha kemudian dia memegang pundaknya, “Sha, aku salah ya?” Marsha masih tetap menangis, “Sha, bicara padaku. Apa yang membuatmu menangis?” Marsha menengadah menatap Daniel yang berdiri di hadapannya. “a…ku….aku ingat sama Samuel” langsung saja Daniel memeluk Marsha, “aku mengerti, maaf aku sudah ngingetin kamu dengan Samuel”. “ya ga pa pa”, Marsha melepas pelukan Daniel, “dan, aku harus pulang dulu. Mood ku udah ga enak” “oh ya, perlu aku anter?” “ga usah aku bisa sendiri kok”, belum beberapa langkah Marsha melangkah, ia sudah pingsan. Sebagai seorang dokter tentu Daniel tahu apa yang harus dia lakukan. Ia membaringkan Marsha, kemudian mengambil alkohol dan balsam yang tersimpan rapi di kotak obatnya. Sesaat kemudian Marsha sadar kembali, ia masih pucat. “Sha, kamu sakit ya?” “ga tahu ni Dan, kayaknya aku ga enak badan”. Marsha ingin berdiri, namun ia merasa tidak sanggup. “udah Sha, kamu masih lemah, udah di sini aja dulu. Biar aku yang kasih tau ke orang tuamu kalau kamu masih istirahat di rumah aku” “duh…ada-ada aja ni badan” “ya kamu ga boleh ngomong seperti itu, kita ga bisa nebak kapan kondisi badan kita fit atau lemah” “iya iya pak dokter”, kata Marsha tertawa, dan Daniel menatapnya dengan penuh terkesima, sampai-sampai Marsha heran melihatnya. Sejenak mereka saling bertatapan… “Sha, aku….aku rasa aku sudah tidak bisa nyembunyiin perasaan aku ke kamu lagi” langsung saja Daniel mengambil tangan Marsha, Marsha cukup kaget melihatnya. “Sha, aku sayang sana kamu” “a…apa Dan?” “aku mohon buka hati kamu untukku” “tapi Dan, kamu tahu kan aku seorang janda, aku ga pantas buat kamu” “kamu jangan pernah bilang kayak gitu ke aku, aku juga tahu kamu dan Samuel belum sempat melakukannya. Aku yakin itu” “tapi…..” Daniel semakin memegang tangan Marsha dengan erat. “percayalah padaku, aku tidak mungkin menyakitimu” “terimakasih Dan untuk semuanya”. Akhirnya mereka mengakui bahwa mereka saling mencintai.

Bila aku tak berujung denganmu….
Biarkan kisah ini kukenang slamanya….
Tuhan tolong buang rasa cintaku……
Jika tak kau izinkan aku bersamanya….

(SHE)
Benih-benih cinta telah tumbuh dalam hati Marsha, Anik menyadari bahwa kehadirannya sudah tidak dibutuhkan lagi, ia pun merelakan Marsha bersama Daniel, bagaimana pun Marsha adalah klien terbaik dan tersopan yang pernah dimilikinya. “”Nik, maafin aku. Aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi” “iya aku mengerti kok Sha, sudah ga apa-apa” “makasih Nik”.
Kini hidup terasa lebih hidup dalam hidup Marsha, namun masih ada keraguan dalam benaknya, “Dan, aku ingin bertanya padamu?” “ya Sha, ada apa?” “aku masih ragu, benarkah kamu masih mau menerimaku? Aku seorang janda Dan” “kamu ini bicara apa sih? Dari awal aku sudah tahu dan aku menerimamu apa adanya. Jadi kamu tidak perlu seperti ini padaku. Selain itu aku tahu Sha, bahwa kamu juga belum pernah melakukan itu dengan Samuel kan?” “e…dari mana kamu tahu?” “ya tentu dari ibumulah. Sebagai calon suamimu aku kan perlu tahu masa lalu kamu” “dasar…..ga punya kerjaan dokter ini” “siapa bilang? Sekarang aku baru akan mulai bekerja serius denganmu” “maksudmu?”, langsung saja Daniel memeluk Marsha, hiduplah bersamaku….lalu Daniel mengambil sebuah kotak berisikan cincin dan ia memakaikannya ke jari manis Marsha, “ini sebagai tanda keseriusanku padamu” “Daniel….terimakasih…terimakasih sudah menjadi penyembuh hatiku. Aku tidak tahu harus berterimakasih dengan cara apa?” Daniel semakin erat memeluk Marsha, “aku hanya minta, mulai detik ini hapuslah semua kenangan masa lalumu.” “sudah…sudah ku hapus Dan” dan malam itu merupakan malam yang sangat indah bagi mereka….
Satu bulan kemudian mereka menikah, dan Anik turut datang ke pernikahan mereka, “Sha, selamat ya, maaf aku ga bisa ngasih apa-apa buat kamu” “makasih Nik, ga pa pa asal kamu datang saja aku sudah senang”. Mereka berpelukan, “hmmm…hmmm, Sha, ingat ini pernikahan kita”, kata Daniel cemburu. “oh ya ya sorry Dan, udah dulu ya Sha”, Anik berpamitan dengan mereka berdua. Malamnya Marsha benar-benar gugup, ia masih mengingat kejadian malam di saat Samuel pergi. “kamu kenapa Sha?” “kamu kok rapi banget Dan, mau kemana?” “aku mau ke luar sebentar” “ga, ga boleh. Kamu ga boleh kemana-mana” lalu Marsha memeluk Daniel seakan-akan ia tidak ingin melepaskan Daniel meski sedetik pun malam itu. “ya udah, aku ga jadi keluar” “ah beneran Dan?” “ia, tapi aku perlu bantuan Sha” “ya ada apa Dan?” “bantuin aku….bukain baju aku dong, gerah nih”, Marsha sudah tahu maksud Daniel, “ihh kamu nie”, Daniel memeluk Marsha, “udah jangan banyak omong, matiin lampunya Sha” “iya…suamiku”…
Marsha akhirnya menemukan dokter Daniel, seorang dokter yang dapat menyembuhkan lukanya sekaligus menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang sudah lama layu dimakan penyakit rasa kehilangan yang sangat mendalam…..

0 komentar:

Posting Komentar