Kamis, 08 Juli 2010

PUISI

Ketika mendung menutupi seluruh langit
Ku terdiam menunggu jatuhan air
Mengusap kulit dan rambutku
Lembut selembut belaian kasih sayang
Namun semakin ku rasa
Ia semakin deras
Menghujaniku dengan rinainya
Tak pernah ku bayangkan sebelumnya
Dia yang teduh dan lembut
Telah membasahi rasa sakit ini
Sehingga hanya perih yang tersisa
Menumbuhkan benih kebencian
Dalam raut mendung yang kian tebal
Menunggu datangnya pelangi
Namun apakah ia ada?
Apakah matahari kan bersinar lagi?
Hingga ia dapat membuka matanya
Menerangi luka menganga itu
Memang sulit dibayangkan
Apalagi ia bergabung dengan
Sungai amarah dan dendam
Yang tak terbendung
Yang membanjiri relung hati ini



seakan rasa itu berbunga
namun semakin dipikirkan
aku hanyalah bermimpi
menunggu rasa itu mekar
namun sebelum itu ku tau
ia akan layu
meski sudah ku harap
ia seakan bersembunyi
dalam kelopaknya
ingin ku siram terus-menerus
ku pupuk setiap waktu
tapi tak ada reaksi
sungguh aku ingin
rasakan rasa itu
apakah aku memang tak bisa?
Atau hanya tak berusaha?
Berusaha sekuat tenaga
Menerima kekurangannya
Kehilafannya
Kenaifanku?
Keegoisanku?
Semua menjadi jelas
Saat waktu yang menjawab
Semua pertanyaan konyolku
Tentang rasa cinta



aku tak punya tempat mengadu
aku tak tau harus apa
aku tak biasa mengungkapkannya
aku tak percaya dengan mereka
aku pun enggan berbicara
berbicara tentang semua yang ku alami
berbicara tentang mimpi yang ku pendam
berbicara tentang dunia yang kelam ini
semua memang memiliki masalah
semua memang butuh pengertian
semua pun memang menyedihkan
bila kita tak mampu berteduh
bila kita tak mampu berbuat
bila kita tak mampu bertahan
di tengah gelapnya sinar dunia
di tengah manisnya pahit cinta
di tengah sepinya dunia gemerlap
menunggu datang esok
menunggu asa kepastian
menunggu lembaran baru
hingga berbuah bahagia
hingga mampu bersyukur
hingga ia menyelimuti diri kita
dengan hangatnya kasih sayang



sudah kupustuskan tuk menyerah
menganggap ini hanyalah asa
yang tak akan pernah ada
namun ia datang lagi
dengan sinar matanya yang redup
namun tajam menusuk
tepat di hatiku
aku sudah tak menginginkannya lagi
meski ia mengemis di hadapanku
karna bagiku ……
waktulah yang memutuskan
kapan aku mencintainya
namun jika dia bersikeras
aku akan memilih diam
walau seribu puisi ia berikan
walau segudang hadiah ia persembahkan
ku akan bertahan
cinta tak hanya ada saat kita bersedih
atau saat kita membutuhkannya saja
seperti tebu yang habis manis
sepah dibuang
maafkan jika kau terluka
inilah realitanya
saat kau sadar ia hilang
saat itulah kau semakin yakin
bahwa kau membutuhkannya
bahwa kau bukan apa-apa tanpanya


semenjak pertama ku tatap
dunia seakan gelap gulita
hanya ia yang kulihat
ku berusaha melupakannya
tapi sia-sia belaka
sudah bertahun-tahun menghilang
namun kenangan itu masih tetap ada
terutama saat malam purnama
karna saat itulah kutemukan dia
penuh sinar kebahagiaan
aku tetap tak mengerti ini semua
benarkah dia cinta pertamaku?
Tapi singguh ialah yang pertama
Membuka hati ini
Melihat ada mahkluk lain di luar sana
Yang kita butuhkan saat suka dan duka



Kau membuatku sadar bahwa sebenarnya
aku bukanlah seseorang yang bisa mencintai
dan membuka hati kepada seseorang.
Aku memang percaya bahwa cinta itu
tidak akan datang dengan sendirinya,
itu bukan berarti aku harus mengejarmu kan?
Aku tidak tau harus apa saat aku melihatmu,
aku hanya berharap kau akan terus ada bersamaku
saat aku sedang terluka dan bahagia.
Tetes demi tetes air mata yang jatuh ini
ingin menghapus rasa yang ku pelihara,
tapi setitik cahaya kini menyeruak dalam benakku,
akankah aku bisa?
Mungkin baru beberapa tahun lagi
aku bisa menghapusmu dalam memori otakku.
Hari ini ku mulai dengan rasa kecewa
saat kau bahkan tidak memerdulikanku,
seandainya kau ada saat itu,
aku pasti bisa melewati ujianku dengan bersemangat.
Namun semua sudah terlambat,
kau panah hatiku kemudian kau remukkan dalam sekejap mata.
Kini ku berjalan sendiri di tengah kegelapan malam
menyusuri segenap relung hatiku,
mencari celah dalam lukaku
yang mungkin bisa mengobati kebekuan
yang kini semakin menjadi-jadi.
Tak pernah ku sangka orang sepertimulah
yang membuat aku tak bisa tidur tenang,
tak bisa bernafas teratur,
tak bisa hidup semestinya.
Hanya satu yang ingin ku katakan,
aku takkan pernah menyimpan rasa itu lagi,
aku sudah muak dengan semuanya.
Ku pikir kau bisa menunggu,
namun semakin lama ku sadari
hanya orang bodoh yang mau melakukannya untukku.
Biarlah angin malam membawa rasa itu terbang jauh,
sehingga takkan ada lagi penyesalan dan kesakitan yang terasa.

0 komentar:

Posting Komentar